
Di sisi lain, yaitu dance on the floor yang menjadi tempat Amira Tan bersenang-senang, terlihat sang pengacara masih sibuk bergerak sambil memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikiran.
Tatapan kosong karena saat ini sedang mengingat kejadian beberapa saat lalu antara Arya dan seorang wanita.
'Bahkan Arya tadi menggendong wanita itu dan mengajak keluar dari sini. Sebenarnya apa hubungan mereka? Tadi Arya terlihat sangat melindungi dan menjaga. Seperti sangat protektif pada pasangan.'
'Bahkan semua orang yang ada di sini tadi memperhatikan interaksi mereka. Aku sampai merekam kejadian saat Arya menggendong wanita itu karena ingin menunjukkan pada Putri.'
Saat Amira Tan merasa pikirannya semakin berkecamuk karena memikirkan nasib saudara tirinya yang dikhianati oleh Arya, akhirnya memilih untuk pergi dari kerumunan orang yang masih sibuk bergerak liar mengikuti musik DJ tersebut.
Ia memilih untuk duduk di kursi kosong dan melihat hasil rekaman karena tadi mengikuti ulah beberapa orang yang ada di sekitarnya.
"Aku seperti orang yang kurang kerjaan saja karena ikut merekam perbuatan Arya. Jika Putri melihat ini, apa yang dilakukannya? Apakah akan menuntut cerai?"
Amira Tan menepuk jidat ketika berpikir ingin menunjukkan pada saudara perempuan yang sedang sakit. "Putri tidak boleh tahu tentang apa yang dilakukan oleh Arya bersama wanita itu."
"Jika sampai mengetahui ketika sedang sakit, kondisinya akan semakin drop dan aku tidak ingin bayi yang masih kecil itu tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu."
Amira Tan saat ini berniat untuk menghapus video yang direkam beberapa saat lalu, tetapi mengurungkan niat karena berpikir bisa memanfaatkan itu.
"Mungkin ini bisa aku gunakan mengancam Arya jika sampai nanti berbuat jahat pada Putri. Ini bisa digunakan sebagai bukti untuk tuduhan perselingkuhan."
Merasa banyak masalah yang berakhir menjadi beban pikiran dan semakin membuat Amira Tan pusing, kini memilih untuk memanggil pelayan dan memesan minuman.
Kemudian menunggu hingga pesanannya diantar. "Tujuanku datang ke sini adalah untuk bersenang-senang, tapi yang terjadi malah bertambah pusing karena ada saja masalah."
"Masalah yang kuhadapi saja belum selesai, ini bertambah lagi dengan masalah Putri. Kenapa semua orang menghadapi hal rumit seperti ini dalam hidup?"
"Kenapa tidak kebahagiaan saja yang ada di dunia ini? Jadi, semua orang akan merasa bahagia dan pastinya tidak akan ada kesedihan." Amira Tan merasa bahwa tingkahnya seperti anak kecil yang tidak tahu apapun, sehingga bisa berbicara seperti itu.
Menyadari bahwa apa yang dikatakan sangat konyol, Amira Tan pun memilih untuk mengecek beberapa pesan yang tadi belum dilihat dan seperti biasa, salah satunya adalah dari Jack.
Apa kamu ada waktu malam ini? Aku ingin mengajakmu makan malam karena bosan berada di rumah.
__ADS_1
Amira Tan tidak ingin terganggu dengan semua hal yang berhubungan dengan pria posesif dan overprotektif seperti Jack. Jadi, tidak ingin membalas dan memilih untuk memblokir nomor itu sementara.
"Hanya untuk malam ini, Jack. Jangan menggangguku dan biarkan aku berbuat sesuka hati." Kemudian ia memasukkan ponsel ke dalam tas selempang miliknya.
Begitu pelayan membawakan minuman pesanan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, kini langsung mendongak menatap ke arah wanita di hadapan.
"Apa ini?"
"Ini Mocktail, Nona."
Amira Tan memijat pelipis ketika melihat minuman berwarna-warni yang tak lain adalah Mocktail.
Tentu saja ia tahu bahwa di hadapannya adalah merupakan minuman segar yang dipadu dengan buah-buahan, herbs atau bunga yang disajikan di atas gelas seperti halnya cocktail, tapi tanpa adanya campuran alkohol.
Ia dulu mendengar penjelasan mengenai konsep dasar pembuatan Mocktail yang berkembang, utamanya dalam dunia perkopian dari bartender di Club lain saat pergi bersama Jack beberapa bulan lalu.
"Bukankah aku tadi memesan Wiski? Kenapa kau memberikan Mocktail?"
"Tadi Noah menjelaskan secara luas mengenai wiski yang merupakan minuman beralkohol dari fermentasi serealia yang mengalami proses mashing dan hasilnya melalui proses distilasi sebelum dimatangkan dengan cara disimpan di dalam tong kecil dari kayu ini sangat cepat membuat seseorang yang mengkonsumsi mabuk."
