
Amira Tan baru saja selesai dengan pekerjaan dan rencananya hari ini Noah mengajak ke toko perhiasan untuk membeli cincin karena ingin menyesuaikan ukuran jari, agar tidak salah membeli.
Awalnya, ia memarahi Noah karena berharap pria itu memberikan sebuah kejutan dengan tiba-tiba melamar seperti yang dilihat di film-film.
Hal yang selalu dilihat di adegan romantis film adalah sang pria membuka kotak perhiasan dan berlutut dihadapan wanita ketika melamar.
Namun, pria yang dicintai tidak melakukan itu karena malah mengajaknya pergi ke toko perhiasan untuk memilih sendiri mana yang disukai, sehingga tidak merasakan sebuah kejutan.
Padahal sensasi berbeda akan dirasakan ketika merasa sangat terkejut dengan lamaran pria yang dicintai ketika tiba-tiba melakukan hal seperti adegan romantis di film.
Meskipun tidak lagi muda, tetap saja ingin merasakan bagaimana dicintai begitu besar oleh seorang pria ketika dilamar secara tiba-tiba. Namun, sepertinya tidak akan pernah merasakan karena mereka sudah berterus terang hari ini untuk melamar.
Apalagi sang ayah sudah mengetahui hubungan mereka dan tidak ada lagi kejutan ketika nanti orang tua Noah datang ke rumah untuk melamar.
Kini, ia yang baru saja membuka pintu dan keluar dari ruang kerja, melihat Noah berjalan menuju ke arahnya dengan tersenyum bahagia dan membuatnya semakin terpesona dengan wajah rupawan pria yang sebentar lagi akan menjadi suami.
'Calon suamiku sangat tampan dan aku tidak pernah menyangka akan menikah dengan pria muda dengan jarak usia jauh dariku. Bahkan aku meneruskan jejak Putri karena menyukai pria yang lebih muda. Semoga hubungan kami akan selamanya baik-baik saja dan tidak hancur seperti rumah tangga Putri.'
Sebenarnya ada keraguan yang selalu muncul di hati Amira, tetapi mencoba untuk berpikir positif dengan memenuhi keyakinan bahwa Noah sangat berbeda dengan Arya. Apalagi merupakan kebalikan dari suami Putri.
Jika Arya berasal dari keluarga konglomerat dan bisa melakukan apapun sesuka hati, tetapi Noah sangat berbeda karena pria itu berada jauh di bawahnya.
Semua kendali ada di tangannya dan jika Noah macam-macam, yang rugi adalah pria itu. Jadi, ia merasa sangat yakin dengan pilihan hati.
"Apakah kamu sudah siap, Sayang?" Noah kali ini sudah berani menunjukkan status yang merupakan kekasih dari pemilik kantor tersebut.
__ADS_1
Tentu saja beberapa staf yang mendengar suara Noah, saling bersitatap dan memang sudah tidak heran karena mengetahui jika di antara dua orang itu ada hubungan khusus. Jadi, sekarang tidak merasa heran akan kenyataan tersebut.
Hanya saja seperti tidak yakin dengan pilihan bos mereka yang diketahui merupakan wanita arogan dan pemilih karena sampai sekarang belum menikah di usia yang sudah matang.
Namun, refleks semua orang bertepuk tangan ketika mendengar Noah baru saja menyebut panggilan sayang pada bos mereka.
Amira Tan yang saat ini hanya tersenyum simpul dengan respon dari semua staf di kantor begitu mendengar Noah memanggilnya sayang.
"Apa kau sengaja ingin menunjukkan pada semua orang?" tanya Amira yang yang saat ini langsung mencubit lengan kekar pria yang dari tadi tidak berhenti tersenyum padanya.
Sementara itu, Noah hanya terkekeh karena kebahagiaan yang dirasakan hari ini tidak terperi dan ingin semua orang melihat apa yang dirasakan saat ini.
"Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan semua orang, Sayang. Satu hal lagi, berharap dengan ini, tidak ada staf pria yang melirik mu lagi karena kita sudah menjadi pasangan kekasih yang sah dan sebentar lagi naik ke jenjang pernikahan."
"Terima kasih atas sambutannya. Aku dan bos kalian hari ini resmi menjadi pasangan kekasih dan berharap doa dari kalian, agar kami bisa menjadi pasangan suami istri dan bersama selamanya dengan hanya maut yang bisa memisahkan."
Tentu saja semua staf kembali bertepuk tangan dan bersorak gembira karena merasa ikut senang dengan kebahagiaan pasangan kekasih tersebut.
"Selamat, Bos. Semoga selamanya menjadi pasangan romantis dan segera melangkah ke jenjang pernikahan," ucap salah satu staf perusahaan yang mewakili rekan lain untuk mengungkapkan kebahagiaan.
Amira Tan yang sebenarnya merasa sangat malu dengan tatapan dari beberapa staf, hanya tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih.
"Kalian terlalu berlebihan hanya karena aku berhubungan dengan Noah. Bereskan semua dan cepat pulang setelah selesai." Amira Tan kemudian melangkahkan kaki jenjang menuju ke arah lobi bersama dengan pria yang saat ini masih menunjukkan kuasa karena belum melepaskan tangan yang melingkar di pinggang.
Sebenarnya ia merasa risi sekaligus senang karena bisa menjadi kekasih dari pria dengan paras rupawan dan masih berusia sangat muda tersebut.
__ADS_1
Hingga begitu sampai di parkiran, menyerahkan kunci mobil karena ingin Noah yang mengemudikan kendaraan menuju ke toko perhiasan.
Noah sudah membuka pintu untuk Amira Tan dan menerima kunci, lalu berjalan memutar setelah sang kekasih sudah masuk ke dalam mobil.
Saat Noah duduk di balik kemudi, mendengar suara dering ponsel sang kekasih dan memilih untuk menunggu wanita tersebut mengangkat panggilan. Noah sebenarnya masih belum tenang karena mengetahui jika ayah dari sang kekasih belum memberikan restu. Apalagi tadi langsung pulang tanpa berbicara apapun.
'Apakah ayahnya yang menelpon?' tanya Noah di dalam hati yang saat ini masih dikuasai oleh rasa penasaran.
Sementara itu, Amira Tan tidak membuang waktu karena sudah membuka tas dan mengambil ponsel yang berdering. Kemudian menunjukkan pada re yang dari tadi menatap.
"Ayahku yang menelpon." Kemudian menggeser tombol hijau ke atas. "Iya, Pa."
Amira Tan mendengar suara panik dari seberang telpon dan membuat cukup jantung berdetak sangat kencang melebihi batas normal begitu mengetahui hal yang baru saja disampaikan oleh sang ayah.
Begitu sambungan telpon terputus, Amira Tan bahkan masih belum bergerak untuk menurunkan ponsel di dekat daun telinga karena wajahnya terlihat sangat syok.
Sementara itu, Noah yang dari tadi menatap intens pada sang kekasih, berpikir bahwa ada sesuatu hal yang buruk dan kali ini tidak membuang waktu untuk bertanya.
Noah mendekatkan tubuh dengan menyentuh pundak wanita dengan wajah memerah seperti sangat syok tersebut. "Sayang, apa yang terjadi? Apa yang dikatakan oleh ayahmu?"
Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak dan berpikir akan ada sesuatu hal yang terjadi pada hubungan yang baru saja terjalin di antara mereka.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia terlihat sangat syok begitu mengangkat telpon dari ayahnya? Aku sangat khawatir Jika hubungan kami akan terkena imbas dari kabar tersebut,' gumamnya yang masih sabar menunggu penjelasan dari sang kekasih karena menyadari tidak bisa memaksa wanita dengan wajah penuh kecemasan tersebut.
To be continued...
__ADS_1