
Aldiano saat ini hanya tertawa terbahak-bahak karena mengetahui jika Putri hanya sedang menghiburnya agar tidak bersedih. Bahkan ia sudah membayangkan bagaimana rasanya menjadi pria cacat tidak berguna yang melakukan apapun sendirian di sel.
Ia bahkan berpikir jika mungkin akan mati bunuh diri karena tidak kuat menjalani semua cobaan yang dialaminya. Meskipun mengetahui jika tadi Putri mengatakan ia adalah pilihan Allah yang masih diberikan kesempatan untuk bertobat dan tidak masuk ke neraka atas perbuatan melenceng dari agama.
Menjadi seorang pria menyukai sesama jenis yang ia ketahui sangat dilaknat oleh Allah, tapi masih dilakukan dan kini sadar jika sekarang mendapatkan karma dari apa yang ia tanam selama ini.
"Kau tidak perlu menghiburku saat kenyataannya jelas jika hukum tabur tuai kini telah berlaku. Aku sekarang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku di masa lalu, kan? Lalu, kira-kira berapa lama aku bisa bertahan dalam kehancuran ini?" lirih Aldiano yang saat ini tertawa miris ketika menatap ke arah kakinya.
Ia selama ini selalu mengabaikan kesehatan dan tidak pernah menyadari jika sekarang kakinya benar-benar sangat berharga. Sebuah hal yang tidak pernah disyukuri adalah kesehatan dan sekarang baru menyadari bahwa nikmat yang paling utama adalah diberikan kesehatan.
Namun, ia menyadari semua itu saat semuanya sudah terlambat. Hingga sesuatu yang membuatnya terpuruk adalah menjadi pria tidak berguna yang mempertanggungjawabkan perbuatan di balik jeruji besi.
"Berapa lama aku di penjara? Sepertinya aku tidak akan kuat dan memilih untuk mengakhiri hidup di penjara," sarkas Aldiano yang saat ini merasa jika dunianya telah runtuh dan tidak bisa lagi bangkit berdiri untuk memperbaikinya.
Aldiano bahkan saat ini memikirkan cara bunuh diri yang cepat dan bisa langsung meninggalkan dunia. Ia menatap ke arah pergelangan tangan. "Apakah dengan menyayat bagian ini? Atau gantung diri? Aaah ... atau mungkin mencekik leher sendiri sampai kehabisan napas?"
Ia bahkan sudah membayangkan semua itu untuk mengakhiri hidup dan berharap tidak gagal lagi dan bisa terbebas dari penyiksaan yang dirasakan. Hingga ia menyadari kesalahannya begitu melihat Putri menyentuh titik terlemahnya hingga tidak bisa berkutik.
"Jika Anda melakukan itu, korban selanjutnya adalah papa. Apa tuan mau papa bernasib sama karena menyalahkan diri sendiri atas kematian putranya dan akhirnya memilih untuk menyusul dengan berpikir bisa berkumpul di surga?"
__ADS_1
"Padahal faktanya adalah orang-orang yang bunuh diri tidak pernah dijanjikan surganya Allah. Jadi, ingat itu baik-baik, Tuan Aldiano?" Kalimat bernada tegas diungkapkannya demi bisa mengubah pemikiran pria itu
"Mungkin Anda bisa berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan siapapun, tapi paling tidak, pikirkan nasib papa jika Anda pergi." Putri saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya tersebut dengan tatapan redup.
Bukan tatapan tajam seperti beberapa saat lalu karena pada faktanya adalah pria itu membutuhkan dukungan dan didengarkan. Bukan umpatan kasar seperti beberapa saat lalu yang membuatnya merasa semakin.
'Ya Allah, aku benar-benar sangat berdosa pada suamiku. Hamba berharap Engkau memberikan kesempatan untuk suamiku bertobat di jalan-Mu. Semoga suamiku kuat dan ikhlas menjalani semuanya,' gumam Putri saat ini tengah menatap ke arah sosok pria di atas ranjang perawatan tersebut.
