
"Maaf, Tuan Ari Mahesa karena tiba-tiba datang ke sini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu." Amira Tan berjalan masuk ke dalam ruangan dan melirik sekilas ke arah sosok pria yang berada di atas ranjang dengan banyak alat yang menjadi penopang kehidupan.
Bahkan suara dari layar monitor yang menunjukkan detak jantung pasien, seolah membuat siapapun merinding mendengar. Apalagi jika ruangan sangat sepi karena hanya keheningan yang tercipta ketika menunggu pasien yang baru saja mengalami kecelakaan parah.
Ari Mahesa yang saat ini bangkit berdiri dari sofa dan bisa melihat siapa yang datang. Tentu saja mengetahui jika wanita di hadapannya tersebut merupakan saudara perempuan dari mantan istri putranya.
"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini? Apakah kau mengetahui bahwa putraku mengalami kecelakaan?"
Amira Tan yang sebenarnya tadi berbicara pada pria muda yang merupakan asisten pribadi di depan ruangan, tidak sabar menunggu dan langsung masuk begitu saja.
Semua itu karena ingin memastikan sendiri jika saat ini mantan suami dari Putri benar-benar tidak sadarkan diri dan didengar dari perkataan asisten pria tersebut bahwa dokter mengatakan jika pasien mengalami koma.
Setelah pulang dari kontrakan Putri, Noah pergi ke terminal untuk mencari informasi mengenai saudara perempuan yang pergi tanpa pamit tersebut. Namun, sama sekali tidak ada petunjuk yang didapatkan karena Noah bertanya mengenai seorang wanita yang menggendong bayi.
Petugas yang mengatakan bahwa ada banyak wanita yang menggendong bayi dan tidak tahu apakah salah satunya termasuk yang dicari.
Akhirnya Amira Tan mengajak Noah pergi ke restoran untuk mengisi perut yang lapar. Setelah tadi mengumpat dan memberikan pelajaran pada Arya di depan kontrakan, ia memilih untuk menghabiskan waktu dengan makan makanan pedas.
Berharap perasaan kacau balau yang dirasakan sedikit berkurang setelah makan makanan pedas. Namun, saat pulang, melihat ada kecelakaan dan mencari tahu karena mengetahui bahwa mobil yang terbalik di tengah jalan itu sangat dikenal.
Karena memang tadi melihat sendiri kendaraan yang tak lain merupakan milik Arya. Setelah bertanya pada beberapa petugas yang tengah sibuk di lokasi kejadian, langsung memberitahu bahwa yang menjadi korban adalah salah satu putra dari pengusaha terkenal.
__ADS_1
Akhirnya Amira Tan langsung menuju ke rumah sakit dan seperti saat ini sudah berdiri di hadapan pria paruh baya yang bersebelahan dengan sang istri. Sementara Noah masih menunggu di luar karena memang tidak boleh ada banyak orang yang masuk.
Amira Tan akhirnya menceritakan apa yang diketahui dan tadi bertemu dengan Arya di kontrakan Putri sebelum mengalami kecelakaan.
Memang ia sengaja mengatakan hal itu karena berharap pasangan suami istri yang memiliki sifat arogan tersebut menyadari kesalahan karena mempermainkan putra sendiri demi ambisi.
Hingga berakhir menjadi seperti mayat hidup ketika mengalami koma. "Jadi, seperti itu ceritanya dan saya bisa berada di sini karena ingin melihat kondisi Arya."
Tanpa menunggu izin dari pria paruh baya yang hanya diam setelah mendengar penjelasannya, ia sudah melangkahkan kaki mendekati ranjang perawatan pria yang langsung mendapatkan balasan setelah menyakiti anak dan istri.
"Apakah kau akan selamanya koma untuk menebus kesalahanmu pada Putri?" Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara mengintimidasi dan mengandung kemurkaan dari wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Arya.
"Lebih baik kau keluar saja dari ruangan ini daripada mengatakan hal-hal yang buruk pada putraku! Atau kau mau diseret oleh security?" Masih mengarahkan tatapan tajam pada saudara Putri, kini Rani mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran dan berharap tidak melihat wanita itu lagi.
Amira Tan yang saat ini sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman dari wanita yang mempunyai usia jauh lebih tua tersebut, hanya melirik sinis dan mengungkapkan apa yang ingin disampaikan.
"Apakah Anda sama sekali tidak menyadari kesalahan setelah melihat Arya koma? Bahkan saat aku menampar putra Anda di depan kontrakan Putri, dia hanya diam saja dan sama sekali tidak marah. Hal itu menunjukkan bahwa dia merasa bersalah dan bersedia untuk menerima hukuman apapun."
Amira Tan sudah memikirkan konsekuensi saat memilih untuk melawan pengusaha sukses yang disegani oleh semua kalangan pebisnis tersebut. Bahkan kali ini mempertaruhkan karir saat melakukan itu.
"Aku hanyalah seorang manusia biasa dan merasa emosi saat saudara perempuan disakiti oleh putra Anda. Sementara yang terjadi saat ini, ada campur tangan dari kuasa Tuhan dan sepertinya ingin menunjukkan bahwa harta dan tahta tidak bisa membeli nyawa seseorang."
__ADS_1
Ada banyak hal yang ingin diluapkan oleh Amira Tan pada pasangan suami istri tersebut. Berharap semua rasa yang membuncah di dalam hati, bisa sedikit berkurang dan merasa lega.
Bahkan berharap jika Ari Mahesa dan sang istri menyadari kesalahan karena mencampuri urusan rumah tangga putra sendiri.
"Inilah hasil dari obsesi kalian yang ingin memisahkan Arya dengan Putri. Mereka memang terpisah sekarang setelah mengalami masalah akibat tes DNA palsu yang merupakan hasil rekayasa kalian. Namun, kesalahan yang kalian anggap sepele menjadi fatal seperti ini!"
Kemudian Amira Tan mengarahkan tangannya pada pria yang masih memejamkan mata tersebut. "Inilah hasil ambisi orang tua yang ingin menikahkan putra dengan wanita dengan derajat sama agar bisa semakin mengembangkan bisnis jika bekerja sama."
"Sementara ketika Arya menikah dengan Putri, kalian berpikir akan membuat perusahaan bangkrut hanya karena para kisah percintaan terlarang putra kalian. Selamat, perusahaan aman, sedangkan putra kalian menjadi korban! Aku hanya ingin mengatakan itu saat datang ke sini."
Saat Ari Mahesa hanya diam dan tidak berkomentar apapun atas ejekan dari pengacara tersebut, berpikir jika semua yang baru saja diungkapkan adalah memang sebuah kenyataan.
Meskipun wanita itu terlihat sangat tidak sopan, tetapi Ari Mahesa bisa melihat bahwa sebenarnya ada niat baik dari penghinaan barusan.
'Wanita itu mengatakan kami adalah pasangan yang arogan, tetapi tidak bisa bercermin. Bahkan pengacara itu jauh lebih parah,' gumam Ari Mahesa yang memberikan kode pada Putra Wijaya agar membiarkan pergi tanpa mempersulit.
Berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Rani karena sangat marah ketika sang suami hanya diam saja. "Wanita itu sangat tidak sopan dan harusnya mendapatkan sanksi tegas."
"Bukankah ini adalah penghinaan bagi keluarga Mahesa? Aku ingin kau menghancurkan wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut," ucap sosok wanita yang saat ini masih tidak bisa mengendalikan amarah yang memuncak dan menyeruak memenuhi urat syaraf.
To be continued...
__ADS_1