
"Tolong, jangan tangkap saya karena sama sekali tidak ada niat jahat di kampung ini." Ardiansyah saat ini masih berusaha untuk menguraikan kesalahpahaman dari pria yang ternyata adalah merupakan seorang polisi dan menjaga keamanan serta ketentraman di daerah itu.
Sementara itu, sang polisi sama sekali tidak mempercayai perkataan dari pria yang dianggap adalah seorang penjahat dan mempunyai niat buruk di kampung. Jadi, tetap menarik pria itu agar ikut bersamanya dan berniat untuk segera membawa ke kantor polisi.
"Jelaskan semua di kantor polisi karena aku tidak butuh penjelasanmu yang hanya merupakan sebuah kebohongan itu." Masih terus menarik tangan pria menuju ke rumah dan melupakan bahwa tadi ingin membeli sesuatu yang disuruh oleh sang istri.
Sebenarnya Ardiansyah ingin sekali meluapkan amarah jika pria itu bukan polisi dengan cara meninju wajahnya. Karena telah menuduh macam-macam. Padahal hanyalah seorang pria yang jatuh cinta pada wanita dan berniat untuk mendekati dengan cara tinggal di dekat sana.
'Sialan! Kenapa aku harus bertemu dengan seorang polisi yang akan mengacaukan rencanaku untuk tinggal di daerah sini? Sepertinya aku harus menceritakan semua hal yang tadi terjadi, agar tidak ada kesalahpahaman dari pria ini yang menuduhku ingin berbuat jahat.'
'Memangnya aku adalah seorang *******?' umpat Ardiansyah yang saat ini mengempaskan tangan yang berada dalam kuasa seorang polisi tersebut.
"Lepaskan!" Bahkan suara Ardiansyah terdengar cukup keras ketika meminta untuk dilepaskan karena bukanlah seorang penjahat seperti yang dituduhkan oleh pria yang kini berubah memerah wajahnya karena kesal.
"Apakah kau berani melawan seorang polisi?" teriak pria yang berprofesi sebagai aparat keamanan tersebut dengan wajah memerah karena baru pertama kali ada seseorang yang melawan setelah mengetahui bahwa ia merupakan polisi.
Menganggap bahwa kedatangan pria yang baru saja dilihat tersebut sangat mencurigakan dan tidak ingin terjadi hal buruk di daerah yang harus dijaga keamanan, jadi berniat untuk memenjarakan dan menjelaskan di kantor polisi.
Merasa apa yang dipikirkan, pria tersebut berniat untuk mengarahkan tinju pada perut, tetapi secepat kilat ditahan karena tidak ingin memancing perhatian para warga yang nanti akan merasa khawatir.
"Apa kau mau melawan seorang polisi?"
Refleks Ardiansyah menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan tuduhan dari polisi tersebut. "Sebelum kau membawaku ke kantor polisi, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Baru putuskan untuk melanjutkan keinginanmu untuk membawaku atau tidak."
"Bukankah setiap manusia punya hak untuk membela diri dengan bersuara demi menjelaskan bahwa saat ini aku adalah orang yang baik dan tidak mempunyai niat jahat di kampung ini karena bukanlah seorang *******. Aku hanyalah seorang pria biasa, jatuh cinta pada wanita yang baru saja ditemui."
__ADS_1
Polisi yang memberikan waktu untuk menjelaskan, mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh pria tersebut.
"Astaga! Memangnya apa hubungan jatuh cinta dengan kau membuatku merasa curiga akan berbuat jahat di tempat ini. Sikap dan perkataanmu sangat mencurigakan." Masih tetap pada pendiriannya bahwa pria tersebut memiliki rencana jahat di kampung.
"Tolong jangan menyela saat aku menjelaskan semua hal yang kukatakan! Aku cuma butuh waktu 5 menit untuk menjelaskan dan kau harus mendengarkan apa yang saat ini kurasakan." Ardiansyah memang sama sekali tidak merasa takut pada pria yang berprofesi sebagai polisi tersebut.
Itu semua karena tidak mempunyai niat jahat dan merasa bahwa polisi juga manusia biasa sepertinya. Jadi, tidak perlu ditakuti jika benar.
Dengan melihat ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri, Ardiansyah kini mulai menjelaskan dengan membutuhkan waktu 5 menit saja.
Akhirnya polisi tersebut memberikan waktu sesuai yang diminta oleh pria itu. Karena berpikir bahwa tidak akan pernah tertipu dengan penjelasan apapun dan tetap akan membawa ke kantor polisi.
