Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mengobati luka sendirian


__ADS_3

Saat ini, Jack merasa sangat kecewa begitu mendengar jawaban dari Amira Tan yang sama sekali tidak membantah tuduhan darinya. Apalagi saat ini berpikir bahwa wanita yang telah duduk di hadapannya tersebut benar-benar sangat kacau.


Bagaimana tidak, saat ini rambut Amira Tan terlihat berantakan dan pakaian pun terbuka dua bagian kancing teratas dan itu jelas membuktikan bahwa beberapa saat lalu tengah berbuat hal yang paling ditakutkan.


"Aku tidak bermaksud untuk menghinamu saat bertanya, Amira. Hanya saja, ingin tahu apakah benar yang kupikirkan karena masih mempercayaimu. Berharap kamu tidak seperti yang kutuduhkan. Kenapa kamu sama sekali tidak menjaga perasaanku ketika menjawab? Tidak bisakah kamu mengelak dengan berbohong?"


Tatapan Jack yang saat ini terlihat sangat mengiba dan seperti pengemis cinta karena selalu gagal untuk menyembunyikan kekecewaan pada wanita itu.


Hingga selalu disakiti untuk kesekian kali dan terluka, tapi tak berdarah. Harus selalu tertatih-tatih sendiri saat mencoba untuk mengobati luka di hati yang dikirimkan oleh sosok wanita cantik di hadapannya terlihat sangat datar.


Seolah tidak ada perikemanusiaan dalam tatapan itu. Bahkan terlihat jelas tidak perduli dengan kehancuran yang dirasakan.


Amira Tan yang beberapa saat lalu merasa sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari Jack saat baru keluar dari kamar mandi dan belum sempat merapikan penampilan yang berantakan karena ulah Noah.


Sebenarnya ia merasa sangat malu begitu melihat Jack saat dalam keadaan mengenaskan. Bahkan merasa nasibnya selalu sial karena ketahuan oleh pria yang sampai sekarang diketahui tidak mempunyai kekasih.


Kini, ia menatap ke arah sosok pria yang berdiri menjulang dengan terhalang jarak meja pembatas.


"Apakah kamu ingin aku bersikap munafik padamu, Jack? Kamu tahu bahwa aku tidak pernah bisa melakukan itu. Bagaimana aku bisa berbohong saat semua yang kamu tuduhkan memang benar terjadi."


"Ya, aku baru saja bercinta dengan Noah di ruangan ini. Kenapa melakukannya dan tidak menolak, aku pun tidak tahu. Jika kamu datang hanya sekedar berkunjung, lebih baik pergilah karena aku tidak punya waktu untuk meladeni."


Saat Amira Tan tidak ingin dilihat oleh siapapun ketika dalam keadaan mengenaskan, tetapi kali ini gagal setelah ada Jack yang telah melihat semuanya. Bahkan kali ini berpikir jika pria yang berbicara dengan wajah murung tersebut juga bernasib sial.


Melihat wanita yang dicintai dan masih diharapkan ternyata sudah bercinta dengan wanita lain, jauh lebih menyakitkan dari apapun.

__ADS_1


Namun, Amira Tan tidak bisa berbuat apapun selain mengusir pria itu dari ruangan kerja demi kebaikan. Bahkan diri sendiri masih belum bisa menata hati akibat perbuatan Noah yang tiba-tiba berubah sangat arogan.


'Aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran dan perasaan, agar bisa kembali fokus bekerja karena ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini.'


Amira Tan yang saat ini menatap tumpukan dokumen di atas meja, kini merasa bahwa itu merupakan sebuah beban berat untuknya.


Jika dulu selalu bersemangat dengan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi kali ini seolah melihat dokumen di atas meja tersebut adalah sebuah batu besar yang siap menghantam kapan saja.


'Kenapa hari ini aku sangat malas untuk bekerja. Ini semua gara-gara Noah yang tiba-tiba menyerangku dan rasanya tulang-tulangku seperti mau terlepas dari tempatnya,' lirih Amira Tan yang mengingat percintaan panas tadi dan membuatnya berkali-kali merasakan puncak kenikmatan.


Bahkan seolah Noah tidak membiarkannya untuk diam karena sibuk mendesah meluapkan setiap kenikmatan yang dikirimkan pria itu.


