
Ardiansyah merasa jantungnya seperti mau lompat dari tempat karena sangat khawatir jika wanita itu berbuat macam-macam.
"Tunggu!" ujar wanita yang merasa kecewa karena belum puas berbicara dengan pria muda tersebut.
Ardiansyah menoleh ke belakang dan menatap tangan wanita itu pada jaket yang dikenakan. "Ada apa?"
"Sebelum pergi, kamu harus minum kopinya terlebih dahulu."
"Maaf karena temanku sudah menunggu." Ardiansyah memilih untuk melepaskan tangan yang berada di jaket karena merasa sangat takut jika wanita itu benar-benar memfitnah dengan cara berteriak pada warga sekitar.
Hingga akhirnya harus berakhir menikahi wanita tersebut. Hal yang sering terjadi di adalah seperti itu, jadi tidak ingin berakhir hidupnya karena kesalahan yang tidak dilakukan. Apalagi mengetahui bahwa status wanita itu adalah janda kesepian yang pastinya membutuhkan seorang pria untuk pasangan hidup.
Bahkan saat ini berjalan dengan cepat pergi dari sana agar tidak bertemu lagi dengan wanita tua itu. Ardiansyah beberapa kali mengusap dada saat ketakutan dan bernapas lega begitu berhasil menjauh.
Meskipun merasa sangat kecewa karena saat ini berada jauh dari rumah kontrakan wanita incarannya. 'Sial! Kenapa nasibku harus berakhir buruk karena bertemu dengan wanita pemilik toko itu.'
"Pasti tadi dia berpikir bahwa aku sengaja duduk di sana untuk menggoda. Astaga! Kenapa aku sangat bodoh karena tidak tahu apapun dan berpikir jika wanita itu memang orang yang baik.' Ardiansyah yang hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati, kini menatap ke sekeliling dan melihat suasana malam itu sangat sunyi.
Kini, menatap mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan. "Pukul delapan malam, tapi sudah seperti dini hari. Namun, masih baik aku tidak mendapatkan kecurigaan dari warga sekitar area sini."
Saat baru saja selesai menutup mulut, melihat seorang pria yang keluar dari rumah dan membuatnya menghampiri karena ingin bertanya.
"Maaf, apakah aku boleh bertanya mengenai rumah kontrakan? Karena ingin tinggal di sekitar sini."
Pria yang saat ini hendak keluar membeli rokok di toko, memperhatikan penampilan pria yang seperti sangat mencurigakan karena serba hitam dan juga memakai topi, seolah tidak ingin dilihat wajahnya.
"Kau bukan penjahat yang akan merampok di sekitar sini, kan? Karena jika melakukannya, aku akan langsung membuatmu merasakan dinginnya berada di balik jeruji besi!" sarkas sosok pria dengan badan tinggi besar yang merupakan anggota kepolisian.
Ardiansyah merasa sangat terkejut dengan tuduhan berlebihan dari pria yang memiliki tubuh lebih besar darinya dan menebak jika orang yang ada di hadapannya tersebut tidak bisa diremehkan.
Tidak ingin ada kesalahpahaman karena ingin tinggal di sekitar area yang menjadi tempat tinggal wanita incarannya, Ardiansyah saat ini melepaskan topi dan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Maaf karena membuat kecurigaan dengan penampilanku. Aku memang suka memakai topi dan karena malam sangat dingin, jadi memakai jaket agar tidak membeku. Aku sebenarnya sedang mencari kontrakan di sekitar sini."
Pria dengan rambut pendek ala tentara tersebut mengamati penampilan pria yang bertanya mulai dari ujung kaki hingga kepala. "Memangnya selama ini kau tinggal di mana dan kenapa memilih tempat ini?"
Seolah merasa seperti diinterogasi oleh aparat kepolisian, Ardiansyah bahkan menelan ludah berkali-kali dengan kasar. Namun, karena tidak ingin semakin dicurigai dan dipersulit untuk tinggal di sana, langsung menjawab tanpa ragu.
"Sebelumnya tinggal di desa sebelah dan kontrakan sangat mahal, jadi mencari di daerah sekitar sini yang katanya jauh lebih murah dan juga dekat dengan tempat kerja."
Masih menunggu jawaban dari pria yang menatap dengan tajam tersebut, Ardiansyah berharap ada kabar baik dari pertanyaan yang baru saja diajukan.
Selama beberapa saat memikirkan dan mempertimbangkan jawaban apa yang akan dikatakan, pria dengan memakai celana pendek dan kaos kasual berwarna putih tersebut menunjuk ke arah rumah yang berada di seberang jalan.
"Itu adalah kontrakan dan yang tinggal di sana baru saja pergi kemarin. Kau bertanya saja pada pemilik kontrakan di sebelah rumah itu."
