
Noah merasa sangat terkejut dengan perbuatan Amira Tan yang tiba-tiba membawa semua uang di dalam dompetnya. Bahkan pikiran buruk kini menguasai diri begitu melihat wanita itu ternyata masuk ke dalam bus setelah menggedor pintu beberapa kali.
"Apa yang dilakukan wanita arogan itu? Astaga! Apa ia akan pergi bersama pria itu dan meninggalkan semua yang ada di sini, termasuk keluarga?"
"Apa ia sudah gila? Ini tidak bisa dibiarkan! Apalagi ia pergi dengan membawa kabur uangku," ucap Noah yang kini berlari untuk mengejar.
Sebenarnya ia tahu jika uang hanyalah sebuah alasan semata karena sekarang, yang penting adalah menghentikan niat gila Amira Tan yang akan kabur meninggalkan semua hanya demi pria biasa seperti Bagus.
Jika pria itu adalah orang hebat, kaya, sempurna tanpa cela, mungkin Noah akan memilih mundur karena sadar diri, tetapi pada kenyataan adalah hanya pria biasa yang bahkan diselingkuhi istri dan tidak jauh lebih tampan.
Jadi, sempat berpikir jika Bagus bisa menarik hati Amira Tan, kenapa tidak untuknya? Itulah yang menjadi pedoman ketika mengejar Amira Tan yang masuk ke dalam bus.
Namun, begitu mengetahui apa yang dilakukan oleh Amira Tan, seolah tertampar oleh kenyataan karena semua tidak seperti yang dibayangkan dan hanya diam seperti penonton di belakang wanita itu.
"Ini uang untuk Putra. Maaf hanya segini dan tidak seberapa karena tadi lupa tidak membawa dompet. Bahkan ponselku pun tertinggal, jadi tadi meminjam milik Putri karena kami dirawat di klinik yang sama." Menyerahkan uang yang diminta dari Noah pada Bagus.
Beberapa saat lalu, Amira yang menyadari ingin memberikan uang untuk Putra, langsung mengeluarkan semua milik Noah dan masuk ke dalam bus sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk Bagus.
Nasib baik sang supir tidak marah dan mau menunggu. Bahkan para penumpang juga tidak mengungkapkan nada protes ketika ia datang menuju ke arah sosok pria yang kini tengah memeluk erat balita laki-laki.
Sementara itu, Bagus sama sekali tidak pernah menyangka jika Amira Tan akan mengejar masuk ke dalam bus hanya untuk memberikan uang. Berniat untuk mengembalikan karena merasa menjadi beban dan merepotkan, Bagus mengembalikan ke tangan Amira Tan.
__ADS_1
Namun, hal yang sama terjadi karena kini Amira Tan memasukkan uang ke dalam saku kemeja. "Jangan menolak kebaikan orang lain. Lagipula aku tidak memberimu karena itu untuk Putra. Jika membutuhkan bantuan dalam bentuk apapun, kamu bisa menelponku."
Akhirnya Bagus memilih untuk pasrah karena mengetahui jika Amira Tan tidak suka ditolak. Jadi, sekarang menerima uang pemberian Amira Tan yang dikatakan sedikit, tapi sangat banyak untuk para kalangan bawah.
"Terima kasih. Aku tidak berpamitan padamu, salah satunya adalah ini," ucap Bagus yang kini bisa melihat sosok pria yang seolah seperti pengawal bagi Amira Tan dan merasa lega karena menganggap bahwa wanita itu akan aman.
"Aku tahu kalau kamu selalu tidak mau merepotkan orang lain, tapi aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Justru sangat senang karena bisa memberikan uang jajan untuk keponakanku. Jadi, jangan terlalu percaya diri." Amira Tan yang merasa telah banyak membuang waktu supir dan penumpang yang lain, kini menatap intens mereka dan membungkuk hormat.
"Maaf, karena aku, perjalanan kalian semua terganggu. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan selamat di tempat tujuan." Amira Tan kini beralih menatap ke arah Bagus setelah semua orang menjawab tidak apa-apa dan bisa mengerti bahwa momen perpisahan adalah sesuatu yang paling berat.
"Jika sudah sampai kampung, jangan lupa kabari aku. Meskipun hanya sebuah pesan, jika sudah mengetahui kalian sampai dengan selamat, aku akan lega."
Bagus hanya mengangguk perlahan karena tidak ingin kembali berbicara dan malah akan terus berlanjut. Bahkan bisa dilihat tatapan tajam tidak suka yang jelas bisa dibaca adalah sebuah kecemburuan.
Bahkan Amira Tan sampai memegang dada karena sama sekali tidak menyadari jika dari tadi Noah berdiri di belakang tanpa bersuara. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengejutkanku. Kenapa tidak tunggu di bawah sana?"
Noah yang akhirnya berjalan turun dari bus merasa bingung harus menjawab apa karena akan merasa malu jika mengatakan hal sebenarnya.
"Menurutmu, apa yang harus dilakukan saat ada orang yang merampok uang?" Tanpa berpikir panjang, Noah akhirnya beralasan konyol dan tidak mengakui apa yang sebenarnya dipikirkan.
Sementara itu, Amira Tan yang kini sudah turun dari bus, masih fokus melihat kendaraan besar tersebut datang. Begitu melaju perlahan, Amira Tan melambaikan tangan ketika melihat Bagus.
__ADS_1
Seperti biasa, kembali bola mata berkaca-kaca karena sekarang benar-benar telah berpisah dengan pria yang berhasil mematahkan hati karena tidak mau menerima cinta yang ditawarkan.
"Apa aku bisa bertemu denganmu lag?" lirih Amira Tan yang kini sudah tidak bisa lagi melihat bus tersebut.
Meskipun menyadari jika merasa rindu pada Bagus, bisa pergi ke kampung halaman pria itu dengan naik pesawat karena lebih cepat, tetapi tidak ingin semakin terluka hanya karena memang tidak mempunyai harapan.
Apalagi keputusan Bagus sudah bulat karena tidak ingin menikah lagi setelah mendapatkan pengkhianatan oleh Putri. Sangat berbeda dengan mayoritas pria yang selalu memilih menikah lagi setelah bercerai.
Hal itulah yang semakin memporak-porandakan hati saat ini, karena baginya, Bagus adalah pria langka yang susah ditemukan.
Pria berhati emas yang bahkan saat terluka, masih tetap berbuat baik pada orang yang menyakiti. Jika itu adalah Jack atau Noah, mungkin sudah berkelahi sampai titik darah penghabisan karena ingin menunjukkan harga diri.
Suasana di terminal yang tadinya gelap, kini berangsur semakin bertambah cerah karena cahaya matahari mulai menampakkan senyuman yang mulai menghiasi bumi.
Amira Tan menatap jaket yang membalut tubuh dan menyisakan aroma tubuh Bagus yang serasa menghangatkan. Kemudian beralih menatap ke arah Noah, yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Amira Tan menyipitkan mata karena merasa heran dengan tatapan Noah yang seperti menguliti diri.
Sementara Noah yang dari tadi sangat tidak suka Bagus, meninggalkan jaket pada tubuh Amira Tan, tengah menatap tajam dan berpikir ingin membuang itu di tempat sampah.
'Ini salahku karena tidak membawa jaket semalam. Jadi, tidak bisa melakukan hal-hal romantis seperti perbuatan pria itu.'
__ADS_1
To be continued...