
"Polisi yang baru saja memeriksa keadaan vital dari tuan Arya mengatakan masih bernapas dan sekarang saya ikut masuk ke dalam ambulans yang membawa ke rumah sakit terdekat. Anda bisa datang sekarang dan kita bertemu di sana, Tuan."
Tidak ingin membuang waktu, Ari Mahesa langsung mematikan sambungan telpon dan menoleh ke arah sang istri yang terlihat sangat pucat ketika dikuasai kekhawatiran saat memikirkan putra satu-satunya.
"Kita harus berangkat ke rumah sakit sekarang juga. Arya saat ini berada di ambulans bersama Putra." Ari Mahesa saat ini masih memeluk sang istri dengan erat karena ingin memberikan ketenangan pada wanita yang saat ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Hingga suara bergetar terdengar dari sosok wanita yang sudah berkaca-kaca dan akhirnya bersimbah air mata karena sudah tidak kuasa untuk menahan bulir bening yang dari tadi ingin mengalir membasahi pipi putih itu.
"Aku sangat takut terjadi sesuatu pada putra kita? Aku tidak akan pernah bisa hidup jika Arya meninggalkan dunia ini." Rani saat ini sudah menangis tersedu-sedu dan mendapatkan pelukan dari sang suami yang sudah mengusap lembut lengan dan punggung.
"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Bukankah Putra tadi mengatakan bahwa Arya masih hidup? Seharusnya kita mendoakan, bukan malah berpikiran buruk. Apakah kamu ingin tetap berada di sini?"
Ari Mahesa ingin menyadarkan sang istri agar lebih kuat dan tidak berpikiran buruk. Apalagi saat ini ingin segera melihat keadaan Arya.
Karena jujur saja merasa takut jika tidak sempat melihat Arya untuk terakhir kali. Hal yang paling ditakutkan, tetapi tidak ingin mengakui di depan sang istri karena berusaha menjadi kepala keluarga yang kuat dan bisa menghibur wanita diperlukan tersebut.
"Aku ingin pergi menemui Arya sekarang juga. Ayo, kita berangkat dan semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada putra kita," ucap Rani saat ini tengah menghapus bulir bening air mata yang menganak sungai di wajah.
Kemudian berusaha untuk bersikap kuat dan tidak berpikir positif bahwa putra yang sangat disayangi akan baik-baik saja setelah mendapatkan penanganan dari para dokter.
"Tidak akan terjadi sesuatu pada Arya. Sebelum aku mati, putraku akan baik-baik saja." Rani saat ini mengangkat pandangan dengan menoleh ke arah sang suami. "Kita harus kuat di depan putra kita, bukan?"
"Iya, Sayang. Jangan menangis saat melihat putra kita sadar nanti. Arya akan bersedih jika melihatmu menangis." Ari Mahesa kini membersihkan sisa air mata di wajah pucat sang istri dan merasa sangat iba ketika wanita yang sangat dicintai tersebut tengah terpukul dengan kenyataan hari ini.
Sementara itu, Rani kini mengangguk perlahan dan membiarkan sang suami melakukan apapun untuk membersihkan wajah dari sisa-sisa bulir kesedihan.
__ADS_1
"Kamu pun juga harus mengabari keluarga Calista, agar tidak menunggu kita. Aku khawatir mereka akan berpikiran buruk pada Arya Jangan sampai putra kita mendapatkan umpatan dari mereka yang tidak mengetahui penyebab dari gagalnya acara lamaran hari ini."
"Ya, kamu benar. Aku akan menelpon saat kita berada di dalam mobil saja. Sekarang ayo kita berangkat." Ari Mahesa saat ini langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar dengan posisi masih memeluk erat tubuh sang istri.
Sementara Rani yang sangat lemah dan seolah kehilangan sumber tenaga ketika berjalan. Tentu saja masih merasa takut jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada putra yang merupakan pusat dunia Rani.
Namun, tidak ingin dikuasai oleh pikiran buruk dan berusaha memenuhi dengan hal-hal positif. Bahwa Arya akan baik-baik saja. Sampai saat berada di dekat mobil dan langsung duduk di kursi belakang, Rani bahkan terlihat meremas kedua sisi pakaian karena dikuasai oleh kecemasan.
Sementara Ari Mahesa juga sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah sang istri. Akhirnya mengatakan pada sang supir agar segera berangkat ke rumah sakit yang dekat dengan area kecelakaan.
