Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mencari tahu


__ADS_3

Noah menganggukkan kepala, tanda membenarkan apa yang diungkapkan oleh Amira Tan. "Aku memang tidak ingin mendapatkan panggilan yang menyisakan bekas seumur hidup itu."


Amira Tan tersenyum dan saat ini memilih untuk berdamai dengan mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, mulai hari ini kita akhiri pertengkaran dan perdebatan di antara kita. Hal yang terjadi semalam harus kita lupakan. Meskipun itu tidak akan bisa langsung hilang karena semua hal membutuhkan waktu."


"Iya, aku tahu itu. Namun, aku butuh bimbinganmu, agar bisa dengan mudah melupakannya." Noah menjawab sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Jadi, kita berdamai dan tidak akan bertengkar lagi, bukan?" Noah masih menatap sosok wanita yang baru saja melepaskan tangannya.


Amira Tan kali ini mengangguk perlahan dan kembali berakting seperti seorang wanita yang berpengalaman dalam hal pasangan.


"Tentu saja. Mulai sekarang, aku akan membantumu. Jadi, kau tenang saja."


"Iya. Hal inilah yang aku inginkan dari tadi. Kenapa harus menganggap rumit jika bisa dengan mudah menyelesaikannya," ucap Noah yang kali ini sedikit merasa lega karena bisa membahas dengan tenang apa yang dibutuhkan olehnya.


"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang karena tidak ingin mengganggu waktu kerjamu." Noah Martin sudah mendapatkan apa yang diinginkan, jadi ia pun memilih untuk pergi.


Sementara itu, Amira Tan hanya diam dan tidak lagi mengeluarkan suara karena hanya menatap siluet belakang pria dengan bahu lebar yang terlihat membuka pintu ruangannya.


Sebenarnya saat ini, otaknya sedang dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan mengenai permintaan Noah yang sebenarnya sangat konyol, tetapi terpaksa harus ia lakukan.


'Apa yang harus kulakukan untuk membuat si berengsek itu tidak mengingat kejadian semalam? Bahkan aku sendiri pun tidak bisa melupakannya. Bagaimana mungkin bisa mengajarinya?'


'Situasi macam apa ini? Aku bisa gila memikirkan hal konyol seperti ini yang sebenarnya sangat tidak penting. Aku bahkan lebih suka menyelesaikan berbagai macam kasus rumit di pengadilan daripada permintaan pria itu.'


Saat Amira Tan sibuk berguman di dalam hati, sambil masih tidak berkedip menatap siluet belakang pria yang tiba-tiba berbalik badan menatapnya dan membuatnya terkejut karena saling bersitatap.


"Karena kau sibuk bekerja dari pagi hingga sore hari, jadi aku tidak bisa bertemu denganmu untuk menyelesaikan masalah kita. Jadi, Lebih baik kau datang ke tempat kerjaku setiap hari dan mengajarkanku untuk melupakan kejadian semalam." Noah seolah mengungkapkan perintah yang tidak menerima penolakan.


Padahal, sebenarnya ia berpikir bahwa tidak ingin mengganggu pekerjaan seorang pengacara terkenal di hadapannya.


"Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


Amira Tan tidak langsung menjawab karena merasa situasi yang saat ini dihadapi sangat bertentangan dengan apa yang dikatakannya semalam. Bahwa ia tidak akan pernah menemui pria itu lagi.


Bahkan tadi sudah memblokir nomor sang bartender karena berpikir tidak akan pernah bertemu lagi. Namun, dengan kejadian hari ini, membuatnya menyadari bahwa manusia hanya bisa berencana.


Sedangkan semua ketentuan diputuskan oleh Sang Pencipta yang lebih berkuasa. 'Aku saat ini bagaikan seorang pemain film yang mengikuti apa yang dikatakan oleh sutradara. Tidak akan pernah bisa membantah ataupun menolak.'


Amira Tan kembali tersenyum simpul dan mengangkat ibu jari. "Baiklah. Seperti itu sangat cocok karena memang kenyataannya, aku sangat sibuk dan sudah membuang waktuku selama beberapa menit ketika berbicara denganmu."


Noah Martin menelan ludah dengan kasar begitu melihat sikap arogan dari sang pengacara tidak pernah hilang meskipun sudah berdamai.


"Baiklah, aku akan mengirim pesan saat nanti berada di club. Kau tahu bahwa pekerjaanku tidak terlalu mengekang dan mengikat, jadi tidak akan terganggu dengan kedatanganmu." Noah melambaikan tangan dan membuka pintu, lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Amira Tan.


