Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Merindukan


__ADS_3

Suasana kantor yang tak lain adalah tempat kerja Amira Tan, kini sudah terlihat beberapa orang sibuk di depan layar komputer dan memeriksa beberapa berkas yang berada di atas meja.


Sementara itu, Amira Tan terlihat baru saja memasuki pintu masuk kaca dan menyapa para pegawai yang saat ini juga mengulas senyuman padanya dengan menganggukkan kepala setelah mengucapkan salam hormat.


Ya, ia memang merupakan pemilik dari kantor itu karena memiliki tempat kerja sendiri dan pekerja yang membantunya untuk kasus yang ditangani. Meskipun usianya bisa dibilang belum terlalu tua jika dilihat dari semua prestasi yang didapatkan.


Hingga ia memilih untuk membuka kantor sendiri dan membayar beberapa pegawai yang membantunya. Amira Tan saat ini berjalan menuju ke ruangan kerja dan segera mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran yang sangat nyaman karena memang khusus membelinya dengan harga mahal.


Semua itu karena ia ingin merasa nyaman ketika bekerja seharian di kantor dan menganggap bahwa tempat itu adalah rumah untuknya.


Apalagi ia lebih lama berada di kantor daripada rumah, sehingga memberikan semua kenyamanan agar betah berlama-lama bekerja dan mencari uang untuk semakin memenuhi rekening.


Amira Tan kini meletakkan tas kerja miliknya di atas meja dan langsung menghubungi salah satu pegawai yang membantunya untuk mengurus perceraian Bagus.


"Bawakan semua yang berhubungan dengan kasus perceraian antara Bagus dan Putri."


Tanpa menunggu jawaban dari seberang telepon, Amira Tan langsung mematikan sambungan telpon dan menunggu pegawai wanita yang disuruhnya untuk membawakan apa yang diinginkan.


Tak lama kemudian, melihat pegawainya sudah mengetuk pintu dan berjalan masuk setelah ia mengeluarkan suara untuk wanita itu.


"Semuanya sudah beres, bukan? Kemarin aku tidak bisa datang ke pengadilan untuk mendengar putusan hakim karena ada klien penting yang membutuhkan jasaku."


Sementara itu, sosok wanita dengan setelan hitam yang saat ini menaruh berkas perceraian yang diinginkan oleh bosnya, langsung menganggukkan kepala, membenarkan perkataan itu.


"Hakim sudah memutuskan menyetujui gugatan kita proses hanya berlangsung 7 hari dan ini sangat cepat karena kedua belah pihak tidak ada yang mempermasalahkan hak asuh, pembagian harta dan juga tidak ada mediasi di antara mereka."

__ADS_1


Amira Tan saat ini sudah tersenyum puas karena usahanya untuk membantu pria yang dicintai telah berhasil dan kini tidak ada hubungan lagi antara adik tiri dan iparnya tersebut.


"Aku sangat yakin jika ini akan cepat mendapatkan persetujuan hakim karena memang mereka tidak ada yang mempermasalahkan tentang perceraian. Baiklah, kamu tinggalkan saja ini di sini karena aku ingin memeriksanya sebentar."


"Baik, Nona Amira." Membungkuk hormat dan berbalik badan untuk keluar dari ruangan bosnya dan kembali mengerjakan pekerjaan yang saat ini menumpuk.


Amira Tan berbicara sambil membuka beberapa berkas yang menyatakan bahwa saat ini pria yang dicintai telah bercerai dengan adik tirinya dan membuatnya sedikit berharap bahwa Bagus bisa menerimanya sebagai pengganti ibu dari Putra.


'Apakah aku salah jika merasa bahagia dengan kabar baik ini? Aku tidak bisa membuang perasaan cinta ini dan Apakah salah mengharapkan mendapatkan balasan dari pria bodoh itu.'


'Apa ia sama sekali tidak berpikir jika putra bungsunya masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Mungkin putri sulungnya sudah terbiasa tidak bersama dengan wanita yang melahirkannya, tetapi berbeda dengan Putra.'


