
Aldiano tiba di rumah dan langsung bertanya pada pelayan di mana keberadaan wanita yang sangat ia benci. Begitu mengetahui jika wanita itu tengah berada di kamar, langsung menuju ke sana.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, Aldiano kini sudah berada di dalam dan melihat wanita yang sangat ingin disingkirkan dari dunia ini tengah duduk di atas ranjang sambil mengusap putranya yang tengah tertidur.
"Anda sudah pulang, Tuan?" lirih Putri yang merasa sangat terkejut ketika tadi pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok pria dengan raut wajah memerah seperti tengah marah.
Ia yang sudah sangat hafal dengan perangai pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut, beranjak bangkit dari atas ranjang karena tidak ingin putranya terbangun jika Aldiano berteriak padanya.
"Apa ada yang Anda butuhkan, Tuan?" Ia merasa ada yang tidak beres dan bisa menebak jika ini berkaitan dengan acara nanti malam yang bahkan juga baru diketahui dan bukan kemauannya sendiri.
Sampai pada akhirnya ia mendengar pria dengan wajah memerah tersebut menjawab singkat dan mengarahkan tatapan tajam.
"Ikut aku!" Aldiano saat ini langsung berbalik badan dan keluar dari ruangan.
Berharap wanita yang sangat dibencinya tersebut mengikutinya ke dalam ruangan kamar yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat.
Putri yang tidak bisa menolak perintah dari pria yang selalu saja membuatnya bagaikan seonggok sampah, kini berjalan mengekor di belakang. 'Apa yang dinginkan tuan Aldiano? Apa ia marah padaku karena aku setuju diperkenalkan sebagai istrinya di depan awak media?'
Masih sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang menarik-nari di pikirannya, Putri merasa khawatir begitu masuk ke dalam ruangan kamar dan pintunya langsung dikunci. Ia beneran saliva dengan kasar dan degup jatuh tidak beraturan ketika berpikir macam-macam.
'Apa tuan Aldiano di kamar ini karena ingin membalas dendam padaku?' gumam Putri yang saat ini merasakan tatapan tajam menghunus jantungnya.
Aldiano yang saat ini masih berdiri di balik pintu, kini tidak membuang waktu langsung mengungkapkan apa yang diinginkannya dari wanita di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Bukankah kau adalah istriku? Jadi aku berhak melakukan apapun terhadapmu, bukan?" Tersenyum menyeringai dan kini berjalan mendekat. Namun, ia berhenti begitu jaraknya hanya beberapa senti.
"Apa yang sebenarnya Anda inginkan, Tuan Aldiano?" Putri masih belum paham kemana arah pembicaraan dari pria yang tidak pernah menyukai lawan jenis itu.
Mungkin jika suaminya, ia bisa mengerti arah pembicaraannya, tapi karena pria di hadapannya berbeda dari mayoritas, sehingga memilih untuk mencari tahu sebelum salah paham dan kembali membuat pria itu murka.
Hingga ia seketika membekap mulutnya begitu mendapatkan penghinaan luar biasa dan membuatnya berkaca-kaca.
"Cepat lepaskan semua pakaianmu! Aku akan membayarmu jauh lebih mahal daripada papaku yang menyuruhmu untuk setuju menikah denganku. Katakan berapa papa memberikan uang untukmu sampai kau setuju menikah dengan pria tidak normal sepertiku!" Ia sebenarnya ingin sekali menarik semua yang dipakai wanita di hadapannya.
Hanya saja ia merasa jijik dan tidak ingin menyentuh sedikitpun. Jadi, memilih menunggu hingga wanita itu melepaskan sendiri pakaiannya agar ia bisa memotret dan menyebarkan di situs haram yang selama ini ia ketahui.
'Aku ingin membuatnya hancur dan mengalami masalah saat terkena menjadi artis porno yang mengumbar foto telanjang,' gumam Aldiano yang saat ini merasa sangat kesal karena perintahnya tidak dituruti.
