Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pertanyaan


__ADS_3

"Para wanita sialan itu memang benar-benar keterlaluan. Sebenarnya aku sudah memiliki firasat buruk atas kedatangan mereka yang selama ini menjadi biang onar di kampung ini. Namun, karena kamu hanya diam saja dan tidak protes, akhirnya aku berpikir tidak berhak untuk murka karena bukan pemilik warung ini."


Mira awalnya berpikir bahwa Putri akan bersikap tegas seperti pada pria yang tak lain merupakan sopir taksi. Namun, merasa sangat kecewa karena sangat lemah dihadapkan wanita.


"Seharusnya kamu tadi melarang mereka untuk membawa makanan yang tidak dibayar. Harusnya mengatakan tidak menerima utang. Jika setiap hari ada orang-orang seperti itu, sudah bisa dipastikan kamu akan bangkrut. Kenapa kamu tadi tidak mengeluarkan taringmu seperti pada supir taksi itu?"


Putri juga merasa heran ada orang-orang seperti itu yang sama sekali tidak memikirkan bagaimana perputaran uang dalam usahanya ketika diutang.


Kini, Putri menoleh ke arah Mira yang terlihat sangat kesal dan marah. "Aku benar-benar sangat syok, sehingga tidak tahu harus berbuat apa ketika mereka ternyata utang."


"Jika aku marah karena mereka tidak membayar, kamu akan kena imbasnya. Aku tidak ingin namamu menjadi jelek hanya karena aku. Sepertinya aku menganggap memberikan sedekah saja pada mereka dan tidak mempermasalahkan hari ini tidak membayar, tapi lain kali akan berhati-hati."


Mira yang awalnya marah pada Putri karena tidak bisa bersikap tegas dan berubah lemah saat diinjak-injak oleh para wanita yang sudah menghilang itu, kini merasa menyesal begitu mengetahui alasannya.


"Kamu membuatku semakin merasa bersalah. Padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkan pandangan orang lain. Selama ini aku selalu hidup sesuai dengan keyakinan tanpa memperdulikan pendapat orang. Apalagi kita makan tidak meminta mereka, lalu buat apa memikirkan mereka yang tidak penting?"


Mira kali ini tengah mencari ide agar kejadian hari ini tidak terjadi karena jika sampai terulang, yang ada, Putri tidak akan bisa melanjutkan usaha karena mengalami kerugian.


"Sepertinya aku harus membuat banner besar di warung ini dengan tulisan tidak menerima utang, agar mereka tidak kembali lagi. Padahal rasanya aku tadi ingin memukul kepala para wanita itu. Lain kali, jika ada yang menginjak-injak harga dirimu dengan memanfaatkan situasi seperti ini, kamu harus melawan, oke!"


"Janda memang selalu mendapatkan tanggapan buruk dari kalangan umum, tetapi jangan sampai harga dirimu diinjak-injak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."


Mira kemudian menepuk pundak Putri untuk memberikan semangat agar wanita itu tidak dipandang lemah. "Jangan cuma berani pada para pria saja. Kamu pun harus memberikan pelajaran pada para wanita yang berniat buruk padamu."

__ADS_1


Putri kini mengerti dan berjanji akan melindungi harga diri dan tidak ingin diinjak-injak atau dimanfaatkan oleh orang lain karena mengetahui bahwa dunia ini sangat kejam bagi para wanita yang lemah.


"Aku bukanlah wanita lemah yang bisa diremehkan oleh orang lain karena saat tidak melakukan kesalahan, berhak untuk melindungi harga diri. Lihat saja besok jika mereka berani muncul kembali di sini dengan bermaksud utang lagi, aku akan menyiram dengan kuah sambal ini."


Kemudian Putri menunjukkan sambal yang ada di hadapannya. Seolah sedang menunjukkan ingin memberikan pelajaran pada orang-orang yang berniat buruk padanya.


Sementara itu, seketika Mira tertawa terbahak dan sangat senang melihat Putri kembali menjadi wanita tangguh. "Jangan takut karena aku ada di belakangmu."


"Jika sampai mereka macam-macam, akan kutarik rambut mereka sampai botak." Mira kembali tertawa begitu membayangkan jika berhasil menarik rambut para wanita yang selalu saja mempunyai hutang di pedagang apapun.


Putri saat ini ikut tertawa lebar sambil melanjutkan pekerjaan. "Sepertinya mereka terbiasa utang di sana-sini, ya?"


"Dari mana kamu tahu?" Mira yang masih berdiri di dekat Putri, merasa sangat heran kenapa bisa mengetahui hal itu.


"Mereka berbicara dengan santai seperti sudah terbiasa melakukan itu. Jadi, aku yakin jika mereka selama ini sering berhutang. Aku juga merupakan orang miskin, tetapi tidak berani hutang saat membeli di warung tetangga."


"Rasanya untuk berbicara mengungkapkan saja tidak bisa. Mulut memang terbuka tetapi tidak tahu harus bagaimana memulai untuk membeli barang tanpa membayar dengan alasan suami belum gajian. Malu dan seperti tidak mempunyai harga diri."


"Apalagi sampai menyebut suami yang pastinya tidak tahu apa-apa. Bisa saja suami sudah memberikan uang, tetapi habis dan digunakan untuk hal lain. Karena aku dulu pernah berbuat seperti itu. Aku pergi ke salon dan makan di cafe, bukankah itu adalah tidak penting?"


"Akhirnya uang untuk membeli kebutuhan rumah terpakai dan bingung jadinya. Mungkin saja mereka seperti itu. Karena kita bukan keturunan konglomerat yang bisa menghabiskan uang sesuka hati dan harus berhemat."


Semua yang dikatakan oleh Putri memang benar karena Mira sering melihat jika para wanita itu beberapa kali keluar dengan berpenampilan sangat berlebihan.

__ADS_1


"Ya, kamu memang benar. Mereka sering melakukan hal itu. Hingga yang menjadi korbannya adalah para pedagang yang lewat di sekitar sini."


Saat Putri dan Mira masih sibuk mau bicarakan para wanita yang tadi berhutang, suara pria muda yang sudah berjalan mendekat dan ingin membayar.


"Berapa total semua, Nyonya?" Tidak ingin mendapatkan kekesalan dari wanita yang tadi protes dipanggil nyonya, sehingga saat ini menyamakan panggilan.


Putri yang masih mengingat empat orang tersebut makan apa saja, langsung mengatakan totalnya. "Total semuanya lima puluh ribu."


"Wah ... murah sekali. Apa tidak salah hitung? Karena kemarin makan di warung yang berada di pinggir jalan raya menghabiskan seratus ribu," ucap pria yang saat ini sudah mengeluarkan dompet dan mengambil uang untuk membayar.


Bahkan seperti tidak percaya jika empat orang makan hanya menghabiskan uang segitu.


"Tidak salah dan memang segitu. Aku tidak menjual makanan dengan harga mahal karena ingin mencari pelanggan tetap." Putri saat ini berharap jika empat orang itu setiap hari datang karena mengetahui bahwa makanan harganya murah.


Hingga sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat senang dengan tanggapan positif dari pria yang baru saja memberikan uang.


"Kalau begitu, setiap hari kami akan datang ke sini dan makan tiga kali di sini. Jadi, tolong sisakan makanan dan jangan sampai habis karena nanti akan kelaparan."


"Tentu saja. Aku akan menyisakan untuk kalian berempat. Terima kasih." Putri memasukkan uang ke dalam laci dan berniat untuk melanjutkan menata makanan.


Namun, mendapatkan pertanyaan dari pria muda yang paling tampan saat berjalan mendekat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2