Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak diakui


__ADS_3

Amira Tan yang saat ini bisa mendengar dengan jelas kalimat penghiburan yang ditujukan padanya, tapi ia seolah tidak bisa berkomentar apapun karena pikirannya tengah dikuasai oleh banyak hal dan membuatnya lebih memilih untuk menenangkan diri.


Ia mencoba untuk menormalkan perasaannya sekaligus rasa syok setelah melihat pria yang selama ini menjadi suami serta ayah dari putrinya ternyata menciptakan sebuah konspirasi besar dalam hidupnya.


Bahkan ia tidak bisa marah atas hal itu karena melihat ketidakberdayaan dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Apalagi ketika melihat tubuh yang bersimbah darah karena luka tusukan, membuatnya benar-benar sangat khawatir jika apa yang dikatakan pria itu benar.


Bahwa nyawanya sudah tidak lama lagi dan akan meninggalkannya dengan putri semata wayang yang sangat disayangi tersebut. Hingga ia yang tidak tahan untuk meminta saran pada wanita di balik kemudi tersebut.


"Putri, kamu mendengar semuanya, bukan?" Amira Tan bahkan saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari ambulans di depannya ketika berbicara dengan Putri.


Saat ini, Putri yang sekilas menatap ke arah saudara tirinya tersebut dan kembali fokus mengemudi, hanya menjawab sekilas karena tidak ingin membahas masalah yang sangat privasi tersebut.


"Ya, aku memang mendengarnya, tapi sekarang bukan saatnya untuk membahas hal itu. Sekarang berdoalah agar suamimu selamat dan mendapatkan pertolongan dari para tim medis," sahut Putri yang saat ini tidak ingin membuat Amira Tan berpikir macam-macam mengenai perkataan dari Jack sebelum menutup mata.


Baginya, Itu adalah sebuah perbuatan yang jahat karena masih mengungkit perbuatan orang yang mengalami musibah. Jadi, ingin mengubah mindset Amira Tan agar tidak fokus pada perkataan dari Jack yang mengakui perbuatan buruknya di masa lalu.


Ia sangat tahu jika Jack melakukan itu karena sangat mencintai saudaranya tersebut, hingga sampai menghalalkan segala cara. Sampai pada akhirnya mengakui kesalahan setelah merasa hidup tidak lama lagi di dunia.


Menandakan jika Jack telah bertobat sebelum menghembuskan napas terakhir. Namun, ia masih berusaha untuk berpikir positif dan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang baik.


Bahwa Jack akan sembuh dan tidak berakhir mengenaskan di tangan orang jahat yang tidak dikenal. "Apa kalian memiliki musuh? Bukankah pekerjaan kalian berhubungan dengan kejahatan dan pastinya ada banyak orang jahat yang tidak terima dikalahkan olehmu."


Amira Tan yang akhirnya tidak jadi membahas tentang kesalahan yang dilakukan oleh Jack hanya demi bisa memilikinya, ini menoleh ke arah Putri.


"Ya, kamu benar. Aku dan Jack memiliki banyak musuh dari penjahat yang berhasil kami jebloskan ke penjara. Mungkin nasibku juga akan sama seperti Jack. Jika nanti aku mati, tolong jaga putriku dan sayangi dia seperti putri kandungmu sendiri."


Amira Tan yang baru saja menutup mulut, ketika meringis menahan rasa nyeri ketika lengannya dipukul sangat kuat oleh saudara tirinya tersebut.


"Tutup mulutmu, Amira Tan! Berbicaralah yang baik di hadapan putrimu! Jangan buat mental putrimu semakin buruk karena perbuatanmu yang tidak bisa menjaga mulut. Mahiya sudah sangat terpukul melihat papanya bersimbah darah, jadi tolong jangan tambah kesedihannya dengan bicaramu yang gila itu!" Putri benar-benar sangat marah karena Amira Tan berbicara tidak pantas.


