
Beberapa saat yang lalu, Arya yang langsung menghubungi Putri setelah melihat Calista pergi dari ruangan kerja, merasa sangat kesal karena tidak mendapatkan jawaban. "Dia tidak mau mengangkat telpon dariku."
Masih menunggu panggilan diangkat oleh Putri, kini Arya kembali mengembuskan napas kasar. Hal itu karena wanita yang tadi diceraikan tidak mau mengangkat telpon.
Arya saat ini menggebrak meja karena merasa sangat marah atas apa yang terjadi hari ini. "Kenapa tidak kamu angkat telepon dariku, Putri!"
"Aku berniat baik untuk meminta maaf padamu dan akan memberikan uang sebagai kompensasi atas perbuatanku menyakiti perasaanmu. Namun, apa yang kudapat hari ini? Kamu sepertinya ingin menghukumku dengan tidak mau mengangkat telpon."
Entah sudah berapa lama ia mengumpat sendiri di ruangan kerja karena tidak berkonsentrasi untuk mengecek dokumen yang berada di atas meja.
Merasa khawatir pada keadaan Putri karena saat ini berpikir jika wanita itu mungkin bisa saja melakukan hal-hal buruk seperti menyakiti diri sendiri.
Apalagi mengetahui bahwa mengakhiri nyawa yang selalu dilakukan oleh orang-orang saat putus asa, membuatnya berpikir jika Putri bisa saja melakukan hal itu.
Refleks Arya berkali-kali menggelengkan kepala karena tidak ingin membenarkan apa yang saat ini dipikirkan. "Tidak! Putri tidak akan mengakhiri nyawa sendiri hanya karena melihat perselingkuhanku dengan Calista, sampai aku mengucapkan talak."
Namun, meskipun mencoba untuk menolak pemikiran buruk tersebut dari kepala, tetap saja tidak membuat perasaan Arya menjadi lebih baik.
Arya masih merasa khawatir jika apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. "Bagaimana jika Putri memilih untuk gantung diri di rumah kontrakan?" Mengacak frustasi rambut hingga berantakan.
"Jika itu benar-benar terjadi, bukankah aku juga akan terkena masalah? Polisi akan mencari tahu penyebab dari gantung diri yang dilakukan oleh Putri dan pastinya akan menyeret namaku karena baru saja menceraikan ketika ketahuan berselingkuh."
Arya berkali-kali menelan saliva karena merasa sangat khawatir sekaligus takut jika Putri melakukan hal-hal buruk setelah tadi melihat perselingkuhan hingga berakhir mengucapkan talak.
Meskipun sebenarnya antara bibir dan hati sangat tidak sinkron, tetap saja ia merasa bersalah.
Jika di bibir mengatakan sangat khawatir jika para polisi akan menyeret nama baik dan dipenjara, padahal yang sebenarnya terjadi adalah lebih mengkhawatirkan keadaan Putri karena masih sangat mencintai wanita itu.
"Apakah aku harus pergi untuk mengecek sendiri keadaan Putri di kontrakan?" Arya bahkan seperti orang gila karena dari tadi berbicara sendiri di dalam ruangan kerja.
__ADS_1
Bahkan saat ini tengah berdiri dan berjalan mondar-mandir karena merasa pusing sekaligus bingung tentang apa yang harus dilakukan.
"Apa yang harus kulakukan saat ini? Apa aku pergi ke kontrakan saja untuk memastikan sendiri? Ya, lebih baik seperti itu. Aku harus melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dia baik-baik saja dan tidak gantung diri."
Dengan suara yang bergetar karena ketika menyebutkan kata mengakhiri nyawa, ada rasa bersalah sekaligus berdosa pada Putri. Bisa dibilang bahwa antara rasa benci dan cinta yang dirasakan oleh Arya, jauh lebih besar perasaan yang ditujukan untuk wanita itu.
Apalagi ada banyak kenangan yang terukir di antara mereka karena saling mencintai. Bahkan Arya rela meninggalkan semua hanya demi bisa bersatu dengan Putri.
Meskipun tidak pernah terpikirkan jika semuanya akan berakhir dengan mudah seperti hari ini dan semua kenangan yang terjalin seolah musnah begitu saja.
Ia sebenarnya berencana untuk langsung datang ke kontrakan Putri saat ini juga, tetapi tidak ingin jika sang ayah curiga dan murka jika mengetahui keluar dari perusahaan sebelum jam pulang kantor.
Apalagi sang ayah selama ini sangat disiplin dan keras dalam masalah pekerjaan. Meskipun merupakan pemimpin perusahaan, tetapi selalu memberikan contoh yang baik dengan datang tepat waktu dan juga pulang sesuai jam yang ditentukan.
