Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sama di mata Tuhan


__ADS_3

Mira yang baru saja melihat siluet pria telah semakin menjauh tersebut, kini beralih melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah untuk mengecek apa yang dilakukan oleh Putri setelah bersikap tegas ada seseorang yang berniat untuk mencari perhatian.


Setelah mengatakan pada asisten rumah tangga untuk menunggu warung karena ini berbicara dengan Putri sebentar.


Kemudian setelah masuk ke dalam rumah, melihat Putri saat ini tengah menyusui putranya yang berada di atas ranjang sambil memeluk erat. "Putri."


Putri seketika menatap Mira yang berjalan mendekat. "Apa pria itu sudah pergi?"


Kemudian Putri menyelesaikan kegiatan menyusui setelah Xander tertidur dan beranjak duduk di atas ranjang sambil menatap Mira yang saat ini seperti keheranan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh denganku?" Putri mencoba untuk menatap penampilannya sendiri dan mendengar suara Mira ketika memujinya.


Mira berbicara sambil menepuk pundak Putri dan juga mengangkat ibu jari karena merasa sangat salut pada wanita yang bisa sangat tegas dan percaya diri saat menolak seorang pria yang berusaha untuk mendekati, tanpa memberikan satu kesempatan.


"Putri, aku sangat kagum padamu setelah melihat hari ini. Bahkan tidak pernah berpikir bahwa pria yang bekerja sebagai sopir itu ternyata mempunyai perasaan padamu. Dengan tanpa curiga aku berpikir bahwa dia itu memang baik hati karena menawarkan jasa untuk membantu."


"Pria itu sudah pergi dan meminta nasi untuk dibungkus karena tidak ingin makan di sini. Mungkin karena sakit hati sekaligus malu karena kamu menolak di depan banyak orang tadi."


Putri yang sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang dipikirkan adalah ingin pria itu tidak lagi berusaha untuk mendekatinya karena bisa fokus memulai usaha tanpa ada orang yang mengganggu.


"Aku sudah sering melihat pria yang seperti itu, jadi sangat hafal dengan gelagat mereka. Apalagi saat menatapku seperti ini memangsa saja. Sepertinya status janda memang akan dianggap serupa dengan wanita murahan."


Refleks Mira mengarahkan pukulan ringan pada punggung Putri karena tidak menyukai kalimat terakhir itu. "Jangan berbicara seperti itu lagi karena jika ada seorang janda yang mendengar, kamu bisa dihabisi. Jika kamu berpikir seperti itu, berarti beberapa orang tua miskin yang tidak punya suami di depan sana juga aku anggap wanita murahan?"


Kini, Putri langsung menggelengkan kepala karena bukan itu yang dimaksud. Kemudian menunjuk ke arah diri sendiri. "Aku. Jadi, hanya aku yang dianggap wanita murahan dan para pria berpikir bisa mendapatkanku dengan mudah. Apalagi statusku yang merupakan wanita tanpa suami dengan anak."


"Cintai dan hargai diri sendiri, Putri. Sebelum kamu menghormati orang lain, hormatilah dirimu karena berhak mendapatkannya. Sangat tidak adil dan kejam jika kamu selalu menganggap diri hina di depan semua orang."

__ADS_1


Mira yang memilih untuk mendaratkan tubuh di dekat Putri dan mengusap lembut lengan wanita dengan wajah murung tersebut.


"Kamu tahu, dulu aku juga tidak memperdulikan diri sendiri dan lebih memperhatikan kebahagiaan orang lain. Namun, saat aku pertama kali mendengar lagu dari grup band Korea yang berisi harus mencintai diri sendiri sebelum orang lain karena berhak mendapatkannya."


"Semenjak saat itu, aku sangat respect pada diri sendiri sebelum orang lain. Jika Kamu tidak adil pada diri sendiri, bagaimana bisa menjalani hidup dengan bahagia. Kita harus sadar bahwa selama ini adalah orang yang sangat berharga."


Putri hanya diam dan merenungi tiap kata dari Mira ketika selalu menasihatinya dengan hal-hal yang berisi semangat dengan kebaikan agar tidak terus menyalahkan diri sendiri.


"Apakah aku bisa melakukan itu saat merasa penuh dosa? Aku ragu bisa melakukan hal itu karena tidak bisa melupakan semua perbuatan jahat di masa lalu." Putri masih sesekali membuat kepalan dan juga meremas telapak tangan untuk menguatkan diri atas semua yang terjadi.


"Bisa. Asalkan kamu fokus pada tujuan hidup. Namun, sebelum melakukan itu, seperti yang kukatakan tadi bahwa kamu harus menghargai dan mencintai diri sendiri. Bahwa kamu sangat berharga dan pantas untuk hidup bahagia."