Apalagi ia jika kalimat adalah doa dan harus berhati-hati saat meloloskannya dari mulut. Ia makan sekilas menatap tajam ke arah saudaranya tersebut yang terdiam karena kemurkaannya.


"Seorang wanita yang berstatus sebagai ibu mempunyai sebuah kelebihan, yaitu kata-katanya bisa menjadi kenyataan. Jadi, jangan pernah berbicara hal yang buruk di depan putrimu ataupun pada saat marah pada putrimu!" ancam Putri yang saat ini ingin Amira Tan menyadari kesalahan dan tidak mengulangi apa yang dilakukan.


Amira Tan saat ini sama sekali tidak berkomentar lagi karena menyadari jika apa yang dikatakan oleh Putri memang benar, sehingga memilih untuk diam agar tidak melakukan kesalahan untuk kedua kali.


Sampai pada akhirnya ia tiba di area rumah sakit dan memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia. Kemudian beranjak keluar dan berjalan bersama dengan Amira Tan dan juga sang putri yang digendong menuju ke arah ruangan operasi.


Amira Tan saat ini menyerahkan ponsel miliknya pada Putri agar menghubungi orang tuanya dan juga orang tua Jack. "Tolong aku karena saat ini rasanya aku tidak bisa menyampaikan kabar buruk ini pada mereka yang sangat menyayangi Jack."


Putri saat ini sama sekali tidak keberatan karena memang tujuannya mengantarkan dan menemani saudaranya tersebut adalah untuk melakukan hal kecil seperti ini. Ia tahu bagaimana perasaan Amira Tan, sehingga kini sudah mencari kontak keluarga di panggilan telepon.

__ADS_1


Kemudian ia mulai menghubungi ayah Amira Tan yang merupakan ayah tirinya. Bahkan ia merasakan sesuatu yang sangat menusuk ketika mendengar suara bariton dari pria yang tidak pernah sekalipun memberikan kasih sayang padanya.


"Halo, Tuan. Aku adalah teman Amira Tan yang ingin mengatakan bahwa Jack mengalami kemalangan karena ditusuk oleh pria tadi kenal ketika menghadiri acara di salah satu ballroom hotel."


"Apa? Jack ditusuk? Sekarang kalian ada di rumah sakit mana? Aku akan ke sana sekarang!" ucap ayah Amira Tan ya saat ini merasa sangat khawatir pada keadaan putri dan cucunya.


Putri langsung memberitahu rumah sakit dan mematikan sambungan telepon setelah selesai. Kemudian ia mencari kontak orang tua Jack dan melakukan hal yang sama.


Tentu saja orang tua Jack benar-benar sangat syok mendengar apa yang baru saja dikatakannya dan langsung berangkat ke rumah sakit. Ia saat ini menatap ke arah Amira Tan yang duduk di kursi tunggu sambil memangku putrinya yang sudah sedikit lebih tenang karena tidak menangis tersedu-sedu seperti ketika berada di dalam mobil.


"Pasti sebentar lagi mereka akan datang dan menemanimu di sini." Putri yang baru saja mengusap lembut lengan saudara tirinya tersebut, mendengar suara bariton yang sangat dihafal dan membuatnya membulatkan mata.


"Amira Tan dan Putri?" Arya dari tadi menunggu saat yang tepat untuk menghampiri dua wanita itu. Hingga ia menyadari sikap sini dari dua wanita itu ketika menatapnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Aku tahu jika kau tidak sedang ingin mengucapkan turut berduka cita atas musibah yang kualami, kan? Kau ingin berbicara dengannya?" Kemudian Amira Tan berani menatap ke arah saudara tirinya.


Ia yang saat ini benar-benar tidak menentu, merasa sangat kesal melihat Arya yang menjadi penyebab penderitaan Putri di masa lalu.


Refleks Putri langsung menatap tajam ke arah Amira Tan karena tidak ingin membuatnya berinteraksi dengan Arya. Namun, jawaban dari Arya membuatnya benar-benar tidak berkutik saat ini dan bingung harus menjawab apa.


