
Noah yang berniat untuk menceritakan semua masa lalu Arya yang memiliki seorang istri bernama Putri dan diselingkuhi, lalu diceraikan dengan kejam begitu mengetahui perselingkuhan mereka di kantor.
Namun, saat berniat untuk membuka mulut, ia melihat seorang pria yang sangat tidak disukai berjalan masuk menuju ke arah lobi rumah sakit.
'Jack? Kenapa pria itu datang ke sini? Apakah ini sesuai dengan kekhawatiranku dari tadi? Apakah orang tua Amira Tan menyuruh kekasihku untuk menerima perjodohan dengan Jack karena ingin memisahkan denganku?' gumam Noah yang saat ini merasa sangat yakin jika kedatangan pria yang menyukai sang kekasih tersebut karena disuruh oleh wanita paruh baya, tak lain adalah ibu Amira Tan.
Karena tidak ingin membuang waktu dan berniat berbicara dengan Jack, Noah saat ini beralih menatap ke arah pria yang duduk di kursi roda tersebut.
"Aku sedang ada urusan yang jauh lebih penting dari masa lalumu." Kemudian ia seketika berlari cepat untuk mengejar Jack, tanpa memperdulikan Arya yang didengar memanggil untuk menghentikannya.
Arya yang merasa sangat yakin jika pria tidak dikenal tersebut mengetahui mengenai masa lalunya, merasa sangat kecewa ketika tiba-tiba malah pergi.
"Tunggu! Jangan pergi sebelum menceritakan padaku! Astaga! Aku bahkan tidak tahu nama dan nomor telponnya, sehingga tidak bisa lagi bertanya." Arya beralih menatap ke arah sosok wanita yang masih berdiri di sebelah kiri.
"Apakah kamu bisa mengejar pria itu, Calista? Paling tidak, minta nomor telponnya agar aku bisa menghubungi untuk bertanya." Arya berpikir Calista tidak mungkin akan menuruti perintah darinya karena sikap wanita itu sangat mencurigakan.
Seperti tidak mau ia tahu mengenai masa lalu yang seperti disembunyikan oleh semua orang. Bahkan orang tua sendiri pun tidak mau menceritakan apapun karena mengatakan tidak ada yang spesial untuk diingat.
Refleks Calista menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju dengan permintaan Arya. "Apakah kamu saat ini tidak mempercayai semua perkataanku dan juga orang tuamu?"
"Hingga lebih mempercayai perkataan orang tidak dikenal dan meragukan kami? Ataukah kamu juga ragu pada cinta kita? Jadi, kamu berpikir tidak ingin menikah denganku." Calista benar-benar sangat marah melihat sikap Arya yang membuatnya resah.
"Padahal aku setiap hari bolak-balik ke rumah sakit dan berharap kamu segera membuka mata. Saat bangun dari koma, berharap akulah orang pertama yang kamu lihat. Namun, yang terjadi, saat aku baru pulang karena hari sudah larut, kamu sadar. Jadi, keinginanku tidak terkabul, tetapi tidak mempermasalahkan hal itu karena bagiku yang penting adalah kamu sudah sadar."
"Namun, sepertinya kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita yang saat ini diurus oleh keluargamu. Jika memang demikian, aku akan pergi dan tidak akan memaksamu untuk menikahiku. Aku akan mengantarkanmu ke kamar dan tidak akan pernah datang lagi ke rumah sakit."
__ADS_1
Calista yang merasa sangat marah dan kesal atas sikap Arya saat ini, tanpa meminta izin, langsung mendorong kursi roda pria itu untuk kembali ke ruangan perawatan.
Sementara itu, Arya yang sama sekali tidak bermaksud seperti itu dan merasa sangat bersalah karena membuat wanita yang mendorong kursi roda tersebut marah.
"Calista, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu karena yang kupikirkan hanyalah ingin mengetahui apa yang tidak kuingat. Aku merasa jika kalian sengaja menyembunyikan sesuatu karena tidak ingin keadaanku menjadi buruk."
"Aku hanya ingin tahu, tapi jika hal itu membuatmu tidak nyaman dan marah, maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengacaukan pernikahan kita yang sudah diurus oleh orang tuaku dan juga orang tuamu."
Meskipun ia sudah mengungkapkan permohonan maaf, tetapi tidak ada jawaban apapun dari wanita yang berada di belakang tersebut. Hingga begitu masuk ke dalam lift, Arya kembali berbicara dengan menoleh ke arah sosok wanita yang masih betah mengunci rapat mulutnya.
