
Bambang Priambodo yang saat ini tengah menatap ke arah para awak media yang seolah tengah berbisik-bisik seperti tidak mempercayai perkataannya mengenai putranya. Ia mengepalkan tangan di bawah meja untuk meredam amarah yang yang dirasakan.
'Aku harus berhasil membungkam para wartawan itu agar tidak terus menyudutkan putraku yang saat ini sudah sadar, tapi apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka percaya jika aku sama sekali tidak berbohong untuk mengelabui mereka?'
Saat Bambang Priambodo yang saat ini tengah mencari ide di kepalanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan yang dari tadi ia cari.
Ia pun ini kembali membuka suara untuk menyampaikan sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya. "Saya mungkin memang terkesan menutupi perbuatan putra saya yang selama ini terjerat dalam gelimang dosa, tapi bukankah Tuhan membuka pintu maaf untuk orang-orang yang mau bertobat?"
"Bahkan putraku mendapatkan hikmah dari pertobatannya karena saat ini keluarga Priambodo sebentar lagi akan mendapatkan penerus." Ia seketika melihat antusias dari semua wartawan yang datang begitu mengetahui kalimat terakhir yang baru saja diungkapkan.
Bahkan saat ini sangat berharap jika apa yang ia katakan akan menyelesaikan permasalahan dari putranya. Ia berharap putranya benar-benar sudah bertobat dan sembuh, sehingga akan menjalani kehidupan rumah tangga yang normal seperti kebanyakan pada umumnya.
Jadi, berpikir jika berbohong masalah penerus keluarga Priambodo adalah sebuah hal yang tidak sulit untuk di selesaikan karena jika putranya sudah sadar, pasti akan menjalani kehidupan normal dan bisa memiliki anak bersama dengan menantu kesayangannya.
Bahkan ia merasa sangat bersyukur karena menantu kesayangan tidak mau pergi dan tetap ingin merawat putranya hingga sembuh, sehingga saat ini berpikir jika apa yang dilakukan oleh Putri adalah jawaban dari apa yang disampaikan saat ini.
Ia bisa melihat para wartawan yang langsung mengabadikan apa yang baru saja ia sampaikan. Kini, ia bangkit berdiri dari posisinya karena merasa jika sudah selesai menjelaskan semuanya pada para awak media yang datang.
"Saya harap kalian semua bisa mendoakan rumah tangga putraku yang sekarang sudah dikaruniai keturunan yang sebentar lagi akan menjadi penerus keluarga Priambodo. Saya minta doa agar janin yang saat ini berada dalam kandungan menantu bisa dilahirkan dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun."
Kemudian ia mengakhiri konferensi pers tersebut dengan membungkuk sebagai salam perpisahan pada semua media yang sengaja diundang untuk hadir saat ia menjelaskan semua yang terjadi.
Ia pun langsung berjalan menuju ke arah pintu di sebelah kiri meninggalkan para wartawan yang saat ini masih berkumpul dan juga membahas mengenai konferensi pers yang dilakukannya.
Bambang Priambodo saat ini berjalan menuju ke arah lift untuk kembali ke ruangannya bersama dengan asisten pribadi yang saat ini berjalan di sebelahnya.
Ia seolah baru saja keluar dari neraka yang menghancurkannya hingga menjadi abu. Kini, ia merasa sangat lega karena bisa bernapas setelah sesak dirasakan olehnya ketika berada di ruangan penuh dengan para pemburu berita yang selalu menghalalkan segala cara untuk bisa mencari nafkah.
Kini, ia masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju ke lantai paling atas karena ruangan ada di sana. Hingga beberapa saat kemudian pintu kotak besi tersebut terbuka dan ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ruangan bersama dengan pria yang sudah lama dipercaya olehnya.
Kini, ia sudah berada di dalam ruangan dan menatap ke arah sang asisten. "Cek kabar terbaru di media, apakah sudah sesuai dengan apa yang tadi aku sampaikan."
"Baik, Tuan." Sang asisten ini langsung bergerak untuk memeriksa semua informasi mengenai konferensi pers yang dilakukan di perusahaan Priambodo.
