
Memang semua yang dikatakan oleh putrinya adalah fakta sebenarnya karena Edi Indrayana bisa datang ke kantor Amira Tan saat tadi dihubungi oleh Jack.
Mengerti bahwa itu bukanlah sebuah niat buruk karena demi kebaikan Amira Tan, kini Edi masih mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada sosok putrinya yang terlihat menggenggam erat tangan pria tersebut.
"Ya, memang Papa akui jika Jack tadi menghubungi dan mengatakan apa yang kamu lakukan di ruangan kerja bersama pria ini. Seharusnya kamu merasa senang karena Jack sangat mengkhawatirkanmu dan ingin menjagamu, Putriku."
"Jack dari dulu sangat mencintaimu dan ingin membina hubungan yang lebih serius denganmu, tapi kenapa kamu sama sekali tidak pernah mau menerima lebih dari teman? Jack lebih baik segalanya dibandingkan dengan pria tidak jelas ini!"
Edi kini beralih menatap ke arah pria yang ada di hadapan dan menyesal karena pernah menyukai saat pertama kali datang ke rumah dengan menipu sebagai sepupu dari teman Amira Tan.
"Kau menipuku saat pertama kali menemuiku. Apakah kau berpikir aku akan menyukaimu dan memberikan restu padamu, pria berengsek!"
Noah yang mendapatkan tatapan penuh kebencian dari pria paruh baya yang dianggap akan menjadi ayah mertua dan harus menghormati, kini hanya bisa diam dengan menelan kasar saliva.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Sepertinya ayah Amira Tan benar-benar tidak akan merestui hubungan kami. Apa aku harus mengajak Amira Tan kabur dari orang tua dan menikah?'
Saat Noah masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati, kini mendengar suara Amira Tan yang membuatnya merasa sangat terhibur dan sangat bangga karena telah memilih wanita itu sebagai pelabuhan cinta pertama sekaligus terakhir.
"Aku tidak bisa menerimanya karena tidak mencintai Jack, Pa. Aku ingin menikah atas dasar saling memberi dan menerima karena sama-sama mencintai. Apalagi aku akan selamanya membina biduk rumah tangga bersama pasangan."
"Jika aku menjalani dengan terpaksa karena ingin membuat Papa merasa senang, akan tersiksa saat menjalani hidup berumah tangga. Apalagi bukan Papa yang menjalani, tapi aku. Apakah orang tua berhak ikut campur dalam pilihan pasangan putrinya? Bagiku, tidak karena aku sangat menentang yang namanya perjodohan."
__ADS_1
Setelah Amira Tan mengungkapkan apa yang selama ini ditahan untuk membantah pemikiran dari sang ayah, kini menoleh ke arah Noah yang terlihat murung dan dari tadi hanya diam seperti merasa down saat tidak percaya diri lagi di hadapan ayah.
"Aku sangat mencintai pria ini dan sudah menerima lamarannya hari ini. Jadi, tugas Papa hanya memberikan restu dan biarkan aku memulai lembaran baru sebagai seorang istri setelah menikah dengan Noah."
Amira Tan ingin tertawa saat melihat reaksi dari Noah seperti sangat terkejut atas pembelaan yang baru saja dilakukan. Kemudian mencoba untuk memberikan sebuah cambukan semangat pada pria yang seperti kehilangan ras percaya diri tersebut.
"Bukankah tadi kau dengan sangat percaya diri melamarku? Sekarang ada Papa di sini. Jadi, kau bisa mengungkapkan niat baikmu untuk serius denganku." Kemudian tersenyum dan memberikan sebuah kode dengan mengarahkan dagu ke arah sang ayah.
Berharap jika pria itu percaya diri dan tidak lagi kehilangan semangat yang dari tadi terlihat murung.
Kini, seolah keberanian langsung terkumpul di hati Noah begitu mendapat jawaban dari lamaran beberapa saat lalu dan diungkapkan oleh Amira Tan di hadapan calon ayah mertua. Kemudian beralih menatap ke arah pria paruh baya yang seolah tidak mampu berkomentar apapun untuk melawan putri sendiri.
