Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kekerasan dalam rumah tangga


__ADS_3

Seperti biasa, hanya kekecewaan yang saat ini Jack dapatkan setiap menyatakan perasaan pada wanita yang selama ini dicintai.


Meskipun patah hati seringkali didapatkan olehnya, tetapi ia tidak mau menyerah mendapatkan sosok wanita yang ingin dinikahi dan diajaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.


Jack hanya bisa melihat siluet belakang Amira Tan yang menghilang di balik pintu gerbang. Kembali embusan napas kasar yang mewakili perasaan hancur ketika ditolak saat melamar.


"Aku tidak akan pernah menyerah sebelum kamu menikah dengan pria lain, Amira Tan. Aku sangat mencintaimu dan akan selalu berjuang untuk mendapatkan hatimu yang sekeras batu karang karena tidak pernah tergoyahkan ketika aku selalu menyatakan cinta."


"Selama pria yang kamu puja dan cintai itu tidak menerimamu, aku tetap akan berusaha mendapatkan hatimu."


Jack sebenarnya merasa sangat lapar karena belum makan dan berniat untuk mengajak Amira Tan. Namun, ia tidak bisa melakukannya karena membuat wanita itu kesal padanya.


"Padahal aku ingin mengajakmu makan nasi goreng di pedagang kaki lima sekitar sini, yang menjadi tempat favoritmu karena dulu kamu sering makan di sana bersamaku. Sepertinya aku harus makan sendiri tanpamu. "


"Sebenarnya aku berharap kamu juga datang ke sana saat makan nanti." Jack kini berbicara sendiri seperti orang gila dan beberapa saat kemudian masuk ke dalam mobil.


Kemudian melajukan kendaraan roda dua tersebut menuju ke arah jalan utama yang terlihat beberapa pedagang kaki lima sudah berderet menjajakan aneka jualannya.


Jack memarkirkan mobil di tepi jalan dan langsung berjalan menuju ke arah pedagang yang menjual nasi goreng. Kebetulan pedagang itu tidak ada pelanggan dan sedang duduk sambil bermain ponsel.


"Buatkan aku dua porsi nasi goreng super pedas dan lengkap topingnya." Jack berbicara sambil menepuk bahu pria yang berusia paruh baya tersebut. Kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Baik, Tuan," sahut pria paruh baya yang terkejut saat ditepuk bahunya dan langsung bangkit dari kursi, serta membuat pesanan dari pelanggan.


Jack saat ini tidak berlebih menatap ke arah pedagang yang sudah sibuk menyiapkan pesanannya dan ia memilih untuk mengirim pesan kepada wanita yang diharapkan mau datang untuk menemaninya makan.


Lupakan kata-kataku tadi. Kita masih bisa menjadi teman, kan? Jadi, temani aku untuk makan nasi goreng di tempat favoritmu. Setelah kamu menolakku, membuat perutku kelaparan.


Kemudian Jack langsung menekan tombol kirim dan menunggu dengan perasaan membuncah.


"Apa ia mau membalas pesanku? Amira Tan pasti masih marah dan tidak ingin bertemu denganku saat ini. Aku saja yang bodoh karena tidak mengerti."


Jack memilih untuk meletakkan ponsel miliknya di atas meja dan sudah tidak sabar menikmati nasi goreng yang panas dan pedas dua porsi. Ya, ia ingin balas dendam sakit hatinya saat ditolak dengan cara makan yang banyak sampai kenyang.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Jack kini melihat pedagang sudah selesai menyiapkan pesanannya dan memberikan dengan menaruh di atas meja.


"Silakan, Tuan."

__ADS_1


Jack tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu tanpa membuang waktu, langsung meraih sendok dan berniat untuk menyuapkan ke dalam mulut. Namun, ia tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara notifikasi dari ponsel.


Ia berharap itu adalah balasan dari Amira Tan dan tidak membuang waktu, langsung membaca pesan.


Jika kamu masih ingin berteman denganku setelah berkali-kali kutolak, aku tidak akan menghindar darimu. Pesankan aku satu porsi nasi goreng seperti biasa. Aku akan datang.


Sudut bibir Jack kini melengkung ke atas dan merasa sangat senang karena wanita yang selalu bersikap biasa setelah menolaknya tersebut mau datang dan kembali bersikap seperti biasa.


Ia pun memesan satu porsi nasi goreng lagi untuk Amira Tan pada pedagang yang duduk tak jauh darinya.


'Amira Tan memang adalah wanita yang sangat berbeda. Mungkin jika orang lain, akan merasa tidak nyaman bertemu dengan pria yang ditolak berkali-kali.'


'Namun, ia selalu bisa bersikap biasa setelah tadi marah-marah padaku. Inilah yang membuatku mencintainya dan tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati wanita arogan itu.'


'Aku malah semakin penasaran untuk mencari kelemahan seorang Amira Tan,' gumam Jack yang saat ini memilih untuk tidak makan nasi goreng terlebih dahulu karena ingin menunggu.


Hingga beberapa saat kemudian ia melihat wanita yang ditunggu sudah datang dengan memakai sepeda motor.


