Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Ceritakan padaku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini Arya sudah membelokkan mobil ke area restoran karena setelah dari Club tadi, memutuskan untuk pergi makan saat lapar.


Selama dalam perjalanan, Calista hanya diam dan tidak ingin membahas apapun karena tengah menyusun siasat, agar Arya jatuh ke pelukannya.


Sementara hal yang saat ini dipikirkan oleh Arya adalah merasa tidak tega sekaligus bersalah pada Calista yang mengingat masa lalu kelam.


Begitu memarkirkan mobil di parkiran, Arya mematikan mesin mobil dan berdehem sejenak untuk menguraikan suasana canggung di antara mereka.


"Sudah sampai. Ayo, kita turun karena aku sudah sangat lapar." Arya berpura-pura seperti orang yang sangat kelaparan, padahal sebenarnya perasaan tidak enak karena hubungan di antara mereka sudah tidak seperti dulu.


Seperti ada jarak yang membuat Arya merasa bersalah karena telah membuat Calista melayani hasrat di apartemen saat mabuk.


Sementara itu, tanpa berniat untuk menjawab, Calista pun kini melepaskan sabuk pengaman.


Dalam hati, ingin tertawa karena melihat Arya menunjukkan rasa bersalah dengan berbicara gugup. 'Arya seperti seorang anak kecil yang takut akan dimarahi oleh ibu saat melakukan kesalahan.'


'Sikap Arya sangat menggemaskan dan membuatku makin tidak sabar untuk segera memilikinya. Baiklah, aku akan berbicara mengenai sesuatu yang pasti akan menjadi perasaan pria ini gundah,' gumam Calista yang sudah berjalan masuk ke restoran tanpa menunggu pria tersebut.


Arya yang berjalan mengekor Calista, kini menatap lurus siluet belakang wanita dengan pakaian seksi memperlihatkan lekuk tubuh tersebut.


'Bagaimana tadi mengatakan agar aku bersikap biasa, tetapi sikap Calista berubah seperti itu? Mana mungkin itu bisa terjadi? Apalagi aku merasa bersalah karena berbuat hal intim saat masih menjadi suami.'


'Putri, apakah tadi merasa kesakitan saat aku melakukan itu dengan kasar ketika di rumah sakit tadi? Aku sudah gila karena melampiaskan amarah padanya ketika sedang sakit.'


'Apa bedanya aku dengan binatang? Bahkan menyalurkan hasrat dengan cara kasar pada istri yang sakit. Semoga ia tidak apa-apa. Meskipun sangat membenci karena menipuku mengenai Xander, tetapi belum bisa menghilangkan rasa cintaku.'


Arya berbicara sendiri di dalam hati dan pandangan masih lurus menatap punggung Calista. Begitu wanita itu menemukan kursi dan duduk, akhirnya melakukan hal sama karena tidak ingin membuat suasana canggung di antara mereka.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" Calista bertanya sambil membaca buku menu, sengaja tidak ingin melihat pria yang sudah duduk di hadapan.


Sementara itu, Arya yang sedang banyak pikiran, tidak bisa berpikir dan sebenarnya sedang malas makan, tapi ingin menemani Calista karena belum mengisi perut.


"Apa saja, aku pasti akan memakan makanan yang kau pesan untukku." Arya masih mengarahkan tatapan lurus pada wanita yang dari tadi fokus pada buku menu.


"Baiklah." Calista mengangkat pandangan dan kali ini langsung menyebut pesanan begitu waiters datang.


Tentu saja Calista tahu jika saat ini Arya tengah menatap intens dari tadi, tapi berpura-pura bodoh.


Begitu waiters pergi, Calista beralih menatap Arya dan seketika pandangan saling bertemu lurus pada satu titik. "Apakah ada yang salah dengan wajahku? Kenapa menatapku seperti itu?"


Arya saat ini masih tidak mengalihkan pandangan karena ingin membahas mengenai masalah di antara mereka. Sebelum itu, terlihat menggelengkan kepala karena tidak membenarkan pikiran wanita di hadapan tersebut.


"Tidak ada yang salah darimu karena akulah yang saat ini tidak bisa menuruti permintaanmu tadi saat di mobil."


