Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Raut wajah kecewa


__ADS_3

"Berani sekali bajingan itu datang ke sini. Aku akan membunuhnya hari ini juga karena telah membuat Putri pergi tanpa pamit." Noah berjalan secepat kilat dan tentu saja melampiaskan amarah untuk memberikan pelajaran pada mantan suami Putri yang berselingkuh dengan wanita lain.


Bahkan diketahui hari ini telah menceraikan wanita yang sama sekali tidak bersalah. "Berani sekali kau datang ke sini, bangsat!"


Sementara itu, Amira Tan yang juga merasa sangat marah pada Arya, kini berjalan mendekat dan langsung mengarahkan tangan ke atas untuk menampar wajah mantan suami Putri.


"Kau memang benar-benar sangat berengsek! Membusuklah di neraka!" sarkas Amira Tan yang saat ini dikuasai oleh amarah dan terlihat sangat jelas pada wajah memerah ketika mengarahkan tatapan tajam menusuk.


Mendapatkan pukulan dan tamparan pada wajahnya, Arya merasa sangat marah. "Apa kalian mau mati?"


"Kau yang harusnya lenyap dari dunia ini karena telah membuat Putri pergi tanpa pesan!" sarkas Noah yang saat ini masih mengepalkan kedua tangan dan hendak meninju wajah Arya untuk kedua kali.


Arya membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari pria yang terlihat sangat marah tersebut.


"Apa maksudmu? Putri pergi? Aku datang ke sini untuk meminta maaf, tapi benarkah dia sudah meninggalkan kontrakan tanpa mengatakan apapun pada kalian? Bahkan nomor ponselnya tidak aktif dan aku sudah menghubungi berkali-kali tadi sebelum datang ke sini."


Terlihat sangat jelas jika saat ini wajah penuh kekhawatiran dari Arya yang mengajak frustasi rambut hingga berantakan. "Putri, kamu pergi ke mana?"


Suara lirih dengan kegetiran defensiv yang terdengar sangat jelas dari Arya, membuat Noah tidak jadi melayangkan pukulan.


"Aku sangat muak melihat wajah pria berengsek ini. Lebih baik kita segera pergi dari sini," ucap Noah yang langsung menarik pergelangan tangan kiri Amira Tan untuk berjalan ke arah mobil.


Arya yang seketika merasa sangat lemas begitu mengetahui mengetahui jika saat ini Putri memilih untuk menghilang dengan cara pergi tanpa pesan dan menonaktifkan ponsel.


Bahkan saat ini sudah bisa menebak jika Putri tidak akan memakai nomor itu lagi karena memang ingin menghilangkan jejak.


Tanpa memperdulikan rasa nyeri pada bibir yang robek karena perbuatan pria yang bahkan tidak dikenal telah meninju wajahnya, lalu tamparan keras Amira Tan yang merupakan saudara perempuan mantan istrinya.

__ADS_1


Kini, ia masih terdiam di depan rumah kontrakan yang menyimpan banyak kenangan selama satu tahun belakangan ini bersama dengan wanita yang masih dicintai.


"Kamu pergi ke mana? Bagaimana kamu bisa membesarkan Xander tanpa suami? Dasar wanita bodoh! Bahkan aku ingin memberikan uang padamu. Harusnya kamu menunggu sampai aku datang."


Saat Arya baru saja menutup mulut setelah berbicara, mendengar suara wanita yang tak lain adalah Amira Tan.


Ya, Amira Tan yang tadi hendak masuk ke dalam mobil, mengurungkan niat karena masih belum puas melampiaskan amarah pada Arya, sehingga kembali menghampiri pria yang dianggap hanyalah boneka orang tua.


"Apa kau puas sekarang melihat Putri pergi jauh dan pastinya tidak akan pernah kembali!" Kemudian ia kini berjalan menuju ke dekat tong sampah dan menendang kantong plastik besar berisi pakaian pria itu.


"Kau tak lebih dari sampah seperti pakaian yang telah dibuang oleh Putri ini. Apa kau mau memungutnya? Putri bahkan telah memutuskan hubungan dengan semua orang dan tidak akan pernah ada yang tahu di mana keberadaan saat ini."


Berkali-kali menendang dengan kaki dan pakaian itu berantakan sampai berserakan di tanah. Seolah Amira Tan ingin memperlihatkan arti pria itu di mata saat ini.


Merasa sangat marah sekaligus kesal, Amira Tan berpikir tidak akan pernah memberitahu pada Arya jika hasil tes DNA sudah dipalsukan. Menganggap itu adalah hal yang paling tepat karena Putri saja sudah membantah tuduhan itu, tapi tidak dipercayai.


