
"Jangan berbicara seperti itu, Putri. Tidak ada manusia hina di dunia ini. Hanya saja, mungkin terkadang melakukan kesalahan karena sedang tersesat. Tuhan akan menuntun jalan yang baik untuk orang-orang saat mau bertaubat dan kembali kepada kebaikan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi berharap kamu mau percaya padaku dengan menceritakan semuanya."
Wanita berusia 35 tahun tersebut bernama Mira Andini dan saat ini tengah mengamati penampilan sederhana Putri yang menggendong bayi laki-laki sangat tampan. Mira akui bahwa wanita yang baru dikenal dan ditolongnya tersebut memiliki paras yang cantik meskipun hanya memakai pakaian biasa.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kamu memiliki wajah secantik ini. Seharusnya aku merasa khawatir atau cemburu karena kamu mengenal suamiku. Mungkin saja tertarik pada wanita secantik dirimu, tapi kepercayaanku pada pria itu tidak bisa digoyahkan."
Putri yang saat ini hanya tersenyum miris ketika dipuji oleh Mira karena kenyataan yang dialami sangatlah pahit dan kelam, sehingga hanya penderitaan saat ini dirasakan.
"Kamu memujiku cantik, tapi mantan suamiku tidak menganggapku demikian karena lebih memilih wanita lain daripada anak dan istri." Putri bisa melihat ekspresi wajah terkejut dari Mira dan kemudian lengan wanita di hadapannya tersebut.
"Tidak perlu merasa heran pada nasib buruk yang kualami. Aku butuh teman untuk menceritakan semua keluh kesah yang kuhadapi saat ini. Jadi, akan menceritakan semuanya padamu karena mempercayaimu melebihi apapun. Kamu satu-satunya orang yang mau menolong, padahal tidak mengenalku."
"Kamu dan suamimu adalah orang yang baik dan pastinya kebaikan akan selalu kembali pada diri sendiri. Aku sangat berharap juga bisa sepertimu, dengan membantu orang lain yang mengalami kesusahan sepertiku."
Putri membetulkan posisi putranya yang masih digendong. Kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Kamu ke sini naik apa? Ojek online, kah?"
Mira Andini diam-diam merasa iba pada Putri yang mengalami nasib mengenaskan dalam hubungan rumah tangga. Mengerti bagaimana perasaan wanita itu ketika dikhianati, Mira mengusap lembut lengan Putri.
"Bersabarlah dan berusaha, dengan tidak berputus asa atas cobaan yang Tuhan berikan pada hari ini. Saat kamu percaya pada kuasa sang pencipta, aku yakin hidupmu akan berubah lebih baik suatu saat nanti. Aku berharap bisa melihat senyuman darimu ketika kembali hidup normal dengan penuh kebahagiaan."
Mira kemudian menghubungi sang supir taksi yang tadi disuruh menunggu di tepi karena ingin mencari keberadaan Putri terlebih dahulu. Menatap tas besar yang terlihat berat milik Putri, Mira berpikir tidak akan kuat mengangkat karena memang keadaan yang tidak mendukung.
"Aku naik taksi ke sini dan akan memanggil supir karena tidak kuat mengangkat tas berat itu. Aku memang dilarang mengangkat berat oleh suamiku karena dulu melahirkan secara Caesar. Jadi, suamiku yang terlalu berlebihan itu sangat mengkhawatirkan jika terjadi hal buruk saat mengangkat barang berat."
Kemudian sambungan telpon sudah tersambung dan berbicara pada sopir taksi agar menuju ke tempat yang diberitahukan.
__ADS_1
"Aku sangat iri padamu karena mempunyai seorang suami yang sangat baik dan perhatian. Sementara aku malah membuang pria seperti itu demi mengejar nafsu semata dan berpikir akan hidup berbahagia, tapi nyatanya semua tak seindah ekspektasiku karena sekarang berakhir seperti ini."
Putri dulu mendengar perkataan Bagus ketika pertama kali mengetahui perselingkuhannya. Bahwa nanti hanya akan mendapatkan penderitaan karena berpikir Arya akan setia. Bahkan kalimat itu saat ini kembali terngiang di telinga Putri.
'Kamu berselingkuh dari suamimu dan berharap mendapatkan kesetiaan dari pria selingkuhanmu. Bukankah itu adalah pikiran dari orang naif dan mungkin gila karena tidak sadar akan kesalahan?'