Amira Tan saat ini turun dari sepeda motor, langsung berjalan mendekati pria yang beberapa saat lalu ditolak. Ia tidak ingin kedinginan dengan angin malam menusuk tulang, sehingga memilih untuk memakai sweater yang menghangatkan tubuhnya.


Kemudian memilih untuk mengarahkan tinju pada lengan kekar Jack. "Aku sangat heran dengan pemikiran pria sepertimu. Bagaimana bisa kamu mengajakku makan setelah ditolak."


"Tapi aku tahu kamu adalah Jack yang gemar mempermainkan perasaan wanita. Jadi, penolakanku sama sekali tidak berarti untukmu." Amira Tan kini mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di hadapan Jack.


Sedangkan Jack hanya menatap intens sosok wanita yang memang baru saja membuatnya patah hati, tapi tidak diperlihatkan olehnya.


"Kamu sama sekali tidak bisa membaca hatiku. Jadi, jangan menganggap aku tidak patah hati karena penolakanmu. Hanya saja, aku ingin kita tetap seperti biasanya, menjadi teman baik dan selalu bekerja sama dalam pekerjaan."


Jack saat ini menunjuk ke arah piring yang berisi penuh dengan nasi goreng. "Aku membalas dendam dengan itu."


Amira Tan mengikuti arah jari telunjuk Jack dan tentu saja ia bisa melihat banyaknya nasi goreng yang memenuhi piring. "Astaga! Dasar pria aneh."


"Jika seorang wanita yang ditolak, tidak akan bisa makan karena hanya menangis. Berbeda dengan seorang pria yang saat ini malah akan menghabiskan nasi goreng dengan dua porsi."


"Tapi itu jauh lebih baik daripada aku melihatmu menangis dan kecewa, hingga tidak mau makan. Itu malah hanya akan membuatku merasa bersalah. Makan saja sekarang. Tidak perlu menunggu nasi gorengku jadi."


Jack yang tidak setuju dengan perintah dari Amira Tan memilih untuk menggelengkan kepala karena ia menunggu untuk makan bersama.

__ADS_1


"Aku belum terlalu lapar, jadi tidak masalah untuk menunggu beberapa menit saja."


"Terserah kamu saja." Saat Amira Tan baru saja menutup mulut, ia mendengar suara notifikasi di ponselnya dan langsung meraih benda tersebut dari kantong celana.


Amira Tan mengepalkan tangan kiri yang berada di bawah meja ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang yang dibenci.


'Berengsek!' umpat Amira Tan di dalam hati.


Tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut, Amira Tan memilih untuk memblokir nomor itu dari daftar kontak. Hingga ia memilih untuk menatap sosok pria yang berada di hadapannya ketika bertanya.


"Pesan dari siapa?" tanya Jack yang merasa sangat penasaran sekaligus khawatir jika wanita di hadapannya mendapatkan pesan dari pria bernama Bagus.


'Apa pria yang dicintai oleh Amira Tan mengirimkan pesan?' gumam Jack yang saat ini diliputi rasa cemburu, tetapi memilih untuk menyembunyikan apa yang dirasakan karena tidak ingin membuat Amira Tan risi padanya.


"Dari rekan sesama pengacara yang mengatakan ingin bertemu besok siang untuk membicarakan masalah kasus yang sedang ramai dibicarakan di media sosial."


"Maksudmu kasus kekerasan dalam hubungan rumah tangga yang semakin marak saat ini?"


Jack langsung mengetahui apa yang dibicarakan oleh Amira Tan karena beberapa hari terakhir ini, baik di media sosial maupun televisi, ramai membahas masalah tentang kekerasan rumah tangga.


Hingga membuat pihak istri sampai berakhir dirawat di rumah sakit dan langsung melaporkan sang suami pada polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.


Amira Tan yang mengarang cerita, kini hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan dari Jack. "Rasanya aku ingin mencekik leher pria yang membuat seorang istri berakhir di rumah sakit."


"Pria yang hanya berani dengan seorang wanita, tak lebih adalah pengecut dan merupakan pecundang tidak berguna. Bisa-bisanya seorang suami mencekik dan membanting istri. Jika bertemu, rasanya aku ingin melakukan hal yang sama."


"Saat ini, semua pengacara yang ada di kota ini ingin bersatu untuk membuat pria itu mempertanggungjawabkan perbuatan dengan mendekam di penjara." Amira Tan yang membayangkan ulah seorang suami saat jahat pada sang istri, terlihat mengepalkan tangan kanan dengan wajah memerah.


Namun, ia merasa ingin meninju wajah Jack ketika menanggapi kekesalannya dengan bercanda.


"Jika aku menjadi suamimu, akan selalu memperlakukanmu seperti ratu dan tidak akan pernah berbuat kasar. Jika aku mengingkarinya, kamu bisa memotong senjataku." Jack mengedipkan mata untuk menggoda wanita yang terlihat sangat marah tersebut.


Ia ingin mengurangi aura memanas di antara mereka karena saat ini Amira Tan sedang dikuasai oleh amarah.


Refleks Amira Tan melemparkan kerupuk yang berada di hadapannya.


"Sialan!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2