
"Angkat! Ke mana Bagus sebenarnya? Mana waktu tinggal sepuluh menit lagi." Dengan gelisah dan wajah pucat, Amira Tan menunggu sambil keluar dari mobil setelah Noah memarkirkan di tempat yang cukup luas, yaitu di bagian samping kanan.
Sampai Amira Tan yang kini tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling area terminal, berharap bisa melihat seorang pria dengan menggendong anak.
Namun, tidak menemukan, hingga panggilan diangkat dan berhasil membuat Amira Tan lega. Meskipun belum mengetahui apakah Bagus masih berada di terminal atau tidak.
"Halo, Putri?" ucap Bagus dari seberang telpon.
"Di mana kamu sekarang?" tanya Ana dengan kesal dan raut wajah masam.
"Amira? Kenapa ...." Bagus di seberang telpon tidak bisa melanjutkan pertanyaan yang mengungkapkan nada heran.
"Cepat jawab aku, kamu berada di mana?" teriak Amira Tan yang merasa sangat emosi dan tidak sabar.
Sementara Noah yang baru saja keluar dari mobil, melihat frustasi sikap Amira Tan yang seperti sangat marah. 'Lihatlah wanita itu. Bahkan menunjukkan patah hati dengan marah-marah.'
"Aku ada di terminal. Sepertinya kamu sudah tahu dari Putri. Apa kamu menyusul untuk melihatku?" Bagus yang berada di dalam bus bersama Putra yang tertidur pulas, kini memberikan kode pada penumpang sebelah, agar menjaga sebentar karena ingin turun.
Begitu penumpang wanita itu menganggukkan kepala, baru Bagus turun karena sebentar lagi bus akan berangkat. Terpaksa harus berpamitan karena merasa yakin jika Amira Tan sudah berada di terminal.
"Aku ada di terminal area lima. Kamu di mana?" Bagus mengerutkan kening karena sambungan telpon terputus.
Kemudian memilih untuk memasukkan ponsel ke dalam saku celana karena ingin mencari keberadaan wanita cantik arogan yang sangat hebat tersebut. Sampai suara teriakan memanggil nama tertangkap indra pendengaran.
"Hei, pria berengsek!"
Bagus mencari ke arah sumber suara dan melihat sosok wanita dengan pakaian tanpa lengan dan rok mini tengah berlari mendekat.
__ADS_1
"Amira Tan? Kenapa berpakaian seperti itu? Dia seperti orang lain saja," ucap Bagus yang merasa sangat terkejut karena tiba-tiba tamparan mendarat di pipi.
"Kamu benar-benar pria berengsek!" sarkas Amira Tan yang kini merasa marah karena pria tersebut tidak bisa diharapkan lagi karena akan pergi.
Namun, belum mengatakan sesuatu, Amira Tan menyesal karena telah menampar pipi Bagus dan memilih untuk langsung menghambur memeluk erat tubuh pria yang jauh lebih tinggi itu.
Bahkan bola mata berkaca-kaca kini sudah tidak bisa dibendung lagi keluar membanjiri pipi putih Amira Tan.
"Kenapa kau tidak berpamitan padaku sebelum pergi? Apa aku sama sekali tidak berarti apa-apa bagimu? Jika kau pergi tanpa berkata apapun, mana mungkin aku bisa melupakanmu dan melanjutkan hidup?"
Suara serak dan tubuh bergetar seolah sangat mewakili perasaan Amira Tan yang hancur karena akan berpisah dengan pria pujaan hati.
Sementara itu, Bagus yang dikejutkan atas tamparan dari Amira Tan dan kemudian pelukan erat dari wanita dengan menangis tersedu-sedu tersebut, kini merasa sangat bingung harus bagaimana.
Bahkan tangannya masih belum membalas pelukan Amira Tan karena merasa bersalah jika melakukan itu.
"Inilah yang tidak aku inginkan, Amira Tan. Melihatmu menangis seperti ini terasa menambah beban dan dosaku karena menyakiti hati wanita hebat sepertimu. Aku ingin kamu menjalani hidup seperti biasa. Seolah kamu tidak pernah bertemu dengan pria bodoh dan miskin ini."
