
Rani saat ini kembali mendekati ranjang Arya. "Apa kau dengar itu? Saudara Putri baru saja menghinamu dan kami juga. Kamu harus segera bangun untuk membalaskan dendam dengan cara menghina balik wanita itu."
Meskipun saat ini amarah masih menguasai diri, Rani merasa bahwa semua yang dikatakan oleh wanita itu memang benar. Sayangnya tidak bisa menerima hal itu tanpa meluapkan kekesalan.
'Putraku pasti bangun dari koma dan bukanlah menjadi korban atas apapun karena akan sembuh,' gumam Rani yang kini melirik ke arah sang suami saat belum beranjak dari sana.
"Kenapa sekarang kamu berubah menjadi pria lemah? Biasanya saat ada orang yang menghina, langsung bertindak. Namun, ini hanya diam saja dan membiarkan wanita itu pergi dengan percaya diri, sehingga berpikir telah menang dari kita."
Rani masih menatap kesal pada sang suami karena tidak membalas kalimat pedas dari wanita tadi. Bahkan jawaban dengan nada santai kini seolah menampar diri sendiri.
"Apakah kamu tidak menyadari bahwa kalimat terakhir dari wanita itu adalah kenyataan? Aku selama ini selalu mementingkan nama baik perusahaan agar tidak bangkrut dan menekan Arya agar segera meninggalkan wanita bernama Putri."
"Akhirnya putra kita menurut, perusahaan aman, tetapi sekarang Arya berakhir di sini. Apakah salah jika aku ingin putraku mendapatkan pasangan yang baik? Di dunia ini, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak."
"Meskipun seringnya yang terjadi adalah perbedaan pendapat, tapi tidak pernah sekalipun ada di pikiran orang tua, agar anak hidup menderita." Rani kini menyahut dan memilih untuk bangkit terdiri dari kursi berniat berjalan keluar untuk menemui wanita itu.
Seolah siap berdebat untuk adu mulut, mencari pembenaran bagi diri masing-masing.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Ari Mahesa yang saat ini menahan pergelangan tangan kiri sang istri karena berpikir akan terjadi pertengkaran hebat antara dua wanita berbeda usia tersebut di rumah sakit.
Tidak ingin sang istri malah menjadi bahan tontonan jika melawan seorang wanita muda yang pastinya masih memiliki tenaga yang kuat, Ari Mahesa masih tidak melepaskan kuasa, berharap wanita itu mau menurut.
"Lepaskan aku!" Rani masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangan sang suami.
"Nanti wanita itu pergi dan tidak terkejar olehku. Aku sangat ingin menarik rambut wanita itu."
"Kita bukan remaja labil yang ingin mencari perhatian. Jadi, Jangan melakukan apapun yang malah akan menghilangkan gelar nyonya elegan." Ari Mahesa memilih untuk mengatakan pujian pada sang istri.
"Aku saat ini seperti mengalami Dejavu karena ini kedua kalinya melihat orang-orang yang kucintai dalam keadaan koma. Semoga Arya segera sadar dan bisa kembali berkumpul bersama kita." Ari Mahesa sebenarnya merasa khawatir setelah penjelasan dari dokter saat menyebut kematian otak.
Jika sampai itu terjadi, apa yang akan dilakukan. Apakah akan menuntut pihak rumah sakit atau tidak karena gagal menyelamatkan putra satu-satunya.
Ari Mahesa belum bisa berpikir saat ini dan belum mengalihkan perhatian dari Arya yang masih memejamkan mata dengan banyak alat yang menempel di tubuh.
"Jangan terlalu lama memberikan hukuman pada orang tuamu. Kami tidak akan pernah sanggup menanggung semua ini, Arya." Ari Mahesa kini memilih untuk mencari ketenangan dengan cara memeluk sang istri.
__ADS_1
"Seharusnya aku saja yang berada di sana. Kenapa harus putraku?"
Sementara itu, Rani kali ini tidak bisa membuka suara karena beberapa saat yang lalu juga mengatakan hal itu, meskipun hanya di dalam hati, tetapi sama karena merasa tidak tega jika melihat putra mereka tidak sadarkan diri.
Hingga suara ketukan dari luar memecahkan keheningan di antara Ari dan Rani.
"Apakah pengacara arogan itu kembali?" Rani kini menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang dan tak lain adalah Putra.
"Tuan, sebaiknya Anda keluar karena ada banyak awak media yang ingin mewawancarai. Pihak rumah sakit sudah mengizinkan." Putra yang barusan menyampaikan karena khawatir jika pasangan suami istri tersebut marah.
Di saat bersamaan, mereka bertiga menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang yang berjalan cepat untuk masuk ke dalam tanpa bertanya lagi.
"Bagaimana keadaan Arya?"
"Kenapa kamu baru tiba di rumah sakit, Calista? Padahal dari tadi, aku sudah mengatakan mengenai Arya yang mengalami kecelakaan. Memangnya kamu tadi ke mana saja?" sahut Rani yang kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
To be continued...
__ADS_1