
Tubuh Amira Tan seketika menegang ketika Noah melakukan sesuatu yang tidak pernah diduganya. Ia adalah seorang perawan yang belum pernah disentuh oleh lawan jenis meskipun usia sudah tidak lagi muda.
'Aku ingin pria ini berhenti, tapi semua yang ia lakukan membuatku melayang ke angkasa dan terbatas, seolah tidak memiliki beban apapun. Apa yang sebenarnya kulakukan? Aku benar-benar sangat gila karena sangat menikmati sebuah perbuatan pria yang merupakan bartender dan baru saja kutemui.'
'Apa yang harus kulakukan?' gumam Amira Tan yang merintih dan mendesah.
Sedangkan Noah saat ini semakin bertambah liar karena mendamba tubuh wanita yang sudah berada dalam kuasanya. Ia aku berjanji tidak akan pernah berhenti saat menikmati sesuatu yang pertama kali membuatnya merasakan sebuah kenikmatan.
Noah melanjutkan kegiatannya karena masih berpikir sedang berada di alam mimpi. Meskipun suara ******* dari wanita yang diketahuinya sangat kasar dan arogan tersebut sudah masuk ke dalam gendang telinga dan membelai urat syarafnya.
Sudut bibirnya melengkung ke atas, menandakan sangat puas ketika wanita yang sibuk dipermainkan olehnya tersebut, sudah menghiasi ruangan karena dengan rintihan yang terdengar sangat seksi di telinganya.
'Wanita ini ternyata sangat seksi saat berada di alam mimpi,' gumam Noah saat berpikir jika sekarang ia menikmati tubuh wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut ketika berada dalam bawah sadar.
Hingga ia mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Amira Tan dan membuatnya bersitatap dengan iris berkilat kecoklatan tersebut.
"Noah aku ingin berhenti dan menghentikanmu, tapi kenapa tidak bisa?" lirih Amira Tan yang semakin menggeliat sebagai bukti merasakan kenikmatan ketika pria yang menolongnya tersebut telah menguasai seluruh puncak gairah yang ia miliki.
Hingga membuatnya sangat lemah dan tidak bisa menolak apapun yang dilakukan oleh pria itu pada tubuhnya.
Ia akui bahwa saat ini, urat saraf yang menegang dan tubuhnya memanas, sehingga menginginkan hal yang lebih dari sebuah belaian.
Bahkan respon tubuhnya seolah memanggil dan berteriak untuk meminta pria itu segera melakukan hal paling penting, yaitu momen penyatuan diri dan berbagi peluh ketika bercinta.
'Aku ingin segera merasakannya, meskipun menyadari sangat gila.' Amira Tan masih tidak bisa berpikir jernih saat dikuasai oleh nafsu dan hasrat.
Satu-satunya yang ingin dilakukan adalah membuatnya merasa seperti wanita dewasa yang jauh dari kata lugu. Ya, Amira Tan dari tadi berpikir bahwa ia hanyalah seorang wanita yang tidak tahu apapun mengenai perihal pria.
Hingga ia mulai mengerti bahwa seorang pria bisa mengirimkan gelombang kenikmatan yang membuat setiap urat syaratnya menegang akibat dengan tubuh memanas dan mendamba.
__ADS_1
Noah yang saat ini tidak berkedip ketika menatap wajah cantik yang sudah berubah merah di hadapannya, masih tidak membuka suara untuk menanggapi. Namun, ia bergerak mengangkat tangan dan menelusuri setiap sudut pahatan sempurna di hadapannya tersebut dengan jemari.
Hingga beberapa saat kemudian, ia membuka mulut untuk berkomentar. "Bahkan saat berada di mimpiku, kamu semakin terlihat cantik."
"Namun, saat di alam nyata, kamu sangat kasar dan arogan. Mungkin semua pria merasa ilfil padamu, tapi saat ini aku sangat tergila-gila dan ingin segera menyalurkan hasrat."
