Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sama sekali tidak menolak


__ADS_3

Namun, suara bariton Arya membuat Calista mengingat lagi tentang lagu itu.


"Itu adalah lagu kesukaan mama dan sering diputar di rumah. Sepertinya kamu mengatakan itu karena terinspirasi dari itu, ya?" tanya Arya untuk membuat suasana tegang di antara mereka lebih hangat.


"Justru lagu itu terinspirasi dari kisah pribadiku. Mungkin penyanyinya dulu merasakan seperti yang saat ini kurasakan padamu. Mempunyai sebuah harapan besar untuk kembali menjalin hubungan dengan seorang pria setelah patah hati." Calista kini mengarahkan tangan pada pipi putih di rahang tegas Arya.


"Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku jatuh cinta lagi dan tidak ingin terluka untuk kedua kalinya. Sementara kamu pun juga demikian. Jadi, mari kita saling memberi dan menerima untuk menggapai kebahagiaan, tanpa menyakiti satu sama lain."


Arya hanya terdiam ketika tangan dengan jemari lentik itu menelusuri setiap sudut wajah. Seolah membiarkan Calista memberikan kenyamanan untuk menenangkan hati yang saat ini tengah terluka.


Tanpa memperdulikan apapun atau orang lain yang saat ini tengah menatap mereka, kini Arya mempercayai bahwa pertemuan mereka terjadi untuk saling mengobati.


Arya kini memegang telapak tangan yang masih berada di wajahnya. "Apa kamu sedang menguji kesabaranku, Calista?"


Calista seketika menyipitkan mata karena sama sekali tidak memahami dengan kalimat ambigu Arya. "Kali ini apa lagi yang akan kamu katakan padaku? Mau menggodaku lagi?"


"Bukankah kamu yang menggodaku sekarang dengan meraba wajahku?"


Refleks Calista berniat untuk menurunkan tangan dari wajah Arya, tetapi tidak bisa melakukan karena ditahan oleh pria yang sudah mengunci tatapan mata dengan iris berkilat itu.


"Lepaskan, Arya! Aku tidak ingin dianggap sebagai wanita penggoda!"


Sementara itu, Arya kini hanya terkejut geli melihat kemurkaan Calista yang semakin menggemaskan. Masih memegangi telapak tangan dengan jemari lentik itu, melabuhkan bibir di sana.


"Setelah melakukannya, kamu tidak boleh melarikan diri, Calista. Bukankah harus bertanggungjawab? Jadi, sebelum melakukan sesuatu, dipikirkan dulu, jangan bertindak gegabah."


"Baiklah. Aku mengerti. Sekarang lepaskan tanganku!" Calista masih memasang wajah masam dengan bibir mengerucut karena berpikir jika sekarang Arya lebih suka menggoda daripada bersikap romantis.


'Padahal aku sudah berusaha mengerahkan segala kemampuan untuk bersikap romantis pada Arya. Berharap akan melakukan hal yang sama, ternyata malah selalu membuatku kesal.'


Arya tetap menggelengkan kepala karena tidak ingin menuruti perintah Calista. "Tugasmu patuh padaku, bukan berarti aku harus melakukan hal sama. Jadi, jangan berharap seperti itu, agar tidak kecewa."

__ADS_1


Arya kini masih memegangi telapak tangan itu dan menghabiskan minuman sambil bergumam sendiri di dalam hati.


'Aku lebih suka membuat wanita patuh padaku. Apalagi di atas ranjang.' Lamunan Arya yang seketika buyar ketika membayangkan bisa merasakan bercinta dengan Calista.


Ya, hasrat yang tinggi dari pria muda sepertinya membutuhkan tempat untuk menyalurkan karena tidak ingin stres dengan sesuatu yang bisa membuat otaknya seolah meledak jika menahan diri.


"Itu namanya berat sebelah, Arya. Bukankah kamu harus bersikap adil?" Calista masih merasa heran dan kesal karena Arya seperti mau menang sendiri.


"Aku bukan hakim, Calista. Bahkan seorang hakim terkadang tidak adil dalam mengambil keputusan. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa semua orang bisa terlihat sempurna. Bukankah kamu jatuh cinta padaku yang seperti ini?"


Arya kini mengedipkan mata untuk semakin membuat kesal Calista dan benar saja, setelah mengatakan itu, jadi bisa kembali melihat wajah memerah yang menggemaskan.


