
Ari Mahesa dan sang istri telah tiba di rumah sakit dan langsung berjalan menuju ke ruangan operasi karena tadi putra mengatakan jika tim dokter langsung melakukan operasi.
Putra Wijaya yang tadi mewakili pihak keluarga untuk menandatangani surat persetujuan dilakukan proses operasi. Jika menunggu pihak keluarga datang, akan terlalu lama dan membahayakan nyawa Arya.
"Apa operasinya sudah dilakukan?" tanya Ari Mahesa pada Putra yang langsung bangkit berdiri dari kursi tunggu begitu melihat kedatangan.
"Iya, Tuan. Sudah sekitar setengah jam lalu. Mungkin akan membutuhkan waktu lama karena bagian kepala dan kaki tuan Arya tadi banyak mengeluarkan darah." Putra sebenarnya tidak ingin menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan Arya.
Akan tetapi, ingin pasangan suami istri tersebut memahami penyebab operasi yang dilakukan dan pastinya membutuhkan waktu cukup lama.
Bahkan membayangkan hal itu saja membuat Rani merasa sangat lemas dan kehilangan keseimbangan, sehingga memilih untuk duduk di kursi karena kedua kaki sudah tidak bisa menopang beban berat tubuh.
"Arya ...." Rani berbicara sangat lirih dengan bola mata kini kembali dipenuhi bulir air mata.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" Ari yang sebenarnya ingin bertanya mengenai kronologi dari kecelakaan yang menimpa Arya pada Putra, mengurungkan niat begitu melihat sang istri yang terduduk lemas di kursi.
"Putra kita, bagaimana jika operasinya gagal?" ucap Rani yang saat ini berbicara dengan suara serak dan bulir air mata menghiasi wajah.
Kembali Ari Mahesa memeluk erat tubuh sang istri untuk menenangkan. Bahkan saat ini merasa iba sekaligus takut jika apa yang dikatakan wanita itu benar terjadi. Tidak tahu apa yang harus dilakukan karena Arya adalah dunia mereka satu-satunya.
"Jangan berbicara hal buruk terus menerus, Sayang. Aku tahu jika kamu sangat terpukul dengan kejadian buruk yang menimpa Arya, tapi jika kamu selalu berbicara hal buruk, bagaimana putra kita bisa bertahan? Bukankah ada yang bilang jika ucapan adalah doa? Jadi, kamu harus berhati-hati dalam berucap."
"Jangan sampai ketakutan sekaligus kekhawatiranmu malah akan menjadi sebuah doa buruk untuk putra kita." Kali ini Ari Mahesa memilih untuk bersikap tegas karena merasa risi dengan pemikiran yang penuh ketakutan itu.
Merasa bersalah dan menyadari akan apa yang terjadi, kini Rani menatap wajah sang suami untuk mengungkapkan sebuah penyesalan.
__ADS_1
"Maafkan aku. Ini tidak akan terulang." Baru saja Rani menutup mulut, merasakan pelukan dari sang suami dan akhirnya memilih untuk mencari ketenangan dari pria yang sangat dicintai tersebut.
Ari Mahesa merasa lega saat sang istri sudah tidak lagi berbicara hal-hal negatif karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk.
Tidak ingin jika wanita yang masih berada dalam pelukan tersebut kembali bersedih, akhirnya Ari Mahesa tidak menanyakan kronologi kecelakaan.
Tiga orang itu menunggu proses operasi yang berlangsung hampir dua jam tersebut dan begitu lampu di atas pintu mati, melihat salah satu dokter keluar dari ruangan tersebut.
Refleks Ari Mahesa dan sang istri bangkit berdiri dan berjalan mendekat untuk bertanya mengenai proses operasi.
"Bagaimana keadaan putra kami, Dokter?" tanya Ari Mahesa yang mewakili sang istri karena mengetahui jika wanita itu masih terpukul dengan kejadian yang menimpa putra mereka.
"Operasi berjalan lancar, tapi karena pendarahan di kepala yang cukup banyak, besar kemungkinan jika pasien mengalami koma?"
