Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tawaran


__ADS_3

Saat Noah merasa kesal karena harus menjadi pelayan di tengah malam untuk memasak mie instan, berbeda dengan yang dirasakan oleh Amira Tan saat ini.


Amira Tan hanya diam mengamati cara Noah memasak mie instan dan berniat untuk melakukannya nanti, tapi bukan di rumah karena memang makanan itu sangat dilarang oleh sang ibu karena sering mengatakan tidak sehat dan membahayakan kesehatan.


Tadi ia sebenarnya ingin menolak saat Noah memberikan itu karena mengingat perkataan dari sang ibu. Namun, mendadak berubah pikiran karena ingin merasakan mie instan dengan warna merah menyala.


Seolah langsung menggugah selera ketika menatap gambarnya, sampai menelan saliva karena membayangkan jika rasanya pasti sangat pedas.


Melihat Noah yang berwajah masam, membuat Amira Tan mengeluarkan jurus ampuh. "Aku bayar seratus ribu untuk mie ini. Anggap saja kamu pelayan restoran dan mendapat tip dariku."


Refleks Noah yang merasa mendapatkan keuntungan karena mendapatkan keuntungan 95 persen dari harga sebenarnya. Akhirnya berubah berbinar karena membayangkan pundi-pundi uang memenuhi dompet.


'Lumayan aku dapat tambahan uang lagi dari yang arogan ini. Apalagi tadi aku sudah dipecat dan tidak mendapatkan penghasilan lagi. Jadi, harus menghemat sampai menemukan pekerjaan baru,' gumam Noah yang kini sudah mengambil mangkuk dan mulai menaruh bumbu.


Kemudian menuangkan mie yang telah direbus ke dalam mangkuk. Setelah mengaduk, ia lalu menyerahkan pada Amira Tan. "Makanlah! Ini sudah matang."


Merasa tidak sama dengan yang dibuatkan oleh pelayan di rumah, Amira Tan mengungkap nada protes. "Tanpa menambahkan apapun? Apa tidak ada sayur dan telur seperti dibuatkan oleh pelayanku ketika darurat saat tengah malam tidak ada makanan."


"Jadi, aku meminta mie instan milik pelayan karena mereka suka menyimpan sebagai persediaan."


Noah yang kini memijat pelipis karena harus selalu bersabar dalam menghadapi Amira Tan. "Aku tidak punya kulkas untuk menyimpan sayur dan telur, Bos. Jadi, aku harap Anda bisa memahami pria miskin ini."


Berharap dengan berkata seperti itu, Amira Tan tidak lagi protes dan membiarkan kembali tidur, yang ada malah Noah membulatkan mata.


"Nanti aku akan membelikan kulkas untuk menyimpan semua itu. Jadi, saat aku membutuhkan sayur dan telur, kamu tidak akan beralasan lagi." Amira Tan pun mengambil mangkuk berisi mie yang masih mengepul asapnya karena masih panas dan berjalan ke ruangan depan.

__ADS_1


Saat masih dipusingkan dengan perkataan konyol Amira Tan yang malah terdengar seperti pasangan suami istri karena dengan enteng akan membelikan kulkas.


Begitu berjalan menuju ke ruangan depan dan mendaratkan tubuhnya di depan Amira Tan, Noah kini ingin mengetahui apa maksud wanita yang sudah mulai meniup mie yang masih panas.


"Apa maksudmu dengan membelikanku kulkas, agar saat datang ke sini? Apa kamu akan tinggal di sini? Atau menganggap rumah ini sebagai tempat persinggahan ketika sedang patah hati?"


Amira Tan sudah mengunyah mie instan pedas yang kini sensasi membakar lidah menyebar. Namun, tidak bisa berhenti karena menyukai rasanya. Bahkan wajah sudah memerah karena kepedasan.


"Kau benar juga? Memangnya kenapa aku harus ke sini lagi? Ini adalah hari terakhir karena tidak akan patah hati lagi karena seorang pria. Bagus akan pergi dan aku tidak akan pernah mengingat lagi pria itu. Jadi, tidak akan patah hati."