Amira Tan yang merasa kesal saat mengingat Bagus, kini memilih untuk mengempaskan tangan pada meja. Tentu saja suara bising memenuhi ruangan kerja tersebut dan beberapa barang ikut bergerak karena bergetar dengan ulah wanita berwajah masam, serta memerah tersebut.


"Jika ia ada di sini sekarang, mungkin aku sudah memukul kepalanya untuk meluapkan amarah." Amira Tan masih mengepalkan tangan kanan di atas meja dan hembusan napas kasar terdengar sangat jelas saat ini, sehingga memenuhi ruangan kerja tersebut dengan aura permukaan.


"Perceraian ini telah berkekuatan hukum tetap jika dalam waktu 14 hari sejak putusan dibacakan dan salah satu atau para pihak tidak mengajukan upaya hukum banding."


"Aku akan menyuruh Bagus untuk mengambil surat perceraian dengan memperlihatkan tanda pengenal asli dan menyerahkan foto copinya. Ini adalah pengalaman pertama untuk pria bodoh itu dan harus menjelaskan padanya."


Amira Tan saat ini ingin sekali menelpon Bagus, tetapi masih ragu untuk melakukannya. Ia kini memegang ponsel dan mempertimbangkan apa yang akan dilakukan untuk memberitahukan pada pria yang selama ini dicintai, mengenai hasil keputusan hakim.


Namun, ia memilih untuk melakukan hal lain, yaitu memeriksa beberapa pesan yang masuk dan belum sempat dibaca semalam karena menonaktifkan setelah Noah membuatnya marah.


"Aku sampai melupakan beberapa pesan dari klien penting gara-gara bartender sialan itu." Amira Tan membaca satu persatu pesan dari beberapa klien penting.

__ADS_1


Bahkan juga tanpa sengaja membuka pesan kedua dari pria yang membuatnya kesal dan kembali menyulut api amarah yang meluap di dalam hati.


Apakah seorang pengacara bisa lari dari tanggung jawab dengan mematikan ponsel? Apakah kamu takut jika aku mengatakan apa yang kamu lakukan padaku pada semua orang?


"Astaga!"


Amira Tan saat ini memijat pelipis begitu membaca pesan yang dikirimkan pagi tadi dan membuatnya ingin sekali mendatangi pria itu untuk memberikan pelajaran.


Namun, dengan sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh lagi. "Aku harus bisa menahan amarah dan menganggap tidak pernah mengenal pria itu."


"Apa ia pikir aku adalah wanita pengecut yang tidak berani menghadapinya? Astaga! Sabar, kamu tidak boleh terbawa emosi hanya karena pria sialan itu. Ia bahkan tidak berhak untuk mendapatkan perhatian darimu karena bukan siapa-siapa."


Kini, Amira Tan memilih untuk memblokir nomor dari pria yang tidak ingin ditemui lagi dan berharap sudah putus hubungan.


Ya, ia memang tidak ingin lagi bertemu dengan sang bartender, meskipun pria itu pernah menolongnya. Amira Tan berpikir sudah cukup ia membalas budi dengan cara memberikan uang dan juga merawat saat sakit.


Hingga malah berakhir di atas ranjang sang bartender dan ia hampir saja kehilangan keperawanan. Alasan yang lain adalah merasa seperti tidak mempunyai muka lagi di depan pria itu jika bertemu lagi.


"Sekarang pria itu tidak akan pernah bisa menghubungiku lagi dan mengganggu ketenanganku." Amira Tan kali ini mengembuskan napas lega setelah memblokir nomor dari sang bartender.


Hingga ia pun memilih untuk menyandarkan tubuhnya dan menghubungi Bagus. Tentu saja hanya untuk mendengarkan suara yang sudah lama tidak didengar dan dirindukan.


Selama beberapa detik ia menunggu, akhirnya panggilan diangkat oleh Bagus dan membuatnya tersenyum simpul ketika menyapa.


"Apa kamu sedang bekerja?"

__ADS_1


"Ya, seperti biasa karena aku membutuhkan uang untuk membiayai putraku. Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Bagus dari seberang telpon.


To be continued...


__ADS_2