
Arya baru saja pulang dari apartemen Calista dan baru saja memasuki pintu utama rumah mewah keluarga, langsung disambut oleh sosok wanita yang tak lain adalah sang ibu tengah merentangkan kedua tangan untuk menghadang.
Bahkan tatapan tajam menusuk tengah diarahkan oleh sang ibu saat ini. Tentunya Arya sudah terbiasa menghadapi itu karena semenjak pulang ke rumah dan tidak tinggal bersama Putri lagi, mendapatkan sikap over protektif dari wanita paruh baya yang selamat dari kematian tersebut.
"Kamu dari mana saja, Arya? Kenapa pulang pagi? Apa semalaman kamu tidur di tempat Putri? Jika kamu kembali pada wanita yang telah menipumu itu, lebih baik keluar selamanya dari rumah ini! Mama dan papa sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menyadarkanmu!"
Rani yang semalaman khawatir jika putranya yang tidak kunjung pulang tinggal lagi bersama wanita yang sangat dibenci, kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
Bahkan wajah memerah karena tidak lagi bisa bersabar menghadapi sikap Arya yang seperti masih belum bisa melupakan wanita itu, meskipun sudah membuat konspirasi besar.
"Kenapa diam saja? Cepat jawab Mama!" teriak Rani yang sudah kehilangan kesabaran karena saat mengomel malah tidak ditanggapi oleh putra kesayangan tersebut.
Seolah sikap diam Arya membenarkan tuduhan yang dilayangkan. Merasa geram karena melihat Arya hanya memijat pelipis, Rani refleks mengarahkan beberapa pukulan pada lengan.
"Apa belum cukup Mama mengalami koma? Apa perlu Mama mati dulu, baru kamu akan menyesal?" Saat Rani masih mengarahkan pukulan, merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan putranya.
Tidak ingin indra pendengaran menangkap suara yang menyakiti indra pendengaran, kini Arya memilih untuk langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu.
Bahkan usahanya berhasil karena sang ibu sudah tidak lagi melanjutkan pukulan. Begitu merasa jika wanita yang sangat disayangi tersebut sudah lebih tenang, baru Arya membuka suara di dekat daun telinga.
"Aku dan Calista memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan, Ma. Aku memang masih belum bisa sepenuhnya melupakan Putri, tapi ingin berusaha melupakan wanita itu dengan membuka hati. Aku harap Mama mengerti dan memberiku waktu."
Arya merasa seperti sesak napas setelah mengungkapkan hal itu karena jujur saja, meskipun telah melakukan hubungan badan dengan Calista, perasaan untuk Putri tidak bisa mati.
Wajah wanita itu selalu terbayang dan saat berada dalam mobil tadi ketika pulang dari apartemen Putri, ada rasa bersalah menyeruak dalam hati dan berpikir menjadi pria jahat.
__ADS_1
Jadi, tadi mencoba untuk menelpon Putri ketika masih mengemudi. Berniat untuk menanyakan, kapan dokter mengizinkan pulang. Sebenarnya itu hanyalah alasan semata dan bukan berencana untuk mengantar.
Meskipun sangat ingin menjemput dan mengantarkan Putri pulang dari rumah sakit, tapi tidak melakukan itu karena akan menyuruh orang.
Selain karena tidak ingin semakin susah melupakan wanita yang telah mengkhianati kepercayaan, Arya juga sudah berjanji untuk membuka hati pada Calista.
Berpikir tidak ingin menyakiti hati banyak wanita, ia memilih Putri merasakan hal sama seperti yang saat ini dirasakan.
Namun, panggilannya sama sekali tidak diangkat dan berpikir jika wanita itu tengah marah. Meskipun pusing memikirkan itu, ia berusaha seperti tidak stres dan bersikap biasa
Namun, baru saja membuka pintu, melihat sang ibu marah dengan menuduh hal yang tidak dilakukan, semakin membuatnya stres.
Hal itulah yang akhirnya membuat Arya memilih untuk mengungkapkan hal berhubungan dengan Calista.
Wanita yang sangat disukai oleh orang tuanya dan berniat untuk menjodohkan, tetapi khawatir jika marah.
