
Beberapa saat lalu, Arya datang ke klinik yang menjadi tempat Putri dirawat karena sakit lambung. Sengaja pergi tanpa mengatakan pada orang tua dan bisa dibilang diam-diam. Setelah kejadian yang terjadi di apartemen Calista, ia sangat frustasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Apalagi Calista seolah menghindar darinya karena marah dan tidak ingin berbicara dengannya. Jadi, Arya berpikir bahwa wanita yang selama ini menjadi teman baiknya tersebut membutuhkan waktu.
Akhirnya ia memilih untuk memberikan waktu pada Calista untuk berpikir. Sementara menjauh dari wanita yang bisa dibilang telah diperkosa olehnya, ia memilih untuk menenangkan diri dengan cara menemui Putri.
Namun, saat melihat wanita itu dirawat di rumah sakit dan diantar oleh Bagus, ia merasa sangat marah dan mengancam pria itu agar tidak lagi mengusik Putri lagi. Bahkan ia mengatakan, akan memperkerjakan satu pelayan dikontrakan untuk merawat Xander.
Jadi, meminta Bagus untuk menyuruh wanita yang disuruh membantu Putri pergi dari kontrakan dan tidak bekerja lagi di sana.
Setelah murka pada Bagus tanpa sepengetahuan Putri, Arya masuk ke dalam ruangan perawatan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut. Sebelumnya, ia menghubungi seseorang agar pergi ke kontrakan dan menggantikan wanita yang merupakan suruhan dari Bagus.
'Tidak ada alasan lagi untuknya menemui Putri,' gumam Arya yang merasa bingung dengan perasaannya saat ini karena masih mencintai wanita yang telah menipu bahwa mitra yang dilahirkan adalah benihnya.
Padahal hasil tes DNA membuktikan bahwa bayi itu bukan darah dagingnya. Arya saat ini melihat sosok wanita yang tertidur dengan nafas teratur di atas ranjang.
Saat berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah pucat tersebut, Arya ingin sekali merapikan anak rambut yang berantakan dan menghalangi pandangan. Namun, saat melakukan itu, melihat Putri bergerak dan beberapa saat kemudian membuka mata.
Bahkan telah tersenyum padanya dan membuat perasaannya semakin tidak menentu. Ingin sekali ia membasahi bibir sang istri, agar tidak terlihat kering seperti mayat hidup. Namun, sadar tidak bisa melakukan itu karena akan bercerai.
"Kamu datang, Sayang?" Putri yang sebenarnya mendengar suara itu terbuka. Jadi, ia membuka mata dan melihat pria yang dicintai dan sangat dirindukan telah datang.
Arya hanya menganggukkan kepala perlahan sebagai jawaban. "Aku ingin memberitahu bahwa wanita yang bekerja di rumah dan merupakan suruhan dari Bagus telah kupecat."
__ADS_1
"Aku menggantinya dengan orang baru suruhanku dan pastinya bisa mengawasimu agar tidak berbuat gila dengan Bagus di sana." Saat Putri tertidur, Arya selalu merasa tidak tega dan masih mencintai.
Namun, ketika melihat wanita di hadapannya tersebut membuka mata, yang terbayang adalah tipu muslihat mengenai bayi yang baru saja dilahirkan. Hal itu selalu selalu saja menyulut api amarahnya.
Putri saat ini tidak mempermasalahkan apapun yang dilakukan Arya karena berpikir bahwa pria di hadapan tersebut masih mencintainya karena tidak ingin ia berhubungan dengan Bagus melalui wanita itu.
Bahkan Putri saat ini tersenyum bahagia melihat sikap Arya yang cemburu. "Sebenarnya aku juga sudah mengatakan itu padanya. Bahkan aku sudah mengatakan, agar tidak lagi menemuiku."
"Aku tidak ingin membuat suamiku cemburu dan marah, serta salah paham. Sebelum kamu datang, ia tadi ke sini dan aku sudah mengatakan itu. Jadi, kamu jangan berpikir macam-macam mengenai aku. Aku sangat mencintaimu dan selamanya akan setia."
Mungkin Arya akan mempercayai perkataan Putri saat belum mengetahui hasil tes DNA mengenai bayi yang diberi nama Xander itu. Namun, saat ini berpikir, semua yang ditampilkan Putri adalah kepalsuan semata.
