
Sementara itu, Amira Tan yang kini berjalan menuju ke arah depan bersama Noah, kini berbisik di dekat telinga pria di sebelah kiri tersebut. "Kau sangat pandai berakting. Jangan anggap serius perkataan papa karena aku sama sekali tidak butuh asisten."
"Semua yang bekerja di kantor sudah membantuku, jadi jangan berpikir jika kau benar-benar bekerja seperti perintah papa yang bahkan tidak tahu seperti apa pekerjaanku." Amira Tan memberikan kunci mobil pada pria yang hanya diam dan tidak menjawab apa yang baru saja dikatakan.
"Kenapa? Apa kau marah tidak bekerja menjadi asisten pribadiku?"
Refleks Noah hanya menggelengkan kepala dan menjawab singkat. "Sebelum berangkat ke kantor nanti, akan pergi ke klinik dulu untuk mengembalikan ponsel Putri. Jika aku terlambat, kamu tidak akan murka padaku, kan?"
"Astaga! Saat aku berbicara sangat serius mengenai pekerjaan, kamu membahas hal tidak penting?" Amira Tan semakin dibuat geram melihat sikap Noah. "Berikan ponselnya! Biar aku saja yang mengembalikan sendiri pada Putri."
"Aku adalah bos dan tidak masalah jika terlambat, sedangkan kau baru mau bekerja di kantorku malah mau berulah. Apa mau dipecat di hari pertama bekerja?" sarkas Amira Tan dengan wajah memerah karena amarah.
Noah yang sama sekali tidak takut melihat kemurkaan Amira Tan karena sudah terbiasa, kini mengangkat kedua tangan ke atas. "Ampun, Bos. Jangan lakukan itu karena aku butuh pekerjaan ini untuk makan dan biaya menikah nanti di kampung."
Kalimat terakhir Noah memicu sesuatu yang disebut Dejavu dan ada rasa takut yang mulai menyeruak di dalam hati Amira Tan saat ini.
'Menikah di kampung? Apa dia sudah punya calon? Apakah nanti juga akan pergi seperti Bagus? Kenapa aku mendadak khawatir saat mengatakan akan pergi?'
Ingin sekali Amira Tan bertanya, tapi rasa gengsi terlalu tinggi dan memilih untuk membahas hal lain. "Baiklah. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk bekerja."
"Terima kasih, Bos." Noah yang baru saja mengeluarkan ponsel milik di saku celana, kini menyerahkan pada Amira Tan. "Aku pulang. Sepertinya akan sangat menyenangkan naik mobil bos sendiri."
__ADS_1
Noah berjalan menuju ke arah mobil yang terparkir rapi di garasi dengan sudut bibir melengkung ke atas karena merasa jika hari ini adalah yang terbaik.
'Semua orang di kantor nanti pasti akan bertanya-tanya mengenai bagaimana bisa pekerja yang pertama kali datang malah berangkat dengan menggunakan mobil sang bos. Mereka pasti berpikir jika aku memiliki hubungan spesial dengan Amira Tan.'
Tidak memperdulikan apa tanggapan orang lain dan akan berusaha fokus bekerja demi bisa mengumpulkan uang untuk biaya menikah nanti seperti yang dikatakan sang ibu.
Meskipun harapan telah pupus untuk menjadikan Amira Tan seorang istri, Noah berharap jika suatu saat nanti dipertemukan dengan wanita sederhana yang baik dan sanggup menggetarkan hati pada pandangan pertama.
Mobil yang dikemudikan sudah keluar dari kompleks perumahan elite itu dan Noah mendapatkan notifikasi dari ponsel. Tanpa berniat untuk melihat karena sedang mengemudikan mobil mewah Amira Tan, ia berencana untuk membaca ketika sudah berada di rumah nanti.
Sementara itu, Amira Tan yang masih berdiri di depan rumah, mengingat tentang kejadian malam panas bersama Noah.
'Saat seorang suami berpikir akan menjadi pria pertama untuk sang istri yang baru dinikahi, tetapi ternyata tidak seperti itu. Pasti hanya kemurkaan yang akan kudapatkan nanti atau bahkan tatapan jijik karena telah bercinta dengan seorang pria sebelum menikah.'
'Aku benar-benar sudah gila!' sarkas Amira Tan yang kini tidak ingin semakin dibebani oleh masalah dan berjalan menuju ke dalam untuk segera membersihkan diri dan sarapan.
Sebenarnya ingin sekali beristirahat hari ini karena merasa sangat lelah, tapi tidak ingin sang ayah curiga dan memilih untuk merehatkan tubuh di kantor nanti karena ada ruangan pribadi khusus.
Ruangan yang digunakannya untuk beristirahat setelah memforsir otak dan tubuh. Ketika baru saja meletakkan ponsel milik Putri ke atas nakas, suara dering ponsel mengalihkan perhatian Amira Tan yang langsung mengecek siapa yang menghubungi.
Begitu melihat kontak dengan nama Arya, Amira Tan sama sekali tidak tertarik mengangkat. "Jika aku menjawab telpon dari bajingan ini, yang ada malah hanya akan mengumpat."
__ADS_1
"Bahkan mungkin akan mengatakan semua yang kulihat semalam. Biarkan saja. Anggap ini adalah hukuman untuk Arya yang telah berselingkuh dengan wanita lain."
Kemudian Amira Tan memilih untuk melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh dan berjalan ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.
Setengah jam kemudian, ia sudah terlihat segar dengan kimono handuk yang membalut tubuh. Sebenarnya saat tadi mandi, melihat penampilan di cermin.
Kini, ia kembali membuka kimono yang melindungi tubuh dan mengamati sesuatu yang menghiasi bagian atas tubuh, yaitu ada beberapa kiss mark di bagian dada.
Amira Tan kembali menelan ludah ketika mengingat saat Noah melakukan itu, menjerit karena merasakan sensasi kenikmatan sekaligus kenyerian bercampur menjadi satu. Sampai mengingat tentang aksi mereka.
"Aku tidak bisa melupakan perbuatannya padaku meskipun sudah menyuruh pria itu untuk menganggap tidak terjadi apapun di antara kami. Apakah Noah juga merasakan hal seperti ini? Ataukah sama sekali tidak mengingat apapun karena merasa terbebaskan dari pertanggungjawaban?"
Pertanyaan yang sampai kapan pun tidak akan pernah terjawab jika tidak menanyakan sendiri pada yang bersangkutan. Namun, gengsi Amira Tan terlalu tinggi dan tidak akan membahas hal intim mereka lagi. Berharap bisa melupakan itu.
Saat ia hendak memakai make up di wajah, mendengar suara notifikasi di ponsel Putri. Seperti yang diduga, pesan itu adalah dari Arya.
Ia bisa membaca tanpa membuka. Seketika bola mata membulat sempurna ketika mengetahui isi dari pesan yang sangat mengejutkan itu.
"Arya benar-benar pria berengsek!" sarkas Amira Tan yang langsung melemparkan ponsel tersebut ke atas ranjang.
To be continued...
__ADS_1