
Beberapa saat lalu, Ari Mahesa yang berada di ruangan kerja, mendapatkan telpon dari sang istri yang merasa sangat kebingungan ketika mendengar jika Calista akan dijodohkan dengan putra dari rekan bisnis orang tua.
Meskipun sang istri mengatakan sudah mengatakan pada Arya, tapi masih tidak tenang dan memilih untuk menghubungi karena menyuruh menyelesaikan masalah yang dianggap sangat darurat itu.
Ia pun merasa sangat terkejut karena selama ini berpikir jika Arya sudah menjalin hubungan dengan Calista yang sangat ingin dijadikan menantu. Namun, sama sekali tidak menyangka jika Arya dan Calista ternyata menyembunyikan hubungan itu.
Jadi, orang tua Calista tidak tahu dan memilih untuk menjodohkannya. Sepertinya aku harus keras pada Arya, agar segera melamar Calista. Jika sampai sedikit saja terlambat, mungkin aku akan kehilangan kesempatan untuk menjadikan Calista istri putraku."
Nasib baik jam makan siang telah tiba dan ia memilih untuk bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menuju ke ruangan kerja Arya.
Setelah beberapa saat kemudian, tanpa mengetuk pintu, langsung membuka dan berjalan masuk. Namun, matanya seketika membulat sempurna begitu melihat pemandangan di hadapannya.
Ari Mahesa merasa sangat terkejut saat melihat putranya berada di atas tubuh seorang wanita yang tak lain adalah Calista. Namun, merasa sangat lega dan berpikir jika masalah yang dikhawatirkan oleh sang istri.
'Masalah telah selesai dan aku tidak perlu repot-repot untuk memaksa putraku menikahi Calista karena hanya dengan melihat ini saja sudah cukup membuktikan jika Arya telah melupakan wanita murahan tidak tahu diri itu.'
'Putraku memang sangat bisa diandalkan kali ini,' gumam Ari Mahesa yang saat ini tengah berakting marah saat melihat keintiman dari pasangan di hadapan.
"Apa kalian tidak punya malu berbuat intim di ruang kerja? Jika sampai ada staf perusahaan yang melihat, perusahaan akan terkena citra buruk."
Sementara itu, Arya yang kini hanya bersikap datar saat ketahuan oleh sang ayah ketika mencium Calista, merasa jika itu sangat berlebihan. Entah mengapa ia berpikir jika pria paruh baya yang mengarahkan tatapan tajam tersebut hanya sedang bersandiwara marah.
"Bukankah ini yang Papa harapkan dari dulu?" Arya kini menoleh ke arah sosok wanita di sebelah kanan. "Sebaiknya kamu pergi saja ke kantin karena aku ingin berbicara berdua dengan Papa.
__ADS_1
Saat Calista merasa kecewa karena diusir oleh Arya, tapi berpura-pura tersenyum dan menganggukkan kepala. Tanpa berniat untuk menjawab, Calista bangkit dari kursi dan hendak berjalan.
Namun, saat tersenyum pada pria paruh baya yang hendak disapa, Calista menghentikan langkah begitu mendengar suara bariton calon mertua laki-laki tersebut.
"Calista tidak boleh pergi karena perlu tahu tentang semua yang akan kubicarakan." Ari Mahesa yang tidak sependapat dengan Arya, kini memberikan sebuah kode pada Calista agar kembali ke sofa. "Duduklah! Aku ingin membicarakan hal penting."
Tentu saja dalam hati, Calista bersorak kegirangan dan menjawab dengan anggukan kepala saja. Kemudian kembali mendaratkan tubuh di sebelah kiri Arya.
'Yes, akhirnya rencanaku berhasil juga karena pasti om Ari akan menyuruh untuk segera menikah.'
