Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Uang dan ketulusan


__ADS_3

Bagaikan dikejar oleh waktu yang singkat, Putri tidak bertele-tele dan langsung mengungkapkan keinginan. "Aku tadi meminta bantuan dari orang-orang yang mengangkut di depan dan berniat untuk membayar mereka."


"Namun, mereka berpikir aku menghina suami yang tidak bisa memberikan nafkah. Jadi, maksudku adalah sekarang membutuhkan bantuanmu untuk menyelesaikan pesanan 200 kotak yang tiba-tiba datang hari ini dan harus diantarkan sebentar lagi."


Akhirnya Putri merasa lega begitu mengungkapkan apa yang ada di pikiran, meski sebenarnya merasa tidak enak pada pria di hadapannya tersebut


Padahal selama ini menghindar dari pihak itu dengan bersikap, tetapi sekarang malah terlihat seperti memanfaatkan. Namun, terpaksa melakukan itu karena tidak ada pilihan lain.


Sekarang menunggu jawaban dari pria yang selama ini mengungkapkan perasaan padanya untuk bertanggung jawab menjadi seorang suami dan ayah bagi Xander.


Ardiansyah yang berpikir bahwa saat ini mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Putri, sehingga tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam untuk melihat pekerjaan apa yang harus dikerjakan.


"Apa yang bisa kubantu?" ucap Ardiansyah yang sudah menghampiri 4 pekerja wanita yang sibuk dengan tugas masing-masing. Mulai dari melipat kotak makanan, memasak nasi dan sayuran dan yang lainnya.


"Kamu bisa memasukkan nasi dan sayuran yang sudah masak tersebut ke dalam kotak makanan. Sementara pekerja masih memasak lauk karena belum matang."


Putri menjawab dengan tidak mengalihkan pandangan pada sosok pria yang sudah duduk di hadapan nasi dan sayuran yang berada dalam kuali besar.


Jadi, langsung mengatakan pada pria itu agar bekerja dengan cepat karena diburu waktu. Kemudian sambil menggendong Xander, memberikan contoh isian dari kotak makanan tersebut.


"Jadi, kira-kira segini mengisi nasi dan juga sayurnya. Ada waktu satu jam lagi dan aku berharap kau bisa membantu kami. Nanti aku akan membayar tenagamu."


Putri tidak ingin dianggap memanfaatkan pria itu, sehingga menjelaskan bahwa akan ada upah ketika meminta tolong. Meskipun selalu dianggap menghina orang lain, tapi Airin ingin menghargai tenaga orang.


Sementara itu, Ardiansyah yang saat ini mengerti setelah diberikan contoh oleh Putri, langsung bergerak dengan kecepatan mengisi kotak makanan tersebut tanpa menjawab semua yang dikatakan oleh wanita yang membuatnya seperti seorang pria tidak punya harga diri.


Apalagi ketika mendengar Putri mengatakan akan membayar tenaganya, seolah membuatnya merasa perjuangan selama ini tidak dianggap.


Bahwa selama ini dengan tulus mencintai wanita itu dan berharap bisa diterima sebagai seorang suami dan ayah untuk balita di pangkuan Putri.


Namun, melihat bahwa ada dinding pembatas yang dibangun oleh Putri, sehingga membuat Ardiansyah saat ini tidak bisa menggapai wanita di hadapannya tersebut.


Meski begitu, Ardiansyah sama sekali tidak berniat untuk menyerah karena berpikir bahwa suatu saat Putri akan luluh dan bisa melihat ketulusannya.

__ADS_1


Ardiansyah menganggap batu karang keras di lautan dan akan terkikis Jika setiap hari terkena hantaman ombak. Berharap hati Putri akan terbuka untuknya, sehingga bisa menikahi wanita yang berstatus sebagai seorang janda tersebut.


'Aku bahkan sangat tulus padamu, tapi kenapa selalu berpikiran buruk pada semua pria, termasuk aku. Apakah kegagalan pernikahan membuatmu trauma sampai seperti ini?'


'Aku berkali-kali mengatakan ingin membantumu terbebas dari trauma itu, tapi kamu sama sekali tidak berniat untuk memberi kesempatan padaku. Aku takut jika kesabaranku habis dan berbuat buruk padamu dengan cara memaksa,' gumam Ardiansyah di dalam hati yang kini mulai beraksi secepat kilat untuk mengisi kotak makanan.


Sementara itu, Putri saat ini tidak bisa membantu sama sekali karena putranya benar-benar bersikap manja. Bahkan itu selalu berlangsung beberapa jam saat bangun tidur.


Kini, ia melihat Ardiansyah sudah sibuk dengan pekerjaan tanpa menatap ataupun berbicara padanya, sehingga tidak ingin mengganggu.


'Aku tahu bahwa kamu adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab karena sudah dua tahun mengenal, tapi aku sudah berjanji untuk tidak menikah lagi karena luka di hatiku tidak akan pernah sembuh oleh siapapun yang berusaha untuk mengobati dengan cara mengisi ruang kosong di sana.'


Selama dua tahun Putri berusaha untuk menyembuhkan luka di dalam hati dengan menyayangi putranya melebihi diri sendiri. Tanpa memperdulikan para lelaki yang berusaha untuk mendekatinya dan mengungkapkan niat baik untuk menikahinya, termasuk Ardiansyah.