Amira Tan merasa makan mie pedas saat patah hati memang sangat cocok dan seolah pria di hadapannya tersebut sangat mengerti apa yang dibutuhkan.


"Sekarang kamu mengakui telah patah hati karena suami adik perempuanmu itu. Apa kamu ingat tadi menceritakan padaku?" Noah merasa aneh karena Amira Tan mengingat kejadian saat mabuk.


Dengan peluh bercucuran di wajah, Amira Tan masih merasakan pedas di mulut dan terus mengunyah di mulut. "Ya, aku mengingatnya."


"Semuanya. Entah mengapa aku tadi tidak terlalu mabuk dan bisa mengingat semuanya."


"Termasuk kejadian di ruang ganti?" Noah merasa jika hal itu sangat penting untuk ditanyakan.


Amira Tan dengan santai mengiyakan dengan menganggukkan kepala dan berbicara sambil mengusap peluh.


"Ya. Apa kau ingin bertanya tentang ciuman tadi? Maaf, saat itu aku memang melihat Bagus pada wajahmu. Jadi, lupakan hal yang sama sekali tidak berarti apa-apa itu karena aku murni tidak sadar."


Merasa seperti menjadi orang bodoh dan dipermainkan oleh wanita, Noah kini sudah tertawa miris karena berpikir jika hanya diri sendiri yang gelisah karena kejadian itu. Sementara wanita di hadapannya yang merupakan tersangka malah santai.

__ADS_1


"Aku jadi korban dari tersangka jahat ternyata karena bisa bersikap seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Padahal aku sampai tidak bisa tidur karena memikirkan perbuatanmu, Nona Amira Tan!" Noah bahkan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi karena selalu diuji kesabaran oleh Amira Tan.


Tanpa memperdulikan keluhan dari pria yang kembali membaringkan tubuh di atas ranjang dan pada posisi memunggungi. Seolah tidak ingin melihat Amira Tan makan.


Melihat sikap Noah yang merajuk seperti anak kecil, tetapi sangat mudah ditaklukkan dengan uang. Jadi, Amira Tan sudah mengetahui apa kelemahan pria itu.


Ia memilih untuk melanjutkan ritual makan sampai habis dan berencana untuk mengungkapkan rencana untuk memperkerjakan Noah di kantor.


Begitu habis dan merasakan pedas pada mulut, ia berjalan dengan membawa mangkuk yang sudah kosong tersebut ke wastafel. Kemudian menuangkan air dari teko dan meneguk hingga habis.


Begitu merasakan sensasi kenyang dan berkurang rasa pedas pada mulut, meski tidak sepenuhnya. Bahkan ia berjalan sambil mengusap perut yang datar.


"Sekarang kalian sudah kenyang, kan? Jadi, jangan bersuara lagi, oke!" Amira Tan kembali ke ruang depan dan duduk di hadapan pria yang masih menghadap berlawanan.


Amira Tan yakin jika Noah belum tidur karena sedang marah. Mendadak mengingat kejadian saat tadi melihat pria itu telanjang saat berpakaian. Meskipun hanya dari belakang, tetap saja berhasil membuat otaknya berpikir buruk.


'Pergilah otak kotor!' sarkas Amira Tan yang hanya bisa mengeluh di dalam hati dan memilih untuk mengungkapkan rencana demi membuang pikiran buruk.


"Maafkan aku karena telah menjadi penyebab dipecat dari pekerjaan. Jadi, aku sudah memutuskan untuk memberimu pekerjaan di kantorku karena kebetulan sedang membutuhkan orang yang bisa melakukan pekerjaan apapun. Bagaimana?"


Sementara itu, Noah yang dari tadi memejamkan mata, tetapi tidak bisa kembali tidur, bisa mendengar semua yang disampaikan oleh sang pengacara arogan.


'Wanita arogan ini meminta maaf? Sangat aneh. Apa karena makan mie instan, membuatnya jadi berubah baik? Bahkan menawarkan pekerjaan di kantor. Apa benar ia sedang membutuhkan orang? Atau karena iba padaku?'


'Apa aku harus menerima tawarannya? Jika tidak bekerja, akan menambah beban karena makan dari uang simpanan yang akan kugunakan untuk menikah nanti.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2