Ardiansyah kemudian menceritakan pertemuan dengan wanita yang menggunakan jasa taksi untuk menjemput seorang janda anak satu dan akhirnya tinggal di kontrakan yang tak jauh dari sana.
Kemudian mengatakan bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin mendapatkan wanita itu dengan cara tinggal di dekat kontrakan tersebut.
"Asalkan bisa selalu melihat wanita itu dan ingin mendapatkan cinta janda tersebut." Ardiansyah baru selesai menjelaskan semua yang terjadi, kini ingin mendengar pendapat dari polisi tersebut.
"Semoga kau mau membantuku dan mendukung niat baik seorang pria yang jatuh cinta dan berniat untuk menikahi wanita itu. Bukankah dalam agama mengajarkan untuk berbuat baik pada janda dan jika berniat untuk menikahinya adalah perbuatan yang mulia?"
Pria bernama Neil Leus merupakan seorang polisi berusia 40 tahun dan sudah dipercaya oleh warga sekitar untuk menjaga keamanan. Namun, baru pertama kali ini mendengar penjelasan seorang yang dicurigai mengatakan jatuh cinta pada seorang wanita yang baru ditemui.
Kemudian masih terdiam karena ingin menimbang-nimbang dan memutuskan percaya atau tidak dengan penjelasan pria tersebut.
"Memangnya siapa wanita yang membuatmu bisa berbuat konyol seperti ini? Kau mengatakan bahwa telah jatuh cinta pada pandangan pertama, padahal aku sama sekali tidak percaya akan hal itu."
__ADS_1
"Kenapa tidak percaya jika aku mengalami sendiri?" Ardiansyah masih membantah apa yang menjadi pedoman dari polisi tersebut dan tentu saja merasa sangat kesal karena tidak memahami bagaimana perasaan seseorang yang baru jatuh cinta dan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan wanita yang dicintai.
"Cinta memang berawal dari mata turun ke hati, tapi semua butuh waktu dan proses untuk berkembang. Apakah kau tidak menyelidiki terlebih dulu wanita itu, baru berniat untuk mengejar dengan cara tinggal di tempat ini."
"Bagaimana jika wanita yang membuatmu jatuh cinta tersebut bukanlah orang baik? Apakah kau akan tetap melanjutkan niatmu untuk menikahi wanita itu? Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang membuatmu berbuat bodoh seperti ini."
Mengarahkan tatapan menelisik dan mengintimidasi pada pria yang baru saja ditemui tersebut. Seolah telah mencari kejujuran dari iris pekat di gelapnya malam. Namun, tidak bisa melihat karena cahaya lampu jalan remang-remang menghiasi malam ini.
"Aku bisa menilai seperti apa seseorang dari cara bicara dan sikap. Jadi, merasa sangat yakin jika wanita itu sangat pantas untuk didapatkan dan diperjuangkan. Jika ingin memastikan seperti apa seseorang yang membuatku segila ini, bisa memeriksa kontrakan itu karena dia baru saja datang dan diantar oleh wanita bernama Mira."
"Mira? Apakah wanita itu merupakan salah satu pekerja baru Mira?" tanya polisi yang saat ini menatap ke arah rumah kontrakan yang terletak di sebelah kiri.
Refleks Ardiansyah tidak membenarkan pemikiran itu dengan menggelengkan kepala. "Tidak! Wanita bernama Putri itu berniat untuk membuka usaha sendiri, yaitu warung makanan dan pastinya aku bisa setiap hari makan di tempatnya, bukan?"
"Wah ... ternyata kau sudah merencanakan sampai sejauh ini."
"Inilah cinta," sahut Ardiansyah yang saat ini menunggu keputusan dari pria tersebut.
Apakah akan melanjutkan rencana untuk menjebloskan ke penjara atau membiarkan pergi. "Oh ya, ini buktinya aku berniat untuk mendekati wanita itu."
Kemudian menunjukkan kantong plastik berisi aneka jenis makanan ringan yang akan diberikan pada Putri secara diam-diam. Jika mau datang ke sana, aku ingin titip ini dan serahkan pada wanita bernama Putri itu."
Saat Ardiansyah menyerahkan kantong plastik tersebut, diempaskan oleh sang polisi dan membuatnya merasa kesal.
"Jangan bersikap sebagai seorang pengecut dengan cara menitipkan padaku. Lebih baik kau memberikannya secara langsung, agar wanita itu mengetahui bahwa kau tertarik padanya. Ayo, aku temani kau untuk menemui wanita itu dan bila perlu langsung ungkapkan bahwa kau ingin menikahinya."
__ADS_1
To be continued...