Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak merasakan sakit


__ADS_3

Putri saat ini merasa terkejut atas pertanyaan yang baru saja didengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria itu akan bertanya mengenai mantan suami. Bahkan dipikirannya sama sekali tidak ada niat untuk kembali pada Arya.


Meskipun pria itu sudah kehilangan sang istri yang mengalami kecelakaan, sama sekali tidak pernah terbersit pun pikiran untuk kembali. Ia sudah terlalu dalam terluka karena pria itu lebih mempercayai orang tua daripada istri sendiri.


Ia berpikir jika hal seperti itu akan terulang lagi dan membuatnya kembali terluka. Refleks ia langsung menggelengkan kepala.


"Aku tidak ingin membahasnya, Tuan Aldiano. Meskipun jawabannya sudah jelas jika aku tidak akan pernah kembali pada mantan suami yang pernah meninggalkan luka terlalu dalam." Putri bahkan saat ini bisa mengingat seperti apa ekspresi wajah Arya saat meragukan darah dagingnya sendiri.


"Tidak diakui darah dagingnya, merupakan sebuah hal yang sangat menyakitkan. Ya, aku memang seorang wanita hina ketika bersama dengannya, Jadi sepertinya tidak pantas marah dengan takdir yang harus kujalani." Putri sebenarnya masih sangat terganggu dengan perkataan dari mertuanya yang membahas tentang masalah kehamilan dan ingin sekali ia katakan pada pria dihadapannya tersebut.


Namun, setelah berpikir, ia tidak mungkin melakukan itu karena khawatir akan terjadi kesalahpahaman dan dianggap yang menyuruh mertuanya berbicara seperti itu pada media. Akhirnya memilih diam dan tidak membahas mengenai apa yang disampaikan oleh mertuanya di depan para awak media.


Sementara itu, Aldiano yang saat ini makin merasa penasaran dengan apa alasan wanita di hadapannya tersebut tidak mau kembali pada mantan suami yang bahkan adalah seorang pria tampan, muda dan mapan.


Bahkan tidak mempunyai keturunan saat menikah dengan istrinya yang telah meninggal. Meskipun memiliki mertua yang sangat jahat, bukan menjadi alasan Putri untuk takut karena ia tahu wanita itu bukanlah jenis orang yang sangat lemah.


Apalagi ia semakin merasa bersalah ketika menghukum wanita itu dengan menggunakan sabuk dan meninggalkan luka yang membekas dan tidak bisa hilang begitu saja.


"Apa kamu sudah tidak mencintai mantan suamimu yang tampan itu? Aku bahkan bisa melihat jika dia seperti masih memiliki perasaan padamu. Meskipun dia hilang ingatan, seperti ada suatu ikatan batin yang menariknya hingga membuatnya tertarik padamu," ucap Aldiano yang saat ini makin tertarik membahas mengenai masa lalu Putri.


Ia tidak tahu kenapa bisa tertarik pada masa lalu wanita tersebut, tapi berpikir bahwa mungkin karena ia saat ini hanya bisa diam di atas ranjang perawatan tanpa bisa kemana-mana, sehingga merasa bosan dan hanya ingin mengobrol.


Saat enggan membahas tentang masa lalu dan masih terus di pertanyakan, saat ini Putri menatap ke arah sosok pria di atas ranjang tersebut. "Kenapa Anda begitu tertarik dengan masa laluku yang bahkan sangat kelam?"


"Aku mungkin bisa belajar menjadi seorang pria yang berasal dari masa lalu kelam menjadi pria yang lebih baik. Aku ingin belajar darimu agar tidak putus asa ketika memikirkan kakiku yang seperti ini." Ia bahkan saat ini meninju kakinya yang mati rasa dan membuatnya benar-benar frustasi.


Bahkan beberapa kali meninju bagian bawah tubuhnya karena berharap ada suatu keajaiban ia bisa merasakan sakit atas perbuatannya. Namun, yang terjadi saat ini adalah tangannya ditahan oleh putri yang seketika bangkit dari kursi dan menghalanginya untuk tidak menyakiti kaki.


"Kaki ini sudah mengalami penderitaan yang begitu kuat, jadi jangan menambahnya meskipun tidak merasakan apapun. Biarkan kedua kaki Anda beristirahat untuk sementara waktu, hingga nanti harus diforsir agar bisa kembali seperti semula." Putri masih berdiri di hadapan pria yang kini terdiam menatap ke arah kaki.


Sementara ia masih menahan tangan yang digunakan untuk meninju bagian paha serta lutut. Ia sebenarnya merasa sangat lega karena pria itu saat ini sudah berniat untuk menjadi orang yang baik dan tidak lagi terpuruk seperti beberapa saat setelah mengetahui kakinya yang lumpuh.


