Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Rencana


__ADS_3

Meskipun sekarang tidak tahu akan seperti nasib pernikahan, tetapi ingin membalas budi dan menanam kebaikan. Masih menunggu respon dari Noah yang bangkit dari ranjang ketika mendapatkan telpon.


"Tunggu sebentar!" Noah menyipitkan mata saat melihat nomor asing menghubungi di pagi buta.


Menganggap jika itu sangat penting, akhirnya langsung menjawab panggilan dan seketika menjauhkan dari telinga ketika suara lengkingan terdengar.


"Noah! Kenapa lama sekali? Apa kau tidur di kamar mandi? Cepat ke sini! Aku mau pulang!"


'Astaga! Saat sadar, sifat kasarnya seperti singa langsung kembali. Tahu begitu, saya suruh saja perawat tadi untuk menyuntikkan obat tidur, agar bisa tenang hari ini,' gumam Noah yang kini tidak ingin menjawab dan memilih mematikan sambungan telpon.


Kemudian berbalik badan dan melihat sosok wanita yang masih duduk di atas ranjang perawatan.


"Amira Tan sudah sadar dan langsung mengomel karena aku belum kembali juga. Mengenai tawaranmu itu, aku pasti akan menerima dengan senang hati."


"Berapa nomormu? Nanti aku hubungi saat membutuhkan bantuan." Noah kini bersiap untuk mencatat nomor Putri, tetapi wanita itu malah hanya diam saja karena tidak langsung menyebutkan dan mengangkat pandangan dari ponsel ke arah wanita tersebut.


"Putri? Kamu melamun?"


Sementara itu, Putri yang tiba-tiba mengingat sesuatu, yaitu momen paling berharga ketika bertemu dengan Arya untuk pertama kali juga meminta nomor.


"Maaf, kamu mengingatkanku pada seseorang." Putri pun menyebutkan nomor ponsel dan berharap bisa membantu Noah dan Amira Tan bersatu karena mengetahui jika Bagus tidak bisa move on.


Namun, itu tidak membuatnya memanfaatkan Bagus karena memang cinta yang dimiliki sekarang hanyalah untuk Arya seorang.


"Baiklah. Aku sudah menyimpan nomormu. Nanti, aku hubungi." Noah tersenyum dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana.


Tentu saja ia tahu siapa yang dimaksud oleh Putri adalah sang suami yang telah berselingkuh. Namun, berpura-pura tidak tahu dan memilih untuk tidak bertanya.


"Terima kasih karena sudah mendengar semua keluh kesahku hari ini. Aku harus kembali untuk menemui Amira Tan sebelum singa betina itu murka padaku," ucapnya yang kini membungkuk hormat.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh. Aku pergi." Noah pun berbalik badan dan berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar dan segera berlari untuk menemui Amira Tan karena sudah mengomel tadi.


Sementara itu, Putri terdiam dalam keheningan di ruangan perawatan dan merasakan bola mata berkaca-kaca ketika mengingat tentang momen indah ketika pertama kali bertemu dengan Arya di cafe.


"Saat itu, kita jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa kamu sudah lupa itu? Sebenarnya apa yang membuatmu berubah padaku? Apakah aku melakukan kesalahan? Kenapa kamu tidak menjelaskan?"


Masih dengan bulir bening menghiasi bola mata dan jatuh pada pipi putih Putri, di saat bersamaan mendengar suara notifikasi dari ponsel dan memilih untuk langsung membaca.


Begitu membaca pesan masuk tersebut, air matanya semakin menganak sungai dan meremas salah satu sisi pakaian yang melekat di tubuh.


"Kamu pun telah memutuskan untuk


menghilang dari hidupku selamanya."


Putri masih menatap pesan yang tak lain adalah dari Bagus. Bahkan saat menunduk, air mata jatuh di ponsel dan langsung dihapus.


Aku sekarang berada di terminal, karena akan berangkat ke kampung bersama Putra. Jaga dirimu baik-baik dan hiduplah dengan berbahagia.


Ia memilih untuk menangis tersedu-sedu di bawah bantal setelah membaringkan tubuh di ranjang perawatan. Bahkan saat ini tidak tahu kenapa merasa sangat kehilangan ketika mantan suami telah pergi.