'Tidak sia-sia aku menyuruh mama mengarang sebuah kebohongan untuk menjodohkan dengan putra dari rekan bisnis papa,' gumam Calista yang kini memilih untuk mendengarkan semua perkataan dari sosok pria paruh baya yang mulai memecahkan keheningan di ruangan kerja Arya.
Arya yang saat ini sudah menduga dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah, memilih untuk mendengarkan karena memang tidak ada jalan lain lagi selain patuh. Apalagi saat ini posisi mereka sudah ketahuan bermesraan di kantor.
"Malam ini?" Arya masih tidak percaya jika semua akan secepat ini. Tentu saja merasa sangat bingung karena perasaan terluka yang dirasakan bahkan belum sembuh.
Padahal ia berencana ingin menikmati waktu untuk saling mengobati di antara mereka karena memang dari awal berbicara seperti itu pada Calista.
Namun, realita tak seindah ekspektasi dan membuatnya tidak berkutik. Ia sadar tidak bisa menolak perintah dari sang ayah setelah memutuskan sesuatu.
Apalagi tadi juga mendapat penekanan dari sang ibu, sehingga berniat untuk membicarakan dengan Calista, tapi malah berujung ketahuan berbuat intim oleh sang ayah.
"Apa nanti malam tidak terlalu cepat, Pa? Maksudku, Calista bahkan belum sempat mengatakan pada orang tuanya mengenai hubungan kami. Masa, tiba-tiba datang melamar."
__ADS_1
"Bukankah begitu?" Arya mengakhiri dengan pertanyaan pada Calista yang berada di sebelahnya.
"Iya, aku memang tidak mengatakan apapun pada orang tua mengenai hubungan kita karena masih ingin menikmati masa-masa kita saling memahami satu sama lain." Calista hanya mengikuti alur yang diciptakan oleh Arya.
Meskipun mengetahui jika nanti orang tua Arya akan mendesak untuk segera menikah setelah ada kejadian hari ini.
Sementara itu, Ari Mahesa saat ini hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gaya berpacaran dari pasangan di hadapan.
"Kalian bisa memahami satu sama lain setelah menikah nanti. Aku tidak mau kamu mengulangi kejadian di masa lalu, Arya! Aku tidak perlu menjelaskan secara detail, kan?" tanya Ari Mahesa yang saat ini mengingat ketika putranya menghamili wanita yang sudah bersuami.
Merasa tertampar dengan apa yang dimaksud oleh sang ayah, akhirnya Arya hanya bisa menelan saliva. Ya, memang dulu melakukan kesalahan pada Putri hingga hamil dan mungkin akan terulang lagi pada Calista karena bercinta pertama kali ketika mabuk.
Arya berpikir jika Calista mungkin juga bisa hamil. Akhirnya kali ini tidak bisa menolak lagi dan memilih untuk pasrah dan menuruti perintah dari sang ayah.
"Aku memang telah melakukan hal serupa dan sepertinya kekhawatiran Papa bisa saja terjadi. Baiklah, lakukan saja sesuai rencana. Malam ini, kita lamar saja Calista." Kemudian Arya menatap ke arah Calista yang dari tadi asyik menutupi mulut.
"Apa kamu siap aku melamarmu secepat ini?" Arya merasa khawatir jika wanita itu belum siap untuk menikah dan malah akan menolak.
Tentu saja itu akan membuat keluarga besar Mahesa malu jika sampai hal tersebut terjadi. Namun, jawaban Calista membuat Arya bisa bernapas lega.
"Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Jadi, mana mungkin aku menolak saat dilamar oleh pria yang kucintai," jawab Calista yang kini mengulas senyuman dan berbunga-bunga karena merasa jika perjuangan untuk mendapatkan Arya telah membuahkan hasil yang manis.
'Akhirnya kemenangan ada di tanganku dan berhasil menyingkirkan wanita bernama Putri itu,' gumam Calista yang saat ini merasa sangat senang karena telah menjadi pemenang sejati.
__ADS_1
To be continued...