Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sangat perhatian dan menggemaskan


__ADS_3

Beberapa saat lalu, sosok wanita yang saat ini tengah berada di depan layar komputer, sesekali mengusap rambut yang dirasakan nyeri akibat tadi beberapa kali ditarik oleh dua bersaudara yang sangat dibenci.


Wanita yang tak lain adalah Calista tersebut sudah beberapa menit lalu kembali ke ruangan kerja setelah merapikan penampilan yang kacau akibat ulah Putri dan Amira Tan.


Saat sudah duduk di kursi kerja, Calista mengepalkan kedua tangan dengan wajah memerah yang sangat mewakili perasaan saat ini ketika dipenuhi oleh angkara murka.


Memang tadi ia sama sekali tidak melawan saat Putri menarik rambut hingga terasa sangat panas. Itu bukan karena akan diam selamanya atas penghinaan itu. Namun, ingin membalas dendam dengan cara yang elegan, tapi langsung menghancurkan wanita itu.


'Wanita sialan itu harus membayar mahal semua yang terjadi hari ini karena berani membuat beberapa helai rambutku rontok. Lihat saja nanti, aku benar-benar akan membuatnya menangis darah.'


Puas bergumam sendiri di dalam hati, Calista kini menoleh ke arah ponsel yang berada di atas meja karena mendengar suara notifikasi.


Begitu membaca pesan yang tak lain adalah dari sang ibu, sudut bibir melengkung ke atas dan tiba-tiba ada ide muncul di otak saat ini.


Mama sedang berada di restoran bersama ibu Arya. Kebetulan ada di sekitar kantormu. Apakah kamu ingin dibawakan makanan untuk makan siang?


Refleks Calista kini mulai memainkan jari-jari lentik di atas huruf-huruf yang ada di ponsel karena tengah membalas pesan dari sang ibu sambil tersenyum menyeringai.


Aku tidak ingin makan apapun, Ma, tapi hanya butuh bantuan sedikit. Tolong buat sebuah kebohongan di depan ibu dari Arya. Bahwa Mama akan menjodohkan aku dengan putra dari rekan bisnis papa. Hanya itu, nanti akan kujelaskan tentang detailnya kenapa menyuruh berbohong. Jika mama ingin aku segera menikah, lakukan itu!


Setelah memencet tombol kirim, Calista menaruh ponsel di atas meja dan tersenyum smirk. Ya, ada hal yang saat ini tengah menari di otak karena berpikir jika hal paling mendasar dari kebohongan itu adalah ingin segera mendapatkan Arya—pria yang sangat dicintai.


'Aku akan segera mendapatkan Arya karena pasti akan segera menikahiku saat takut kehilangan. Aku tidak akan membiarkan Arya memikirkan wanita sialan yang telah menarik rambutku hingga kepala terasa sangat panas dan nyeri.'


'Aku akan membuat Arya sibuk denganku dan tidak akan pernah ada wanita itu dalam kehidupan kami lagi,' gumam Calista yang kini merasa bahwa takdir akan berpihak.

__ADS_1


Detik demi menit berlalu dan Calista tidak pernah mengalihkan perhatian pada benda pipih di atas meja. "Apakah aku perlu menghitung satu sampai sepuluh saat merasa yakin jika Arya akan menghubungiku?"


Baru saja Calista menutup mulut, mendengar suara notifikasi dari ponsel dan merasa yakin itu adalah pesan dari Arya. Benar saja, saat membuka pesan tersebut, Calista refleks tersenyum menyeringai begitu membaca.


Ya, Calista memang baru saja mendapatkan pesan dari Arya dan semua rencana kini telah berhasil.


Nanti saat jam makan siang, pergilah ke ruanganku karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Sepertinya kita lebih baik meresmikan hubungan saja dengan mengatakan pada orang tuamu karena mama barusan mengatakan jika orang tuamu berniat untuk menjodohkanmu dengan pria lain. Apakah kamu mengetahui itu?


Begitu selesai membaca pesan dari Arya, Calista kembali menaruh ponsel di atas meja karena sama sekali tidak berniat untuk membalas. Tentu saja karena sangat suka membuat Arya merasa penasaran sekaligus kebingungan.