Jadi, ia berniat untuk selalu mendukung pria itu agar terus berada di jalur yang benar dengan membantu, sehingga sekarang menceritakan tentang apa yang dialaminya dulu ketika baru saja mengalami kecelakaan yang membuat kakinya tidak bisa berjalan.


"Tuan Aldiano, semua cobaan memang tidak ada yang mudah untuk dijalani. Seperti saya dulu yang ingin menyerah karena sudah sangat lelah untuk menjalani terapi, tapi tidak kunjung sembuh. Ya, cuma itu sangatlah wajar dan dirasakan oleh semua orang. Hanya saja, semua itu tidak boleh menjadikan kita menyerah sehingga enggan untuk berjuang."


Putri bahkan saat ini menceritakan bagaimana perjuangannya dulu saat melakukan terapi dan juga tinggal tanpa adanya keluarga yang mendukungnya.


Bahwa hanya ada salah satu pelayan yang ia pekerjakan. Hingga ia pun merasa jika nasibnya sangat beruntung bisa bertemu dengan ayah dari pria itu yang selalu mendukungnya dan tidak menyerah agar bisa berjalan lagi.


"Anda memiliki seorang ayah yang hebat dan pastinya akan sangat mendukung Anda serta memberikan sebuah semangat agar tidak menyerah sampai bisa berjalan lagi. Anda harus yakin jika suatu saat nanti pasti bisa berjalan lagi seperti biasanya," ucap Putri yang saat ini berbicara sambil menatap ke arah kedua kaki pria itu.


Bahkan ia sampai tidak sadar masih memegang tangan Aldiano yang tadi digunakan untuk memukul kedua kakinya. "Aah ... maaf."


Kemudian melepaskan tangannya dari pria itu karena sudah yakin jika tidak akan kembali memukul kedua kakinya.


Sementara itu, Aldiano yang saat ini menatap ke arah sosok wanita yang menurutnya benar-benar adalah wanita yang baik karena tidak mau pergi saat ia menjadi seorang pria yang tidak berguna.

__ADS_1


"Kamu bertahan dengan pernikahan ini karena ini menjadi seorang istri yang baik yang merawat suami sampai sembuh dan berharap itu bisa mencuci dosamu di masa lalu, kan?" tanya Aldiano yang ingin mencari tahu seperti apa wanita itu nantinya.


Putri seketika mengganggu tanpa pikir panjang karena memang niatnya hanyalah ingin menebus dosa-dosa di masa lalu. Hingga ia merasa kebingungan ketika mendapatkan pertanyaan yang lain dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Lalu, apakah saat aku sudah sembuh dan bisa kembali berjalan seperti biasanya, kamu akan menuntut cerai? Apakah Kamu berpikir jika tugasmu sudah selesai setelah aku sembuh?" Aldiano yang saat ini merasa jika perasaannya jauh lebih baik setelah sering berbincang dengan wanita di hadapannya tersebut, jadi ingin tahu bagaimana nasib mereka nanti setelah ia kembali seperti semula.


Ia bahkan berpikir tidak akan mengizinkan wanita itu pergi agar selalu tetap berada di rumah dan bersama dengannya serta sang ayah karena tidak mungkin bisa menemukan wanita seperti Putri.


Putri saat ini terdiam karena merasa bingung harus menjawab apa karena jujur saja belum berpikir sampai ke arah sana. Ia merasa jika perjalanan masih panjang dan tidak perlu memikirkan hal itu.


"Lebih baik jalani saja semuanya, Tuan Aldiano karena saat ini saya pun tidak tahu kemana takdir akan membawa pergi. Dulu saya berpikir akan hidup damai di sebuah kampung dan memiliki usaha catering lumayan besar, tapi ternyata takdir membawaku kembali ke Jakarta dan bertemu dengan tuan Bambang serta Anda."


Ia saat ini mengembuskan napas kasar ketika mengingat masa lalu kelam di kampung. Bagaimana ia dipermalukan warga dan dianggap wanita murahan serta difitnah oleh pria yang bahkan menyukainya dan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya.


Hingga ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah lagi dengan seorang pria yang bahkan menyukai sesama jenis dan sekarang berakhir mengenaskan seperti dirinya yang tidak bisa berjalan.


"Jalani saja hukum tabur tuai yang kita alami, Tuan Aldiano karena semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan Dan Kita adalah wayang yang mengikuti penciptanya." Saat Putri baru saja menutup mulut, pintu terbuka dan terlihat supir pribadi keluarga masuk membawa paper bag.