"Jika nanti Anda mabuk, saya akan disuruh bertanggungjawab. Apalagi saat terjadi sesuatu yang buruk, Anda bisa menuntut dan menjebloskan saya ke penjara. Bukankah Anda adalah seorang pengacara?"
Kini, Amira Tan bertambah semakin pusing karena rencananya untuk bersenang-senang kembali gagal karena ulah para pria.
"Rasanya aku ingin memukul kepala Noah dengan gelas berisi Mocktail ini." Amira Tan langsung meneguk minuman berwarna merah itu dan mengibaskan tangan sebagai tanda pengusiran.
Sementara itu, pelayan wanita tersebut seketika pergi karena menyulut api amarah sang pengacara. Apalagi sangat takut jika sampai apa yang dikatakan oleh Noah benar terjadi.
'Wanita ini sangat arogan dan benar apa yang dikatakan oleh Noah. Jika berurusan dengan pengacara jahat seperti ini, pasti akan berakhir di penjara. Lebih baik aku cari aman dan segera pergi.'
Amira Tan kini hanya melihat siluet belakang sosok wanita yang saat ini sudah semakin menjauh dan beralih pada sang bartender yang terlihat sibuk melayani pengunjung.
"Lihatlah, Noah seperti tidak berani menatapku. Apakah perlu aku pergi dari sini?" Amira Tan masih mempertimbangkan keputusan untuk pindah ke Club lain atau tetap di sana?"
__ADS_1
'Jika pergi ke Club lain, tidak ada yang menjagaku dan pasti akan ada banyak pria brengsek yang memanfaatkan kondisiku saat mabuk. Sementara di sini, Noah sepertinya selalu mengawasiku karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk.'
'Bukankah seharusnya aku merasa senang? Masih ada seseorang yang peduli dan khawatir. Paling tidak, nasibku masih lebih baik dari Putri yang saat ini sudah tidak lagi memiliki siapapun karena pria yang selama ini dibanggakan telah berselingkuh dengan wanita lain.'
Antara miris dan iba kini dirasakan oleh Amira Tan ketika mengingat tentang Putri. "Aku tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tangga Putri. Biarkan saja ia mengetahui semua karena waktu yang akan menjawab."
Kini, Amira Tan memilih bangkit untuk berdiri dari posisi dan berjalan menghampiri Noah. 'Aku tahu cara yang paling tepat untuk membuat pria itu memberikan aku minuman.'
Begitu berada tepat di hadapan Noah, Amira Tan mengungkapkan apa yang ada di otaknya saat ini. "Aku ingin minum karena berharap bisa melupakan pria yang telah membuatku patah hati dengan cara mabuk."
"Saat sudah mabuk, bawa aku pulang ke tempatmu. Nanti aku akan membayar mahal kamar yang kamu sewakan untukku. Jadi, kamu tidak perlu membawaku ke hotel. Biar uangnya untukmu saja. Sekarang, berikan minuman untukku!"
Noah yang saat ini sedang bebas karena tidak ada pelanggan, mengerjapkan mata karena apa yang ada di pikiran malah disebutkan oleh wanita dengan tatapan intens tersebut.
'Astaga, bagaimana mungkin? Padahal itu adalah hal yang tadi kupikirkan. Kenapa wanita arogan ini juga memikirkan hal yang sama sepertiku?'
'Rasanya wanita ini benar-benar sesuatu,' gumam Noah yang saat ini masih belum memberikan apa yang diinginkan oleh Amira Tan.
Noah berpikir ada sesuatu yang ingin ditanyakan sebelum menuruti perintah wanita arogan tersebut. "Apa kamu tidak takut padaku saat mengatakan menyuruhku untuk membawamu menginap di rumahku?"
"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu padamu?" Noah merasa penasaran dengan jawaban Amira Tan yang memiliki sifat arogan dan sangat berbeda dengan beberapa wanita yang ditemui.
Amira Tan yang masih memiliki kesadaran penuh, kini memilih untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Aku akan menuntutmu hukuman seumur hidup dan tidak bisa merasakan kebebasan karena hanya akan mendekam di dalam penjara."
"Kalau kau ingin mencoba berbuat jahat padaku, lakukan saja! Sekarang berikan minumanku." Amira Tan mengulurkan tangan untuk meminta sesuatu yang dari tadi diinginkan.
"Padahal tadi aku berpikir kau mengatakan akan menganggap itu hanya one night stand karena berhubungan dengan banyak pria." Saat Noah baru menutup mulut, merasakan pukulan pada kepalanya.
"Dasar pria bodoh sok tahu!" sarkas Amira Tan yang semakin bertambah kesal.
To be continued...
__ADS_1