Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Ditetapkan sebagai tersangka


__ADS_3

Aldiano saat ini mengerti ke mana arah pembicaraan dari Putri karena ia bukanlah seorang pria polos yang tidak tahu apa-apa mengenai hubungan intim antara seorang pria dan wanita.


Namun, memang ia sama sekali tidak pernah melakukannya. Sebenarnya merasa sangat ragu dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, tapi melihat keyakinan Putri ingin menjadi seorang istri yang baik, sehingga saat ini memikirkannya.


'Sepertinya aku menemukan berlian di lumpur dan sama sekali tidak kusadari. Sekarang aku menyadarinya setelah mencucinya dengan bersih, baru terlihat berkilauan. Putri adalah berlian yang sangat indah dan tidak disadari oleh orang lain.'


Aldiano yang saat ini merasa yakin jika ia akan fokus menjadi seorang pria yang baik bersama dengan wanita yang mau menerimanya apa adanya tanpa memikirkan tentang masa lalu kelam yang dilalui.


Ia saat ini menatap ke arah sosok wanita yang terdiam karena menunggu keputusannya. Hingga ia pun saat ini menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan atas apa yang dikatakan oleh Putri.


"Aku akan melakukannya. Kita bungkam publik dengan kebahagiaan setelah keturunan keluarga Priambodo lahir," ucap Aldiano dengan penuh keyakinan karena ia benar-benar ingin menuruti harapan dari sang ayah yang sangat menginginkan cucu kandung.


Sementara itu, Putri seketika tersenyum karena merasa jika sudah mendapatkan jalan keluar dari permasalahan hari ini. Ia sebenarnya tidak yakin pada dirinya sendiri bisa menjadi seorang istri yang baik untuk pria di hadapannya tersebut karena berasal dari masa lalu yang kelam.


Namun, akan berusaha memberikan yang terbaik karena benar-benar bertobat dan ingin kembali ke jalan-Nya. "Baiklah. Kalau begitu, tinggal mengatakan pada papa saja," ucap Putri yang saat ini merasa sangat lega dan beban di pundaknya seperti seketika terangkat.


Hingga ia saat ini merasa seperti membuka lembaran baru dalam kehidupannya dengan seseorang pria yang sama-sama memiliki masa lalu kelam dan ingin kembali ke jalan yang benar.


"Terima kasih." Aldiano saat ini tidak tahu apa yang harus diungkapkan pada wanita itu selain dua kata tersebut. "Aku mungkin tidak bisa seperti ini jika istriku adalah wanita lain karena pastinya akan langsung memilih pergi dan tidak mau hidup dengan pria cacat sepertiku."


Sementara itu, Putri tahu jika banyak para istri yang meninggalkan suami saat mendapatkan musibah. Namun, ia sama sekali tidak ingin berkomentar tentang masalah tersebut karena tahu bagaimana perjuangan seorang wanita tanpa suami.


Jika suami mendapatkan musibah dalam hal apapun, pasti semua beban dilimpahkan pada istri dan tidak semua wanita sanggup menjalaninya, sehingga terkadang memilih untuk berpisah karena sangat lelah dan tidak kuat menjalani.


"Ujian seorang wanita adalah saat suami mendapatkan mengalami masalah, sedangkan ujian pria adalah saat berada di atas ketika mempunyai banyak uang dan itu sudah menjadi hukum alam. Jadi, kita tidak perlu menjudge orang lain karena kita tidak tahu seperti apa kehidupan mereka."


"Bukankah pada dasarnya manusia memang lebih mudah berkomentar daripada menjalaninya? Jadi, lebih baik kita fokus pada kehidupan sendiri daripada memikirkan tentang masalah orang lain yang bahkan tidak penting untuk dipikirkan." Putri baru saja menutup mulut dan melihat pintu terbuka.

__ADS_1


Ia saat ini menoleh dan melihat sosok mertuanya yang membawa kantong plastik berisi makanan serta minuman.


"Papa sudah kembali?" Putri saat ini melihat jika mertuanya membawa banyak makanan, minuman serta camilan. "Kenapa banyak sekali membeli makanannya, Pa."


"Tidak apa-apa karena ini untuk teman mengobrol. Lagipula kamu akan menunggu dan menemani Aldiano selama dirawat di rumah sakit. Jadi, membutuhkan banyak makanan agar tidak merasa bosan melihat putraku." Bambang ingin menguraikan suasana agar lebih terasa hangat dan tidak serius seperti yang terlihat.


Namun, ia sama sekali tidak melihat tawa dari dua orang yang ada di hadapannya. Seolah keduanya tengah serius dan sedang tidak ingin bercanda, sehingga membuatnya merasa tidak enak.


"Kenapa aku merasa kalian sangat serius? Apakah kalian sudah memutuskan akan bagaimana?" Ia sebenarnya tadi berlama-lama di kantin agar putra dan menantunya selesai membahas dan ia tidak mengganggu.


Padahal sudah tidak sabar mendengar keputusan dari mereka mengenai keturunan yang sangat ingin dapatkan.