Pria yang telah merubahnya menjadi lemah dan tidak bisa menolak setiap sentuhan pria itu kala menggoda dengan menyerang titik-titik sensitif.


Melihat Amira Tan yang sedang melamun membuat Jack makin frustasi. Apalagi saat ingin penghiburan diri dari wanita yang seperti telah mengunci pintu hatinya itu telah menghilangkan kunci, sehingga tidak bisa keluar dari sana.


Meskipun mengetahui hal itu, Jack berpikir jika saat ini Amira Tan tidak mau membebaskan dari penjara penderitaan. Jack terlihat mengacak frustasi rambut dan berpikir jika saat ini tidak bisa menahan puncak kesedihan yang dirasakan.


Ingin sekali melakukan hal sama seperti Noah tanpa memikirkan apapun agar bisa memberikan Amira Tan sesuatu yang dari dulu ditahan. Bagaimana ia selama ini menjaga Amira Tan dengan sebaik mungkin seperti porselen mahal, agar tidak tergores dan terluka.


Namun, perbuatannya itu malah hanya memberikan kesempatan pada pria lain dan sangat disesalinya. Seandainya dari dulu melakukan hal sama seperti Noah, mungkin akan memiliki harapan dan Amira Tan takluk padanya.


Namun, semua itu hanyalah impian semu yang tidak akan pernah terwujud dan membuat ia benar-benar sangat frustasi atas semua yang terjadi di antara mereka.


Kini, Jack memilih untuk menormalkan perasaan membuncah yang dikuasai oleh emosi karena memang tidak bisa pergi. Apalagi ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

__ADS_1


"Meskipun kamu tidak mau melihatku, aku tidak bisa pergi karena saat ini harus melaksanakan perintah dari klien. Kamu tahu aku adalah pengacara keluarga Mahesa, bukan?"


Amira Tan baru saja selesai memperbaiki riasan agar tidak terlihat pucat dengan mengaplikasikan bedak tipis dan juga lipstik. Tidak ingin terlihat mengenaskan karena berantakan, kini Amira Tan kembali memasukkan bedak dan lipstik ke dalam laci.


Memang selama ini meninggalkan alat make up di kantor agar tidak memenuhi tas. Dituntut terlihat sempurna dari segala aspek, ia selalu menunjukkan sisi terbaik darinya.


Begitu memahami apa yang dikatakan oleh Jack, terpaksa harus menghilangkan perasaan tidak enak ketika berinteraksi sebagai sesama rekan pengacara.


Apalagi ia saat ini sangat tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Jack, sehingga memberikan kode agar duduk di kursi yang ada di hadapan.


"Baiklah. Aku tidak mungkin bisa menolak jika itu berhubungan dengan pekerjaan. Sekarang katakan saja apa maksudmu!" Amira Tan kini masih mengarahkan tatapan intens pada pria di hadapan.


Melihat jika pria itu sudah tidak lagi semerah tadi wajahnya ketika dikuasai oleh kemurkaan. Tentu saja ia selalu bersikap profesional dan tidak membawa urusan pribadi saat bekerja.


Di sisi lain, Jack seperti tidak punya kuasa untuk bersikap selayaknya tidak pernah mengetahui apapun. Namun, karena mengetahui jika tidak profesional saat bekerja, maka Amira Tan tidak akan menanggapi.


Sebelum berbicara, Jack kini mencoba untuk menenangkan perasaan dengan embusan napas kasar. Begitu mengetahui jika Amira Tan sudah kembali ke mode serius saat bekerja, mau tidak mau Jack harus mengikuti.


Dengan berdehem sejenak, Jack kemudian mulai menjelaskan hal yang diperintahkan oleh Ari Mahesa.


Bahwa pria yang merupakan ayah dari Arya Mahesa itu ingin segera mengurus perceraian putranya dengan Putri secara sah. Dengan harapan tidak akan menjadi masalah suatu hari nanti.


"Sepertinya aku benar-benar harus mengobati lukaku sendirian karena perbuatanmu." Kemudian mengembuskan napas kasar karena saat ini tengah berusaha sendirian untuk menyembuhkan luka menganga di hati.


Amira Tan saat ini hanya diam tanpa berniat untuk membuka mulut karena menyadari jika sekali membuka suara, akan menyakiti hati pria itu. Jadi, lebih menunggu Jack melanjutkan untuk menjelaskan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2