Tentu saja ia lebih percaya pada Putri dari pada keluarga besar Arya yang menjadi dalang dari semua kemalangan. Meskipun dari dulu sudah menduga jika hal ini akan terjadi, tetapi tidak menduga jika pria yang tak lain adalah Arya bisa dengan mudah mempercayai hasil tes DNA yang dipalsukan oleh Arya Mahesa.


Embusan napas kasar yang keluar dari mulut Amira Tan saat ini seolah mewakili perasaan hancur dan terluka yang dirasakan untuk saudara perempuan.


'Aku akan menjadi saksi kehancuran keluarga Mahesa. Suatu saat kau akan merasa bahagia melihat karma yang didapatkan pria ini, Putri,' lirih Amira Tan yang kini mulai berjalan pergi meninggalkan Arya.


Sosok pria yang dari tadi hanya diam di tempat dengan bibir terkunci rapat. Tentu saja Amira Tan merasa sangat emosi melihat itu, tapi tidak bisa berbuat apapun karena jika terlalu lama berhadapan dengan Arya, akan menambah amarah yang dirasakan.


Tanpa menoleh ke belakang, Amira Tan saat ini berjalan menuju ke arah mobil yang di dalamnya ada Noah masih menunggu. Begitu membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan, baru menoleh ke arah pria yang terdiam membisu di tempat.


"Cepat pergi dari sini! Aku benar-benar muak melihat bajingan itu!" Kemudian memasang sabuk pengaman dan beberapa kali mengembuskan napas kasar.

__ADS_1


Tanpa membuka suara, Noah kini menuruti perintah dari Amira Tan dan meninggalkan area kontrakan Putri. Sebenarnya selama di dalam mobil tadi tengah menahan amarah agar tidak kembali menghajar Arya dengan membabi buta.


Dengan cara mengalihkan pikiran pada Putri yang sudah pergi entah ke mana, Noah berpikir ingin mengecek ke terminal. Tanpa mengatakan pada Amira Tan, ia mengemudikan mobil menuju ke arah terminal bus.


Sementara di sisi lain, terlihat Arya masih berdiri di depan tong sampah yang di sebelah kanan ada pakaian berserakan. Semua barang yang telah dibuang oleh Putri dan seperti yang dikatakan Amira Tan tadi.


Jika Putri kini memilih untuk membuang semua pakaian dan segala hal yang berhubungan dengan Arya, itu berarti hidupnya telah dibuang oleh wanita itu.


Suasana petang yang berubah semakin malam seolah sangat cocok dengan apa yang dirasakan oleh Arya, saat ini.


Kini, ia memilih untuk berjongkok di depan kantong plastik tersebut dan membuka tumpukan pakaian yang bahkan masih bagus dan pasti jika ada orang yang melihat itu, akan langsung memungut untuk dibawa pulang.


Arya kini mengangkat kantong plastik dan langsung membuang semua pakaian di dalam hingga berserakan di tanah.


Bahkan tidak hanya itu saja, tangannya kini sudah memporak-porandakan pakaian tersebut, seperti tengah mencari sesuatu.


'Semoga aku mendapatkan petunjuk,' gumam Arya yang masih membuka satu persatu pakaian.


Berharap menemukan pesan yang ditulis oleh Putri atau alamat. Namun, meskipun sudah mencari, tetap tidak menemukan dan akhirnya berpikir jika saat ini Putri memang ingin menghilang tanpa diketahui oleh orang lain.


Arya yang awalnya berjongkok, kini jatuh terduduk dan merasa sangat bingung sekaligus bersalah.


"Kamu pergi ke mana? Bagaimana caranya aku meminta maaf padamu jika kamu pergi?" Arya terlihat seperti seorang pria yang ditinggal mati oleh pasangan karena terlihat sangat mengenaskan.


Nasib baik suasana petang beranjak semakin gelap dan tidak ada orang berada di luar rumah karena waktunya beribadah dan berdoa.


Hingga belum sempat menenangkan diri atas perasaan membuncah yang dikuasai oleh rasa bersalah, kini ia mendengar suara dering ponsel yang berada di balik jas.

__ADS_1


Berharap jika yang menelpon adalah Putri memakai nomor baru, ia buru-buru memeriksa. Namun, raut wajah kecewa kini tampak jelas saat melihat jika ternyata sang ayah menghubungi.


To be continued...


__ADS_2