Sementara itu, Bambang saat ini merasa bimbang karena akan berbicara dengan menantunya terlebih dahulu, baru akan mengungkapkan semuanya pada putranya.
'Semoga putraku tidak mempermasalahkan apa yang kusampaikan tadi. Bahkan mungkin Putri akan sangat syok begitu mengetahui apa yang tadi kusampaikan, tapi lama-kelamaan akan mengerti jika ini demi kebaikan,' gumam Bambang Priambodo yang saat ini mendengar suara bariton dari sang asisten yang membenarkan bahwa semua berita tidak ada yang direkayasa.
Bahwa semua yang beredar di media sosial serupa dengan apa yang disampaikan olehnya tadi.
"Syukurlah semuanya sudah selesai, Tuan. Tanggapan dari masyarakat serta media sangat positif dan tidak menyudutkan tuan Aldiano serta nyonya Putri. Sepertinya mereka semua ikut bahagia mendengar kabar baik dari keluarga Priambodo," ucap sang asisten yang saat ini langsung mengucapkan selamat atas kehadiran dari penerus yang akan sebentar lagi lahir ke dunia.
Ia bahkan tidak menyangka jika akhirnya keluarga pria yang bodoh memiliki penerus yang akan menjadi pemimpin setelah Aldiano.
Sementara itu, Bambang saat ini berpura-pura untuk bersikap seperti layaknya seorang kakek yang akan menerima cucu dan pastinya terlihat sangat bahagia.
"Doakan semuanya berjalan lancar dan cucuku bisa lahir ke dunia ini dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun." Ia bahkan saat ini tersenyum simpul ketika berakting seperti benar-benar akan mempunyai cucu.
__ADS_1
"Mau cucu perempuan maupun laki-laki, bagiku tidak ada bedanya dan mereka sama-sama punya hak untuk menjadi penerus di perusahaan ini setelah Aldiano." Ia yang dari dulu bermimpi bisa menjadi seorang kakek, benar-benar berharap impiannya bisa menjadi kenyataan.
"Iya, Tuan Bambang. Mau dikasih cucu perempuan maupun laki-laki, itu semua sama saja. Asalkan lahir dengan selamat dan sehat serta tidak kekurangan suatu apapun merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai harganya," ucap sang asisten yang saat ini ikut merasa senang dengan kabar baik tersebut.
Ia pun berniat untuk kembali bekerja dan membungkuk hormat ketika berpamitan. "Jika membutuhkan sesuatu, langsung telepon saja, Tuan. Saya akan melanjutkan pekerjaan di ruangan."
Bambang Priambodo saat ini hanya menganggukkan kepala dan sibuk dengan pemikirannya setelah melakukan konferensi pers yang membuat mental dan tenaganya seolah terkuras habis.
Ia sengaja melakukan itu agar harga saham tidak semakin anjlok, sehingga membuat perusahaannya kalang kabut dan mengalami kerugian. Berharap dengan kabar baik yang di bawahnya, para pemegang saham tidak membuat ulah ataupun menarik modal.
Saat ini, ia terdiam selama beberapa saat karena menunggu kabar baik itu tersebar hingga membuat perusahaannya tidak mengalami kerugian signifikan.
Hingga pikirannya beralih pada putra dan menantunya yang tidak tahu apa-apa dan harus menjadi korban atas kebohongannya yang baru saja disampaikan pada publik.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku lebih baik memberitahu secara langsung atau melalui telepon?" Ia saat ini terdiam di tempat sambil menatap kosong ke arah dinding di ruangan kerjanya.
Ia mengambil ponsel miliknya dan menatap ke arah kontak Putri yang tidak aktif. "Aku tidak mungkin menelpon perawat lagi untuk berbicara dengan Putri. Lebih baik aku berbicara dengannya secara langsung di rumah sakit."
Bambang Priambodo berniat untuk berbicara dengan Putra dan menantunya secara bersama-sama agar bisa saling memberikan saran maupun jalan keluar dari masalah yang sebenarnya bukanlah sebuah hal besar karena mereka merupakan suami istri yang sah.
