
Aldiano dan Putri masih berada di depan ruangan IGD dengan mengkhawatirkan keadaan pria paruh baya yang sudah berada di dalam sana. Bahkan Aldiano yang dari tadi duduk di kursi roda, merasa sangat tidak nyaman pada bagian bawah tubuhnya.
Namun, ia berusaha untuk tetap kuat tanpa mengeluh. Hingga suara dari Putri yang tengah berdiri di sebelahnya karena tadi bosan di dalam, seperti sebuah oase di padang pasir.
"Papa sudah ditangani oleh aparat medis yang lebih mengerti. Jadi, lebih baik kita menunggu sampai dokter keluar untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Papa." Putri tidak tega melihat kalau wajah Aldiano makin pucat.
Itu semua karena memang baru saja dioperasi dan belum pulih sepenuhnya, sehingga membuatnya merasa sangat khawatir jika kondisi dari Aldiano karena masalah ini.
"Tuan, Anda lebih baik kembali ke ruangan saja dengan diantar. Biar aku yang menunggu di sini dan nanti akan mengatakan langsung pada anda mengenai Papa." Ia sebenarnya sudah mengetahui apa jawaban yang lolos dari bibir pria itu.
Namun, tidak mau menyerah dan masih berusaha agar kondisi sang suami tidak memburuk karena kelelahan.
__ADS_1
"Lebih baik kamu diam karena aku saat ini sedang memikirkan tentang papa dan juga perusahaan. Jadi, jangan membuat semuanya makin bertambah kacau," sarkas Aldiano yang baru saja menyadari jika ia kembali bersikap arogan pada putri yang tidak bersalah.
Sementara itu, Putri saat ini seketika terdiam karena merasa tertampar dan juga merasa bersama atas apa yang baru saja dilakukannya.
Hingga ia pun saat ini berpikir jika akan lebih baik diam daripada membuat pria di atas kursi roda tersebut makin pusing memikirkan banyak masalah yang menimpa diri serta keluarga.
"Maaf, Tuan Aldiano."
Ia sebenarnya tidak ingin membuat Putri merasa kecewa ataupun bersalah, tapi karena pikirannya saat ini benar-benar pusing menghadapi semua masalah yang terjadi hari ini, sehingga hanya diam dan seketika menoleh ketika mendengar suara bariton yang sangat dihafal.
"Bagaimana dengan keadaan presdir?" tanya sosok pria paruh baya yang baru saja datang dengan napas memburu karena berjalan cepat setelah turun dari mobil.
__ADS_1
Ia bahkan saat ini bisa melihat raut wajah pria muda itu seperti benar-benar banyak beban yang dipikul. Hal yang tak pernah dilihatnya selama beberapa tahun lamanya dan sekarang merasa iba melihat putra dari atasannya tidak berdaya dan banyak mengalami kesedihan.
"Dokter belum selesai memeriksa papa yang sepertinya terkena serangan jantung. Bagaimana jika semuanya berakhir buruk, Om?" Aldiano sebenarnya ingin memeluk pria paruh baya yang merupakan asisten sekaligus sahabat baik dari sang ayah.
Namun, enggan melakukannya dan saat ini seketika terdiam ketika melihat paruh baya tersebut beberapa kali menepuk pundak dan mengusap punggungnya.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja, jadi jangan berpikiran buruk dan lebih baik berdoa untuk kesembuhan tuan Bambang," ucapkan asisten yang saat ini tidak tahu harus melakukan apa selain menghibur sebisanya.
Aldiano dan Putri seketika menganggukkan kepala dan kini sama-sama merapal doa agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria paruh baya yang masih berada di dalam sana.
To be continued....
__ADS_1