Amira Tan seketika merasa kesal ketika disebut sebagai seorang wanita yang kasar dan arogan, sehingga ia refleks langsung mengarahkan tangannya pada dada bidang di hadapannya.
"Dasar pria berengsek! Menjauh dari tubuhku!" teriak Amira Tan yang saat ini merasa sangat marah ketika disebut seperti seorang wanita yang tidak bisa membuat seorang lawan jenis tertarik karena sikapnya yang kasar.
Ia benar-benar sangat marah pada diri sendiri karena sempat terbuai oleh perbuatan dari pria itu.
Pria yang beberapa saat lalu demam tinggi dan sampai saat ini juga masih belum turun ketika ia mendorong dada bidang, serta lengan kekar itu.
Seketika Noah merasa sangat terkejut ketika melihat sosok wanita yang berada di atas ranjangnya tersebut membuatnya terjungkal ke sebelah kiri.
Kemudian, ia beralih melihat ke arah sosok wanita yang saat ini sudah turun dari ranjang dengan terburu-buru dan merapikan pakaian yang berantakan karena perbuatannya.
"Apakah ini bukan mimpi?"
Amira Tan yang merasa sangat konyol karena berpikir jika pria yang baru saja mengirimkan gelombang kenikmatan padanya tersebut sadar saat melakukan hal tersebut.
Namun, begitu mendengar jika pria itu berpikir bahwa saat ini berada di alam mimpi, tentu saja membuatnya tertawa miris atas apa yang terjadi padanya.
Bahkan ia sudah tertawa terbahak-bahak ketika merasakan jika apa yang dipikirkan tidak seperti pria di atas ranjang tersebut.
"Jadi, kamu dari tadi berpikir bahwa apa yang terjadi di antara kita hanyalah sebuah mimpi konyol?"
Noah seketika bangkit dari posisinya. Ia dari tadi berbaring di atas ranjang saat terhempas karena perbuatan wanita yang menatap matanya dengan tajam.
__ADS_1
Hingga akhirnya suara yang awalnya tercekat di tenggorokan, kini lolos dari bibirnya. "Jadi, aku benar-benar tidak sedang bermimpi?"
Tidak ada jawaban dari pertanyaannya dan membuat Noah kembali berbicara. "Bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu bisa ada di ranjangku?"
"Kenapa kita bisa berbuat hal tidak masuk di akal seperti ini?" Noah masih merasakan pusing berkepanjangan dan terlihat memijat pelipisnya.
Bahkan ia masih bisa merasakan bahwa suhu tubuhnya belum turun. "Aku demam dan sepertinya telah berbuat di luar nalar tanpa sadar."
Amira Tan masih tertawa miris begitu mendengar kalimat terakhir dari pria yang saat ini bertambah semakin pucat. Ia tahu jika pria di hadapannya tersebut belum turun dari demamnya.
Ia sebenarnya merasa tidak tega ketika marah dan murka, tapi sangat kesal begitu mengetahui bahwa Noah berpikir jika hal ini yang mereka lakukan hanyalah sebuah mimpi.
Seolah hanya ia yang menikmati dengan sadar dan tidak bisa menolak gelombang gairah yang dikirimkan oleh Noah.
'Aku bahkan terlihat seperti seorang wanita murahan karena menikmati setiap perbuatan dari pria yang sedang demam ini.'
Lamunan Amira Tan seketika buyar begitu mendengar suara dering ponsel yang berada di dalam tas selempang miliknya.
Ia pun langsung membungkuk untuk mengambil ponsel yang berada di dalam.
Amira Tan melihat siapa yang menghubungi dan tidak berniat mengangkat panggilan begitu melihat bahwa Jack yang menelpon.
Namun, ia melihat notifikasi dan membuat tubuhnya meremang seketika. Hingga suara pintu yang digedor kasar, serta suara bariton membuat perhatiannya teralihkan.
"Cepat keluar, berengsek!" teriak Jack dari luar rumah dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah.
To be continued...
To be continued...
__ADS_1