"Ya, kau benar. Aku ingin berbicara dengan Putri karena tadi bertanya padamu, sepertinya kamu tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya terjadi tentang masa laluku." Arya yang tadinya menatap ke arah Amira Tan, kini berlari pada Putri.


"Aku ingin membahas sesuatu denganmu." Namun, ia mendapatkan tatapan sinis dan membuatnya seperti seorang pria tidak berharga.


Jujur saja ia sangat malas mengakui apa yang saat ini dirasakan pada saat menatap Arya setelah sekian lama berpisah. Ia benar-benar ingin membuang rasa itu dan melupakan pria yang lebih mempercayai orang lain daripada dirinya.


Arya saat ini masih berusaha untuk tidak menyerah dan memilih menggelengkan kepala. Kemudian ia menerapkan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi.


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau mengatakan apa yang terjadi di masa lalu. Aku ada sesuatu yang terjadi di antara kita karena tadi melihat istriku langsung mengajak untuk pergi begitu melihatmu mengambil makanan untuk suamimu dan berbicara dengan Amira Tan."


Arya berniat untuk tidak menyerah karena tidak ada yang mengatakan kejadian sebenarnya tentang masa lalunya yang terlupakan. Jadi, saat ini berpikir bahwa ia akan menemukan jalan begitu menatap wanita yang tak lain bernama Putri itu.


Saat dipusingkan dengan masalahnya dan juga kemalangan yang dialami, kini Amira Tan semakin bertambah marah sekaligus kesal melihat Arya yang membuat saudaranya juga tidak merasa nyaman.


Ia adiknya berdiri dan menatap tajam pria yang dianggap sangat menyebalkan tersebut. "Jadi, kau ingin tahu kenyataan sebenarnya, bukan? Baiklah, aku akan mengatakan semuanya agar kau segera pergi dari sini."


Putri merasa sangat khawatir jika rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat, refleks langsung menahan pergelangan tangan Amira Tan agar tidak berbicara pada Arya.


"Amira Tan, jangan berbicara macam-macam!"


Amira Tan yang hendak bercerita tentang masa lalu, kini ingin menyadarkan Putri bahwa semuanya cepat atau lambat akan terbongkar dan lebih baik sekarang segera dibuka. "Sampai kapan kamu menyimpannya? Apa kamu takut akan kalah melawan pria berengsek ini?"

__ADS_1


"Tenang saja karena ada aku yang akan membelamu sampai titik darah penghabisan. Xander tetap akan bersamamu karena kamulah ibu kandungnya dan selama ini merawatnya dengan baik tanpa suami yang bertanggung jawab!" Ia saat ini sebenarnya sangat hancur, tapi ini melindungi saudara tirinya agar tidak diinjak-injak untuk kesekian kali.


Putri saat ini terdiam karena merasa jika semua yang dikatakan oleh Amira Tan benar. Ia bahkan saat ini berpikir jika saudara dirinya tersebut tidak akan membuatnya kehilangan hak asuh atas putranya.


Apalagi sudah sangat mengenal seperti apa sepak terjang seorang Amira Tan di meja hijau. Akhirnya ia memilih diam dan membiarkan saudaranya tersebut mengungkapkan semuanya pada pria yang pernah sangat dicintainya tersebut, tapi malah mengkhianatinya dengan wanita yang bahkan sampai sekarang tidak bisa memberikan keturunan.


"Sebenarnya ini bukan saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, Amira Tan karena saat ini keadaanmu juga tidak baik-baik saja." Putri mencoba untuk membuat Amira Tan tidak berbuat sesuka hati saat perasaannya sedang terluka.


Namun, larangannya sama sekali tidak diperdulikan karena Amira Tan menggelengkan kepala.


"Aku ingin melihat bagaimana reaksi pria berengsek ini setelah mengetahui semuanya! Apa dia masih akan terus bersama dengan wanita licik itu atau membuangnya dan menyembah kakimu untuk kembali?" Amira Tan saat ini ingin melihat ekspresi wajah Arya yang ternyata sangat kebingungan dan membuatnya senang.