"Kamu tidak bersikap munafik di depanku, kan?"
"Apa maksudmu, Sayang? Apakah kamu masih berpikir bahwa aku menginginkan Bagus setelah apa yang kulakukan untukmu?" Putri semakin risi dan kesal saat Arya selalu mencurigainya tanpa memikirkan pengorbanan selama ini.
"Apakah kamu mempunyai wanita lain tanpa sepengetahuanku? Ataukah wanita yang dulu mengantarmu pulang ke rumah dan masih sangat kuingat namanya adalah Calista. Apa sikapmu yang berubah karena berselingkuh dengan wanita itu?"
Putri kali ini tidak bisa bersabar lagi karena sikap yang ditunjukkan oleh Arya tidak sehangat dulu. "Bahkan kamu tidak pernah menyentuhku, meski aku sudah selesai masa nifas. Aku tahu bahwa kamu memiliki gairah yang besar karena masih sangat muda."
"Apakah kamu menyalurkan pada wanita itu? Jawab aku, Arya! Jangan bersembunyi dari kesalahan dibalik tuduhanmu padaku. Padahal aku dan Bagus sama sekali tidak mempunyai hubungan setelah keluar dari rumah itu."
"Ia selama ini tulus membantuku dan tidak berpikir yang buruk. Seharusnya aku yang berhak mempunyai pikiran buruk pada suami karena tidak tinggal di rumah dan dekat dengan seorang wanita."
__ADS_1
Sengaja Putri menumpahkan segala keluh kesah yang selama ini dipendam dalam hati. Semua itu karena tuduhan dari Arya tidak berdasar.
Bahkan ia selalu merasa khawatir jika pria yang dicintai tersebut berbuat gila dengan wanita lain dan akhirnya pergi. Entah apa yang akan dilakukan ketika hal itu terjadi. Putri sangat takut, tetapi selama ini mencoba untuk berpikir positif.
Bahwa Arya sangat mencintai dan tidak akan pernah meninggalkan mereka. Namun, ia merasa sangat terkejut dengan respon dari pria yang terlihat memerah wajahnya dengan rahang mengeras dan menatap penuh kilatan amarah.
Saat melihat Putri malah memutarbalikkan fakta dengan menuduhnya telah berselingkuh, tentu saja memantik amarahnya.
Arya sadar bahwa telah melakukan kesalahan dengan melakukan hubungan intim bersama Calista di apartemen. Namun, semua itu terjadi karena ia menganggap bahwa itu adalah Putri dan dipengaruhi oleh minuman beralkohol.
Jadi, ia sangat yakin tidak akan melakukan itu ketika dalam keadaan sadar. Apalagi selama ini sangat mencintai Putri dan bisa menerima meskipun berstatus sebagai istri orang dan mempunyai dua anak.
Berbeda dengan yang ada di pikirannya, Putri dengan sadar telah menipunya, mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah benihnya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu karena Xander adalah darah daging Bagus.
"Apakah kamu berbicara seperti ini karena haus akan kebutuhan ****? Jadi, tidak mau mengakui semua kebohongan yang telah kamu lakukan padaku?"
Putri saat ini menatap pria dengan iris berkilat dan terlihat dipenuhi oleh emosi tersebut. "Apa maksudmu, Arya? Jelaskan padaku dan jangan berbicara ambigu seperti itu. Kebohongan apa yang kamu maksud?"
"Jika yang kamu maksud adalah karena aku masih bertemu dengan Bagus saat menjadi istrimu, Bukankah sudah kujelaskan bahwa di antara kami tidak ada hal yang terjadi. Aku bersumpah atas nama Xander. Jadi, jangan pernah meragukanku, sehingga menuduh berselingkuh dengan pria yang bahkan sudah tidak lagi kucintai."
Arya saat ini semakin bertambah marah atas sumpah Putri atas nama Xander. 'Bahkan bayi itu bukanlah anakku,' gumam Arya yang merasa muak ketika mendengar kalimat terakhir dari Putri.
"Kamu tahu bahwa alasanku berselingkuh denganmu dulu karena Bagus adalah pria yang lemah? Jadi, mana mungkin aku kembali pada pria itu."
__ADS_1
Putri masih berusaha untuk menyadarkan Arya, agar tidak berpikir buruk dengan menuduh masih mencintai Bagus.
To be continued...