Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Apakah akan luluh?


__ADS_3

"Jadi kau wanita yang telah menggoda suamiku hingga memiliki anak?" teriak seorang wanita dengan tubuh agak gemuk yang saat ini berjalan memasuki warung makan.


Bahkan wajah wanita itu terlihat memerah karena dikuasai oleh amarah ketika melihat suami bersama dengan wanita lain yang menggendong seorang bayi.


Wanita itu merupakan istri dari pria yang membantu menolong Putri membawa tas dan sudah menunggu di area terminal selama satu jam karena mendengar kabar bahwa sang suami berselingkuh dengan wanita lain.


Jadi, ingin memastikan sendiri untuk melihat apakah suami yang dicintai benar-benar berselingkuh dengan wanita lain di area terminal karena kabarnya selingkuhan tersebut sering datang ke terminal dan makan bersama di warung.


Sementara itu, Putri awalnya berpikir bahwa wanita yang berteriak dengan penuh kemurkaan tersebut berbicara dengan orang lain.


Namun, ketika berjalan cepat saat mendekatinya dengan berteriak, merasa sangat terkejut karena mendapatkan tuduhan konyol dari wanita yang bahkan sudah menarik rambutnya hingga terasa sangat panas.


Putri yang masih menggendong putranya tersebut dengan erat melindungi agar tidak sampai terjatuh ketika rambut ditarik oleh wanita yang bahkan tidak dikenal.


"Dasar wanita murahan tidak tahu diri! Kau hanyalah seorang pelacur murahan yang menggoda suami orang. Aku akan menghabisimu sekarang juga karena menjadi duri dalam daging dalam rumah tanggaku!" teriak wanita yang masih merasa sangat murka ketika tadi melihat sang suami berbicara dengan wanita itu sambil membawakan tas.


Berpikir bahwa wanita tersebut akan tinggal di kota ini karena tidak ingin diketahui oleh siapapun. "Kau bahkan memiliki anak haram ini? Dasar tidak tahu malu!"


Putri saat ini menahan rasa sakit luar biasa pada kulit kepala yang terasa sangat panas dan berusaha untuk menghentikan kesalahpahaman yang terjadi.


"Nyonya, Anda salah. Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun dengan suamimu. Aku hanya penumpang biasa di dalam bus yang meminta bantuan untuk mengangkat tas."


Suara Putri yang berteriak untuk membela diri dari serangan wanita yang dianggap salah sasaran dan salah paham, sehingga berhasil membuat area terminal tersebut dikelilingi oleh banyak orang.


Ia bahkan bisa melihat kerumunan orang yang saat ini menatapnya. Meskipun sama sekali tidak mengenal mereka semua, tetapi merasa sangat malu karena hari ini baru saja tiba di kota itu, malah dipermalukan seperti ini dengan dituduh merebut suami orang.


Bahkan saat ini Putri-lah yang mengalami hal itu dan merasakan luka menangani dalam hati, tetapi harus ditambah dengan rasa sakit secara fisik ketika dituduh hal yang tidak pernah dilakukan.


Nasib baik rasa sakit yang dirasakan Putri seketika berkurang begitu wanita tersebut melepaskan kuasa saat mendapat teriakan dari pria yang tadi diminta untuk membantu mengangkat tas.


"Hentikan! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Apa kau gila menyakiti wanita yang bahkan tidak ada hubungan apapun denganku karena hari ini baru bertemu sebagai penumpang di dalam bus?" teriak pria yang tadi seperti mendengar suara dari sang istri dan benar saja, langsung membulatkan mata begitu melihat wanita yang sudah menjadi ibu dari dua anaknya tersebut murka.

__ADS_1


Hingga menjadikan seorang wanita tidak bersalah sebagai korban kesalahpahaman. Ya, tadi memang sudah janjian dengan seorang wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya.


Namun, wanita itu mengatakan akan datang terlambat karena sedang dalam perjalanan mengantarkan pesanan makanan. Jadi, tadi berpikir tidak mempermasalahkan membantu seorang ibu dan anak yang membutuhkan bantuan.


Begitu melihat sang istri yang ternyata berada di terminal, langsung mengirimkan pesan pada wanita selingkuhannya agar tidak datang. Baru menolong dengan memarahi sang istri karena salah sasaran.


Wanita yang saat ini masih terdengar suara dari napas memburu karena menahan kemurkaan yang dirasakan, kini menatap sosok pria yang diketahuinya telah mengkhianati ikatan suci pernikahan.


"Kau telah berselingkuh dengan wanita lain dan berpikir bahwa aku tidak tahu apapun. Jadi, bukan wanita ini selingkuhanmu? Lalu di mana pelacur itu yang mengganggu rumah tangga orang lain?"


"Astaga! Kau salah paham karena aku tidak pernah berselingkuh darimu." Pria tersebut masih berusaha berakting meyakinkan agar sang istri percaya tentang kebohongannya.


Sementara itu, Putri yang saat ini merasakan sakit pada kepala, terlihat meringis sambil memeganginya. Hingga suara tangisan dari putranya menggema di area terminal.


Refleks Putri langsung berjalan masuk ke warung karena ingin diamkan putranya agar tidak menangis lagi saat mendengar suara teriakan dari pertengkaran antara pasangan suami istri tersebut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mama ada di sini." Putri beberapa kali mencoba untuk menenangkan putranya yang menangis dengan suara nyaring dan pastinya sangat mengganggu orang lain.


