Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pria baik


__ADS_3

"Istriku sangat baik dan tanpa curiga padaku langsung setuju untuk membantumu mencari tempat tinggal di sana. Mengenai jenis usaha apa yang ingin kamu lakukan, bisa dibahas setelah sampai di sana. Sekarang kamu tunggu saja di sini."


"Aku akan membelikan tiket untuk pergi ke kota yang menjadi tempat tinggal istriku. Anggap ini adalah kebaikanku atas dasar perikemanusiaan." Melangkah keluar dari mobil setelah melihat penumpang menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


"Terima kasih." Putri merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan orang baik yang mau membantu, meskipun baru bertemu.


Saat ini, ia masih diam mengamati siluet sosok pria yang dianggap hampir mirip dengan mantan suami. "Ternyata di dunia ini ada banyak pria baik seperti Bagus yang mau menolong orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan."


Kemudian menatap ke arah bayi yang digendong saat ini tengah tertidur pulas. "Mungkin Mama mendapatkan kebaikan dari orang lain karenamu, Putraku. Kamu akan memenuhi kehidupan Mama dengan cahaya kebahagiaan."


"Mama berjanji akan membuatmu tidak kekurangan apapun selain kasih sayang seorang ayah." Putri kemudian mencium kening bayi yang terlihat tertidur pulas tersebut.


"Mama sayang Xander dan berjanji akan selalu bersamamu, meski apapun yang terjadi."


Saat Putri sesekali mengusap wajah malaikat kecil yang terlihat sangat damai ketika tertidur, beberapa saat kemudian melihat pria yang menolong sudah kembali dan masuk ke dalam mobil.


Pria yang sama sekali tidak diketahui nama itu mengulurkan tiket bus dan ia langsung menerima, tetapi kemudian memperkenalkan diri.


"Aku Putri. Kamu sepertinya tadi ditanya oleh istrimu siapa namaku dan menjawab tidak tahu, bukan?"


Refleks pria berusia 40 tahun tersebut terkekeh karena memang tadi seperti itu dan ditertawakan oleh sang istri. Kemudian memilih untuk memperkenalkan diri dengan menjabat tangan.


"Panggil saja aku Rudi, sedangkan istriku bernama Mira Andini. Tadi untuk memberikan nomor padamu. Jadi, setelah sampai di terminal, istriku akan menjemputmu. Sekarang sedang bertanya pada beberapa kenalan mengenai rumah kontrakan yang akan menjadi tempat tinggalmu."


Kemudian Rudi menceritakan bahwa sang istri tadi mengatakan jika belum menemukan tempat tinggal, tidak keberatan jika Putri tinggal di rumahnya.


Refleks langsung menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan tawaran dari istri pria tersebut yang dianggap terlalu baik karena mau menolong, meski baru mengenal dan belum pernah bertemu.


"Tidak! Aku paling tidak suka terlalu merepotkan orang lain. Jadi, kalau bisa, aku ingin segera tinggal di kontrakan sendiri. Bukan aku menolak untuk tinggal bersama istrimu, tapi merasa menjadi beban orang lain."

__ADS_1


Akhirnya pria tersebut menjawab dengan anggukan kepala. "Baiklah, aku akan mengatakan keinginanmu pada istriku. Semoga hari ini menemukan tempat tinggal untukmu." Rudi kemudian menulis nomor ponsel sang istri pada secarik kertas dan memberikan pada Putri.


Putri yang saat ini tersenyum simpul dan mengungkapkan rasa terima kasih berkali-kali pada Rudi dan beberapa saat kemudian keluar dari mobil setelah mendengar suara dari petugas melalui pengeras suara.


Bahwa bus yang akan menjadi tujuan diberangkatkan 10 menit lagi.


"Ayo, aku akan membantumu." Membuka pintu mobil dan langsung mengambil dua tas milih wanita yang berstatus single parent tersebut.


Putri kini mengikuti pergerakan Rudi dan berjalan di belakang pria dengan tubuh tinggi kurus tersebut. Kemudian melihat jika pria tersebut memasukkan tas ke dalam bagasi bus dibantu oleh petugas.


"Terima kasih atas semuanya dan maafkan aku jika tadi berkata kasar padamu saat merasa kesal."


"Tidak masalah karena aku bisa memahami apa yang kau rasakan saat ini. Nanti kirim pesan pada istriku terlebih dahulu sebelum kau sampai di terminal, agar bisa bersiap untuk menjemputmu." Rudi kini mengusap lembut kepala bayi yang ada di gendongan Putri.


