Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sebuah cara


__ADS_3

Untuk kesekian kali Amira Tan yang dihadapkan pada situasi pelik dan rumit dalam hidup merasa sangat bingung dengan apa yang harus dilakukan saat ini.


Bahkan suara Noah terdengar sangat menyayat hati ketika menuduh akan setuju menikah dengan Jack karena tidak ingin melihat sang ibu meninggal seperti yang dikatakan oleh pria di hadapannya tersebut.


Amira Tan saat ini menatap ke arah Noah dan menggelengkan kepala. Berharap pria yang dicintai tersebut bisa memahami situasi saat ini dan juga bagaimana perasaannya saat dihadapkan oleh dua pilihan sangat sulit dan tidak bisa dipilih salah satu.


"Bukan seperti itu, Noah. Kau seharusnya tahu perasaanku saat ini. Mengertilah akan posisiku sekarang. Itulah mengapa aku mengatakan bahwa kita bertiga harus berbicara dengan kepala dingin tanpa mengandalkan emosi."


"Karena amarah hanya akan menambah masalah dan tidak akan mendapatkan penyelesaian dari permasalahan yang kita hadapi sekarang." Amira Tan bahkan masih belum melepaskan tangannya yang berada di lengan kekar sang kekasih dan mengarahkan tatapan penuh permohonan.


Berharap Noah mau mengerti dan bisa memahami situasi saat ini. Sekarang Amira Tan baru menyadari bahwa sang kekasih mulai menunjukkan sikap kekanak-kanakan dan tidak bisa bersikap dewasa karena memang usia diantara mereka terpaut cukup jauh.


'Usia Noah masih muda, sehingga tidak bisa menahan amarah dan berpikir lebih tenang seperti aku dan Jack. Bahkan sekarang Jack terlihat lebih tenang dan berpikiran lebih dewasa. Sepertinya itu karena sangat mengkhawatirkan keadaan mamaku.'


'Jadi, Jack tidak membalas untuk berkelahi dengan Noah karena mengerti bagaimana perasaan kekasihku saat ini dan juga mungkin tidak ingin aku semakin frustasi dan bertambah bersedih saat difungsikan dengan berbagai macam masalah yang terjadi hari ini.'


Noah yang merasa seperti disalahkan oleh Amira Tan dan seolah membela semua yang dilakukan oleh Jack saat ini. Padahal mengetahui bahwa Jack saat ini tengah berakting menjadi seorang pria yang sangat baik dan bijak di hadapan Amira Tan demi mendapatkan simpati.


Bahkan Noah tidak bisa melupakan perkataan dari Jack yang jelas-jelas mengibarkan bendera perang dan seolah ingin merebut wanita yang dicintainya dengan cara bermain rapi.


Noah yang lebih mengerti bagaimana sifat seorang lelaki ketika menginginkan sesuatu, sehingga akan melakukan apapun demi bisa tercapai segala keinginan.


Jadi, sekarang berpikir jika Jack akan melakukan segala cara untuk bisa memisahkan Amira Tan darinya, sehingga membuatnya ingin menghentikan ulah pria itu dan menyadarkan sang kekasih agar tidak terkecoh dengan sikap Jack.


"Bagaimana aku tidak marah jika pada posisi seperti sekarang ini karena sangat terancam dan mungkin bisa kehilanganmu." Noah saat ini mengarahkan jari telunjuk ke arah Jack.


"Jangan tertipu dengan pria ini yang bersikap seolah sangat bijak dan membuatmu menyalahkanku."


Amira Tan seketika menatap ke arah dan ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Noah. "Jack bersikap sok bijak? Jadi, kau pikir Jack sedang berakting di depanku?" Kemudian beralih menatap wajah memerah sang kekasih yang masih dikuasai oleh kilatan amarah.