Ia merasa sangat lega karena tidak akan tersiksa dengan kejadian semalam. Hingga ia pun kini berpikir tentang sesuatu.


'Mungkin jika aku berteman baik dengannya, akan bisa bersikap seperti tidak terjadi apapun di antara kami.'


Noah masih berjalan sambil menyapa beberapa orang yang dilihatnya dan langsung menuju ke arah parkiran. Di mana motornya terparkir rapi di sana.


Jadi, ia terbiasa memanfaatkan waktu untuk tidur ketika berada di kontrakan. Bangun hanya untuk makan dan pergi ke kamar mandi saja.


Tentu saja tidur siang hari dan malam hari sangat berbeda. Jika waktu beristirahat yang baik pada malam hari adalah delapan jam, tetapi tidur lebih dari sepuluh jam sekali pun saat siang hari tidak bisa menyembuhkan rasa kantuk yang dirasakan ketika kerja malam.


Namun, Noah sudah terbiasa dan tidak lagi mengantuk saat bekerja di club. Noah Martin fokus melajukan kendaraan tanpa mengamati kendaraan yang melintas di sekitarnya.


Sementara itu, sosok pria yang berada di dalam mobil, baru berbelok ke arah kantor pengacara tersebut.


Pria yang tidak lain adalah Jack, kini mengepalkan tangan saat tanpa sengaja melihat sang bartender melintas ketika tadi sedang berhenti di lampu merah.


Tentu saja ia sangat hafal dengan ciri khas pria yang dianggapnya sebagai saingan itu karena motor sport berbeda dan mudah dikenali.


Motor sport berwarna hitam itu dihiasi dengan sesuatu yang berbeda di bagian depan dan mudah dihafalnya. Apalagi penampilan Noah yang memakai helm berwarna senada masih sangat ia hafal.

__ADS_1


"Aku sangat yakin jika pria yang tadi melintas adalah bartender itu. Apa yang dilakukan di sekitar sini?" Jack mengamati suasana di luar kantor yang selalu terlihat sepi.


"Ia pasti tengah berusaha untuk merayu Amira Tan setelah kejadian semalam. Apakah perlu aku menghabisinya?" Jack kini menyadari kesalahan dah tidak ingin melakukan hal sama untuk menunjukkan kebodohan.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika Amira Tan mengingkari perkataan yang diungkapkan, pasti terjadi sesuatu di antara mereka. Namun, aku tidak boleh berpikir negatif karena Amira Tan terlihat sangat serius dengan setiap perkataannya."


Jack yang merasa penasaran, memilih turun dari mobil dan membuatnya langsung bertanya pada pegawai Amira Tan dan kekhawatiran yang dirasakan olehnya benar terjadi.


Bahwa pria yang bekerja sebagai bartender itu baru saja pergi dan akhirnya ia kembali murka. Namun, melihat sosok wanita yang ada di hadapan tersebut, membuat Jack tidak bisa melakukan apapun karena takut kehilangan.


'Amira Tan, apa kau berusaha untuk menipuku dengan mengatakan tidak akan bertemu dengan pria itu agar aku tidak cemburu?' gumam Jack yang kini berakting untuk bersikap seperti biasa ketika masuk ke ruangan wanita yang telah lama dicintai.


"Aku datang untuk menanyakan tentang perihal perceraian Bagus dan Putri."


Sementara itu, Amira Tan yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari Jack, seketika membuat degup jantung tidak beraturan.


'Jack datang? Apa ia melihat Noah tadi? Apa yang harus kukatakan padanya jika bertanya?' gumam Amira Tan yang kali ini memilih untuk segera mencari tahu.


"Sejak kapan kau datang? Apakah kau tadi langsung masuk ke ruanganku, atau mengobrol dengan pegawai wanita di sini untuk tebar pesona?"


Jack tidak langsung menjawab karena sebenarnya ia mengetahui bahwa pertanyaan yang diajukan Amira Tan adalah untuk memastikan apakah melihat kepergian Noah atau tidak.


"Kau benar, aku tadi menggoda salah satu pegawaimu. Kenapa? Kau cemburu?"


"Mana mungkin," sahut Amira Tan yang kini mulai gelisah dan tidak ingin sibuk menebak-nebak.


"Jack ...."


"Apa?"


"Apakah kau melihat seseorang?" Amira Tan bertanya dengan penuh keraguan dan menunggu jawaban dari pria dengan tatapan tajam mengintimidasi tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2