Jadi, tidak sulit untuk membuat perkataannya tadi menjadi kenyataan. Namun, ia masih belum mengetahui apakah putranya setuju dan benar-benar sudah sembuh dari ketidaknormalan ataukah menolak karena alasan tidak menyukai wanita.
Ia masih belum tahu apa yang akan terjadi atas pengumuman yang tadi iya berikan pada para awak media untuk melindungi putranya dari tatapan penuh penghinaan yang membuatnya tidak bisa diam saja.
Apalagi hanya dengan berbisik-bisik saja sudah membuatnya kesal ketika putranya menjadi pusat ejekan para wartawan.
Meskipun tidak anjlok seperti yang diperkirakan, tetap saja para pemegang saham ingin dilakukan meeting untuk membahas tentang masalah ini dan bagaimana cara mengatasinya.
Ia bahkan saat ini masih memikirkan bagaimana cara untuk membuat harga saham kembali melonjak tinggi seperti sebelum mengalami masalah ini.
"Semoga setelah melakukan konferensi pers ini, nanti atau besok akan terjadi keajaiban bahwa harga saham melonjak tinggi setelah mengetahui jika keluarga Priambodo sebentar lagi akan mendapatkan keturunan." Ia mengaminkan apa yang baru saja diungkapkan karena sangat berharap jika masalah yang menimpa perusahaan serta nama baik keluarga bisa segera selesai.
Kini, ia kembali menyelesaikan pekerjaan hari ini agar bisa pulang lebih awal dan menuju ke rumah sakit untuk menemui putranya yang sudah sadar dan selamat dari maut.
"Aku harus mengadakan acara syukuran atas selamatnya putraku dengan mengundang anak yatim serta kaum duafa." Ia pun saat ini berpikir jika bersedekah adalah cara untuk membersihkan harta dan juga diri.
Berharap setelah melakukan itu bisa semakin membuatnya bersyukur atas semua nikmat Tuhan yang tak terhingga karena telah mengembalikan putranya yang hampir saja kehilangan nyawa.
Kini, ia mulai fokus pada pekerjaannya dan berharap bisa segera selesai, lalu langsung datang ke rumah sakit untuk membicarakan mengenai apa yang tadi disampaikan pada para awak media.
Sementara itu di tempat lain, yaitu di rumah sakit yang merawat Aldiano Priambodo, terlihat sosok wanita yang saat ini duduk di dekat ruangan kantor.
Wanita yang tak lain adalah Putri, saat ini benar-benar merasa sangat syok atas apa yang tadi dilihatnya. Niatnya untuk mencari tahu tentang konferensi pers yang dilakukan oleh mertuanya malah membuatnya merasa sangat terkejut dengan apa yang disampaikan pria paruh baya tersebut.
Ia bahkan saat ini tidak percaya bagaimana bisa mertuanya mengarang kebohongan luar biasa yang tidak mungkin bisa ditangani jika sampai media tahu jika itu hanyalah sebuah kebohongan untuk menipu publik.
'Papa, kenapa harus mengatakan jika aku tengah hamil keturunan keluarga Priambodo? Bahkan itu tidak mungkin terjadi. Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Putri yang saat ini masih terdiam di tempatnya dengan memegang ponsel yang merupakan milik perawat.
__ADS_1
Ia bahkan benar-benar merasa bingung kali ini dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Merasa sangat pusing memikirkan hal itu, ia memilih bangkit dari kursi dan mengembalikan ponsel milik perawat setelah mengucapkan terima kasih.
Kemudian berjalan gontai menuju ke ruangan perawatan, di mana sosok pria yang saat ini terlihat di atas ranjang masih terdiam sambil mengamati langit-langit kamar.
Ia tadinya berpikir jika pria tersebut sudah beristirahat, tapi begitu melihat jika masih membuka mata dan menatapnya begitu masuk ke dalam, teringat akan perkataan dari mertuanya pada awak media.
'Apa aku katakan pada tuan Aldiano tentang kebohongan dari papanya tadi? Atau aku lebih baik berpura-pura tidak tahu apapun dan menunggu sampai papa menceritakan semuanya pada kami?' Ia yang saat ini sibuk bergumam sendiri di dalam hati, masih memikirkan bagaimana bisa mertuanya berpikir untuk mengarang kebohongan sebesar itu.