"Mengenai kamu menyuruhku untuk bersikap biasa seolah di antara kita tidak terjadi apapun. Mana mungkin aku bisa melakukan itu saat sikapmu jelas menjaga jarak seperti ini?"


"Aku tidak menjaga jarak darimu. Mungkin itu hanya pikiranmu saja, Arya."


"Tidak. Tetap ada sesuatu yang berubah darimu, Calista. Kita tidak bisa lagi seperti dulu karena telah terjadi sesuatu." Arya merasa frustasi karena bingung harus berbuat apa.


Sementara Calista masih mencoba untuk mengelak meskipun di dalam hati ingin sekali melihat sikap Arya yang kebingungan. "Itu hanya perasaanmu saja."


Masih merasa yakin tentang hal yang diyakini olehnya, Arya tetap tidak sependapat. "Kita tidak bisa terus seperti ini."


"Sekarang apa yang kamu inginkan? Apakah ingin aku pergi dari hadapanmu dan tidak menunjukkan diri lagi? Aku akan melakukan itu jika memang membuatmu tenang dan tidak merasa bersalah padaku. Bahkan aku tidak memaksamu untuk bertanggungjawab, tetapi kenapa harus bersikap berlebihan seperti ini?"

__ADS_1


Calista kini memilih bangkit berdiri dari kursi karena ingin pergi dari hadapan Arya.


"Kamu mau ke mana?" Arya memicingkan mata dan menatap tajam ke arah Calista.


"Pergi dan tidak akan menampakkan diri di depanmu, agar tidak merasa bersalah padaku. Bukankah ini yang kau inginkan?" Calista menatap kesal pada pria yang terlihat mengacak frustasi rambut sambil bergumam sendiri di dalam hati untuk menertawakan Arya.


'Lihatlah wajahnya, Arya seperti sedang disiksa oleh rasa bersalah padaku. Permainan semakin menarik.'


"Astaga! Bukan seperti itu, Calista. Aku ingin kita membahas masalah yang terjadi secara kepala dingin dan tidak mengandalkan emosi. Mengenai jalan keluar dari permasalahan ini harus segera ditemukan, agar aku tidak merasa bersalah padamu."


Arya mengarahkan dagu untuk memberikan kode pada Calista. "Duduklah! Kita harus membahas ini lagi."


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Calista menuruti perintah dari Arya akhirnya kembali mendaratkan tubuh di kursi. "Padahal aku sudah memberikan jalan keluar, tapi kau tidak menyetujui. Memangnya kamu punya pendapat lain? Katakan saja sekarang."


Meskipun Arya tidak langsung menjawab karena hanya embusan napas kasar yang mewakili perasaan saat ini. Beberapa saat kemudian, memulai membuka mulut setelah jauh lebih baik.


"Aku tetap tidak bisa bersikap seolah tidak terjadi sesuatu di antara kita, tapi juga bingung karena kenyataannya adalah belum bisa mengambil keputusan untuk bertanggung jawab menikahimu. Kamu tahu bahwa aku bukanlah seorang pria yang suka melakukan hubungan bebas dengan seorang wanita."


"Jadi, saat ini merasa bersalah padamu. Seharusnya aku menikahimu untuk bertanggung jawab, tapi posisiku masih menjadi suami. Aku bahkan masih sangat mencintainya meskipun dibohongi, tapi mengetahui apa yang akan terjadi pada rumah tangga kami."


Calista dari tadi menatap intens Arya yang menjelaskan panjang lebar mengenai rumah tangga yang sudah tidak baik-baik saja.


"Apakah terjadi sesuatu pada rumah tangga kalian? Maksudku, bisakah kamu ceritakan padaku? Lagipula, bukankah kita adalah teman? Siapa tahu setelah mendengar ceritamu, aku bisa memberikan pendapat atau saran."


Berharap pria di hadapannya tersebut masuk dalam jebakan yang dipasang saat ini, Calista ingin memanfaatkan situasi dan juga perasaan lemah dari Arya.


'Ayolah, Arya. Ceritakan padaku. Aku akan membuatmu melupakan Putri dan jatuh ke pelukanku,' gumam Calista yang ingin sekali segera memiliki sosok pria yang menjadi incarannya tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2