Tidak ada hal yang lebih buruk dari hal itu, sehingga saat ini Rani kembali merasa jika dunia telah runtuh karena putra yang sangat disayangi tengah berjuang di ambang kematian.
"Pasien mengalami cedera otak traumatis dari kecelakaan tadi dan ada kemungkinan besar mengalami kematian otak karena cedera otak yang parah akibat benturan sangat keras ketika mobil terbalik . Jika terjadi kematian otak, besar kemungkinan otak tidak akan menunjukkan fungsi-fugsinya."
Dengan gerakan cepat, Rani menggenggam erat tangan dokter tersebut dan memohon dengan sepenuh hati. Berharap usahanya mampu membuat dokter menyembuhkan putra yang sangat disayangi.
"Saya mohon tolong selamatkan putraku, Dokter! Lakukan yang terbaik, agar bisa kembali seperti biasa. Saya mohon." Bulir bening air mata membasahi wajah Rani yang dilanda dengan ketakutan itu.
"Kami sudah melakukan yang terbaik. Kita tinggal menunggu perkembangan dari pasien. Apakah akan ada perkembangan dari pasien atau tidak? Semoga saja pasien melewati masa kritis."
"Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Jika ingin menemuinya, harus giliran dan jangan terlalu banyak orang, agar tidak menggangu. Saya pergi dulu!"
__ADS_1
Pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu berjalan meninggalkan keluarga dari pasien. Begitu sang dokter pergi.
Sementara itu, Putra Wijaya kini tidak tega melihat wajah sembab wanita itu. "Dulu saya pernah mengalami hal ini saat istri mengalami kecelakaan ketika hamil dan membuat dunia seketika runtuh."
"Namun, ada ibu saya yang selalu menasihati, yaitu harus ingat bahwa perkataan adalah sebuah doa. Jadi, berbicaralah yang baik dan yakinlah bahwa Tuhan selalu mendengar doa-doa tulus dari umat yang percaya atas kuasa-Nya."
"Seperti yang tadi dikatakan oleh Tuan Ari Mahesa, itu memang adalah fakta dan lebih baik berdoa pada Tuhan, agar memberikan sebuah keajaiban. Semoga tuan Arya bisa kembali sadar dan sehat seperti sedia kala "
Tentu saja perkataan dari asisten pribadi sang suami, seolah Rani seperti mendapatkan sebuah siraman rohani yang langsung menyejukkan jiwa yang tadi dikuasai oleh keputusasaan.
"Kamu benar. Karena sangat mengkhawatirkan keadaan putriku, aku sampai tidak bisa berpikir jernih, sehingga mengatakan hal-hal buruk. Ibu macam apa aku ini!"
"Sudahlah. Jangan salahkan dirimu lagi. Benar apa yang dikatakan oleh Putra. Bahwa ucapan kita adalah doa. Jadi, kita harus berhati-hati dalam berucap. Kita berdoa saja semoga Tuhan segera menyembuhkan Arya."
Ari Mahesa bahkan kini seperti sedang mengalami dejavu karena saat sang istri kecelakaan dan koma, juga berpikir jika wanita yang berada dalam pelukan akan pergi meninggalkan selamanya.
"Aku dulu juga menunggumu setiap hari saat koma dan gantian dengan Arya. Mungkin sekarang ingin kamu menjaga dan lebih memperhatikan putramu."
Baru saja Ari Mahesa menasihati sang istri, melihat brankar didorong oleh para perawat keluar dari ruangan operasi dan akan dipindahkan ke ruang perawatan dengan banyak alat-alat di tubuh yang menunjang kehidupan.
Karena tadi sang dokter berpesan agar tidak terlalu banyak orang yang berada di ruangan perawatan, jadi yang ada di dalam hanyalah Rani yang pertama menemani putra satu-satunya tersebut.
Rani baru saja masuk ke dalam ruangan perawatan dan langsung berjalan mendekati Arya yang sudah memakai pakaian dari rumah sakit.
Kemudian mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang berada di sebelah ranjang perawatan. Kemudian menggenggam erat telapak tangan Arya.
__ADS_1
To be continued...