Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menjadi orang yang lebih baik


__ADS_3

"Suster, suami saya baru saja menggerakkan tangannya," ucap Amira Tan yang langsung memanggil perawat untuk memeriksa apakah sang suami tidak mengalami masalah saat sadar.


Ia memang merasa bingung dengan perasaannya pada Jack, tapi tetap saja ingin pria itu selamat dari maut karena ia bukanlah seorang wanita yang tidak punya hati dan menginginkan orang lain mati karena melakukan kesalahan padanya.


"Baik, Nona. Dokter akan memeriksa pasien," ucap perawat yang langsung menghubungi dokter di ruangannya untuk memberitahu tentang pasien yang kemungkinan sadar.


Saat ini, Amira Tan kembali ke ruangan untuk melihat Jack. Ia sebenarnya merasa tubuhnya sangat lelah karena belum tidur sama sekali saat sudah dini hari.


Hingga ia pun kini berjalan masuk ke dalam ruangan dan memastikan jika sang suami sudah membuka mata. Namun, harapannya sirna karena apa yang dipikirkannya salah. Saat ini, pria itu masih memejamkan mata dan sudah tidak menggerakkan lagi tangannya seperti beberapa saat lalu.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan dokter serta perawat masuk ke dalam.


"Sekarang tangannya sudah tidak bergerak lagi, Dokter. Padahal tadi jelas-jelas bergerak. Suami saya baik-baik saja, kan?" Amira Tan mendadak merasa khawatir dan takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Jack.


Sang dokter belum menjawab apapun karena langsung memeriksa tanda-tanda vital dengan menggunakan stetoskop dan juga melihat pergerakan dari alat yang menopang kehidupan pasien saat ini.


Sementara Amira Tan hanya menunggu jawaban dari sang dokter dengan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh kekhawatiran. Hingga suara bariton dari sang dokter membuatnya sedikit bisa bernapas lega.


"Tadi adalah respon dari otaknya setelah operasi, Nona. Efek obat bius masih belum habis. Mungkin beberapa jam lagi pasien akan sadar. Apalagi yang terpenting sekarang adalah pasien sudah bebas dari masa kritis." Sang dokter kini mengatakan pada perawat untuk mencatat apa yang dikatakan.

__ADS_1


Amira Tan seketika bernapas lega dan beralih menatap ke arah sang suami. "Syukurlah, Dokter. Saya pikir terjadi hal buruk karena setelah bergerak, masih tidak membuka mata."


"Tidak karena semuanya baik-baik saja. Anda bisa menunggu sambil beristirahat. Anda terlihat sangat lelah." Sang dokter bisa melihat raut wajah penuh kelelahan wanita di hadapannya tersebut, sehingga berusaha untuk menenangkan agar bisa beristirahat sambil menunggu sang suami.


Amira Tan kini mengangguk perlahan dan melihat dokter dan perawat kini mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar. Ia pun kembali mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah ranjang perawatan.


Dengan terdiam menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya, kini menggenggam telapak tangan dengan buku-buku kuat itu.


"Cepatlah bangun agar aku bisa memberikanmu pelajaran! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku yang menggalakan segala cara untuk mendapatkanku dengan memisahkan Rey." Amira Tan benar-benar kesal mengingat hal itu, tapi juga tidak tega melihat pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut tidak berdaya.


Ia dulu memang tidak bisa mencintai Jack karena perasaannya dari awal hanya menganggap teman. Namun, setelah melahirkan buah hati mereka karena sudah memastikan jika itu adalah anak Jack saat diam-diam melakukan tes DNA, lama-kelamaan rasa cintanya tumbuh pada pria itu.


Ia tidak ingin semakin tersiksa dengan pikirannya, akhirnya menjatuhkan kepalanya di samping telapak tangan sang suami. Ingin menenangkan pikiran serta fisiknya yang sangat lelah, ia berharap saat terbangun nanti, Jack sudah sadar.


Apalagi mengingat jika putrinya menangis tersedu-sedu saat melihat sang ayah bersimbah darah dan tentu saja membuatnya tidak tega karena anak sekecil itu melihat sesuatu yang tidak seharusnya.


"Cepatlah sadar demi putrimu yang menunggu kepulanganmu di rumah," lirih Amira Tan yang saat ini memejamkan mata dan berharap bisa beristirahat dari lelahnya fisik dan batin.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar napas teratur yang keluar dari sosok wanita yang telah larut dalam alam bawah sadar tersebut.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, sosok pria yang dari tadi menutup mata, kini perlahan membuka kedua matanya. Jack sebenarnya sudah sadar, ketika dokter dan perawat tadi keluar, tapi berpura-pura tetap memejamkan mata karena ingin mengetahui bagaimana seorang Amira Tan saat ia tidak sadarkan diri.


Ia ingin melihat respon dari sang istri. Apakah merawatnya dengan baik atau tidak mempedulikannya setelah mengetahui jika ia merupakan orang yang menjadi penyebab perpisahan dengan Noah.


Masih sangat ingat ketika ia mengakui semua dosa-dosanya karena berpikir tidak akan selamat dari mau setelah perutnya ditusuk cukup dalam. Hingga beberapa saat lalu mendengar Amira Tan yang mengumpat padanya dan membuatnya semakin takut untuk membuka mata.


'Hal yang paling aku takutkan adalah kebencianmu padaku, Sayang. Tapi saat mendengar kamu menyuruhku sadar karena putri kita menunggu di rumah, aku benar-benar bersyukur karena masih hidup dan bisa melihat buah cinta kita,' gumam Jack yang saat ini menatap ke arah wajah lelah sang istri yang menghadap ke arahnya.


Jack tidak berani bergerak karena khawatir wanita yang sudah tertidur pulas tersebut terbangun karena perbuatannya. Akhirnya ia hanya diam saja dan menatap ke arah sosok wanita yang sangat dicintainya dari dulu hingga sekarang.


'Sayang, aku harap kamu mau memaafkan kesalahanku dan menatap masa depan tanpa menoleh ke masa lalu. Aku melakukan semuanya karena sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu.' Jack masih terus berbicara di dalam hati karena saat ini memikirkan sesuatu hal mengenai siapa dalang dibalik penusukannya.


'Sebenarnya siapa yang ingin membunuhku? Pasti anak buah dari salah satu orang yang berhasil kukalahkan di pengadilan. Bagaimana aku bisa mencari tahu orang itu? Aku harus menemukannya dan juga melindungi anak dan istriku,' gumam Jack yang saat ini berpikir jika istrinya bisa mengalami hal yang sama karena juga berprofesi serupa.


Jadi, ia akan membayar bodyguard untuk melindungi anak dan istrinya serta diri sendiri agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk. 'Aku akan melindungi kalian dari orang-orang jahat yang ingin menyingkirkan kita. Terima kasih, Tuhan karena masih memberikanku kesempatan untuk hidup dan menjaga anak serta istriku.'


Jack menganggap bahwa kejadian yang menimpanya merupakan karma dari perbuatan buruknya di masa lalu dan saat ini ingin menjadi orang yang lebih baik dan bertobat atas kesalahannya.


'Ampuni aku karena telah membuat Noah serta orang lain menjadi korbanku. Mulai hari ini, aku berjanji akan menjadi orang yang lebih baik,' gumam Jack yang masih tidak mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik sang istri yang masih bernapas teratur dan sudah berada dalam alam mimpi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2