
Beberapa saat yang lalu, Noah yang sebenarnya sudah larut dalam mimpi indah, menangkap suara seorang wanita dan tidak hanya itu saja, yang terjadi karena ada sesuatu dirasakan tepat pada bibir dan seolah otaknya bisa langsung mengingat sesuatu.
Bahwa tadi memeluk erat tubuh seksi seorang wanita yang selalu disebut arogan karena merasa sangat ketakutan atas cerita palsu yang dikarang.
Sengaja ingin membohongi Amira Tan karena berharap bisa memberikan pelajaran dan akhirnya tidak lagi bersikap kasar dan sesuka hati.
Sampai ia merasakan tangan Amira Tan menjelajahi setiap sudut wajah dan berpura-pura untuk tetap tidur. Itu karena ingin mengetahui sampai sejauh mana wanita itu bersikap nakal.
Sampai pada saat merasakan jika wanita itu melukis dada dan terakhir menuliskan sebuah nama, yaitu Bagus, tentu saja sangat kesal dan ingin mara.
Akan tetapi, masih mencoba untuk bertahan dengan cara berpura-pura tidak tahu atas semua kelakuan Amira Tan.
Terakhir adalah saat mendengar Amira Tan menangisi pria yang sama sekali tidak pantas untuk dipikirkan, Noah akhirnya kehilangan kesabaran karena berpikir jika wanita itu sangat bodoh.
Ingin menyadarkan Amira Tan agar berhenti memikirkan pria yang membuat patah hati, refleks Noah membuka mata dan mengumpat pada wanita yang berubah bodoh hanya karena cinta.
"Kamu adalah wanita yang cerdas, Amira Tan. Tidak mungkin kamu berubah bodoh seperti ini hanya karena patah hati. Kamu selalu menangisi pria itu dan terlihat lemah di depanku. Bahkan membiarkan pria lain patah hati dengan cara memporak-porandakan hati."
"Bagaimana mungkin seorang wanita dengan sangat tenang dan santai menelusuri setiap sudut wajah dan tubuh pria, tapi menuliskan nama orang lain di bagian dada. Apa kamu tidak bisa berpikir jernih atas kesalahanmu?"
Amira Tan bisa melihat kilatan amarah terpancar sangat jelas dari wajah Noah yang kini masih menatap tajam tepat di hadapan. Bahkan posisi masih berbaring dengan posisi saling berhadapan.
Bahkan tangan dengan buku-buku kuat Noah masih tidak melepaskan kuasa karena berada di lengan Amira Tan.
__ADS_1
Beberapa kali Amira Tan mencerna dan mengerjapkan mata karena seolah tidak kuat pada tatapan tajam mengintimidasi dari pria itu.
"Baiklah! Aku minta maaf karena telah melakukan kesalahan. Aku pikir tadi kamu telah tertidur pulas, jadi melakukan itu. Bahkan sama sekali tidak pernah berpikir jika akan melihat kemurkaanmu."
"Apa yang kamu inginkan, agar tidak marah lagi padaku? Aku bisa memberimu uang jika membutuhkan untuk bersenang-senang," ujar Amira Tan dengan santai.
"Uang? Apakah kamu berpikir bisa membeli harga diri seorang pria lemah sepertiku? Jadi, menganggap dan menilai apapun berdasarkan nominal uang?" sarkas Noah dengan menggerakkan lengan dalam cengkraman.
Noah berharap jika pria itu bisa menyadarkan seorang pengacara hebat dan arogan tersebut dengan luapan kekesalan yang dirasakan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang jika kamu tidak mau uang karena itulah caraku selama ini untuk menyelesaikan masalah. Kecuali masalahku dengan Bagus."
Dengan sangat ragu Amira Tan menyahut dan berharap jika Noah akan mengatakan apa yang diinginkan karena saat ini tengah putus asa dan tidak bisa berpikir tentang jalan keluar dari masalah ini.
"Rasanya aku masih belum bisa percaya hal ini." Amira Tan sama sekali tidak merasa takut dengan iris tajam berkilat pria itu dan rahang tegas menghiasi wajah dengan pahatan yang sempat ditelusuri beberapa saat lalu.
Kesal, marah dan benci seolah menjadi satu dan bercampur aduk menjadi kesatuan yang bersatu untuk segera memberikan pelajaran pada wanita di hadapannya tersebut.
Noah yang dari tadi sangat marah dan tidak bisa berpikir jernih, tiba-tiba merasa sangat geram dan ingin membalas dendam dengan memberikan pelajaran.
'Selama ini, aku diam saat kamu berbuat sesuka hati padaku. Sekarang giliranmu dan tidak boleh marah karena sekarang aku yang akan membuatmu patah hati!' sarkas Noah di dalam hati dan mendadak ada ide di kepala untuk menghancurkan dinding kokoh yang telah dibangun oleh Amira Tan.
"Bukan hanya kamu yang bisa melakukan itu!" Noah berbicara dengan masih mengunci tatapan Amira Tan. Bahkan ada seringai tajam yang kini menghiasi sudut bibir.
__ADS_1
Sementara Amira Tan pun merasa kebingungan dan tidak tahu apa maksud dari pria yang mendadak membuat bulu kuduk meremang seketika berada di dekat pria itu
"Apakah kau sama sekali tidak tahu jika aku saat ini tidak bisa berpikir jernih karena perasaan sedang kacau balau seperti ini? Jadi, jangan berbicara ambigu dan menyuruhku memutar otak untuk ...."
Amira tidak melanjutkan perkataan karena sudah dibungkam oleh Noah dan seketika mengerjapkan kedua mata berkali-kali.
"Tidak perlu!" Setelah mengatakan itu, Noah memang langsung memberikan pelajaran karena tidak ingin lagi menjadi korban dari sikap semena-mena seorang wanita.
Bahkan tidak lagi berpikir apapun ketika dengan sangat sadar dan tidak dipengaruhi oleh minuman beralkohol seperti Amira Tan. Tanpa pernah menyesal karena pertama kali memaksa seorang wanita, ia kali ini tidak bisa mundur untuk berhenti.
'Jangan pernah bermain-main dengan seorang pria karena wanita ditakdirkan hanya untuk menjadi kaum lemah. Aku akan membuktikan bahwa tidak sulit untuk membuatmu patah hati karenaku,' gumam Noah yang kini masih sibuk menyesap habis sari kemanisan dari benda kenyal berwarna merah dan kini menjadi candu.
Sementara itu, Amira Tan yang pada awalnya merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Noah, kini lama-kelamaan tidak bisa menolak dan menikmati.
Semua itu karena otaknya sedang tumpul saat hanya dipenuhi oleh dendam pada Bagus yang sama sekali tidak melirik atau pun menerimanya.
Sampai pada titik di mana keputusasaan menggelayuti diri dan akhirnya memilih untuk pasrah atas apapun yang dilakukan oleh Noah. Berharap perbuatan pria itu bisa membuat Amira Tan lupa atas patah hati yang dirasakan.
'Aku pasti bisa melupakan Bagus dengan cara memanfaatkan pria ini. Meluapkan semua hal yang kurasakan pada pria ini dengan cara seperti ini, mungkin akan mengobati lukaku,' gumam Amira Tan yang kini perlahan mengalungkan tangan pada leher belakang Noah.
Tanpa menolak lagi, ia kini sudah membalas perbuatan pria yang sudah menguasai bibirnya hingga terasa kebas.
To be continued...
__ADS_1