'Aku tidak pernah menyangka jika akan mengalami hal yang sama, yaitu diselingkuhi oleh Arya. Pria yang selama ini memujaku dan mencintaiku, tapi semuanya berakhir setelah dia bertemu dengan wanita bernama Calista itu,' gumam Putri yang saat ini hanya diam mengingat masa lalu.
Hingga tersadar dari suara Mira yang berbicara pada seorang pria baru saja turun dari sopir taksi. Bahkan ketika berjalan mendekat, melirik ke arahnya dan menatap seolah tidak pernah melihat wanita karena tidak berkedip.
Pria merupakan sopir taksi tersebut merasa terpana dengan kecantikan wanita yang saat ini menggendong bayi laki-laki. 'Wanita ini cantik sekali. Apakah merupakan janda yang ditinggalkan setelah melahirkan?'
"Tolong bawakan tasnya karena ini sangat berat," ucap Mira pada sopir taksi yang baru saja berjalan mendekat.
Sementara itu, Putri langsung masuk ke dalam taksi begitu Mira mengajaknya. Meskipun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan pandangan dari sang sopir yang seolah terpesona padanya.
Begitu mendaratkan tubuh pada kursi belakang, Putri melihat sang supir sudah masuk dan duduk di balik kemudi sambil memasang spion mobil menghadap ke belakang.
Bahkan sempat bersitatap, merasa tidak nyaman dan risi dengan pandangan pria itu yang tidak berhenti menatap sebelum menyalakan mesin mobil.
'Kenapa pria ini selalu menatapku seperti itu? Apakah tidak pernah melihat wanita? Rasanya sangat risi dan tidak nyaman menghadapi tatapan pria seperti itu.'
Saat Putri bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan pada pria di balik kemudi tersebut, mengingat jika para pria yang terpesona akan mencoba untuk mencari perhatian dengan cara tidak berhenti menatapnya.
Lamunan Putri saat ini seketika musnah begitu disadarkan oleh Mira, sehingga langsung menoleh pada wanita yang duduk di sebelah kiri.
__ADS_1
"Kamu ingin ke rumahku dulu atau langsung ke kontrakan?" tanya Mira yang saat ini mencari tahu keinginan dari Putri karena tidak ingin melakukan kesalahan saat mengatur wanita itu.
Putri saat ini terdiam karena tengah memikirkan sesuatu. Saat merasa tidak nyaman dengan sang supir taksi, seolah mencium ada gelagat buruk, akhirnya memilih untuk pergi ke rumah Mira terlebih dahulu.
Dengan sebuah pertimbangan bahwa pria yang sudah mengemudikan mobil tersebut tidak akan pernah mengetahui kontrakannya. Entah mengapa sekarang ia selalu berpikir bahwa para pria hanya akan mengecewakannya.
Bahkan status sebagai janda anak satu akan sangat berat disandang dan pastinya menjadi buah bibir di kalangan para wanita yang berstatus sebagai istri.
Seorang wanita tidak bersuami dengan satu anak akan selalu menjadi pusat perbincangan para istri yang khawatir jika suami mereka direbut.
Apalagi memiliki paras cantik dan tidak akan pernah disukai oleh para wanita lain yang berstatus sebagai seorang istri. Belum lagi harus berhati-hati oleh para pria yang berusaha untuk mendekati dengan merayu dan melakukan segala cara.
Ia sudah bisa berpikir ke mana arah para laki-laki yang menatap dengan lapar seperti hendak memangsa. Seolah menganggap bahwa status janda akan mudah ditaklukan dan didapatkan hanya dengan rayuan.
Para pria seperti itu selalu disebut buaya darat dan ia tidak ingin berhubungan lagi dengan siapapun karena berpikir hal itu hanya akan menambah rasa sakit di dalam hati.
Putranya berencana hanya ingin fokus mengurus putranya dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Kini, ia menatap ke arah Mira dan membuka suara untuk menjawab, "Aku ingin pergi ke rumahmu dulu dan melihat usahamu. Suamimu mengatakan bahwa kamu membuka usaha makanan untuk dikirimkan ke pusat oleh-oleh."
"Siapa tahu aku mendapatkan ide setelah melihat usahamu." Putri mencoba untuk berbohong agar tidak ketahuan tengah menghindari sang sopir.
Berharap pria itu tidak akan pernah mengetahui kontrakannya. Sebenarnya ia ingin mengetahui apakah kontrakan dan rumah Mira dekat atau jauh, tetapi tidak melakukan itu karena berpikir jika nanti sopir taksi tersebut akan mengetahui melalui pembicaraan mereka.
To be continued...
__ADS_1