Sebenarnya sangat mudah menenangkan putranya ketika menangis, yaitu dengan cara menyusui. Namun, ia tidak bisa melakukan itu karena berada di tempat umum dan memilih untuk mengambil susu formula dan botol.


"Biar aku buatkan," ucap wanita yang merupakan pedagang tersebut karena merasa iba melihat ibu dan anak yang kesusahan tersebut.


Putri masih terus berusaha untuk menenangkan putranya yang menangis dan kencang. Itu semua disebabkan karena suara teriakan yang memekakkan telinga dan berhasil membuat bayinya takut hingga menangis dan tidak bisa berhenti sampai sekarang.


'Kenapa nasibku sangat sial ketika baru saja tiba di tempat ini? Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika ini akan terjadi padaku? Bahkan aku yang diselingkuhi oleh suami, tapi mendapatkan tuduhan konyol berselingkuh dengan pria lain oleh seorang istri yang bahkan tidak memastikan terlebih dahulu sebelum menyakiti orang lain.'


Putri sekilas menatap ke arah pasangan suami istri yang masih bertengkar tersebut dan sangat menyesal karena menjadi ikut terseret sebagai korban tidak bersalah.


Saat menatap kemurkaan wanita itu, ia seolah melihat diri sendiri karena memang posisinya, yaitu diselingkuhi oleh suami.


'Nasib wanita itu sama persis denganku. Bahkan aku juga menarik rambut selingkuhan Arya untuk melampiaskan amarah, tapi mendapatkan luka mendalam ketika ditampar dan diceraikan oleh suami yang bahkan masih kucintai sampai sekarang.'

__ADS_1


'Pria itu jauh lebih baik dari Arya karena berusaha untuk menenangkan sang istri dan tidak menceraikan ataupun menampar seperti yang dilakukan oleh si berengsek itu,' umpat Putri yang saat ini tersadar dari lamunan ketika susu untuk putranya sudah dibuat.


"Cepat berikan pada putramu!" Wanita yang memakai celemek di bagian depan tubuh tersebut memerlukan botol susu berukuran kecil tersebut.


Buru-buru Putri menerima dan langsung memberikan pada bayinya yang masih menangis dengan suara nyaring.


Begitu mendapatkan susu, bayi laki-laki tersebut kini sibuk menikmati dan sudah tidak menangis lagi.


"Terima kasih, Nyonya." Putri saat ini tersenyum sambil membungkuk hormat karena mendapatkan pertolongan dari wanita tersebut.


"Iya. Lebih baik kamu segera makan karena nasi sudah dingin. Jangan perdulikan mereka karena aku tahu bukan kamu selingkuhan pria itu." Kembali melanjutkan pekerjaan dengan mencuci piring bekas makanan dari pelanggan.


Sementara itu, Putri yang mengerti arah pembicaraan dari wanita tersebut, memilih untuk mendaratkan tubuh dan menikmati makanan kesukaan.


Ia kembali mengingat tentang masa lalu saat dulu Bagus sering membelikan makanan itu. Namun, setelah mengenal Arya, sering diajak makan di restoran.


Bahkan sering makan makanan enak dan mahal. Hingga ia berubah selera dan menghina makanan yang selalu dibawakan oleh Bagus karena tidak seenak dan semewah yang biasa dibelikan Arya.


Namun, kini takdir kembali mengempaskan ke bawah setelah membuatnya melayang beberapa waktu. 'Kini, aku kembali hidup seperti dulu lagi. Makan di warung pinggir jalan dan menikmati makanan yang sering dibelikan oleh Bagus.'


Putri saat ini menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulut dan mengunyah secara perlahan. Sebenarnya saat ini tidak lapar. Namun, tetap ingin mengisi perut agar tidak kosong karena itu dilakukan demi kesehatan.


Apalagi memiliki riwayat asam lambung satu keluarga, mengharuskannya makan teratur, meskipun sebenarnya saat ini tidak berselera untuk makan.


Saat mengunyah makanan di dalam mulut, ia menatap ke arah wanita yang sedang sibuk mencuci piring tersebut. "Sepertinya Anda mengetahui wanita selingkuhan pria itu, sehingga merasa yakin bahwa bukan saya. Apakah mereka sering makan di sini."


Masih terus mencuci piring, wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut menoleh ke arah wanita yang menjadi korban kesalahpahaman dan membuatnya merasa iba.


"Iya, kamu benar. Bisa dibilang aku adalah saksi perselingkuhan mereka. Seharusnya wanita itu bertanya padaku dulu sebelum menyerangmu. Tiba-tiba datang dan berteriak, lalu menyakiti orang tidak bersalah. Mungkin karena merasa sangat emosi saat melihat suami berjalan dengan wanita lain, jadi berpikir kaulah selingkuhannya."


Putri terdiam beberapa saat karena sekilas menoleh pada pasangan suami istri yang sudah lebih tenang dan tidak berteriak, lalu berjalan masuk ke warung.

__ADS_1


'Sepertinya mereka sudah berbaikan. Apakah wanita itu akhirnya memaafkan karena terkena rayuan suami? Jika Arya melakukan hal yang sama, apakah aku akan luluh dan memaafkannya?'


To be continued...


__ADS_2