"Selamat siang, Tuan Aldiano dan Nyonya Putri." Sang supir kini membungkuk hormat dan langsung memberikan paper bag di tangannya pada majikan wanita di hadapannya tersebut.


Putri yang tadi meminta untuk dibelikan ponsel karena membutuhkannya untuk menghubungi seseorang. "Terima kasih, Pak. Apa semuanya sudah diatur dan tinggal menggunakannya?"


"Iya, Nyonya. Saya tadi sudah meminta tolong untuk mengatur semuanya agar bisa langsung dipakai. Apa ada yang Anda butuhkan lagi?" Sang supir berniat untuk menunggu di depan karena tidak ingin mengganggu pasangan suami istri tersebut yang kini sudah jauh lebih baik komunikasinya begitu mendapatkan kemalangan.


Ia berpikir bahwa semua kemalangan yang terjadi selalu ada hikmahnya dan seperti sekarang yang terlihat, tidak ada lagi suara teriakan dari pria itu pada istri sendiri yang biasa selalu dimarahi jika berada di rumah.


"Tidak ada. Bapak sekarang kembali saja dan terima kasih." Ia pun gini langsung memeriksa ponsel tersebut dan memasukkan SIM card agar bisa segera menghubungi seseorang yang ingin Ia ketahui bagaimana keadaannya.


Aldiano hanya diam menatap ke arah wanita itu dan membuatnya berpikir jika Putri ingin menghubungi Arya. Namun, ia salah sangka begitu mendengar wanita itu mulai memanggil saudara tirinya.


Putri sengaja berjalan agak menjauh dari Aldiano karena ingin berbicara dengan Amira Tan. Ia baru bisa menghubungi karena memang keadaannya seperti ini.


"Bagaimana keadaan Jack? Apa suamimu sudah sadar?" Putri yang sangat ingin mengetahui keadaan dari suami saudara tirinya, malah mendapatkan pertanyaan balik dan membuatnya memijat pelipis.


"Aku mendengar kabar jika suamimu mengalami kecelakaan. Lalu, bagaimana kabarnya sekarang? Apa semuanya baik-baik saja? Aku bahkan juga melihat konferensi pers mertuamu. Oh ya, aku harus mengatakan ini atau tidak karena waktunya memang tidak tepat. Selamat atas kehamilanmu yang sebentar lagi akan melahirkan penerus keluarga Priambodo."


Amira Tan yang saat ini berada di luar ruangan perawatan karena memang tidak ingin suara mengganggu waktu istirahat Jack yang sudah sadar dan membuatnya belum banyak berbicara dengan pria itu.


Hingga ia mengetahui kabar dari media sosial jika Putri mengalami kemalangan dan saat menelpon untuk bertanya, nomor saudara tirinya tersebut tidak bisa dihubungi.


Sekarang merasa lega karena Putri menghubunginya. Hingga ia sangat bersyukur karena mendengar jika suami dari saudara tirinya tersebut baik-baik saja.


Putri yang sudah menceritakan semua hal mengenai Aldiano, kini ingin Amira Tan mengatakan tentang keadaan dari Jack. "Aku sudah menjelaskan semuanya, sekarang katakan padaku bagaimana keadaan Jack."


Amira Tan yang saat ini mengingat pembicaraannya dengan Jack ketika baru sadar pagi ini. Ia ingin marah pada pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut, tapi tidak bisa melakukan apapun karena tidak tega melihat wajah pucat Jack saat tersadar dari maut.


"Aku sangat marah padanya karena mengetahui jika dialah penyebab aku berpisah dengan Rey, tapi kenyataannya aku tidak bisa marah-marah seperti dulu yang selalu saja mengumpat apapun yang dia lakukan padaku," ucapnya yang saat ini menatap kosong ke arah lorong rumah sakit yang sepi.

__ADS_1


Ia saat ini berada di lantai paling atas rumah sakit dan merupakan tempat pasien VIP yang pastinya sangat nyaman dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk orang lain seperti yang ada di kelas 3.


Putri bisa memahami perasaan dari saudara tirinya yang pastinya sangat syok sekaligus tidak tega untuk marah pada suami yang bahkan baru saja bangkit dari kematian.


"Lebih baik kamu melupakan masalah yang berhubungan dengan masa lalu karena sekarang yang terpenting adalah kamu sudah hidup bahagia bersamanya dengan memiliki seorang anak yang cantik. Kita hidup di masa depan dan jangan menoleh lagi ke belakang untuk menangisi masa lalu," ucap Putri yang teringat pada pertanyaan Aldiano apakah ia akan kembali pada Arya atau tidak.


Ya, memang masih ada sedikit perasaan pada mantan suaminya itu ketika bertemu dan berinteraksi, tapi sama sekali tidak ada niat untuk kembali.