Begitu mengetahui jika saat ini Arya sudah mendengar kabar kebohongan yang dirancang, Calista yang tadi merasa sangat kesal dan marah berubah berbinar wajah dan memilih untuk kembali bekerja.


"Biarkan Arya merasa kebingungan saat aku tidak membalas pesan." Calista berbicara lirih sambil tersenyum.


Merasa jika sebentar lagi akan berhasil membalas dendam pada wanita yang tadi menarik rambut hingga terasa nyeri, merasa bahwa apapun yang berkaitan dengan Arya akan dikuasai Calista.


'Dasar wanita bodoh yang tidak tahu diri. Apa kau pikir Arya akan selalu memujamu saat ada aku? Jangan pernah bermimpi karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi," gumam Calista dengan tersenyum smirk.


Kemudian Calista memilih untuk kembali memeriksa laporan di layar komputer. Melihat jam makan siang masih satu jam lagi, berpikir jika itu cukup untuk menyiksa Arya dengan berbagai macam pertanyaan.


Meskipun Calista tahu jika Arya tidak lagi mengirimkan pesan yang mengungkapkan nada protes, kenapa tidak menjawab pesan. Tentu saja karena mengetahui jika pria itu bukanlah tipe orang yang tidak sabar dalam mencari tahu sesuatu.


Sifat itu seolah membedakan Arya dari pria yang dulu pernah sangat dicintai Calista saat kuliah di luar negeri.


Bahwa dua pria itu bagaikan bumi dan langit dan membuat Calista semakin terobsesi pada Arya dengan cara segera mengikat dengan ikatan pernikahan.

__ADS_1


Jika dulu sang kekasih suka sekali menggangu dengan sering menelpon dan mengirimkan pesan karena selalu membutuhkan ketika ingin menyalurkan gairah.


Namun, berbeda dengan Arya yang terkesan lebih datar dan dingin karena jarang menelpon atau pun mengirimkan pesan jika tidak benar-benar penting. Hal itu semakin membuat Calista makin penasaran dan memuja Arya.


Ingin menjadikan Arya sebagai pelabuhan terakhir dan membuat pria itu memuja dan hanya mencintai Calista seorang.


Semua staf perusahaan disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk hari ini dan fokus pada layar komputer masing-masing. Hingga tidak terasa, satu jam telah berlalu dan tentu saja saat istirahat kini telah tiba.


Beberapa orang yang sudah merasa kelaparan buru-buru bangkit dari kursi untuk menuju ke kantin demi bisa mendapatkan makan siang lebih cepat karena harus mengantri dengan yang lain.


Hal itu sangat berbeda dengan yang saat ini terlihat di ruangan Calista saat ini karena masih enggan untuk beranjak dari kursi.


Bukannya langsung pergi ke ruangan Arya, tapi Calista memilih untuk menunggu sampai pria itu menelpon. Tentu saja karena ingin pria itu semakin berada dalam genggaman dengan cara tarik ulur.


Benar saja, setelah lima menit menunggu, ponsel yang berada di atas meja berdering dan menunjukkan kontak sang kekasih. Sudut bibir Calista melengkung ke atas saat merasa senang karena melihat Arya seperti sangat kebingungan.


Tidak langsung menjawab sampai panggilan mati, Calista memilih beralasan makan di kantin karena kelaparan jika panggilan kedua dilakukan oleh Arya.


Benar saja, begitu ponsel kembali berdering, Calista langsung menggeser tombol hijau ke atas dan berbicara. "Aku sangat lapar dan ingin makan dulu di kantin."


"Aku sudah memesan makanan, jadi cepat naik ke atas!"


Baru saja Calista ingin menanggapi, panggilan telpon sudah terputus dan langsung bangkit berdiri dari kursi dengan seulas senyuman.


"Kekasihku memang sangat perhatian dan menggemaskan. Saat bersamaku, kamu tidak akan pernah mengingat wanita murahan itu."

__ADS_1


Kemudian Calista melangkah menuju ke lift yang akan membawa ke lantai paling atas untuk menemui sang kekasih.


To be continued...


__ADS_2