Kemudian meraih ponsel karena ingin mengatakan pada ayah Calista, bahwa acara hari ini gagal.
Saat menunggu selama beberapa detik, Ari Mahesa berharap panggilan telpon segera diangkat. Namun, yang terjadi adalah tidak mendapatkan jawaban.
"Apakah papa Calista marah pada kita, sehingga tidak mau mengangkat telpon dariku?" Menoleh ke arah sang istri untuk meminta pendapat atas apa yang baru saja ditanyakan.
Kemudian Rani langsung memencet tombol panggil setelah menemukan kontak dari wanita yang menjadi menantu idaman tersebut. Detik demi detik berlalu dan saat ini Rani berekspresi sama seperti sang suami.
Panggilan telpon sudah mati karena tidak mendapatkan jawaban. "Bahkan Calista pun tidak mau mengangkat telepon dari kita. Padahal keadaan ini sangat darurat. Bahkan kita tidak tahu bagaimana dan seperti apa Arya saat ini."
Wajah Rani kembali murung ketika membayangkan jika tubuh Arya dipenuhi oleh darah.
"Lebih baik tidak usah memikirkan hal itu karena yang terpenting adalah keadaan Arya. Kita harus fokus pada putra kita. Mengenai keluarga Calista, nanti mereka juga akan mengerti dan memahami apa yang sebenarnya terjadi."
Kemudian Ari Mahesa mengambil ponsel yang berada di tangan sang istri dan memilih untuk mengirimkan pesan karena panggilan tidak diangkat.
__ADS_1
Maafkan keluarga besar Mahesa karena hari ini tidak jadi melamar. Itu semua karena putra kami mengalami kecelakaan.
Setelah menuliskan pesan singkat, langsung memencet tombol kirim dan memilih untuk memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja.
Mobil yang membawa mereka seolah berjalan lambat karena tidak kunjung tiba di rumah sakit. Hanya posisi saling berpelukan untuk menguatkan perasaan masing-masing, pasangan suami istri paruh baya tersebut sudah tidak lagi berbicara karena sibuk dengan kekhawatiran.
Bahkan Rani dari tadi tidak berhenti merapalkan doa untuk keselamatan putranya. 'Jangan ambil nyawa putraku, Tuhan. Aku tidak bisa hidup jika itu terjadi. Jika boleh, tukar saja dengan nyawaku,' gumam Rani yang saat ini masih berada dalam pelukan sang suami.
Sementara itu, hal yang sama dirasakan oleh pria paruh baya tersebut. Ari Mahesa merasa sangat menyesal karena tadi sempat mengumpat putra sendiri. Padahal yang terjadi adalah mengalami sebuah kemalangan.
Tidak bisa berpikir jernih saat ini, Ari Mahesa memilih untuk beberapa kali memohon kepada Tuhan.
'Jangan ambil nyawa putraku, Tuhan. Aku saja yang mati karena tidak akan pernah tega melihat istri hancur jika sampai terjadi hal-hal buruk pada putraku.'
Saat Ari Mahesa masih diliputi oleh rasa bersalah, sekarang mengingat sesuatu. 'Apakah kami mendapat balasan karena membuat Arya membuang wanita itu?'
Ari Mahesa tidak bisa menghilangkan pikiran buruk mengenai hal yang terjadi pada Arya merupakan karma dari perbuatan yang menceraikan Putri dan juga ulah mereka memalsukan hasil tes DNA.
"Tidak mungkin!" seru Ari Mahesa yang kini ingin menolak dan membantah pikiran buruk di kepala.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang tidak mungkin? Jangan katakan jika kamu barusan membayangkan Arya meninggalkan kita." Rani saat ini masih merasa sangat khawatir sekaligus takut melihat ekspresi wajah sang suami.
Refleks Ari Mahesa menggelengkan kepala karena ingin menenangkan perasaan sang istri. Kemudian memilih untuk menjelaskan apa yang sempat terbersit di kepala.
"Apakah ini adalah karma untuk keluarga kita karena menyakiti wanita itu yang melahirkan anak laki-laki untuk Arya?" Ari Mahesa masih menatap intens wajah sang istri karena ingin memastikan bahwa tanggapan wanita itu tidak sama.
__ADS_1
Sementara itu, Rani tidak bisa berkata apapun karena jujur saja di hati kecil membenarkan perkataan dari sang suami, tapi bibir tidak mau mengakui hal itu.
To be continued...