Semua diluar ekspektasi Arya dan tidak pernah menyangka jika akan memperkosa Calista karena mabuk dan berakhir membuka hati untuk menjalin hubungan lebih dari teman.
Arya akui bahwa Calista adalah wanita yang sangat cantik, tetapi tidak membuat perasaan tertarik karena cinta hanya pada Putri. Wanita pertama yang dulu membuat rasa penasaran dan ingin selalu memiliki.
Embusan napas berat kini lolos dari bibir Arya begitu melihat ekspresi wajah dari sang ibu ketika menarik diri.
"Benarkah? Kalian sekarang menjalin hubungan? Apa Mama tidak salah dengar tentang hal ini? Kamu tidak sedang mengarang cerita karena takut pada amarah Mama, kan?" Rani beberapa kali sempat mengerjapkan kedua mata karena merasa shock dengan pengakuan Arya barusan.
Rasa bahagia sekaligus tidak percaya masih mengiringi perasaan saat ini. Sampai tidak lagi bisa berpikir jernih untuk bersikap di depan putra satu-satunya tersebut.
__ADS_1
Sampai jawaban Arya laksana tetesan embun di Padang pasir dan berhasil membuatnya mengulas senyuman lebar penuh rasa senang.
"Mama tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku memang berusaha untuk membuka hati pada Calista karena ingin melupakan Putri—wanita yang tidak pantas untuk dicintai karena telah melakukan sebuah kebohongan besar."
Arya kini menatap ke arah sang ibu yang jelas terlihat sangat bahagia. "Jadi, jangan pernah meragukanku lagi, Ma. Biarkan aku menentukan arah tujuanku sendiri mulai sekarang."
"Percayalah padaku, aku tidak akan pernah kembali pada wanita itu lagi. Aku lelah, ingin beristirahat sejenak sebelum berangkat ke kantor."
Puas dan merasa semua usaha untuk membuat konspirasi sukses, kini Rani yang masih berbinar wajahnya, mulai mengusap lembut lengan kekar pria tampan yang telah kembali di jalan keluarga Mahesa tersebut.
"Ya, beristirahatlah sekarang. Mulai sekarang, Mama dan papa sudah tidak akan lagi mengganggu atau pun mengurusi urusan pribadimu. Mama sangat senang karena putraku telah kembali pulang. Nanti Mama akan mengatakan kabar gembira ini pada papamu, agar mempercepat proses pengangkatanmu sebagai CEO di perusahaan."
Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Rani yang tidak berhenti mengulas senyuman karena bahagia, kini berjalan menaiki anak tangga untuk segera pergi menemui sang suami dan mengabarkan hal baik setelah banyak masalah menimpa keluarga Mahesa.
Merasa jika sang suami sudah sepantasnya pensiun dan mempercayakan semua pada Arya karena yang telah dewasa dan bisa mengambil keputusan penting yang benar.
Sementara itu, Arya yang melihat jika sikap berlebihan dari sang ibu, masih berdiri diam di tempat. Begitu bayangan wanita paruh baya itu menghilang, tidak bisa menyembunyikan raut wajah murung.
"Aku harus mengorbankan Putri demi melihat senyuman di wajah mama. Inilah jalan terbaik dan wanita pengkhianat itu pantas mendapatkan itu. Aku hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menceraikannya karena butuh waktu."
Tidak ingin dikuasai olah kesedihan, Arya memilih untuk menaiki anak tangga menuju ke ruangan kamar. Bukan untuk beristirahat seperti yang tadi dikatakan pada sang ibu, tetapi langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri di bawah guyuran air dingin.
Merasa ingin mendinginkan otak dan tubuh yang sama-sama panas, ia tidak ingin mandi air hangat. Sebenarnya tadi di apartemen, Calista menggoda untuk mandi bersama, tapi menolak karena beralasan harus segera pulang karena sang ibu akan murka.
Bahkan ia sekarang masih mengingat perkataan dari Calista yang penuh percaya diri.
__ADS_1
Tidak apa-apa, katakan saja bahwa kamu semalam menginap di apartemenku. Aku yakin jika tante akan langsung menikahkan kita hari ini.
To be continued...