"Amira Tan benar, Ayah mertua. Saya beberapa saat lalu baru saja melamar putri Anda dan berpikir bahwa meskipun hanyalah seorang pria hina, tapi akan berusaha untuk membahagiakannya dan akan selalu setia karena akan selamanya mencintai hingga ajal menjemput."
Noah yang merasa sangat bersemangat dan tidak lagi merasa takut pada pria paruh baya tersebut, kini berpikir bahwa saat ini tidak akan takut lagi pada ayah dari wanita yang sangat dicintai.
Berpikir bahwa menunjukkan niat baik untuk serius pada Amira Tan merupakan sebuah hal yang pantas untuk dibanggakan. Jadi, tidak perlu merasa rendah diri lagi, meskipun pada kenyataannya hanyalah seorang pria yang hanya merupakan staf rendahan di kantor wanita yang dicintai.
Sementara itu, Edi Indrayana yang saat ini hanya memijat pelipis begitu melihat sikap Amira Tan dan pria yang sama sekali tidak diinginkan untuk menjadi menantu laki-laki. Merasa sangat pusing karena dari dulu tidak pernah terpikirkan jika Amira Tan akan memilih seorang pria biasa setelah dewasa.
Apalagi selama ini mengetahui jika putrinya sangat pemilih pada seorang pria dan berpikir jika jodoh Amira Tan adalah orang hebat yang memiliki karir dan prestasi jauh lebih tinggi. Namun, seolah sekarang jatuh terempas oleh harapan yang sia-sia.
__ADS_1
Masih belum bisa memutuskan apapun, Edi Indrayana kini menatap ke arah Amira Tan yang dari tadi tidak melepaskan genggaman. "Papa benar-benar sangat pusing melihatmu seperti ini."
"Dari pada Papa darah tinggi karena melihat pria pilihanmu, lebih baik segera pergi karena bahkan sekarang tidak bisa berpikir jernih saat ini untuk berkomentar. Papa akan berbicara dengan mamamu."
Kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar dan membuka kenop, lalu menoleh sekilas ke belakang. "Jangan berbuat gila di ruangan kerja! Atau Papa akan menyuruh mama menghukummu!" ucap Edi Indrayana yang langsung berjalan keluar dari ruangan kerja putrinya.
Hingga saat berjalan menyusuri lobi dengan mendapatkan sapaan dari beberapa staf, Edi Indrayana kini seperti menyadari bahwa sekarang telah dikalahkan oleh putri sendiri.
'Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika hari ini tidak berkutik hanya karena ancaman dari putriku,' gumam Edi yang kini sudah berjalan masuk ke dalam mobil dan menyuruh sang supir untuk segera meninggalkan kantor Amira Tan.
Sementara itu di dalam ruangan kerja, Amira Tan yang baru saja melihat sang ayah pergi tanpa memberikan jawaban apapun, kini bernapas lega dan menormalkan perasaan. Jujur saja tadi sebenarnya merasa sangat gugup atas kedatangan tiba-tiba dari sang ayah ketika pada posisi masih bermesraan dengan Noah.
Bahkan sama sekali tidak pernah menyangka jika saat ini yang terjadi adalah telah berhasil mengalahkan seorang ayah yang murka padanya.
Refleks ia langsung melepaskan genggaman tangan dan menghambur mencium bibir Noah untuk meluapkan perasaan yang lega.
Sementara itu, Noah yang dari tadi seperti merasa berada dalam neraka, seketika bernapas lega begitu ayah Amira Tan pergi dan begitu mendapat serangan tiba-tiba dari wanita yang dicintai, refleks menolak dengan perlahan mundur beberapa langkah.
"Aku akan patuh pada ayah mertua dengan tidak berbuat macam-macam padamu di ruangan kerja. Aku tidak ingin kau dihukum mamamu."
Sementara itu, Amira Tan yang awalnya merasa sangat terkejut karena penolakan Noah serta jawaban yang membuatnya merasa sangat terharu, tanpa memperdulikan apapun lagi, kembali menghambur memeluk erat tubuh kekar itu.
__ADS_1
"Kau memang pria sejati. Aku sekarang semakin yakin tidak akan pernah menyesal karena memilihmu. Aku mempercayaimu melebihi apapun. Jadi, jangan pernah mengkhianati kepercayaanku," ucap Amira yang sudah menenggelamkan wajah di dada bidang pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut.
To be continued...