"Kelak putramu akan menjadi orang yang hebat dan membahagiakan sang ibu yang berjuang untuk bisa membesarkan sendiri tanpa suami."


Merasa sangat terharu dengan doa yang diberikan oleh Rudi, Putri kini berkaca-kaca bola mata karena tidak bisa menahan rasa haru atas kebaikan dari pria tersebut.


Rudi saat ini mengerutkan kening karena merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Putri. "Memangnya ada apa dengan namaku? Apa suami yang baru saja menceraikanmu juga bernama Rudi?"


"Bukan suamiku, tapi ayah mertuaku dan merupakan penyebab dari kehancuran rumah tangga. Namun, sekarang tidak perlu membahas hal tidak penting itu karena semuanya sudah terjadi. Aku masuk dulu."


Putri kini berbalik badan dan berjalan memasuki bus. Namun, menepuk jidat saat mengingat sesuatu hal yang sangat penting.


"Aku lupa jika tadi mematahkan sim card dan pasti tidak bisa menghubungi istrimu," ucap Putri yang saat ini berbalik badan untuk berbicara pada pria yang masih menunggu di sebelah kiri bus.


Rudi yang kini mengerti, langsung berinisiatif untuk membeli. "Kebetulan di depan terminal ini ada counter. Kamu masuk saja dulu. Aku akan kembali sebelum bus diberangkatkan."


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Putri memilih untuk menuruti perintah dari pria yang terlihat berlari keluar dari terminal. Kemudian duduk di nomor yang sesuai dengan tiket.

__ADS_1


Meskipun saat ini perasaannya merasa lega karena sudah tahu tempat tujuan, tetapi di lubuk hati terdalam sebenarnya merasa tidak rela meninggalkan kota yang menyimpan banyak kenangan.


Apalagi harus meninggalkan pria yang masih sangat dicintai karena tadi menghubungi. Meskipun merasa sangat penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Arya karena menelpon setelah menceraikan.


Akan tetapi, dengan sekuat tenaga mencoba untuk menahan diri agar tidak tersakiti lagi jika sampai pria itu hanya berbicara kasar dan menuduh hal yang tidak dilakukan.


'Aku tidak ingin mendengar apapun dari pria itu karena rasa ingin tahu hanya akan menyakiti dan membuat hati terluka. Biarkan papamu hidup berbahagia dengan wanita itu.'


'Kita pun bisa hidup berbahagia tanpa kehadiran papamu Bukankah begitu, Putraku?' lirih Putri yang saat ini kembali berurai air mata saat menatap wajah damai dan polos malaikat kecil yang saat ini masih tertidur pulas.


Bahkan karena merasa terluka ketika mengingat perbuatan Arya, kini Putri memilih untuk mendongak ke atas karena tidak ingin air mata jatuh ke wajah Xander.


'Jangan bodoh, Putri. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria berengsek yang mengkhianati cinta tulusmu. Arya tidak pantas mendapatkan ini karena telah berselingkuh dengan wanita lain.'


Putri memilih untuk membersihkan bulir air mata yang menganak sungai di wajah karena tidak ingin penumpang di sebelah, memperhatikan.


Hingga beberapa saat kemudian, melihat Rudi baru saja masuk ke dalam bus dan menghampiri, lalu memberikan sesuatu yang tadi disebutkan.


"Ini SIM card yang kamu butuhkan. Hubungi istriku nanti dan kita akan bertemu satu bulan lagi di sana." Rudi yang baru saja berbicara, mendengar suara dari petugas yang mengatakan bahwa bus akan segera diberangkatkan.


"Terima kasih, Pria baik," ucap Putri yang saat ini melihat Rudi berjalan keluar dari bus.


Kemudian Putri melambaikan tangan saat menatap Rudi yang sudah berada di bawah.


"Selamat tinggal semua kenangan," lirih Putri yang saat ini tengah berusaha untuk menenangkan hati, agar bisa melupakan semua hal yang menyakiti perasaan.


"Aku harus kuat demi putraku," ucap Putri yang saat ini merasa sangat nyaman karena tempat duduk hanya ditempati mereka berdua.


Ya, Rudi membelikan dua tiket, jadi dua kursi itu bisa digunakan untuk duduk leluasa. "Aku pasti akan membalas jasa baikmu padaku, Rudi."

__ADS_1


Bus pun kini melaju meninggalkan terminal dan membelah jalanan ibu kota menuju ke tempat tujuan yang akan membutuhkan waktu sepuluh jam perjalanan.


To be continued...


__ADS_2