Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pertemuan


__ADS_3

Bagus segera turun dari taksi yang ia tumpangi. Pria itu melebarkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah kontrakan Putri.


Di kursi teras rumah, Amanda— wanita yang ia suruh untuk membantu Putri membersihkan rumah karena tahu jika wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri tersebut repot karena memiliki bayi.


Tadi Amanda mengatakan bahwa Putri demam tinggi dan ia segera ke kontrakan.


Amanda sedang menunggunya sambil menggendong Xander. Ia terlihat sangat gelisah dan khawatir.


“Suhu tubuh kak Putri semakin tinggi. Saya tidak tahu harus bagaimana.” Amanda memberitahu sembari mengikuti langkah Bagus di belakang pria itu.


“Putri ….”


Bagus segera menghampiri wanita yang sedang memejamkan mata dengan wajah yang terlihat pucat. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Putri. Benar saja, tubuh wanita itu terasa sangat panas.


“Kamu sudah menyiapkan semuanya, Manda?” tanya Bagus pada Amanda tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya dari Putri.


“Sudah. Saya juga sudah membawa pakaian ganti untuk Xander,” jawab Amanda. Sebelumnya Bagus meminta Amanda menyiapkan segala kebutuhan Xander dan Putri karena saat ia tiba, mereka harus segera membawa ke rumah sakit.


“Kita ke rumah sakit sekarang!" Bagus langsung mengangkat tubuh Putri. Menyelipkan tangannya dibawah lutut dan tengkuk leher, lalu membawa keluar wanita itu dengan tubuh yang berbalut selimut.


Bagus membawa Putri menuju taksi yang masih menunggu di depan rumah. Sengaja ia meminta pada sopir taksi yang mengantarnya tadi untuk menunggu dan meminta sang sopir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.


“Dingin,” lirih Putri yang semakin merapatkan tubuhnya pada Bagus.


“Tahan, sebentar. Kita akan ke rumah sakit.”


Bagus memeluk tubuh Putri dan mendekap wanita itu agar merasakan sedikit kehangatan di tubuhnya.


Ia bisa merasakan jika suhu tubuh Putri sangat panas. Meskipun ada pakaian yang menghalangi kulit mereka, tetapi Bagus bisa merasakan panas tubuh Putri.


“Kalau bisa, lebih cepat sedikit," pinta Bagus pada sopir taksi yang mengantar mereka.


“Baik," jawab sopir taksi.


Mobil pun melaju meninggalkan komplek perumahan. Saat mereka melewati pos security di komplek itu,


Bagus sempat berpesan pada security yang berjaga. Ia meminta agar mereka memberitahu jika melihat Arya, memberitahukan bahwa Putri dibawa ke rumah sakit.


Bagus juga menyebutkan nama salah satu rumah sakit yang akan ia datangi untuk memeriksa Putri.


Sopir taksi dengan lihai dan gesit menyalip beberapa kendaraan di depannya, tanpa membuat khawatir penumpang di dalam mobil tersebut.


Kurang dari satu jam, mereka tiba di salah satu rumah sakit yang ada di kota tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar ongkos taksi. Bagus segera membawa Putri menuju ruang UGD.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa keadaan Putri mengatakan jika wanita itu harus dirawat di rumah sakit karena ia harus di infus untuk menggantikan cairan di tubuhnya yang hilang dan memasukan makanan, serta obat lewat cairan infus.


Seharian ini, Putri terus muntah-muntah, perut wanita itu tidak bisa menerima makanan dan minuman yang ditelan oleh mulutnya.


Bagus juga bertanya apakah Putri masih bisa memberikan ASI untuk bayinya. Dokter mengatakan jika tidak masalah jika Putri ingin memberikan ASI untuk putranya karena tidak ada infeksi virus atau penyakit berbahaya lainnya yang mempengaruhi pemberian ASI untuk si kecil.


“Amanda, apa aku bisa meminta bantuanmu untuk menjaga Xander malam ini?” tanya Bagus. Malam ini, Xander tidak akan ikut menginap di rumah sakit.


“Tidak masalah. Saya akan menjaga Xander dengan sebaik mungkin,” jawab Amanda, meyakinkan Bagus.


Amanda mengatakan jika di rumah, Putri juga mempunyai stok ASI di dalam kulkas dan masih cukup banyak, sehingga mereka tidak perlu khawatir Xander itu akan kekurangan ASI.


Xander tetap dapat meminum ASI di rumah, meskipun sang ibu sedang dirawat di rumah sakit.


Bagus menghela napas lega mendengar penjelasan Amanda. Kondisi Xander juga sudah tidak demam dan rewel lagi. Siang tadi, Amanda tidak kesulitan dalam menjaga Xander.