"Calista, maafkan aku jika membuatmu kesal. Aku adalah orang yang tidak tahu diri karena sama sekali tidak berterima kasih padamu yang telah setia dan tulus mencintaiku. Mungkin jika wanita lain, sudah pergi tanpa menoleh ke belakang setelah melihat keadaanku seperti ini."
"Aku sekarang seperti tidak berguna karena hanya bisa duduk di kursi roda dan kehilangan semua memori tanpa tersisa. Namun, kamu masih setia dan repot mengurusku hingga kau tetap meminta pernikahan tetap dilangsungkan. Maafkan aku, Calista."
"Jika kamu merasa tidak nyaman aku bertanya mengenai masa lalu, mulai sekarang aku tidak akan pernah mengungkit dan hanya akan memikirkan masa depan. Aku berjanji padamu, akan fokus pada hubungan kita. Terima kasih karena selalu setia dan mencintaiku."
Calista yang tadi merasa amarah memuncak dirasakan karena kesal melihat sikap Arya yang seperti mencurigainya, kini merasa sangat senang sekaligus lega begitu mendengar janji pria yang sangat dicintai.
Namun, masih berakting kesal pada Arya karena berpikir bahwa pria yang sangat dicintai tersebut harus mendapatkan pelajaran dan tidak akan pernah mengulangi kesalahan.
'Aku tidak akan pernah membuatmu mengingat Putri. Takdir yang saat ini berpihak padaku karena kamu sekarang seperti bayi yang bersih dan harus kuhiasi dengan banyak cinta, sehingga nama Putri tidak akan ada tempat di hatimu.'
Saat Calista masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan rasa senang dan bahagia begitu mendengar bahwa Arya sangat serius dengan perkataannya, tersadar dari lamunan begitu pria itu menggerakkan lengannya.
"Calista, maafkan aku. Jangan diam saja seperti itu. Apa yang perlu kulakukan untuk membuatmu tidak marah lagi?" tanya Arya yang saat ini mendengar suara denting lift dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.
__ADS_1
Sementara itu, Calista yang saat ini memilih untuk segera mendorong kursi roda dan melangkah masuk ke dalam ruangan perawatan dengan diam membisu karena masih belum puas untuk memberikan pelajaran pada Arya.
Padahal sebenarnya kalimat terakhir yang dikatakan oleh Arya membuatnya memutar otak untuk meminta sesuatu yang besar.
'Kira-kira apa yang pantas kuminta darinya? Ini harus merupakan sesuatu yang besar, tapi aku belum menemukannya,' gumam Calista yang saat ini menatap ke arah Arya begitu mendorong kursi roda di dekat ranjang pembaringan.
"Aku akan memikirkannya karena tidak bisa memutuskan saat ini." Kemudian membantu Arya untuk naik ke atas ranjang. Meskipun harus menggunakan seluruh kekuatan demi menopang beban berat pria yang sangat dicintainya.
Begitu Aryavsudah duduk di ranjang perawatan, masih mengarahkan tatapan intens. "Terima kasih. Aku akan sabar menunggu permintaanmu dan akan memenuhinya. Sekali lagi maafkan aku, Calista karena telah menyakiti perasaanmu hari ini."
Calista saat ini berakting memegangi telinga. "Kamu tahu, telingaku sangat sakit setiap hari."
Arya mengerutkan kening karena tidak tahu apa yang dimaksud oleh Calista. "Kenapa?"
"Karena tidak terbiasa mendengar kekasihku memanggil nama saja."
Kini, Arya bisa mengerti arti pembicaraan dari Calista. "Apakah dulu aku memanggilmu sayang? Jadi, kamu merasa sangat aneh ketika mendengar aku hanya memanggil namamu?"
Refleks Calista menganggukkan kepala dan memang menginginkan Arya bisa kembali romantis seperti dulu. Karena saat hilang ingatan, sang kekasih seperti berubah menjadi sangat dingin dan ia sangat tidak suka melihat sikap Arya.
"Iya, kamu selalu memanggilku sayang, bukan namaku."
"Maafkan aku, Sayang. Apakah begini?" tanya Arya yang saat ini masih menatap intens wanita di hadapannya dan seketika membulatkan mata begitu Calista membungkam bibirnya.
To be continued...
__ADS_1