Refleks Noah seketika mengiyakan perkataan Amira Tan dan langsung menganggukkan kepala. "Jack saat ini bersorak gembira karena mendapatkan dukungan dari orang tuamu dan berhasil memilikimu jika menikah. Bahkan sudah berpikir untuk merebutmu dariku."

__ADS_1


"Benarkah itu, Jack? Kau tidak tulus mengkhawatirkan keadaan mama, tapi sengaja memanfaatkan situasi ini untuk menikahiku, sehingga tidak setuju dengan apa yang barusan kukatakan?" Amira Tan bahkan saat ini bisa melihat tatapan dari beberapa orang yang melintas di lobby rumah sakit, tapi sama sekali tidak diperdulikan.


Ia memilih fokus untuk menatap sosok pria yang selama ini sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya, meskipun mengetahui bahwa Jack sering mengungkapkan perasaan padanya, tetapi berpikir bahwa ketulusan pria itu yang menyebabkan tidak menuruti perkataannya untuk menolak perjodohan.


Jack masih sangat tenang dan tidak terpancing amarah. Apalagi saat ini berpikir bahwa Amira Tan sangat mudah dipengaruhi, sehingga berniat untuk bertarung dengan Noah demi bisa mengubah pikiran wanita yang terlihat sangat lemah karena keadaan orang tua.


"Jika kau berpikir seperti itu, aku akan mengatakan pada ibumu sekarang. Namun, jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, jangan pernah menyalahkanku. Apalagi jika sampai perkataanku membuat ibumu meninggal, kamu tidak akan pernah dimaafkan oleh siapapun karena menjadi anak yang durhaka."


Kemudian Jack saat ini berbalik badan tanpa menunggu respon dari Amira Tan karena sengaja mempermainkan perasaan wanita itu yang dianggap mudah dibalikkan oleh keadaan.


'Aku sangat yakin jika kamu akan menghentikanku. Kamu bahkan sangat menyayangi ibumu melebihi diri sendiri dan tidak mungkin membiarkan wanita yang telah melahirkanmu meninggal karena perbuatanmu.'


Dengan langkah percaya diri, Jack berjalan menuju ke arah lift yang akan membawa ke lantai atas ruangan orang tua Amira Tan sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


Bahkan sudut bibir mengembang ke atas ketika hari ini merasa sangat senang karena berhasil mempengaruhi orang tua Amira Tan untuk setuju dengan rencananya.


Jack memencet tombol lift agar terbuka begitu tiba di lobby.


Namun, saat ini ia sangat berharap jika hal buruk tidak akan pernah terjadi menimpa sang ibu. Refleks ia menarik pergelangan tangan Noah agar mau ikut bersamanya mengejar Jack yang berjalan masuk ke dalam.


"Kita harus menghentikan Jack dan membicarakan hal yang terjadi di antara kita bertiga untuk mencari solusi terbaik." Amira Tan berlari sambil berbicara pada Noah agar mengerti.


Namun, Noah yang merasa sangat kesal karena Amira Tan seolah berhasil ditipu dengan mudah oleh Jack, berusaha untuk menyadarkan sang kekasih bahwa itu hanyalah sebuah tipu muslihat.


"Sayang, Jack sedang menipumu. Jack akan melakukan apapun demi bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan aku bisa membaca pikiran pria berengsek itu karena sama-sama seorang pria."


Noah berusaha untuk menghentikan langkah kaki Amira agar tidak mengejar yang masuk ke dalam lift, tetapi terlambat karena Amira Tan lebih cepat berlari dan berhasil menahan pintu lift agar tidak tertutup.


Bahkan saat ini mereka sudah masuk ke dalam lift dan bertiga berada di ruangan kotak bersih tersebut.


"Kita harus bicara untuk mencari jalan keluar sebelum kau menemui orang tuaku." Amira Tan yang berdiri di hadapan Jack, kini melepaskan tangan yang dari tadi menahan pergelangan kiri Noah karena berpikir jika tidak melakukan itu, sang kekasih tidak akan mau ikut dan berbicara untuk mencari solusi.