Hanya saja, gadis itu khawatir dengan kondisi Putri yang demamnya semakin tinggi dan muntah-muntah.


Menjelang sore hari, Bagus meminta Amanda untuk pulang dan beristirahat saja di rumah kontrakan Putri.


Amanda meminta izin pada Bagus, apakah ibunya boleh menemani dia malam ini di rumah kontakan Putri. Wanita paruh baya itu akan berangkat kerja besok pagi dari rumah kontrakan.


Bagus mengizinkan jika memang ibu Amanda merasa tidak keberatan.


Dengan setia, Bagus menunggu Putri di rumah sakit. Pria itu bahkan belum membersihkan diri dan masih mengenakan pakaian kerjanya pagi tadi.


“Kenapa kamu jadi sekurus ini?” gumam Bagus. Menghela napas berat dan menatap prihatin wanita yang masih menjadi istrinya. “Apa kamu benar-benar bahagia?”


Bagus kembali teringat saat setelah Putri melahirkan buah hati mereka lima tahun lalu.


Wanita itu tidak sekurus saat ini. Sebaliknya, Putri sering merengek dan mengeluh jika ia tidak akan terlihat cantik lagi karena tubuhnya yang melebar usai melahirkan.


Namun, Ia dengan sabar meyakinkan istrinya jika masih tetap terlihat cantik dan bisa tetap merawat badan agar tetap tampil cantik.


Sebuah senyum terulas di kedua sudut bibir Bagus saat ia mengingat masa-masa indah dan bahagia bersama Putri dulu.


Seketika ia teringat pada putra mereka. Anak itu pasti akan bahagia jika bertemu dengan sang ibu.


***


Malam telah menyapa saat Bagus tiba di rumahnya. Sebelum ia pulang untuk membersihkan diri, pria itu terlebih dahulu menitipkan Putri pada perawat yang berjaga di sana.


Bagus berniat mengajak putranya untuk menjenguk sang ibu di rumah sakit.

__ADS_1


“Ibu sakit apa, Yah?” tanya anak laki-laki berusia 5 tahun itu. Mereka sudah berada di dalam taksi, sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


“Hanya kelelahan, Sayang.”


Putra tampak bahagia saat sang ayah mengatakan jika ia akan membawa anak itu bertemu dengan sang ibu.


Dibesarkan tanpa sosok seorang ibu beberapa tahun terakhir ini, membuat Putra sangat merindukan sang ibu.


Anak itu bahkan meminta agar mereka membeli buah terlebih dahulu untuk diberikan pada sang ibu sebagai ucapan agar wanita itu cepat sembuh.


Meskipun Putri memberi sekat di antara mereka, tetapi Bagus tidak pernah mengajarkan putranya untuk membeci Putri ataupun menyalahkan wanita itu.


Bagus justru mengajarkan pada putranya agar kelak bisa menyayangi, menjaga dan melindungi sang ibu.


Bagus juga meminta agar Putra kelak tidak mendengarkan apapun perkataan buruk orang di luar sana, tentang mamanya.


Saat mereka datang ke sana, Ternyata Putri sudah bangun. Ia sangat terkejut saat melihat kehadiran seorang anak laki-laki yang berdiri di samping Bagus.


“Ibu ….”


Putri bisa melihat dengan jelas bagaimana anak itu bergumam dengan mata yang berkaca-kaca menatapnya.


“Kemarilah, Sayang.” Putri tersenyum lembut sembari melambai pada anak itu.


Putra tersenyum dan segera berlari menghampiri sang ibu yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.


Bagaimanapun, Putri adalah seorang ibu dan tidak bisa dipungkiri jika ia juga sangat merindukan putranya tersebut.


Putri mengusap air mata yang mulai membasahi pipi putranya tersebut.


“Anak Ibu.”


Putra menunduk, tidak berani menatap wajah sang ibu. Anak itu seolah-olah sedang menyembunyikan wajah sedihnya. Lama tidak bertemu dengan sang ibu dan mereka harus bertemu saat keadaan sakit.


“Buah untuk Ibu."


“Terima kasih, Sayang.” Putri mengusap lembut pucuk kepala putranya. “Naiklah ke mari, Sayang. Putri menepuk sebelah tempat tidur di sampingnya.


"Boleh?” taya Putra dengan sedikit ragu.


“Tentu saja, boleh.”


Putra tersenyum senang. Anak itu mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Kemudian meminta pada sang ayah, agar membantunya untuk naik ke atas ranjang, juga ikut duduk bersandar di atas ranjang.


To be continued...


__ADS_2