Ia yang saat ini berjalan mendekat ke arah pria yang belum beristirahat dari tadi, mengembuskan napas kasar dan mendaratkan tubuhnya di hadapannya.
"Anda beristirahat?"
Aldiano saat ini hanya menggelengkan kepala karena merasa malas untuk membuka suara. Namun, ia merasa ada yang aneh dari sikap wanita di hadapannya tersebut.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Aldiano selama ini selalu berpikir jika sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut selalu terlihat tidak memiliki masalah, tapi kali ini kebalikannya dan membuatnya merasa aneh.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya saat ini hanya sedang memikirkan tentang konferensi pers yang dilakukan oleh papa," ucapnya yang saat ini ingin memancing pria itu untuk berpendapat.
Aldiano yang memang merasa penasaran dengan hasil dari konferensi pers yang dilakukan oleh sang ayah, berniat untuk bertanya ketika ria itu datang.
"Pasti nanti papa akan menceritakannya begitu datang ke rumah sakit. Pasti sekarang ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terkait masalah yang terjadi. Aku bahkan tidak berguna dan hanya bisa diam di sini." Aldiano kini beralih menatap ke arah kakinya yang lumpuh.
Ia berpikir jika bisa berjalan, mungkin sudah datang ke acara konferensi pers itu untuk membantu sang ayah agar tidak menghadapi semuanya sendirian.
Kini, ia mengingat jika putri pernah mengalami hal yang serupa dengannya. Pastinya juga merasa sangat syok dan terpuruk. "Apakah saat pertama kali kau mengetahui jika lumpuh, sama sepertiku?"
Putri yang dari tadi memikirkan perkataan dari mertuanya tentang Ia yang hamil, kini menatap ke arah pria yang serius membicarakan tentang masalah masa lalunya.
Ia pun beralih menatap ke arah kaki pria itu. "Ya, saat itu aku benar-benar terpuruk. Saat itu yang kupikirkan pertama kali hanyalah putraku yang masih kecil harus memiliki seorang ibu yang cacat."
"Aku memikirkan bagaimana nanti ia menghadapi hinaan atau cacian dari teman-temannya memiliki seorang ibu yang cacat, pasti akan sangat terluka. Aku tidak akan bisa mengajaknya bermain dengan berlarian di halaman rumah jika sudah berjalan."
"Semua itu adalah hal yang paling aku takutkan karena putraku adalah segalanya," ucap Putri yang saat ini ingin pria di hadapannya tersebut tidak putus asa dan tetap berusaha untuk berjuang melakukan terapi agar bisa kembali berjalan seperti semula.
Aldiano yang hanya juga merasakan hal sama, tapi bedanya ia tidak ingin membuat sang ayah repot mengurusnya karena menjadi orang yang tidak berguna.
Sama dengan Putri yang hanya memikirkan keadaan dari putranya yang pastinya akan mengalami tekanan batin jika mendapatkan ejekan dari beberapa teman.
"Aku bahkan tidak pernah sekalipun berpikir akan berakhir seperti ini. Aku dari dulu berpikir mungkin akan langsung mati dan masalah selesai semuanya, tapi ternyata aku harus menebus kesalahanku di masa lalu dengan cara seperti ini,' gumam Aldiano yang saat ini baru saja memikirkan bagaimana ia akan pergi ke kamar mandi setiap hari.
Bahkan hal sepele saja sudah membuatnya putus asa karena pasti hanya akan menyusahkan orang-orang di sekitar. Ia bahkan tidak mungkin menyuruh wanita itu membantunya karena selama ini hanyalah pasangan suami istri di atas kertas.
Namun, ia juga merasa bingung atas keputusan wanita itu yang tidak ingin bercerai dan tetap bertahan karena ingin merawatnya. Padahal iya tahu jika wanita di hadapannya tersebut memiliki paras yang cantik dan bisa mendapatkan pria manapun yang pasti akan terpesona.
Kini, ia memikirkan sesuatu yang ada di otaknya dan menatap ke arah Putri. "Apakah kau sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk kembali dengan mantan suamimu?"
To be continued...
__ADS_1