Semua luka yang ditanggung sendiri tanpa ada yang menghiburnya, membuatnya menjadi seorang wanita yang kuat dan tidak ingin menoleh ke masa lalu. Jadi, menasehati saudaranya agar tetap berada pada masa depan yang membentang jauh dan tidak perlu menoleh lagi pada masa lalu yang harusnya hanya menjadi kenangan.


"Ya, aku pun juga berpikir demikian karena saat ini tidak bisa bersikap egois seperti dulu lagi. Ada putri kami yang pastinya akan menjadi korban jika kami berpisah. Aku dan kamu sudah tahu seperti apa rasanya orang tua yang tidak lengkap, jadi aku ingin putriku tidak merasakan apa yang kurasakan dulu."


Amira Tan yang saat ini mengingat masa lalu keluarganya sangat kelam karena perbuatan sang ayah yang berselingkuh dengan ibunya putri dan akhirnya meninggalkan luka mendalam bagi sang ibu sampai sekarang dan juga dirinya sendiri.


Ia bahkan berjanji pada diri sendiri untuk mengutamakan anak daripada masalah pribadi, sehingga saat ini tidak bisa marah pada Jack yang membuatnya merasa seperti seorang istri yang baik.


"Kamu sekarang fokus aja pada masalah rumah tanggamu dan tidak perlu mengkhawatirkan kami karena baik-baik saja. Aku turut prihatin atas apa yang menimpa keluarga kalian dan semoga masalah segera selesai," ucap Amira Tan yang saat ini ingin kembali ke ruangan sang suami untuk memeriksa apakah sudah bangun atau belum.


Sementara itu, Putri saat ini mengiyakan apa yang dikatakan oleh saudara tirinya tersebut. "Ya, terima kasih semuanya dan jangan lupa kau selalu jaga kesehatan karena menjaga suami sakit membutuhkan stamina yang kuat."


"Ya, kamu juga, Putri," ucap Amira Tan yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon.


Sementara itu di sisi lain, Putri yang baru saja menaruh ponsel miliknya di atas meja, mendengar pintu yang diketuk dari luar dan beberapa saat kemudian terlihat pria paruh baya yang sangat ia nantikan kehadirannya.


"Pa?"


"Iya, Putri. Kamu pasti lelah menjaga putraku." Bambang Priambodo saat ini menepuk pundak menantunya untuk memberikan suntikan semangat.


Ia pun beralih perjalanan mendekati putranya dan seketika memeluk dan menepuk bahu kokoh itu. "Akhirnya kamu sadar juga dan kembali, Putraku."


Aldiano yang saat ini membalas pelukan dari sang ayah, menahan bola matanya yang berkaca-kaca agar tidak lolos dan membasahi wajahnya.


Ia ingin sekali segera menceritakan tentang apa yang terjadi padanya, tapi tidak ingin membuat pria itu shock ketika mengungkapkan kebahagiaan setelah melihatnya kembali sadar.


"Iya, Pa. Tuhan tidak menerimaku. Aku dikembalikan ke dunia agar mempertanggungjawabkan perbuatanku terlebih dahulu," ucap Aldiano yang saat ini merasa terharu dengan kasih sayang dari sang ayah karena menangis tersedu-seduh seperti anak kecil ketika memeluknya dengan.


"Yang paling penting sekarang adalah kamu masih bernapas dan Papa bisa melihatmu, Aldiano. Kamu akan kembali seperti biasa setelah bertobat di jalan Tuhan." Ia pun saat ini merasa aneh karena putranya terlihat murung.


"Kenapa murung seperti ini? Seharusnya kamu bahagia karena sudah kembali dan kita bisa berkumpul sebagai keluarga yang lengkap." Ia saat ini duduk di samping kiri putranya.


Hingga tangannya kini memijat salah satu kaki putranya dan beberapa kali mengucapnya. "Kamu harus membantu papa mengurus perusahaan setelah sembuh nanti."


"Papa Papa sudah memutuskan untuk menjadikanmu pewaris utama yang mewarisi semuanya nanti. Jadi, sekarang fokus aja pada kesembuhan dan setelah itu kembalilah ke perusahaan untuk memimpinnya Karena papa seharusnya sudah pensiun."


Bambang Priambodo yang saat ini masih memijat kaki putranya, mengurutkan kening ketika Aldiano terus menatap ke arah kaki. "Kenapa? Apa pijatan papa sakit?"


Aldiano seketika menggelengkan kepala karena tidak membenarkan pertanyaan sang ayah. "Justru sekarang aku tidak merasakan apa-apa, Pa. Meskipun Papa memukulku dengan sekuat tenaga, aku tidak merasakan sakit."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2