Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mencium pipi


__ADS_3

"Arya, aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja setelah menceritakan tentang bajingan itu. Kamu tahu jika aku memang memiliki perasaan cinta untukmu, tapi apakah memutuskan untuk menjalin hubungan dalam situasi seperti ini?"


"Apakah aku tidak boleh jika berharap suasana lebih romantis?" tanya Calista yang kini bisa merasakan embusan napas beraroma mint dari mulut pria dengan iris tajam berkilat yang tidak berkedip ketika menatapnya.


Mengerti akan keinginan Calista, kini Arya langsung membuka suara, "Maksudmu romantis yang seperti ini?" Kemudian langsung mendekatkan wajah dan meraup bibir sensual merah merekah milik wanita yang dipenuhi oleh air mata tersebut.


Berharap perbuatan yang baru saja dilakukan bisa membuat Calista sepenuhnya melupakan pria berkebangsaan asing yang bernama Mark Zuckerberg tersebut.


Sementara itu, Calista yang sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Arya yang membungkam bibirnya, membulatkan mata dan beberapa saat kemudian mengerjap beberapa kali.


Apalagi Arya menciumnya di tempat umum, yaitu Restoran dan tanpa merasa malu pada beberapa pengunjung yang pastinya langsung berbisik ketika melihat.


'Astaga, Arya. Apa ia sudah kehilangan akal? Sampai menciumku di sini? Kenapa tidak melakukan di tempat sepi? Sepertinya usahaku selama ini tidak sia-sia karena aku telah mendapatkan Arya seutuhnya. Putri, bersiaplah untuk diceraikan dan aku akan membuatmu meninggalkan kota ini.'


Calista mempunyai rencana besar di otak karena tidak ingin masa lalu membayangi hubungan dengan Arya.


'Aku akan membayar orang untuk mengancam Putri m pergi dari kota ini karena tidak ingin Arya yang masih labil ini kembali pada wanita murahan itu. Jika kami menikah nanti, Putri harus menghilang dari kota ini, jadi aku bisa hidup tenang bersama Arya tanpa khawatir ada wanita pengganggu itu.'


Calista memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan Arya melakukan apapun. Namun, ciuman itu sangat lembut dan sama sekali tidak ada nafsu karena hanya berlangsung sebentar saja.


Mungkin karena Arya menyadari bahwa mereka saat ini sedang berada di restoran dan tidak mungkin berbuat lebih liar.


Arya kini melepaskan pagutan dan masih tidak berkedip menatap wajah cantik wanita yang hanya berjarak beberapa centi saja tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu berubah pikiran?" Arya masih terus berusaha untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginan.


Calista seketika merona seperti seorang gadis belia yang baru pertama kali jatuh cinta. Bahkan mungkin sudah seperti kepiting rebus ketika pria dengan pahatan sempurna yang sangat dipuja itu tidak berkedip ketika menatap pada posisi sangat dekat.


"Apa kamu sedang memaksakan kehendakmu, Arya?" tanya Calista yang masih terus mengelak karena ingin memainkan perasaan Arya Namun, malah mendapatkan pertanyaan lagi dan menelan saliva dengan kasar.


"Yes or no?" Arya seperti sedang diuji kesabaran oleh Calista dan tentu saja merasa sangat kesal, jadi memilih untuk bersikap tegas, agar wanita itu segera menjawab ya dan menerima tawaran.


"Sebentar, aku seperti tidak bisa bernapas dalam posisi sedekat ini denganmu, Arya." Calista bergerak mundur karena dari tadi seperti merasa tidak leluasa mengambil oksigen ketika wajah mereka saling berhadapan dengan jarak sangat dekat.


Mendengar Calista berbicara, refleks Arya tertawa terbahak-bahak karena melihat wanita itu seperti tertekan atas pertanyaan tersebut.


"Wajahmu seperti sedang mendapatkan hukuman dari guru ketika melakukan kesalahan di sekolah. Bukankah ini sangat lucu? Aku memaksamu untuk menerimaku, agar bisa mengobati luka di hatiku karena perbuatan istriku."


"Jangan pernah sebut wanita itu istri lagi! Itu syaratku saat kita sekarang resmi adalah pasangan kekasih. Aku sangat cemburu kamu menyebut nama wanita itu. Jadi, mulai sekarang lupakan dan jangan pernah membahas tentang pengkhianat itu, oke!" Calista akhirnya membuka suara untuk menunjukkan sifat asli.


Bahwa sebenarnya merasa sangat cemburu dan marah ketika Arya membahas tentang Putri. Ingin sekali segera mengancam, agar wanita itu segera pergi dari kota ini, tapi berusaha untuk berpikir jernih karena tidak ingin gegabah dengan resiko kehilangan pria yang dicintai.


Kini, Arya menyipitkan mata dan menatap intens wajah cantik Calista yang menunjukkan cemburu. "Apa sekarang kamu ingin membalas dendam padaku dengan mengancamku?"


Refleks Calista mengangguk tanpa ragu. "Ya, aku mengancammu sekarang. Apa kamu mau marah padaku?"


"Mana mungkin aku marah pada wanita yang sedang menunjukkan sifat cemburu. Ternyata seperti ini sifat aslimu. Aku sangat salut karena kamu selama ini bisa menahan diri dengan baik untuk tidak menampilkan perasaan cemburu ketika aku membahas tentang wanita itu."

__ADS_1


Arya akhirnya tidak lagi menyebut istri seperti biasa karena merasa senang saat Calista menunjukkan sifat asli ketika sedang cemburu. Seolah merasa menjadi pria yang sangat dipuja oleh wanita cantik itu


"Jadi, kita sekarang resmi adalah sepasang kekasih?" tanya Arya yang ingin memastikan sesuatu.


"Menurutmu?" Calista memilih balik bertanya karena merasa kesal karena Arya tetap saja masih bertanya.


"Kamu belum memberikan jawaban ya atau tidak. Jadi, tidak ada salahnya aku bertanya untuk memastikan, bukan?" Arya kini melanjutkan aksi makan yang tentu saja sudah dingin.


Namun, ingin mencari kesibukan untuk menormalkan perasaan yang saat ini tengah dilanda kegundahan karena ada keraguan di sana. Tentu saja tidak ingin menunjukkan pada Calista.


Tanpa membuang waktu, kini Calista langsung membuka mulut. "Ya, aku bersedia menjadi kekasihmu, Tuan Arya Mahesa. Apa sekarang kamu puas dengan jawabanku?"


Kemudian Calista mendekatkan wajah dan mengecup lembut pipi putih Arya dengan seulas senyuman terbit dari bibir.


"I love you. Aku akan berusaha untuk membuatmu melupakan wanita itu dan hanya akan ada namaku di hatimu."


Arya kini terlihat mengusap pipi yang baru saja dicium oleh Calista. "Kamu sudah mengotori pipiku dengan bibirmu. Aku sangat tidak suka."


Calista sangat terkejut dengan respon dari Arya dan menelan saliva dengan kasar. Bahkan saat ini hatinya bergejolak tidak karuan dan merasa terluka dengan sikap pria yang tiba-tiba berubah datar dan membuat bingung.


'Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Arya dariku? Kenapa membuatku bingung seperti ini?' gumam Calista yang kini masih sibuk memikirkan sikap Arya. Sampai saat Calista melihat Arya berbicara.


"Lain kali jangan mencium pipi karena aku ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2