__ADS_1


"Lebih baik kita bicara di tempat yang jauh dari ruangan orang tuaku karena aku tidak ingin papa melihat kalian." Amira Tan menatap satu persatu pria di hadapannya untuk menunggu jawaban mereka.


Tentu saja sudah bisa menebak seperti apa tanggapan Noah saat ini dan membuatnya mengarahkan tatapan tajam kepada sang kekasih karena tidak mau bekerja sama dan bersikap egois.


"Bukankah sudah kukatakan jika bajingan ini sedang berakting menjadi seorang pria baik? Kenapa kamu tidak percaya pada kekasihmu sendiri? Meskipun sudah lama berteman dengan Jack, tapi kamu tidak bisa membaca hatinya." Noah benar-benar sangat kesal karena Amira Tan tetap saja tertipu dengan sikap Jack.


Namun, selalu saja perkataan Jack membuatnya merasa marah dan selalu saja berhasil mengalahkannya.


Jack memang dari tadi hanya diam dan membiarkan Noah berbicara buruk mengenai dirinya, tetapi selalu membalas tepat sasaran, sehingga membuat pria itu terpancing emosi. Namun, hanya ditanggapi dengan senyuman menyeringai karena merasa menang melawan Noah.


"Jika Amira Tan tidak bisa membaca hatiku, bukankah hal yang sama berlaku untukmu, Noah? Amira juga tidak mungkin bisa membaca isi hatimu. Bagaimana jika kau hanya memanfaatkannya demi bisa merubah nasib menjadi istri seorang wanita kaya karena sudah bosan hidup menderita sebagai orang miskin?"


Kemudian melanjutkan perkataan di dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan di depan Amira Tan. 'Saat kamu mengatakan bahwa aku bukan tandinganmu, tapi sekarang aku bisa memastikan bahwa kemenangan berada di tanganku.'


'Kamu akan menangis darah saat Amira Tan berpaling padaku karena menyadari bahwa kamu hanyalah seorang pria kekanakan yang tidak pantas bersanding dengan pengacara hebat.'


Saat Amira Tan ingin menghentikan perdebatan di antara dua pria di hadapannya tersebut, tidak jadi melakukan begitu lift terbuka. Refleks Amira Tan menarik pergelangan tangan dua pria itu agar ikut bersamanya ke sebuah lorong yang sepi.


"Hentikan perdebatan kalian yang tidak akan pernah mendapatkan solusi untuk masalah ini. Jack, lebih baik jangan menanggapi apapun yang dikatakan oleh Noah karena perasaannya saat ini tengah diliputi kegundahan seperti yang kurasakan."


Kemudian ia melepaskan kuasa dari kedua tangan Jack dan Noah. Kini, berdiri di hadapan dua pria tersebut dan mengungkapkan sebuah ide di kepala saat ini. Ia berharap dua pria tersebut setuju dan tidak merasa keberatan atas apa yang ingin disampaikan.


Meskipun sudah mengetahui bahwa mungkin Noah yang lebih susah untuk menerima ide yang dianggap jalan keluar bagi masalah mereka.


"Dengarkan aku baik-baik karena sudah mendapatkan jalan keluar dari masalah ini."


Jack berpikir bahwa jalan keluar yang ditawarkan anak akan menguntungkan baginya. Jadi, sudah tidak sabar ingin mendengar.


Sementara hal berbeda dirasakan oleh Noah saat ini karena berpikir jika apa yang akan dikatakan oleh Amira Tan, mungkin sangat merugikannya. Namun, karena tidak ingin menyulut api amarah dari wanita yang dicintai, memilih diam dan mendengarkan seperti yang dilakukan oleh Jack.


Ia tidak ingin mendengar Amira Tan kembali memuji Jack, karena seperti telinganya panas. "Baiklah, katakan apa yang kamu pikirkan saat ini."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2