"Tolong buka pintunya, Tuan Aldiano." Putri berbalik badan dan memohon agar bisa keluar dari ruangan yang dianggap adalah sebuah neraka untuknya.
Ia saat ini khawatir jika perintah dari pria itu akan berdampak buruk pada nasibnya karena ia tahu bagaimana tatapan penuh jijik yang ditunjukkan saat melihatnya.
Aldiano yang merasa sangat marah karena perintahnya tidak dituruti, kini melepaskan sabuk yang dipakai dan berjalan menghampiri wanita yang membuatnya jijik.
Kemudian langsung mengarahkan sabuknya pada tubuh wanita itu hingga meringis kesakitan. "Cepat turuti perintahku sekarang juga!"
Ia benar-benar sangat marah dan melampiaskannya dengan cara kembali mengarahkan sabuknya pada tubuh di balik gaun panjang berwarna hitam itu. "Atau kau lebih suka aku melakukan ini padamu?"
__ADS_1
Putri yang merasakan panas luar biasa pada tubuhnya ketika dihantam kuat sabuk berwarna hitam tersebut, merintih menahan kesakitan. "Tuan, maafkan saya. Jangan lakukan ini. Rasanya sangat sakit, Tuan."
Bahkan meskipun pria itu berhenti, rasa panas masih menjalar di tubuhnya yang terkena hantaman sabuk itu. Putri bahkan sudah meloloskan air mata karena efek menahan kesakitan.
Ini adalah pertama kali ia melihat pria itu sangat marah dan melakukan kekerasan secara fisik. Padahal selama 1 tahun ini hanya menghinanya dengan kata-kata kasar saja. Namun, pertama kali mendapatkan kekerasan dengan rasa sakit luar biasa, membuatnya ingin menyerah dan pergi.
Akan tetapi, tidak bisa melakukannya karena terjerat balas budi pada ayah pria di hadapannya tersebut yang telah membantunya hingga bisa berjalan kembali seperti sekarang.
"Jika kau tidak ingin merasakan sakit, cepat turuti perintahku dengan membuka seluruh pakaianmu!" Aldiano awalnya hanya ingin mengancam, tapi karena merasa ada kepuasan tersendiri ketika melihat raut wajah saat kesakitan, sehingga seperti candu untuknya dan melakukannya sampai tiga kali.
Kini, ia masih menunggu sambil tangannya mengangkat sabuk ke atas. Seolah membuat gerakan untuk memukul jika perintahnya tidak dituruti.
Putri yang saat ini merasa bingung apa yang harus dilakukan karena jujur saja rasa sakit dari cambuk berupa sabuk tersebut dipastikan sudah meninggalkan bekas di tubuhnya.
Ia benar-benar sangat kesakitan ketika pria itu seperti mengerahkan seluruh tenaga ketika memukulnya. Akhirnya ia memilih menyerah dan menuruti perintah pria itu dengan melepaskan gaun panjang yang dikenakannya.
Ia saat ini memakai gaun santai semata kaki karena memang hanya di rumah. Meskipun merasa sangat khawatir apa yang akan dilakukan pria itu ketika melihatnya telanjang, tetap saja tidak bisa menolak dan mulai melepaskan pakaian dari tubuhnya.
Kini, hanya tersisa pakaian dalam. Ia berpikir jika pria itu tidak akan menyuruhnya untuk melanjutkan. Namun, pikirannya salah karena mendengar suara bariton yang kembali memerintah.
"Aku suruh kau telanjang bulat. Apa kau bodoh? Jangan menyisakan apapun di tubuhmu. Cepat!" Aldiano saat ini melirik mesin waktu yang meningkat di pergelangan tangan kirinya karena seperti diburu oleh waktu.
Itu karena tidak ingin sang ayah pulang dari kantor dan datang ke rumah karena mengetahui ia pergi tanpa pamit tadi. 'Aku harus menyelesaikan hukuman untuk pelacur ini sebelum papa datang.'
__ADS_1
To be continued...