Ardiansyah refleks menggelengkan kepala karena mengetahui bahwa rumah yang ditunjukkan merupakan tempat yang dikontrak Putri.
"Aku tadi melihat-lihat di sekitar area sini dan rumah yang kau tunjukkan itu ada penghuninya. Mungkin orang baru yang akan menempatinya." Menatap ke arah rumah kontrakan tersebut. "Apakah ada rumah lain yang dikontrakkan?"
Namun, ketika melihat pria di hadapannya menggelengkan kepala, seketika memusnahkan harapan yang baru saja dirajut.
"Tidak ada. Kau cari saja tempat lain karena setahuku hanya satu rumah itu yang dikontrakkan."
"Sayang sekali. Padahal aku sangat ingin bisa tinggal di area sini karena dekat dengan tempat kerja. Baiklah. Kalau begitu terima kasih atas informasinya. Maaf karena sudah mengganggu waktumu." Ardiansyah yang merasa tidak ada harapan untuk bisa tinggal di dekat rumah kontrakan, akhirnya memilih untuk pergi ke daerah ini hanya demi melihat wanita itu.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, mendengar suara bariton dari pria di belakangnya.
"Di sekitar sini memang jarang rumah kontrakan karena hanya ada kamar kos. Mungkin di kampung lain kau bisa mendapatkan." Pria itu pun berjalan menuju ke arah toko dan ditahan dari belakang saat baju ditarik.
"Maaf, kamar kos? Jadi, ada kamar kos di sekitar sini yang disewakan?" tanya Ardiansyah yang seketika wajahnya berbinar ketika seperti mendapatkan kabar baik. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Sementara itu, pria yang tak lain polisi dan merupakan keamanan di kampung itu, menatap ke arah tangan yang masih memegang pakaiannya.
__ADS_1
Kemudian seolah merasa takut saat ditatap, Ardiansyah seketika menurunkan tangan. "Maaf."
"Bukankah tadi kau mengatakan ingin mencari rumah kontrakan dengan harga murah? Jadi, mana mungkin aku menjawab ada kamar kos di sekitar sini karena harganya cukup mahal. Itu Karena biasa ditempati oleh para wisatawan dari luar daerah yang mencari penginapan dengan harga miring dibandingkan dekat dengan area wisata sangat mahal."
Tentu saja kamar kos di sana bagi wisatawan jauh lebih murah dibandingkan dengan tempat di dekat area wisata yang biasanya dengan harga dua kali lipat.
Namun, jika bagi orang biasa yang tinggal di sekitar sana, terbilang cukup mahal karena ditempati oleh pengunjung tempat wisata, sehingga harga berbeda.
Ardiansyah saat ini terdiam dan baru memahami apa yang dimaksudkan oleh pria tersebut. Saat merasa bimbang untuk mengambil keputusan, apakah sanggup untuk membayar tempat kos, agar bisa dekat dengan Putri.
'Sepertinya aku harus berkorban dengan mengeluarkan uang untuk membayar tempat kos. Namun, ini lebih baik karena bisa dekat dengan wanita itu. Cinta memang butuh pengorbanan dan kuanggap ini adalah sebuah perjuangan untuk mendapatkan wanita itu.'
Setelah mempertimbangkan dengan baik, akhirnya memutuskan untuk rela menghabiskan uang membayar tempat tinggal lebih mahal.
"Aku tidak mempermasalahkan akan ditarik berapa satu bulan. Tolong beritahu tempat kos itu karena aku akan bertanya pada pemilik." Ardiansyah merasa sangat heran dengan tatapan menyelidik dari pria di hadapannya tersebut.
"Kenapa sikapmu sangat aneh dan mencurigakan?"
"Aneh bagaimana? Aku hanya ingin mencari tempat tinggal?" sahut Ardiansyah dengan singkat.
"Aku bahkan masih ingat kau mengatakan bahwa tempat tinggal lamamu sangat mahal dan ingin mencari kontrakan lebih murah. Lalu sekarang kau mengatakan tidak merasa keberatan tinggal di kamar kos dengan harga mahal. Bagaimana mungkin aku tidak merasa curiga padamu. Sepertinya kau harus menjelaskan semuanya di kantor polisi."
Kemudian meraih lengan pria itu dan mengajak pergi dari sana karena semakin yakin jika sikap pria itu sangat mencurigakan.
"Lebih baik kau menurut pada polisi!"
Kini, Ardiansyah mengerti kenapa mendapatkan tatapan tajam dan juga dicurigai begitu mengetahui bahwa sedang bertanya pada seorang polisi yang tidak bisa dibodohi.
'Kenapa nasibku hari ini sangat sial. Hanya demi bisa dekat dengan wanita bernama Putri itu, apakah aku harus merasakan dinginnya di balik jeruji besi?'
To be continued....
__ADS_1