"Menyebalkan sekali, tapi memang benar. Sikapmu yang seperti itu malah membuatku jatuh cinta. Sial sekali aku karena menyukai pria dengan sikap seperti ini. Harusnya dicekik sampai kehilangan pasokan oksigen, tetapi yang ada malah tergila-gila."


Puas merengut, Calista kini memilih untuk bangkit berdiri. "Antarkan aku pulang. Aku tidak mau cepat tua dan wajahku penuh kerutan karena sering kesal dan marah padamu."


Arya hanya mendongak menatap Calista yang sudah bangkit dari kursi. Sekilas melirik jam di tangan, ia melihat jika waktu memang telah cukup larut karena sudah pukul sepuluh malam.


Calista yang sebenarnya merasakan hal sama karena masih belum puas berduaan dengan Arya, kini tersenyum simpul dan mengungkapkan ide di kepalanya.


"Apa kamu mau ke apartemenku?"


Arya menatap jemari lentik Calista pada lengannya dan semakin menyipitkan mata karena ajakan wanita itu seperti tengah memancing untuk melakukan sesuatu.


"Tunggu! Apa kamu sedang mengajakku untuk bercinta di apartemenmu?"


Merasa kesal karena sikap Arya yang selalu berbicara vulgar atas apapun, refleks Calista melepaskan tangan dan berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh ke belakang. Bahkan suara teriakan Arya yang memanggil namanya sama sekali tidak diperdulikan.


"Astaga! Kenapa ia bisa dengan sangat santai berbicara tentang hal-hal yang tidak seharusnya dikemukakan saat di tempat umum. Tadi rasanya ingin memukul kepalanya dengan tas, agar kembali seperti dulu yang tidak mengatakan hal-hal intim."


Calista masih terus berjalan menuju ke arah mobil yang diparkir di sudut kiri bersama banyak kendaraan lain. Akhirnya Calista menunggu sampai Arya kembali.

__ADS_1


Sementara di dalam restoran, Arya beberapa saat lalu terkekeh geli melihat pemandangan dari seorang wanita dengan wajah asyik cemberut dan tidak dipungkiri bahwa perasaan kacau balau yang beberapa terakhir ini menyiksa, seolah sedikit terobati setelah memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari teman.


"Wanita itu sangat menggemaskan saat marah dan aku semakin ingin membuat Calista kesal."


Kemudian ia kini membayar ke kasir atas pesanan makan malam sambil memikirkan sesuatu. 'Jika aku menerima tawaran Calista untuk ke apartemen, tidak yakin bisa menahan diri.'


'Tidak, lebih baik aku mengantar Calista pulang dan tidak ingin melampiaskan kekesalan pada wanita yang sama sekali tidak bersalah,' gumam Arya yang kini kembali memasukkan kartu kredit ke dalam dompet.


Kemudian menyusul wanita yang telah lebih dulu pergi. "Apa Calista akan tetap marah?" Begitu melihat sosok wanita yang menunduk menatap ke arah ponsel, Arya langsung memencet remote control dan tertawa ketika Calista berjenggit kaget.


"Astaga! Kamu mengagetkanku, Arya!" teriak Calista yang kini memasukkan ponsel ke dalam tas.


Sementara itu, tanpa memperdulikan Calista, kini Arya sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Begitu melihat wanita itu masuk, langsung mengeluarkan keputusan.


"Aku akan mengantarmu pulang."


Calista yang berpikir jika Arya menerima tawaran untuk datang ke apartemen, kini merasa kecewa karena pria itu tidak tertarik.


"Kamu tidak akan pulang ke rumah wanita itu, kan? Atau memang karena itu, jadi menolak ajakanku ke apartemen."


Arya yang baru saja mengemudikan mobil meninggalkan area restoran, sekilas melirik ke arah wajah dengan kecemburuan tersebut.


"Kamu kembali menunjukkan sikap over protektif dan posesif padaku."


"Itu karena aku sangat mencintaimu dan berpikir berhak karena telah berubah status dari teman menjadi kekasih."


"Aku tidak bisa menerima tawaranmu karena tidak akan bisa menahan diri, jadi jangan memancingku, Calista!" Sengaja Arya mengungkapkan kalimat penuh ketegasan untuk menguraikan kesalahpahaman.


Hingga jawaban dari Calista membuat Arya menelan ludah dengan kasar.


"Aku akan patuh padamu dan sama sekali tidak akan menolak." Calista sengaja memancing Arya karena berpikir ingin menguasai sepenuhnya dan tidak akan pernah membiarkan Putri mengganggu hubungan mereka.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2