Kemudian Mira bangkit dari posisi yang duduk di atas ranjang, lalu sekilas menatap ke arah Putri yang seolah betah di sana.


"Ayo, orang-orang pasti ingin bertanya dan mengucapkan terima kasih padamu. Sebentar lagi, warung dibuka untuk umum. Aku yakin sebentar lagi akan ada banyak pembeli."


"Optimis, Putri karena sebenarnya semua yang terjadi adalah hasil dari pikiran kita sendiri. Jadi, mulai sekarang, penuhi pikiranmu dengan hal yang positif dan yakin dengan semua kebaikan."


"Kamu benar. Sepertinya aku memang harus merubah pola pikir yang selama ini selalu pesimis. Ayo, aku ingin melihat dan mendengar komentar dari semua orang yang sudah merasakan makanan buatanku." Putri pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan bersama Mira yang selalu ada untuknya.


Di saat bersamaan, melihat beberapa orang sudah selesai menikmati makanan dan membantu membereskan.


"Kenapa mereka harus repot untuk membereskan?" Putri merasa tidak ingat karena orang-orang yang baru selesai makan membersihkan bekas makanan dan minuman dan membuang di kantong plastik besar yang dijadikan untuk membuang sampah.


"Itu merupakan bentuk terima kasih mereka padamu karena hanya bisa membalas dengan membantu membereskan. Mereka sangat senang mendapatkan makan gratis hari ini." Mira saat ini masih mengamati pergerakan dari beberapa orang yang sangat sigap dan cekatan ketika bekerja sama untuk membereskan semua.


"Bukankah kita yang selalu diuntungkan karena selain mendapatkan doa penuh ketulusan dari mereka, sekarang dibantu juga untuk membereskan." Setelah berbicara, Mira kini menghampiri wanita yang membereskan bekas minuman plastik.

__ADS_1


"Kenapa harus repot-repot begini. Biarkan saja karena kami bisa membereskan sendiri. Kalian semua adalah tamu yang harus dimuliakan. Bukan malah harus membersihkan seperti ini."


Tentu saja Mira hanya sekedar berbasa-basi dengan mengatakan hal itu ketika menghampiri orang-orang yang masih sibuk dengan pekerjaan dan seolah tidak memperhatikannya.


Padahal sebenarnya sangat senang karena tidak harus kelelahan ketika membereskan semuanya. Hal yang selalu diungkapkan oleh semua orang dengan berpura-pura menunjukkan sikap penolakan.


Padahal di hati sangat senang mungkin sekaligus merasa bersyukur ada yang membantu meringankan pekerjaan. Hingga mendapatkan jawaban dari salah satu wanita paruh baya yang mewakili semua orang.


"Tidak apa-apa, Nyonya Mira. Kami tidak bisa melakukan apa-apa selain ini sebagai bentuk terima kasih karena sudah diberi makanan gratis hari ini. Semoga usaha warung makan nyonya Putri berjalan lancar dan juga banyak pembeli yang datang."


Menatap ke arah Putri dan tersenyum saat wanita itu berjalan mendekat.


Putri yang mendengar pembicaraan dari Mira dan wanita paruh baya tersebut, mengaminkan doa tulus itu. "Terima kasih atas doa tulus kalian semua."


Saat melihat orang-orang yang kurang beruntung itu, seolah menyadarkan Putri bahwa ada banyak orang yang hidup menderita melebihi dirinya.


Jadi, sekarang merasa bersyukur dan tidak lagi mengeluh ketika mendapatkan karma dari perbuatan dengan hidup sebagai janda dan harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk membesarkan putranya yang saat ini kurang beruntung karena tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Kami yang seharusnya berterima kasih pada Anda. Saya mewakili semua orang yang ada di sini, mengucapkan terima kasih karena kebaikan untuk memberikan sarapan gratis," ucap wanita paruh baya tersebut sibuk membungkuk hormat.


Refleks Putri membantu menegakkan tubuh wanita itu agar tidak bersikap seperti itu karena tidak menyukai formalitas.


"Tolong jangan seperti itu. Aku merasa tidak nyaman jika semua orang melakukan itu. Kita semua sama di mata Tuhan dan tidak perlu terlalu menghormatiku, seolah aku ini adalah orang hebat saja."


Putri bahkan berbicara sambil terkekeh karena ingin membuat suasana hangat kekeluargaan dan tidak terasa membosankan.


Kemudian semua orang mengerti dan setelah selesai makan, serta membereskan semua, memilih untuk berpamitan dan bersalaman sebelum pergi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2