"Tapi kamu tidak mungkin kembali pada pria yang lebih mempercayai orang tuanya daripada istrinya sendiri, bukan?" Amira Tan saat ini bisa melihat bagaimana seorang Arya seperti layaknya orang bodoh kehilangan arah.


"Sebenarnya apa maksudmu sebenarnya? Tolong jelaskan semuanya agar aku mengerti ke mana arah pembicaraanmu," lirih Arya yang saat ini masih merasa bingung dengan apa sebenarnya hubungannya dengan wanita di hadapannya tersebut.


Ia bahkan memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengarkan penjelasan dari wanita itu.


Putri saat ini merasa sangat gugup karena semua rahasianya kini terbongkar sudah dan tidak ada yang bisa disembunyikannya karena Arya telah mengetahui siapa sebenarnya dirinya dan juga Xander.


'Aku tidak akan pernah kehilangan putraku setelah Arya mengetahui siapa sebenarnya Xander. Aku saat ini bukanlah Putri yang miskin dan tidak punya apa-apa. Aku memiliki mertua yang sangat hebat dan kaya serta saudara diri yang merupakan pengacara hebat di Jakarta.'


'Jadi, tidak ada yang perlu kutakutkan. Aku tidak akan pernah kehilangan putraku karena hanya akan bersamaku,' gumam Putri yang saat ini seketika tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara bariton dari Arya yang menatapnya dengan tatapan tidak biasa.


"Apa semua yang diceritakan oleh Amira Tan benar, Putri? Bahwa kamu adalah mantan istri siriku yang melahirkan keturunanku?" Arya benar-benar merasa sangat syok dengan apa yang baru saja didengarnya.


Ia tadinya berpikir jika memang memiliki hubungan lebih dengan Putri karena begitu menatap wajah wanita itu, seperti ada sesuatu yang membuat hatinya bergetar. Namun, perasaannya semakin bergejolak begitu mengetahui bahwa Xander adalah darah dagingnya.


Namun, ia mendapatkan tatapan tajam dari Putri yang saat ini murka padanya dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Kutegaskan sekali lagi di sini! Bahwa Xander bukanlah putramu! Xander hanya putraku dan selamanya akan menjadi milikku. Kau sudah melihat hasil tes DNA Xander yang menyatakan negatif keturunan keluarga Mahesa, jadi jangan mengada-ngada sekarang." Putri selalu merasa mukanya menganga begitu mengingat tentang hasil tes DNA.


Ia selama ini tidak pernah mengetahui jika Arya melakukan tes DNA dan ternyata hasilnya negatif, hingga saat ini ingin mengingatkan agar pria di hadapannya tersebut tidak mengarang sebuah hal yang tidak masuk akal.


"Tanyakan pada orang tuamu di mana hasil tes DNA itu. Kau akan melihat sendiri jika hasilnya negatif dan Xander adalah putraku, bukan darah dagingmu?" sarkas Putri yang saat ini mengarahkan tatapan tajam agar pria diadakannya tersebut sadar bahwa ia sama sekali tidak takut.


Bahwa ia akan melakukan segala cara agar putranya tidak diakui oleh keluarga Mahesa yang telah membuangnya layaknya sampah.


"Aku hanyalah seonggok sampah di mata keluargamu, sedangkan wanita itu adalah berlian yang sangat indah. Jadi, jangan berani dekat-dekat dengan sampah ini jika tidak ingin diusir oleh orang tuamu," ejek Putri yang merasa sangat puas karena bisa meluapkan segala amarahnya pada Arya.


Seolah saat ini ia bisa dengan mudah menginjak harga diri keluarga Mahesa jika sampai menginginkan putranya.

__ADS_1


'Putraku dari dulu tidak diakui oleh keluarga Mahesa dan sekarang pun tidak akan meminta untuk diakui karena hanyalah putraku dan hanya milikku seorang.'


To be continued...


__ADS_2