Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menuai apa yang ditanam


__ADS_3

Sosok wanita yang saat ini tengah duduk di kursi penumpang sambil melihat ke arah kaca jendela yang menampilkan kanan kiri perbukitan, dari tadi tidak berhenti mengeluarkan air mata yang menganak sungai di wajah cantik itu.


Sudah 4 jam lebih perjalanan dihiasi oleh bulir kesedihan yang tidak sanggup ditahan ataupun dihentikan karena selalu mengingat sosok pria yang sampai detik ini masih sama dicintai, meskipun sudah menyakiti hatinya.


Wanita yang tak lain adalah Putri tengah berada dalam perjalanan menuju ke tempat yang akan menjadi saksi bisu perjuangan untuk memulai lembaran Baru bersama putra semata wayang yang saat ini tertidur di kursi penumpang sebelah.


Putri memang dari tadi menggendong Xander, tetapi karena merasa pegal pada tangan jika berjam-jam terus mamaku putranya, akhirnya memilih memberikan di kursi kosong yang memang tadi sengaja dipesan oleh pria yang menolong.


Jika kebanyakan para penumpang menikmati jalanan dunia memejamkan mata hingga tertidur pulas, sangat berbeda dengan keadaan Putri saat ini yang sama sekali tidak memejamkan mata walau hanya sedetik pun.


Putri memilih menghabiskan waktu dengan menatap malaikat kecil yang sangat damai saat tidur. Bahkan dari tadi sama sekali tidak rewel ataupun menangis selama dalam perjalanan sampai berjam-jam di dalam bus.


Seolah mengerti dengan keadaan dari ibunya yang tidak baik-baik saja karena telah dikuasai oleh kesedihan saat kehancuran melanda.


Waktu dimanfaatkan oleh Putri dengan memuaskan pandangan bentuk mengusap lembut tubuh putranya saat tertidur, membuka ponsel dengan nomor baru yang hanya satu orang mengetahui kontaknya, yaitu istri supir taksi yang tadi langsung dihubungi dan meminta tolong untuk mencarikan kontrakan yang akan ditempati.


Kemudian melihat beberapa foto kenangan kebersamaan dengan Arya saat berada di kontrakan. Hal itulah yang membuat Putri tidak berhenti mengeluarkan bulir air mata saat mewakili kesedihan yang dirasakan saat ini.


'Aku harus melupakan pria brengsek itu dan fokus pada putraku. Arya lebih memilih wanita itu dari pada anak dan istrinya. Aku sekarang mengalami apa yang dirasakan oleh Bagus dahulu.'


'Bahkan tidak perlu menunggu waktu lama karena saat ini yang terjadi adalah hukum alam telah bertindak dan tidak pernah salah sasaran. Maafkan mama, putraku karena membuatmu jadi korban keegoisan kami.'


Embusan napas kasar saat ini mewakili perasaan hancur seorang istri yang dikhianati oleh suami.


'Aku berjanji tidak akan pernah menikah lagi dan hanya fokus pada putraku. Menikah hanya membuatku hidup menderita karena sepertinya hukum karma akan selalu mengejarku. Menjadi seorang istri yang durhaka pada suami sebaik Bagus, akhirnya memberikanku hukuman.'

__ADS_1


Putri saat ini terdiam dan mengingat kutukan dari Bagus saat pertama kali mengetahui bahwa ia hamil demikian lain. Bahkan masih sangat hafal dengan ekspresi wajah pria yang sangat murka dulu.


'Aku mengutukmu, Putri. Kamu tidak akan pernah bahagia setelah mengkhianati ikatan suci pernikahan.'


Suara degup jantung yang berdetak sangat kencang melebihi batas normal, seolah mewakili perasaan Putri yang saat ini ketakutan.


Takut jika penderitaan yang baru saja dimulai akan terus mengiringi perjalanan hidupnya. Bagus mengutukku tidak akan pernah hidup bahagia selamanya. 'Apakah aku akan mendapatkan lebih banyak penderitaan setelah hari ini? Aku benar-benar takut jika putraku ikut menderita.'


'Apa yang harus kulakukan untuk bisa menghilangkan kutukan dari mantan suami yang tersakiti?' Bagus sudah beberapa kali mengusap wajah yang bersimbah air mata.


Hingga berpikir bahwa penderitaan akan terus menghantuinya mulai hari ini sampai aja menjemput. Tentu saja merasa sangat takut jika penderitaan juga akan dirasakan oleh malaikat kecilnya yang sama sekali tidak bersalah.