Hingga ia mendengar suara dari putranya yang mewakili menantu.


"Kami sudah memutuskan untuk mencobanya, Pa. Putri sudah mengambil keputusan dengan menerimaku tanpa merasa ragu ataupun jijik karena ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suami. Begitu juga dengan aku yang ingin menjadi suami yang baik untuk Putri.


Ia bahkan sudah lupa seperti apa tawa serta kebahagiaan dari sang ayah yang selama ini menghilang karena dibawa oleh sang ibu ke liang lahat.


"Benarkah, Aldiano? Kamu benar-benar setuju untuk memberikan Papa cucu? Papa rasanya seperti sedang bermimpi." Ia saat ini sudah memeluk erat tubuh putranya karena merasa sangat bahagia dengan apa yang baru saja didengar.


Sementara itu, Aldiano bahkan hanya terdiam di tempat dan membiarkan sang ayah mengungkapkan kebahagiaannya. Ia bahkan saat ini bersitatap dengan Putri yang ikut merasa senang ketika melihat ayahnya bahagia.


Ia benar-benar sangat berterima kasih pada wanita di hadapannya tersebut karena mau menerimanya sebagai suami, meskipun mengetahui jika ia bukanlah seorang pria yang baik.


'Aku benar-benar tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak bertemu dengan wanita ini. Terima kasih, Tuhan karena membuatku bisa bertemu dengan seorang wanita yang sangat baik seperti Putri,' gumam Aldiano yang saat ini merasakan sang ayah menarik diri.


Bambang Priambodo yang saat ini mengungkapkan kebahagiaan tak terperi, juga ingin menyalurkannya pada sosok menantu yang menurutnya adalah bidadari surga.

__ADS_1


Ia bahkan sama sekali tidak menyangka jika tanpa pikir panjang menantunya tersebut menerima putranya yang bahkan sering mendapatkan hujatan dari semua orang karena masa lalu kelam berhubungan dengan sesama jenis.


Kini, ia seketika memeluk erat tubuh Putri yang saat ini berdiri di sebelah ranjang putranya. "Putri, Papa benar-benar sangat berterima kasih padamu karena mau menerima putraku sebagai suami yang sesungguhnya."


Putri saat ini seperti mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah yang tulus menyayanginya. Ia bahkan saat ini sudah mengusap lembut punggung kokoh dari mertuanya tersebut untuk menyalurkan aura positif agar tidak terus menangis saat mengungkapkan kebahagiaan.


"Pa, semua ini adalah rencana Allah dan kita harus menjalaninya dengan baik. Aku tidak mungkin bisa seperti ini tanpa bantuan Papa. Tuan Aldiano juga bahagia seperti yang Papa inginkan. Papa juga akan memiliki cucu yang akan menjadi pewaris keluarga Priambodo."


Putri bahkan masih mengusap punggung mertuanya seperti seorang anak yang sedang menghibur putranya. Ia juga merasakan disayangi sebagai seorang anak perempuan dan membuatnya merasa terharu.


Semua kebahagiaan yang dirasakan olehnya dianggap adalah sebuah hal yang harus disyukuri dan tidak boleh mengeluh karena sang suami mendapatkan musibah saat kakinya lumpuh.


"Terima kasih, Putri. Papa benar-benar tidak salah pilih menantu karena percaya padamu. Bahwa Kamu adalah seorang wanita yang baik dan benar-benar menjadi seorang istri idaman untuk putraku yang baru kembali dari jalan yang tersesat." Kemudian Bambang Priambodo melepaskan pelukannya dan tidak memperdulikan bola matanya yang sudah bersimbah air mata.


Hingga ia melihat putri mengulurkan sebuah sapu tangan untuknya.


"Papa tidak boleh terlihat menangis di depan orang lain, tapi di depan kami tidak masalah karena aku tahu jika itu merupakan sebuah ungkapan kebahagiaan.


Saat Bambang Priambodo baru saja menerima sapu tangan dari menantunya dan langsung menghapus agar wajahnya tidak terlihat sembab jika sampai ada perawat atau dokter yang masuk.


"Ya, kamu benar, Sayang. Papa tidak boleh terlihat lemah karena nanti bisa membuat para awak media bersorak-sorai karena senang mendapatkan berita eksklusif." Saat ia sibuk dengan kegiatannya yang masih membersihkan bulir air mata di wajahnya, suara ketukan pintu dari luar terdengar.


Tiga orang yang berada di ruangan tersebut seketika menatap ke arah pintu yang beberapa saat kemudian terbuka. Mereka sama-sama menampilkan ekspresi terkejut begitu melihat dua pria berseragam yang masuk ke dalam ruangan.


"Selamat pagi, Tuan Priambodo. Kami dari pihak kepolisian ingin mengatakan bahwa tuan Aldiano ditetapkan sebagai tersangka atas percobaan pembunuhan dari saudara Neil Mardi berusia 30 tahun yang menjadi kekasih gay putra Anda."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2