Penolakan yang selalu dilakukan oleh Putri seringkali membuat para pria marah dan kesal, tetapi tidak membuatnya takut karena berpedoman bahwa jika ada yang berbuat jahat akan melapor pada polisi yang rumahnya bahkan hanya berjarak beberapa meter dari kontrakannya.


Hal yang membuat Putri tenang adalah itu dan mengetahui jika Ardiansyah ternyata tinggal di tempat polisi yang menjadi orang yang menjaga keamanan di kampung itu.


Seperti yang dipikirkan, bahwa akan membayar upah dan tidak memanfaatkan kebaikan pria itu yang mau membantu pekerjaan agar segera selesai.


Hingga pekerja yang memasak sudah menyelesaikan semua dan membantu Ardiansyah untuk menaruh lauk di kotak-kotak makanan.


Hingga satu jam kemudian, pekerjaan telah selesai dan kini tinggal diantarkan. Putri tadi sudah mengatakan pada Mira ingin meminjam kurir yang biasa mengantarkan agar membantu.


Jadi, beberapa menit kemudian, terlihat kendaraan roda empat yang sudah memasuki halaman rumah dan terparkir rapi disana. Sosok pria yang menjadi supir, kini keluar dari mobil dan langsung membantu untuk menaikkan kotak makanan ke dalam mobil box.


Termasuk Ardiansyah yang juga sudah sibuk mengangkat puluhan kotak makanan dan memasukkan ke dalam mobil. Sebenarnya ia ingin membantu menjadi kurir Putri, tetapi menyadari bahwa mobil taksi tidak akan bisa muat banyak jika mendapatkan pesanan seperti itu, sehingga mengurungkan niat karena berpikir akan percuma.


Memang mobil box lebih tepat karena akan muat banyak dan mudah untuk menaruh barang. Apalagi sekarang ada 200 kotak makanan yang dimasukkan dan masih muat.


"Terima kasih karena sudah tepat waktu datang. Ini alamatnya karena acara akan dilakukan nanti pukul enam sore, jadi masih ada waktu satu jam dari sekarang." Ia memberikan secarik kertas yang merupakan alamat dari orang yang memesan makanan.


Sementara itu, sosok pria dengan peralatan tinggi besar dan kulit sawo matang tersebut tersinggung sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Siap. Ini akan sampai tepat waktu sebelum acara dimulai. Aku berangkat sekarang."


Putri langsung mengulurkan tangan untuk memberikan uang yang tadi diambil dari dalam. "Terima kasih. Ini untuk membeli rokok."


Sang supir saat ini langsung menerima uang dan masuk ke dalam mobil, mampu mengemudikan kendaraan menuju ke alamat yang dituju.


Sementara itu, Ardiansyah terlihat sudah berpeluh dan saat ini sibuk membersihkan dengan sapu tangan yang ada di satu celana. Kemudian mengambil air yang ada di meja paling ujung sebelah kiri etalase makanan.


Hari ini warung Putri terlihat sepi, tapi nasib baik mendapatkan pesanan. Jadi, sudah mendapatkan untung. Kini, Putri mengambil uang dari dalam dompet dan langsung menyerahkan pada Ardiansyah.


"Terima kasih karena sudah membantuku."


Ardiansyah saat ini hanya menatap uluran tangan Putri yang membawa uang. "Apa kamu ingin menghinaku?"


Putri yang masih menggantung tangan di udara karena tidak langsung diterima oleh Ardiansyah, sehingga memilih untuk menurunkannya. Bahkan tidak mengerti dengan maksud dari pria itu.


"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti," sahut Putri dengan mengerutkan kening.


Sementara itu, Ardiansyah saat ini tertawa terbahak-bahak karena menganggap bahwa sosok wanita di hadapannya sedang berpura-pura bodoh.


"Kamu tahu bahwa bukan uang yang kuinginkan darimu. Aku ingin kamu bisa melihat ketulusanku karena itu jauh lebih penting daripada uang yang kamu pegang itu." Kemudian Ardiansyah pergi dengan berbalik badan tanpa melalui ke arah Putri.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan oleh Ardiansyah pada Putri, tapi tidak bisa melakukannya karena wanita itu tengah menggendong Xander yang sangat aktif, sehingga mengurungkan niat dan berpikir lain kali ingin mengatakan sesuatu.


'Jika kesabaranku sama sekali tidak membuahkan hasil, apakah lebih baik aku memaksamu untuk menerimaku?' gumam Ardiansyah yang saat ini tidak bisa lagi bersabar menghadapi wanita yang dianggap sangat keras karena tidak berniat untuk membuka hati bagi siapapun yang mendekat.


Sementara itu, Putri saat ini hanya melihat siluet belakang dari Ardiansyah dan berpikir jika saat ini pria itu tengah marah padanya. Kini, beralih menatap uang yang berada dalam genggaman dan mengingat perkataan pria itu yang seolah menamparnya.


"Uang ini sama sekali tidak berharga jika dibandingkan dengan ketulusanku."


Putri kini menyadari kesalahan dan merasa bersalah pada pria yang semakin menjauh tersebut. "Jika terus terusan meminta pertolongan darimu, tidak akan sanggup membalas budi karena aku mengetahui apa yang kau inginkan."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2