Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pemikiran Amira Tan


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang direncanakan oleh Amira Tan dan Noah, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil yang menuju ke arah perusahaan Mahesa.


Selama dalam perjalanan menuju ke perusahaan, tiga orang yang ada di dalam mobil tersebut hanya diam. Seolah menunjukkan jika saat ini tengah memikirkan sesuatu.


Putri yang tadi sudah berpakaian ala kantoran karena memakai pakaian kerja milik Amira Tan, jadi tidak akan ada yang melarang masuk nanti.


Apalagi Amira Tan mengatakan ia adalah asisten, sedangkan Noah tetap menunggu di dalam mobil.


"Apa kamu gugup?" tanya Amira Tan yang kini duduk di sebelah Putri dan menepuk pundak wanita yang dari tadi hanya diam tersebut.


Amira Tan memang sudah menunggu saat ini tiba karena berharap jika perbuatan Arya langsung dilihat oleh Putri. Seolah tengah menantikan kehancuran rumah tangga Putri.


Merasa jika apa yang terjadi adalah karena pria bernama Arya sangat menyebalkan karena kemarin bersikap sangat dingin.


Sampai membuat Amira Tan murka dan memilih untuk memberikan sebuah hukuman. Menganggap jika itu sama sekali tidak bisa membayar perbuatan pria itu pada Arya.


'Aku memang tidak tega mengatakan secara langsung pada Putri karena mungkin tidak akan percaya. Namun, hari ini sangat ingin kamu melihat dengan mata sendiri tentang kelakuan Arya di belakangmu.'


'Bercerai dengan Arya adalah sebuah hal yang harus dilakukan karena jika bertahan, hanya akan mendapatkan penderitaan!'


Amira Tan hanya diam mengamati sosok wanita yang kini tengah berusaha untuk menampilkan wajah tenang. Meskipun tahu jika sebenarnya di dalam hati Putri tengah dihujani sejuta kegelisahan.

__ADS_1


Namun, mencoba untuk berpura-pura bersikap tenang saat ini dan Amira Tan ingin melihat ekspresi wajah itu nanti begitu melihat Arya berselingkuh.


"Aku takut jika Arya marah karena datang tanpa memberikan kabar. Apakah akan merasa malu jika melihat istri yang selama ini disembunyikan tiba-tiba datang? Bagaimana jika Arya murka?"


"Apakah kita batalkan saja rencana ini untuk memberikan kejutan pada Arya? Kita pulang saja." Putri kini menatap ke arah sosok pria yang tengah fokus mengemudi. "Putar balik saja, Noah. Antarkan aku pulang ke kontrakan!"


Meskipun berat dan ragu saat mengatakan hal itu, tapi Putri saat ini tidak bisa berpikir lain karena rasa takut akan kemurkaan Arya jauh lebih besar.


Sementara itu, Noah yang kini melirik ke arah spion, hanya diam karena belum memutuskan apapun. Tentu saja tengah menunggu sang wanita penguasa memberikan titah.


Jadi, selama ini menganggap hanyalah seorang bawahan yang tidak berhak berbicara sebelum Amira Tan. 'Kasihan sekali Putri. Bahkan hanya untuk menemui sang suami bisa ketakutan seperti itu.'


Saat Noah sibuk beragumen sendiri di dalam hati, yang terjadi di belakang saat ini adalah Amira Tan tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Kemudian menunjukkan pada Putri agar melihat.


"Aku ingin kamu melihat ini."


Putri yang masih diliputi kegelisahan, kini melihat ke arah benda pipih di tangan Amira Tan. Di sana, ada dokumen yang merupakan berkas surat cerai.


"Ini?" Amira Tan tidak bisa membuka mulut karena perasaan tengah berkecamuk.


Ia pun kini menganggukkan kepala dan menjelaskan tentang apa yang ingin dikatakan dari tadi. Bertujuan untuk membuat Amira Tan tidak mundur setelah sejauh ini.

__ADS_1


"Ya, ini adalah dokumen surat cerai kalian yang sudah jadi dan akan kukirimkan kepada Bagus saat pengadilan mengabarkan untuk segera mengambil. Tanpa menunggu, ia memilih pulang kampung karena ingin kamu hidup bahagia bersama Arya."


"Tanpa dibayangi oleh Bagus, jadi berharap jika selamanya hidup kalian dipenuhi oleh kebahagiaan. Namun, jika sikapmu seperti ini, bukankah kamu melupakan perjuanganmu yang memilih Arya dari pada Bagus?"


"Kamu adalah istri sah Arya dan berhak mendapatkan semua yang dimiliki suamimu. Lalu, buat apa takut? Saat langkahmu bahkan sudah sejauh ini."


Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang dari tadi hanya diam seperti kebingungan untuk menjawab tersebut, Amira Tan beralih menatap ke arah depan.


"Lanjut saja karena aku pun sudah tidak sabar untuk memarahi suami Putri. Biar Arya sadar jika pria yang telah beristri itu harus mementingkan istri dari pada orang tua."


"Karena orang tua yang baik tidak akan pernah merusak kebahagiaan rumah tangga anak. Itulah orang tua yang benar. Meskipun terkadang banyak menantu yang juga durhaka pada mertua, tapi intinya adalah dilihat dari siapa yang salah dan benar."


Amira Tan kembali memasukkan ponsel ke dalam tas karena berpikir jika saat ini ingin memberikan semangat kepada Putri dengan cara mengingatkan jika dahulu sangat yakin pada pilihan.


'Aku merasa iba sekaligus geram padamu karena memilih hidup menderita bersama Arya. Saat kamu tertipu oleh paras rupawan dan harta melimpah yang dimiliki oleh pria yang bahkan tidak sederajat, akhirnya berakhir seperti ini. Jadi, aku tidak ingin merasa bersalah karena mengatakan mengenai perbuatan Arya.'


'Namun, yang saat ini kuinginkan hanyalah kamu merasa sadar setelah melihat sendiri, bagaimana pria yang selama ini kau banggakan. Jadi, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk memuji pria yang bahkan tidak pantas mendapatkan itu.'


'Jika kamu memuji Bagus sepuas hati, Aku tidak akan melarang karena itu adalah kenyataan,' gumam Amira Tan yang masih menunggu bibir Putri terbuka untuk sekedar berkomentar atas apa yang baru saja dikatakan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2