Kini, Putri beralih menatap ke arah putranya. 'Mama berjanji padamu akan membuatmu menjadi anak laki-laki yang bahagia, meskipun kita hanya berdua.'


'Mama akan berusaha menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untukmu dan memberikan kehidupan yang layak. Mulai sekarang, aku harus bekerja keras menghasilkan uang sendiri karena ada anak yang harus dibahagiakan.'


Beberapa saat kemudian, Putri mendengar suara dering ponsel yang diketahui siapa orang yang menghubungi saat ini.


"Aku sampai lupa mengatakan ada wanita itu bahwa sekarang sudah memasuki area perbukitan yang mungkin sebentar lagi akan tiba di tempat tujuan."


Kemudian Putri menggeser tombol hijau ke atas dan mengeluarkan suara, "Halo?"


"Putri, aku menghubungimu karena ada kabar baik untukmu," sapa wanita di seberang telpon yang terlihat sangat bersemangat.


"Iya, apakah ada kabar baik untukku?" Putri sangat berharap wanita di seberang telpon tersebut sudah menemukan rumah yang akan ditempati, sehingga tidak perlu merepotkan orang lain.

__ADS_1


Apalagi istri dari supir taksi tersebut sudah terlalu banyak membantu, sehingga merasa tidak enak jika terus menjadi beban saat tinggal di rumah wanita itu.


"Aku baru saja menemukan rumah kontrakan yang tidak terlalu besar dan letaknya di tepi jalan, jadi kau bisa memulai usaha untuk menjual makanan yang pastinya akan laris karena dekat dengan tempat wisata. Aku sudah memperhitungkan semuanya, jadi mengeluarkan uang sedikit lebih besar tetapi setiap hari bisa untuk mencari rezeki dengan berjualan."


Putri tidak berhenti bersyukur setelah mendapatkan kabar baik hari ini dari wanita yang dianggap malaikat karena sama sekali tidak mencurigainya. Bahkan langsung menolong tanpa pamrih.


Sudut bibir Putri melengkung ke atas karena sudah merasa sangat lega menemukan tempat tinggal untuk membuka lembaran baru dan sekaligus memulai usaha.


Tadi Putri memang mengatakan pada wanita itu tidak mempermasalahkan jika kontrakan lebih mahal karena berniat untuk berjualan makanan agar bisa menyambung kehidupan.


Bahkan tadi sudah mengetahui kisaran uang untuk mengontrak di tempat yang strategis tak lebih besar ketika berada di kota. Jadi, masih ada sisa uang pengembalian dari pemilik kontrakan yang ditempatinya dulu.


Bahkan memiliki tabungan yang cukup untuk biaya hidup bersama Xander beberapa bulan ke depan. Namun, tidak ingin hanya berpangku tangan menghabiskan simpanan uang yang dimiliki jika tidak bekerja.


Karena sebanyak apapun uang jika terus-terusan diambil pasti akan habis. Putri tidak ingin itu terjadi dan memilih untuk segera memulai usaha agar mendapatkan sedikit uang untuk menambah tabungan.


"Terima kasih karena kau mau membantuku, padahal kita belum pernah bertemu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau dan suamimu tidak ada. Mungkin aku masih bingung untuk mencari tempat tinggal baru sebagai seorang janda beranak satu."


"Jangan merasa sungkan padaku karena kita adalah saudara yang harus saling membantu. Aku melakukan ini dan pasti akan berbalik padaku dengan dimudahkan segala urusan apapun. Jadi, saat menolong dan memudahkan orang lain, yang terjadi adalah kita berbuat baik pada diri sendiri, sehingga usaha apapun pasti akan lancar dan rezeki semakin berkah."


Putri yang langsung menganggukkan kepala karena memang berbuat baik akan kembali pada diri sendiri dan suatu saat menuai apa yang ditanam.


"Kamu memang benar karena semua orang akan menuai apa yang ditanam. Seperti aku saat ini menuai apa yang kutanam di masa lalu," lirih Putri dengan suara serak mengandung kesedihan saat menahan tangis.


Hingga mendengar suara dari wanita di seberang telpon saat menghiburnya, seolah mengetahui bahwa saat ini tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


"Maafkan aku karena telah mengingatkanmu pada kesedihan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi yakinlah bahwa kehidupan selalu berputar dan jangan terus berputar pada kesedihan yang malah semakin membuatmu terpuruk. Ada anak yang akan menjadi kekuatanmu dan kau harus berjuang membahagiakan putramu."


To be continued...


__ADS_2