Jadi, Arya tidak bisa berbuat sesuka hati karena akan menjadi contoh buruk untuk para staf perusahaan karena selama ini semua orang menghormati sang ayah yang sangat berwibawa.
Saat berencana untuk pergi ke kontrakan ketika jam pulang kantor, Arya mengingat sesuatu. "Calista setiap hari pulang bersamaku. Jika hari ini aku tidak mengantar pulang, pasti akan curiga dan memaksa ikut."
Arya merasa semakin pusing ketika membayangkan jika Calista merengek untuk meminta ikut bersama saat pulang. Sepertinya aku tidak boleh membuat Calista curiga dan mengantarkan seperti biasa, lalu baru ke kontrakan."
Berpikir jika itu merupakan cara yang tepat dan dianggap paling terbaik tanpa membuat semua orang merasa curiga, akhirnya Arya memilih untuk kembali ke kursi kerja dan memaksakan diri melanjutkan pekerjaan.
Meskipun otaknya sebenarnya susah berkonsentrasi, tetapi berusaha untuk tidak membuat pekerjaan berantakan.
Bahkan rasa lapar tidak diperdulikan olehnya saat ini. Apalagi tadi hanya makan beberapa suap saja dan kehilangan selera begitu mengingat Putri yang terlihat sangat terpukul dan terluka.
Bahkan bayangan wajah sembab penuh air mata wanita yang masih bertahta di hati, terus aja menari di otak Arya saat ini. Hal itulah yang membuat pria dengan penampilan berantakan tersebut ingin menebus kesalahan.
Berpikir untuk menawarkan sejumlah uang pada Putri sebagai bentuk tanggung jawab, Arya saat ini berharap jika nanti wanita itu menyebutkan nominal uang yang dibutuhkan dan bisa digunakan untuk biaya hidup bersama Xander.
__ADS_1
'Aku sangat menyayangi Xander, tapi ternyata bukan merupakan putra kandungku sendiri,' lirihnya yang saat ini beralih mengingat wajah menggemaskan dari bayi yang dilahirkan oleh Putri.
'Jika aku menyuruh Putri untuk membuang bayi itu ke panti asuhan karena bukan darah dagingku, apakah akan menuruti perintahku? Mungkin kami masih bisa menjalin hubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuaku.'
Meskipun merasa bahwa ide yang baru saja dipikirkan sangat konyol, tetapi ingin menanyakan hal itu pada Putri ketika nanti bertemu di kontrakan.
"Aku ingin tahu jawaban Putri nanti. Apakah akan menunjukkan cintanya padaku dengan cara membuang bayi itu atau tetap mempertahankan Xander dan memilih untuk tidak bersamaku?"
"Aku akan menemukan jawaban sore ini," ucap Arya yang merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat hari ini.
Padahal ingin sekali segera bertemu dengan Putri dan mendengar jawaban dari wanita itu. Bahkan suara hembusan napas kasar berkali-kali menghiasi ruangan kerja tersebut.
Seolah menegaskan bahwa saat ini pria yang duduk di kursi kerja tersebut tengah dikuasai oleh beban berat dan merasa sangat stres atas masalah yang dihadapi saat ini.
Detik demi menit dan bergulir hingga beberapa jam telah berlalu, Arya yang baru saja memeriksa semua dokumen di atas meja, kini merasa sangat lega karena pekerjaan telah selesai dengan tepat waktu ketika menatap jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Akhirnya selesai juga tepat waktu. Jadi, papa tidak akan marah ataupun protes pada hasil kerjaku."
Setelah merapikan beberapa dokumen yang telah ditandatangani, Arya bangkit dari kursi dan berniat untuk berjalan keluar dari ruangan.
Namun, melihat asisten pribadi berjalan masuk setelah mengetuk pintu karena ini mengambil dokumen yang selesai ditandatangani.
"Tuan Arya, ada pesan dari presiden direktur." Pria dengan memakai jas berwarna biru tersebut tadi bertemu dengan bos perusahaan dan disuruh menyampaikan pesan penting.
"Apa? Kenapa tidak mengatakan langsung padaku?" tanya Arya yang merasa ada sesuatu hal tidak beres karena sang ayah tidak menyampaikan secara langsung.
"Tuan Ari Mahesa tadi mengatakan agar Anda membeli cincin dengan nona Calista sebagai acara lamaran nanti malam. Jadi, bisa pergi pulang dari kantor." Mengambil semua dokumen yang ada di atas meja dan memilih untuk segera pergi dari ruangan setelah berpamitan.
To be continued...
__ADS_1