"Kau salah. Jika kau berpamitan baik-baik padaku, mungkin akan berdamai dengan hatiku dengan melupakan pernah mengenal pria bernama Bagus Setiawan. Namun, jika seperti ini, aku akan semakin terluka karena ditinggalkan tanpa pamit."
Amira Tan tidak memperdulikan apapun saat memeluk erat tubuh tinggi tegap pria yang telah berhasil mengirimkan gelombang cinta di hati.
"Kamu memang wanita yang sangat berbeda dan lain, Amira Tan. Sekarang kita sudah bertemu, bukan. Kalau begitu, aku akan berpamitan karena bus akan berangkat. Aku harus pergi." Bagus memilih untuk melepaskan kuasa Amira Tan dan menarik diri, sehingga kini bisa dengan jelas menatap Amira Tan.
"Maaf karena selama ini hanya meninggalkan luka di hatimu. Aku harap kamu bisa hidup berbahagia." Bagus memilih untuk melepaskan jaket yang dikenakan dan memakaikan pada wanita dengan pakaian sangat seksi tersebut.
"Kenapa kamu memakai pakaian terbuka seperti ini? Ini bukan seperti Amira Tan yang kukenal karena di mataku, selalu memakai setelan berwarna gelap dan terlihat sangat elegan serta memesona."
__ADS_1
Amira Tan yang merasakan kulit beradu dengan angin pagi hari yang seolah menembus tulang-tulang, kini seketika merasakan kehangatan karena memakai jaket Bagus dan aroma tubuh pria itu seolah menusuk indra penciuman.
"Aku semalam ke Club dan bersenang-senang untuk melupakanmu."
"Apakah berhasil? Lakukan apapun untuk melupakanku, tapi jaga dirimu dari pria jahat, Amira Tan." Bagus yang kini mengarahkan tangan pada kedua sisi lengan wanita di hadapan, ingin memberikan pesan.
Namun, mengerutkan kening begitu melihat seorang pria yang masih diingat adalah yang menolong Amira Tan., akhirnya merasa lega dan tersenyum simpul. Kemudian mengalihkan perhatian pada wajah cantik wanita yang merupakan pengacara hebat itu.
"Aku yakin, akan ada seorang pria yang sangat mencintaimu dan jika kamu bingung memilih, ikuti kata hatimu." Bagus kemudian mengusap lembut lengan Amira Tan.
"Bagiku, kamu selamanya akan menjadi saudara iparku yang hebat dan tidak akan pernah tergantikan. Berbahagialah, Amira Tan."
Bagus mendengar suara dari petugas yang mengatakan bus akan berangkat, kini buru-buru berjalan masuk dan tidak menoleh ke belakang lagi.
Sementara Amira Tan kini kembali berurai air mata dan langsung menganak sungai di wajah. "Bagus, kenapa kau sangat jahat padaku? Bahkan saat berpamitan pun, kau sama sekali tidak melihatku."
Tubuh Amira Tan bergetar hebat saat menangis tersedu-sedu dan melihat pria yang sudah masuk ke dalam bus. Sampai merasakan tangan dengan buku-buku kuat melingkar di pundak dan membuat Amira Tan menoleh.
Saat melihat Noah yang memeluk, tiba-tiba Amira Tan mengulurkan tangan untuk meminta sesuatu. "Mana dompetmu?"
Noah menyipitkan mata karena tidak paham dengan permintaan Amira Tan, tetapi menuruti perintah dengan mengambil dari saku celana belakang dan memberikan pada Amira Tan.
Begitu dompet Noah diterima, Amira Tan langsung membuka. "Apa cuma segini uangmu?"
"Ya Memangnya kenapa? Tadi sebagian sudah untuk membayar biaya klinik." Noah merasa ada yang tidak beres dan benar saja, langsung membulatkan mata begitu melihat Amira Tan mengambil semua.
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Tanpa berniat untuk menjelaskan pada Noah, Amira Tan sudah berlari memutar ke arah bus dan masuk setelah meminta petugas membuka pintu.
To be continued...