Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Ingin segera pergi


__ADS_3

Beberapa saat lalu, seorang pria turun dari ojek online dan memperhatikan satu rumah yang terlihat sangat gelap. "Sepertinya wanita itu belum menempati rumah kontrakan."


"Berarti dari tadi masih berada di rumah wanita itu," lirih sosok pria yang dari tadi memperhatikan rumah kosong dan diketahui akan menjadi tempat tinggal seseorang yang ingin didapatkan.


Bahkan saat ini berpikir bahwa bisa memanfaatkan situasi wanita tanpa suami dan akan membuka warung makan yang pastinya bisa sering didatangi dengan alasan membeli makan di sana.


Pria bernama Ardiansyah merupakan perjaka tua yang sampai sekarang belum menikah karena pernah mengalami kenangan buruk dengan seorang wanita yang sangat dicintai.


Jadi, cukup lama tidak menjalin hubungan setelah putus dengan sang kekasih yang diam-diam berselingkuh dengan pria lain ketika sudah dilamar.


Bahkan melihat sendiri jika wanita yang sangat dicintai keluar dari hotel bersama selingkuhan. Padahal selama ini sangat menjaga sang kekasih dengan tidak pernah menyentuh karena berpikir sangat menghormati seorang wanita yang dicintai.


Berharap akan melakukan apapun setelah resmi menikah. Namun, ternyata hal yang menjadi prinsip hidup seorang Ardiansyah malah dianggap tidak normal oleh sang kekasih.


Saat memergoki sang kekasih dan marah-marah di depan hotel, malah mendapatkan penghinaan yang mengatakan bahwa ia adalah seorang pria tidak normal.


Karena selama ini tidak pernah mencium ataupun memanfaatkan situasi ketika mereka berduaan di tempat romantis. Hal itulah yang membuatnya merasa sangat terpukul karena ternyata wanita yang selama ini dicintai tidak sebaik yang dipikirkan.


Ardiansyah merasa sangat trauma menjalin hubungan dengan seorang wanita dan bertahun-tahun memilih untuk tidak dekat dengan siapapun. Namun, hanya dengan melihat pertama kali sosok wanita yang menjadi penumpang tadi siang, hatinya meronta saat jatuh cinta pada pandangan pertama.


Bahkan keinginan kuat dirasakan oleh Ardiansyah untuk bisa mendapatkan wanita yang diketahui sudah memiliki tiga anak tersebut. Seolah sama sekali tidak mempermasalahkan status wanita itu karena telah jatuh cinta.


Bahkan meskipun merasa bahwa perbuatannya saat ini sangat bodoh karena seperti seorang penguntit ketika memperhatikan kontrakan yang akan menjadi tempat tinggal wanita tersebut, Ardiansyah seolah tidak perduli dengan tanggapan orang lain.


Satu-satunya hal saat ini mengganggu pikiran adalah merasa khawatir jika wanita itu hanya akan tinggal bersama bayi tanpa seorang pria yang bisa melindungi jika ada orang jahat. Apalagi melihat bahwa wanita itu memiliki paras sangat cantik dan pastinya akan menjadi pusat perhatian di kampung itu.


Hal itulah yang membuat Ardiansyah merasa khawatir akan mempunyai banyak saingan yang mengejar wanita bernama Putri tersebut. Meskipun sebenarnya sangat ingin mengetahui bagaimana cerita tentang kehidupan Putri yang berakhir di sini tanpa suami.


Ardiansyah saat ini berjalan menuju ke rumah wanita yang tadi memberikan bonus dan memilih untuk menyembunyikan diri di dekat pohon mangga dan berharap jika wanita incarannya segera keluar dari sana.


Karena tidak ingin dicurigai oleh warga sekitar, Ardiansyah saat ini memilih untuk memainkan ponsel dan sesekali menatap ke arah rumah dengan area halaman yang luas tersebut.


"Sepertinya dari tadi dia beristirahat di rumah wanita bernama Mira itu. Jadi, belum pulang ke kontrakan karena masih gelap. Semoga Putri cepat keluar, agar aku tidak seperti orang hilang berada di sini."

__ADS_1


"Nasib baik saat malam hari di kampung ini sangat sepi karena semua orang memilih untuk menghabiskan waktu dengan beristirahat di dalam rumah."


Ardiansyah masih berpura-pura melihat ponsel dan sesekali menatap ke arah rumah yang dari tadi tidak berhenti diperhatikan. Hingga merasa bernasib baik hari ini karena mendengar suara dua wanita yang berbincang dan keluar dari rumah.


'Syukurlah mereka sudah keluar dari rumah dan menuju ke kontrakan,' gumam Ardiansyah yang saat ini bisa melihat wanita incarannya seperti biasa menggendong bayi sambil berbincang dengan Mira.


Kemudian berjalan perlahan keluar dari balik pohon mangga untuk mengikuti dua wanita tersebut karena memang berencana untuk menjaga dari beberapa pria yang mungkin akan menggoda Putri.


Ardiansyah merasa yakin jika status Putri adalah seorang janda dan khawatir jika menjadi incaran para pria. Tanpa memperdulikan apapun karena sangat tertarik dengan wanita itu.


Bahkan mengakui perkataan banyak orang saat membahas jika janda lebih menggoda dari perawan.