Ruangan kamar perawatan yang selama ini sepi, kembali seperti semula. Ia benar-benar merasa bersalah karena tadi bersikap layaknya seorang wanita yang tidak punya hati.
Ia menunggu hingga pria itu membuka suara untuk menanggapinya dan merasa senang. Hingga ia pun kini mendengar Aldiano mulai membuka suaranya.
Ia sadar jika selama ini hanya bisa membuat masalah dalam hidup pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut. Hingga ia pun kini menatap ke arah Putri yang seperti tengah menahan amarah agar tidak mengumpatnya seperti beberapa saat lalu.
"Aku titip papaku. Jaga dia dan sayangi seperti papa kandungmu sendiri. Aku saat ini rela jika semua harta keluarga Priambodo jatuh ke tanganmu. Sekarang, bagiku uang tidak ada artinya dengan keadaanku yang sekarang." Aldiano saat ini mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Ia merasa yakin jika sosok wanita di hadapannya adalah seorang wanita yang sangat berbeda. 'Jika selama ini aku selalu menghinamu adalah wanita pengincar harta, sekarang aku baru sadar jika bukan itu yang kamu inginkan.'
Aldiano sadar jika Putri selama ini menjalani cobaan untuk membersihkan diri dari dosa karena dulu pernah berada di jalan yang tersesat, sehingga menjalani semua dengan ikhlas.
__ADS_1
Ia bahkan berpikir tidak mungkin bisa seperti wanita itu yang kuat menjalani cobaan dari Tuhan untuk membersihkan diri dari gelimang dosa. 'Aku hanyalah seorang wanita pria pengecut dan pecundang karena sangat yakin jika tidak akan kuat menjalani ini semua.'
Saat Aldiano tengah sibuk menyalahkan diri sendiri yang dianggap seperti seorang pengecut karena takut sebelum bertanding, kini mengerutkan kening melihat Putri tertawa terbahak-bahak.
Seolah sedang ingin mengejeknya ketika ia benar-benar tulus ingin mengikhlaskan semua harta yang dulu diincarnya. "Kenapa tertawa? Apa menurutmu ini lucu?"
"Kalian ayah dan anak ternyata sama saja! Kalian sama-sama saling memikirkan kebaikan dan mengorbankan diri. Apa aku tidak boleh tertawa saat ini?" Putri seolah saat ini tengah berada di tengah-tengah antara ayah dan anak yang menariknya ke kanan dan ke kiri.
Mungkin lama-kelamaan tangannya bisa putus jika ayah dan anak tersebut menarik berlawanan. "Tadi tuan Priambodo mengatakan akan menyerahkan semua warisan pada Anda dan sekarang Anda mengatakan akan menyerahkan semuanya pada saya."
Ia saat ini kembali tertawa karena merasa jika apa yang diungkapkan oleh pria itu membuatnya seperti menjadi seorang wanita yang mengincar harta. Padahal ia tidak ingin bercerai karena ingin merawat Aldiano sampai sembuh. Apalagi ia mengetahui bagaimana beratnya menjadi orang yang lumpuh.
Kini, Putri berkacak pinggang dan ingin menyampaikan pemikirannya. "Jika Anda dan papa punya keputusan, begitu juga denganku. Aku tidak akan pernah menerima sepeserpun uang dari keluarga Priambodo jika terjadi sesuatu padamu."
"Aku akan menyumbangkan semuanya pada orang-orang yang membutuhkan agar menjadi amal baik kalian berdua karena saat sudah meninggal, yang menolong kita hanya tiga perkara."
"Anak Sholeh Shalihah, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat." Putri sudah berpikir jauh jika sampai pria di hadapannya tersebut benar-benar melaksanakan niat untuk bunuh diri, tidak akan menerima sepeserpun dari mertuanya.
"Jadi, semua harta itu akan berguna untuk kalian suatu hari nanti," ucap Putri yang kali ini berharap jika Aldiano tidak selalu membahas tentang kematian.
__ADS_1
To be continued...