Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tempat pelarian


__ADS_3

Putri pun kembali mengucapkan terima kasih untuk kesekian kali dan menutup sambungan telpon. Kemudian mengirimkan nomor rekening pada sang pemilik kontrakan yang dianggap adalah Dewi penolong.


Kemudian memesan taksi untuk mengantarkan ke terminal karena Putri berencana untuk pergi ke luar kota dengan tinggal di sebuah desa kecil yang pastinya biaya hidup tidak akan tinggi.


Meskipun belum memutuskan tempat tujuan pasti, tapi ia berencana untuk menggunakan uang pengembalian sewa sebagai modal usaha.


Menggunakan kemampuan pintar memasak dan selalu dipuji enak oleh Wahyu dan anak-anak dulu, Putri ingin berjualan makanan di rumah karena berpikir jika bekerja dan meninggalkan Xander yang masih kecil, merasa tidak tega.


Apalagi nanti harus membayar orang untuk menjaga Xander dan berpikir jika itu juga akan menambah pengeluaran.


"Aku akan mencari rumah kontrakan saja dari pada hanya sebuah kamar karena nanti tidak akan bisa kugunakan sebagai tempat jualan. Mungkin akan lebih baik mencari tempat tinggal di pinggir jalan. Jadi, bisa berjualan di depan rumah."


"Di desa, akan jauh lebih murah biaya sewa dari pada di sini. Jadi, uang sisa membayar rumah kontrakan akan kugunakan sebagai modal usaha. Semoga laku dan bisa memenuhi kebutuhan hidup aku dan putraku."


Putri tidak terlalu berharap banyak karena yang penting adalah bisa memenuhi kebutuhan hidup dan juga Xander. Hanya itu yang diinginkan karena berharap malaikat kecil malang itu tidak semakin hidup menderita karena kekurangan.


Putri yang masih duduk di kursi untuk menunggu taksi, kini mengingat mantan suami yang kini mungkin telah hidup damai di kampung halaman.


"Kutukanmu telah menjadi kenyataan dan aku benar-benar hidup menderita seperti doamu dulu. Apakah kau akan merasa senang jika mengetahui aku telah diceraikan dengan kejam saat melihat Arya berselingkuh?"


Bola mata Putri kini berkaca-kaca karena merasa bersalah sekaligus berdosa ketika mengingat mantan suami dan putra-putrinya yang telah disakiti. Hingga menjadi korban dari keegoisan Putri.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, apa hanya karma ini yang kujalani untuk menebus dosaku padamu, Bagus. Hanya saja, aku berharap penderitaanku berhenti sampai di sini karena tidak ingin Xander semakin menderita jika ada masalah lain yang menimpaku."


Meskipun Putri merasa lega karena mempunyai uang yang cukup untuk digunakan sebagai biaya hidup bersama Xander, tetapi masih tidak bisa menghilangkan rasa takut sekaligus khawatir jika sampai mengalami hal yang lebih buruk dari ini.


Saat Putri didera rasa khawatir, mendengar suara klakson dari taksi yang baru saja datang. Kemudian bangkit dari kursi dan melambaikan tangan karena membutuhkan bantuan untuk mengangkat tas.


"Tolong saya!"


Sang supir yang baru saja membuka pintu mobil, kini langsung keluar setelah mematikan mesin. Kemudian membantu penumpang untuk membawakan dua tas besar yang berada di lantai.


Setelah memasukkan ke dalam kursi belakang, sang supir pun mempersilakan wanita yang menggendong anak itu masuk dan duduk di depan.


"Antarkan saya ke terminal!" Putri yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi depan, menoleh pada pria di balik kemudi tersebut.


Sementara itu, Putri mendengar suara notifikasi dari ponsel dan membaca pesan jika wanita pemilik kontrakan telah mentransfer uang.


Embusan napas lega kini seolah mewakili perasaan Putri yang merasa sedikit lebih baik. Di saat bersamaan, ponsel yang masih dipegang kini berdering dan seperti beberapa saat lalu, kontak Arya yang saat ini menelpon.


'Kenapa pria berengsek ini kembali menghubungi? Apa yang diinginkan sebenarnya? Apa masih belum puas menyakitiku hingga hancur lebur seperti tadi?' gumam Putri kini menyentuh pipi sebelah kanan yang ditampar oleh Arya.


'Bahkan rasanya jauh lebih sakit dari yang kubayangkan dan hatiku jauh lebih terluka atas semua perbuatanmu, Arya. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi dan begitu pun sebaliknya.'

__ADS_1


Lamunan Putri musnah ketika mendengar suara bariton dari sang supir yang bertanya.


"Kenapa tidak diangkat, Nyonya?" tanya sang supir yang melirik sekilas ke arah penumpang karena merasa sangat terganggu dengan suara dering ponsel tersebut.


"Ada orang gila yang suka mengganggu, jadi tidak mungkin kuangkat." Putri berbicara singkat dan memilih untuk menonaktifkan ponsel.


Bahkan tidak hanya itu saja karena saat ini langsung mengambil SIM card di dalam ponsel dengan alat kecil seperti jarum, lalu mematahkan dan membuang ke jalanan setelah membuka kaca jendela mobil.


'Selamat tinggal masa lalu dan semua kenangan buruk yang menyakitkan. Aku ingin membuka lembaran baru bersama putraku tanpa memikirkan apapun. Aku tidak akan berhubungan dengan orang-orang di masa lalu karena hanya akan menghalangi langkahku untuk mengukir masa depan bersama Xander yang harus kubahagiakan.'


Meskipun berat terasa, tapi Putri saat ini berpikir merasa lebih lega setelah berhasil melepaskan rantai dalam diri karena cinta pada Arya sangatlah besar.


Namun, hari ini memilih untuk melepaskan dan merelakan pria itu karena ingin fokus pada bayi di gendongan saat ini.


Putri yang kini tengah menatap ke arah Xander, langsung mencium gemas malaikat kecil yang akan menjadi tempat curahan kasih sayang.


"Mama sayang Xander. Kita akan bahagia di tempat yang baru." Saat Putri sibuk mengajak bicara bayi yang ada dalam gendongan, mendengar suara sang supir yang merasa ingin tahu.


"Memangnya Anda mau ke mana, Nyonya? Sepertinya akan pergi jauh?" Pria paruh baya tersebut seolah bisa menebak jika penumpang seperti sedang mengalami masalah dan ingin pergi jauh.


Kemudian Putri menggelengkan kepala karena pada kenyataannya belum mengetahui mau ke mana. Memang tujuan utama adalah keluar kota, tetapi belum memutuskan kota tujuan.

__ADS_1


"Saya ingin keluar dari kota ini, tapi belum tahu akan ke mana. Apakah Anda memiliki saran mengenai kota yang cocok untuk tempat pelarian?"


To be continued...


__ADS_2