Padahal kemarin mengusir pria itu karena masih berbuat baik dan akhirnya memicu kemurkaan Arya. Sampai berbuat kasar saat menyalurkan gairah.


"Bukankah ini yang kuinginkan? Menyuruhnya pergi jauh dan tidak menemuiku lagi. Kenapa sekarang aku menangis? Merasa takut terjadi hal buruk yang menimpa rumah tanggaku bersama Arya?"


"Aku takut jika Arya meninggalkanku karena sikap yang saat ini sangat berbeda dengan yang dulu. Semenjak kembali ke rumah keluarga besar Mahesa, seperti ada sesuatu yang hilang dari diri suamiku. Apa yang harus kukatakan untuk membuatnya kembali seperti dulu?"


Masih berurai air mata, Putri kini meluapkan semua kekhawatiran dan kesedihan dengan cara menangis tersedu-sedu. Tidak ingin suara tangisan didengar oleh orang lain dari luar ruangan, memilih untuk membenamkan wajah di bawah bantal.


Beharap setelah menangis, semua perasaan yang membuncah hilang dan tidak lagi mengganggu dan menggerogoti ketenangan hati.

__ADS_1


Sementara itu di ruangan berbeda, Noah baru saja tiba dan bisa melihat Amira Tan sudah duduk dan berbicara dengan salah satu perawat. Kemudian menandatangani kertas.


"Amira? Apa yang kamu lakukan?"


"Tanda tangan. Apa lagi?" Dengan santai Amira Tan menjawab tanpa menatap Noah karena saat ini sedang menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut pertanggungjawaban dari rumah sakit jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk.


Tentu saja tanpa pikir panjang, Amira Tan langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih berisi tulisan dan juga menulis nama sendiri.


Seharusnya pihak keluarga yang menandatangani surat pernyataan tersebut, tetapi mengatakan jika seorang pengacara dan berhak melakukan pertanggungjawaban atas diri sendiri.


Apalagi mengatakan jika Noah hanyalah teman dan tidak ingin orang tua khawatir jika hal sepele yang menimpa didengar mereka. Amira Tan kemudian menyerahkan kertas tersebut pada perawat.


"Baik, Nona. Saya akan mengurus semuanya dulu. Nanti, akan ada perawat yang melepas infus setelah selesai. Nanti, tolong diurus administrasinya. Terima kasih." Perawat tersebut mengulas senyuman sebelum akhirnya berbalik badan.


Sementara itu, Noah hanya diam mengamati pergerakan Amira Tan dan beberapa saat kemudian meringis menahan rasa nyeri akibat pukulan pada lengan yang dilayangkan wanita itu.


"Apa kamu ingin membunuhku di rumahmu? Ke mana kamu tadi? Apa kamu tahu betapa takutnya aku saat tiba-tiba ada jatuh dan lampu kamar mati? Sampai aku terjatuh dan pingsan karena takut jika hantu di rumahmu itu mencekikku."


Amira Tan yang merasa emosi dan murka ketika melihat Noah memilih untuk melampiaskan kekesalan dengan cara kembali mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada lengan pria yang hanya diam saja tersebut.


Kini, Noah mengerti tentang apa yang terjadi pada Amira Tan sampai berakhir pingsan. Tidak ingin kembali merasakan hukuman, memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku tadi menemui Putri. Ternyata saudara perempuanmu itu sangat cantik dan asyik diajak berbicara. Kami seperti langsung klik dan cocok. Kamu menggangguku saat sedang berbicara serius dengannya."


Ia memang memiliki rencana besar di kepala saat ini setelah mendapatkan tawaran dari Putri, yaitu ingin terlihat dekat dengan wanita itu, agar Amira Tan melihat.


Merasa sangat sakit hati ketika Amira Tan menyuruh untuk melupakan kejadian intim mereka, tentu saja membangkitkan rasa untuk membalas dendam wanita yang memiliki sifat arogan itu.


'Aku ingin mengetahui apa tanggapanmu saat dekat dengan saudaramu. Apakah kamu akan senang dan merestuiku, atau marah dan kesal saat merasakan cemburu,' gumam Noah yang kini menunggu sampai Amira Tan membuka suara.

__ADS_1


Bahkan sekarang Noah bisa melihat perubahan sikap Amira Tan begitu selesai menceritakan hal yang baru saja dilakukan dengan Putri.


To be continued ...


__ADS_2