Ardiansyah kini mengakui bahwa pesona janda jauh lebih menggoda dan berhasil membuatnya kalang kabut seperti ini karena dari siang tadi selalu memikirkan wanita bernama Putri tersebut.


Hal itulah yang membuat Ardiansyah berakhir di sana karena merasa lega jika bisa melihat Putri meski hanya dari jauh.


Ataupun dari belakang seperti ini. Dengan berjalan perlahan sambil masih berakting dengan melihat ke arah ponsel, Ardiansyah lalu pergi ke toko yang berada di depan kontrakan.


Kemudian membeli rokok dan beberapa camilan yang akan diberikan pada Putri untuk persediaan makanan..Itu karena mengetahui bahwa wanita itu seperti tidak membawa makanan ke kontrakan.


Bahkan masih membiarkan pintu terbuka. Beberapa saat kemudian, terlihat rumah sudah terang karena lampu dinyalakan. Ardiansyah melihat ada kursi di depan toko dan berbicara pada pemilik.


"Apakah boleh aku duduk di sini karena sedang menunggu teman."


"Silakan," jawab seorang wanita paruh baya yang saat ini tersenyum dan kemudian kembali ke dalam.


Merasa sangat senang karena diizinkan berada di sana, Ardiansyah langsung mendaratkan tubuh di kursi dan sesekali menatap rumah di seberang jalan.


Penampilan hari ini tidak akan diketahui oleh dua wanita itu karena memakai jaket hitam dan juga topi. Bahkan agar tidak jelas melihat wajahnya, selalu menundukkan pandangan.


Ardiansyah saat ini menaruh camilan yang tadi dibeli ke atas meja dan berniat untuk memberikan pada Putri secara diam-diam.


'Aku akan menaruh makanan ini di depan pintu nanti saat wanita bernama Mira itu sudah pergi dari kontrakan,' lirih Ardiansyah yang masih tidak mengalihkan perhatian dari seberang jalan.

__ADS_1


Hingga suara dari pemilik toko membuat Ardiansyah merasa terkejut dan seketika mengalihkan perhatian dari rumah kontrakan Putri.


"Sepertinya temanmu akan datang terlambat karena belum datang juga." Membawakan gelas berisi kopi yang mengepulkan asap dan menandakan masih sangat panas karena baru dibuat. "Menunggu sambil menikmati kopi, pasti akan lebih baik. Silakan."


Ardiansyah mengerjapkan mata karena merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu saat membawakan kopi pada orang yang bahkan tidak dikenal.


Namun, karena tidak ingin memusingkan hal itu karena berpikir bahwa merupakan kebaikan orang lain, Ardiansyah saat ini mengangguk perlahan dan tersenyum simpul.


"Kenapa harus repot-repot membuatkan kopi. Padahal hanya sebentar berada di sini, tapi terima kasih karena tidak akan menolak rezeki. Temanku tadi mengatakan sudah berada di jalan, tapi tidak kunjung datang."


Kemudian beralih untuk menunjukkan ponsel dalam genggaman. "Saat ditelpon malah tidak diangkat."


Sementara itu, wanita yang memakai baju ala rumahan tersebut mendaratkan tubuh di kursi sebelah pria yang diketahui memiliki usia yang jauh lebih mudah darinya. Namun, merasa sangat senang karena hari ini tiba-tiba kedatangan seorang pria tampan.


Apalagi status sebagai seorang janda selama lima tahun, membangkitkan semangat untuk dekat lagi dengan lawan jenis begitu melihat pria itu.


"Tidak apa-apa, kamu bisa menunggu di sini sepuasmu karena aku tidak akan melarang. Apalagi tidak akan ada yang marah karena sudah tidak mempunyai suami."


Refleks Ardiansyah merasa sangat terkejut dengan kalimat terakhir wanita yang seolah sengaja menunjukkan status, saat ini merutuki kebodohan karena berada di tempat yang salah. Apalagi wanita tersebut tidak langsung pergi begitu memberikan kopi.


'Sial! Ternyata aku salah memilih tempat untuk mengawasi wanita incaranku karena malah sekarang berada di sarang rubah betina. Jangan bilang jika wanita ini berpikir aku menggodanya dengan duduk di sini.'


'Astaga! Aku bisa gila jika wanita ini berpikir seperti itu. Tidak, aku tidak boleh membiarkan ada kesalahpahaman dan membuatku terjerat masalah,' gumam Ardiansyah yang saat ini menelan ludah sebelum berbicara.


"Jadi, sekarang tinggal di sini dengan siapa? Anak?"


"Sendiri karena dua anakku sedang kuliah di luar kota," jawab wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut sambil menyunggingkan senyuman.


Sementara perasaan Ardiansyah semakin tidak karuan begitu mengetahui wanita itu ternyata tinggal sendirian. 'Aku harus segera pergi dari sini dari pada terkena masalah karena dituduh oleh para warga berbuat hal tidak senonoh pada wanita ini.'


Ardiansyah berpura-pura untuk melihat ponsel dan kemudian beralih pada wanita yang duduk di sebelah kiri tersebut. "Ternyata temanku sudah datang di warung sebelah. Aku akan menemuinya. Terima kasih sudah membuatkan kopi."


Kemudian ia buru-buru bangkit berdiri dari posisi dan berjalan meninggalkan toko tersebut. Namun, tidak bisa melanjutkan langkah kaki ketika jaket yang dikenakan ditahan dari belakang.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2